Skip to content

Solusi Banjir Perkotaan

Musim penghujan belum menunjukkan tanda-tanda akan segera usai. Walaupun saat ini kita sudah memasuki awal bulan Maret. Fenomena alam yang sebenarnya merupakan siklus alami tahunan ini seakan-akan berubah menjadi ancaman bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan masa kini.

Menyebut fenomena alam sebagai ancaman sesungguhnya sangat tidak tepat karena penyebab meningkatnya intensitas hujan dan terjadinya banjir perkotaan (urban flood) salah satunya adalah karena perubahan-perubahan yang terjadi pada bentang alam di wilayah perkotaan. Perubahan yang disebabkan oleh masyarakat perkotaan itu sendiri.

Wilayah perkotaan, atau yang disebut juga sebagai kawasan urban, banyak mengalami tekanan pembangunan berupa perubahan guna lahan yang tak terkendali, perubahan struktur fisik permukaan tanah dan sungai, berkurangnya pepohonan besar dan ruang terbuka hijau sebagai area resapan, dan sebagainya. Sehingga perlu segera dilakukan tindakan mitigasi dan adaptasi untuk merespon tekanan-tekanan tersebut oleh pemerintah dan semua pemangku kepentingan di wilayah perkotaan (urban stakeholder). Respon bersama ini tentunya akan hadir sebagai solusi terhadap permasalahan banjir perkotaan.

Pada prinsipnya, tindakan mitigasi berfokus pada sumber permasalahan dan penyebabnya. Yang pertama, perlu segera dilakukan evaluasi menyeluruh dan perbaikan terhadap kapasitas dan kinerja sistem drainase kota sebagai suatu jaringan dalam menghadapi kondisi terkini dengan curah hujan yang tinggi. Evaluasi ini kemudian ditindaklanjuti dengan pemutakhiran serta penerapan Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) kota secara ketat dan terukur melalui rencana-rencana detil dan teknis yang mendukung. Masterplan jaringan drainase, misalnya, perlu dibuat berdasarkan data teknis riil di lapangan dan berbasis digital. Jika sudah ada maka perlu diupdate dan diimplementasi.

Penyediaan dan perlindungan Ruang Terbuka Hijau (RTH) formal dan non formal baik berupa taman, embung, lahan pekarangan, maupun area persawahan harus terus didorong dan dikawal terus implementasinya. Agar tidak sekedar berupa kegiatan seremonial pencitraan dan formalitas saja, mitigasi yang satu ini sangat perlu didukung dengan adanya perencanaan sistematis yang berdasarkan kajian ilmiah dan kepatuhan dalam melaksanakannya. Jikalau sekiranya di suatu kawasan alami perlu dikembangkan menjadi permukiman atau alih guna lahan lainnya maka pengembangan tersebut haruslah menerapkan prinsip-prinsip ramah lingkungan yang ketat dan secara prinsip harus mematuhi pedoman perubahan tata guna lahan yang ada.

Mitigasi yang tak kalah penting adalah pengelolaan sampah dan pengawasan yang diperketat terutama dalam tahapan pengumpulan sampah agar tidak terjadi pembuangan sampah ilegal khususnya di sungai dan saluran drainase. Walaupun seperti tidak berhubungan langsung, tapi realitanya penyebab banjir di suatu kawasan perkotaan kadang sederhana saja. Yaitu ada saluran drainase yang mampet tersumbat tumpukan sampah.

Adapun tindakan-tindakan adaptasi yang berfokus pada dampak yang ditimbulkan diawali dari peningkatan pelaksanaan kegiatan dan upaya pendidikan lingkungan hidup dan bencana alam kepada masyarakat agar siap dalam mencegah dan mengantisipasi perubahan lingkungan perkotaan dan fenomena alam. Edukasi non formal menjadi metode yang pas untuk merubah mindset masyarakat secara bertahap dan alami.

Disusul dengan penyusunan dan penerapan kebijakan-kebijakan pemerintah kota yang selalu memperhatikan dan merespon dampak permasalahan perubahan iklim di semua bidang baik sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, infrastruktur dan sebagainya.

Tindakan-tindakan mitigasi dan adaptasi yang telah dijabarkan bertumpu kepada tiga komponen. Yang pertama, pelakunya yaitu seluruh pihak yang terkait dalam konsep pentahelix yaitu akademisi, pelaku bisnis, masyarakat umum, pemerintah, dan media. Yang kedua adalah peraturan dan institusi yang secara legal dapat menggerakkannya di negara hukum ini. Dan yang ketiga adalah infrastruktur dan fasilitas. Ini adalah tiga komponen penting dalam konsep Kota Tangguh (Resilient City).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: