Adaptasi Kelaziman Baru untuk Kota Cerdas dan Tangguh Masa Depan

Pandemi COVID-19 masih terus menjadi perhatian serius dari warga dunia. Sampai tulisan ini dibuat (19 Juni 2020) berdasarkan data di WHO, sudah tercatat lebih dari delapan juta kasus positif terinfeksi virus Corona di mana sebanyak hampir setengah juta jiwanya tidak dapat terselamatkan. Wajar saja kemudian jika perhatian semua negara melalui komponen pemerintah dan elemen masyarakat tercurahkan untuk upaya-upaya pencegahan sebaran virus tersebut, penyembuhan pasien-pasien baik yang terduga maupun yang sudah positif, penelitian untuk menemukan obat dan vaksin virus Corona ini, dan juga upaya-upaya untuk menata-ulang kota-kota masa depan pasca mewabahnya virus Corona.
Pemerintah kota di hampir semua negara pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya telah melakukan himbauan kepada masyarakat agar tetap tinggal di rumah masing-masing dengan tujuan untuk menekan kontak fisik yang terjadi terutama di tempat-tempat umum serta mendorong pemanfaatan teknologi informasi di semua aspek kehidupan. Sebagai contoh di sektor pendidikan di mana muncul kebijakan untuk mengoptimalkan e-learning atau sistem pembelajaran jarak jauh dengan memanfaatkan media daring dan teknologi informasi.
Tidak hanya sekolah dan perguruan tinggi yang “terpaksa” menggunakan teknologi informasi dengan sistem daring, institusi pemerintahan, organisasi, perusahaan, dan lembaga formal lainnya pun mengambil kebijakan yang sama. Sebagai bagian dari gerakan Work From Home (WFH), saat ini banyak diselenggarakan pertemuan-pertemuan daring baik untuk keperluan kerja maupun untuk diskusi dan pertukaran informasi dan pengetahuan. Oleh karena itu, jika sebelum pandemi ini terjadi tingkat penggunaan internet di Indonesia masih didominasi untuk keperluan bersosial media (Statista, 2019), maka kemungkinan saat ini penggunaan untuk keperluan akademik dan profesi menjadi semakin meningkat dan bukan tidak mungkin akan semakin meningkat di masa depan. Bahkan ketika mudah-mudahan pandemi ini telah berakhir.
Seperti blessing in disguise, meningkatnya penggunaan teknologi informasi untuk produktivitas ini dapat dimaknai sebagai hikmah di balik adanya musibah ini. Masyarakat “dipaksa” untuk mengenal dan menggunakan teknologi informasi untuk berbagai aspek kehidupannya secara lebih intens. Dalam konteks perencanaan kota, ketika warga dan pemangku kebijakan kota mulai mengoptimalkan teknologi (dan informasi) sebagai solusi utama dalam memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari maka ini merupakan ciri utama suatu Kota Cerdas (Smart City). Teknologi tidak hanya sekedar digunakan untuk memenuhi kebutuhan tersier tapi menjadi tumpuan gerak dalam urat nadi perkotaan.

Kota Cerdas Pasca Pandemi
Esensi sesungguhnya dari penerapan konsep Kota Cerdas bukanlah pada pembangunan dan penggunaan infrastruktur teknologi sebagai kelengkapan sarana dan prasarana perkotaan semata. Kuncinya justru pada keberhasilan pemberdayaan teknologi tersebut dalam segala aspek dan sektor pembangunan serta inovasi-inovasi yang dihadirkan secara berkelanjutan. Pasca pandemi ini, wacana Kota Cerdas seharusnya tidak melulu diperdebatkan pada perwujudan sarana dan prasarana fisik semata tapi lebih kepada keluaran inovasi dan solusi yang dihasilkan dalam menghadapi permasalahan-permasalahan kota saat ini. Sebagai contoh, saat ini tentunya bukan suatu hal yang aneh apabila ruang-ruang terbuka dan non terbuka baik publik maupun semi publik telah dilengkapi dengan fasilitas internet melalui koneksi Wi-Fi. Namun pertanyaannya apakah dari ketersediaan koneksi internet tersebut dapat muncul inovasi-inovasi dari warga atau paling tidak dapat digunakan warga untuk memperbaiki kualitas hidupnya akibat permasalahan yang tengah dihadapi.
Untuk menjawab tantangan ini, tidak bisa dielakkan bahwa pemerintah kota dan daerah memiliki “pekerjaan rumah” yang terbesar. Pemerintah kota-kota yang selama ini menggunakan “jargon” Kota Cerdas dalam perencanaan dan pengelolaan pembangunan kotanya harus mampu membuktikan bahwa infrastruktur kotanya benar-benar “cerdas” sesuai dengan definisi di atas. Ini bisa dimulai dari banyak hal misalnya dari keterbukaan, kecepatan, dan kelayakan dalam penyampaian informasi khususnya yang berkaitan dengan permasalahan pandemi saat ini. Masih banyak masyarakat yang tidak tahu mengenai tingkat bahaya dari penyebaran virus ini dan alasan dibalik himbauan untuk tetap tinggal di rumah. Informasi yang didapat kebanyakan hanya sepotong-sepotong melalui arus media yang sebagian besar malah tercampur dengan hoax dan sebaran isu yang tidak dapat dipercaya. Pusat informasi atau media center formal yang misalnya berupa website resmi pemerintah harusnya memegang peranan penting utamanya dalam masa krisis seperti ini sesuai dengan perkembangan IoT (Internet of Things) saat ini.
Hal yang lain yang seharusnya menjadi perhatian dari penerapan Kota Cerdas adalah pengelolaan dan pemanfaatan database kependudukan yang baik dan terpadu. Kemajuan teknologi dan inovasinya seharusnya diprioritaskan untuk mengoptimalkan komponen ini. Sehingga kebijakan apapun yang akan dilakukan memiliki dasar yang terukur dan obyektif. Semisal dalam membantu masyarakat kalangan menengah ke bawah dalam menghadapi masa-masa sulit seperti ini, pemerintah akan menjalankan kebijakan untuk memberikan bantuan langsung untuk kebutuhan hidup sehari-hari maka pemerintah kota yang benar-benar cerdas seharusnya tinggal mengacu sepenuhnya pada database yang ada. Database ini tentunya harus terbuka, terpadu, dan terbarukan secara berkala. Terbuka artinya informasi terbuka untuk semua pihakdan dapat diakses secara daring, tentunya terkecuali yang bersifat pribadi. Terpadu artinya database ini melibatkan informasi dari berbagai lembaga yang saling melengkapi dan dapat dikoreksi serta digunakan secara bersama-sama. Terbarukan secara berkala berarti bahwa data dan informasi yang ada haruslah yang terbaru sehingga tepat sasaran.
Perkembangan IoT memang telah dapat mulai digunakan di beberapa sektor walaupun memang belum berjalan dengan mulus dan terukur. Namun momen pandemi ini seharusnya dapat dijadikan momentum dan alasan yang kuat bagi pemegang kebijakan di dunia pendidikan untuk menggodok dan bersiap mengimplementasikan secara penuh infrastruktur pendidikan berbasis teknologi di masa mendatang. Dalam konteks penanggulangan bencana ini adalah contoh pendekatan adaptasi yang berfokus memberikan respon terhadap dampak yang terjadi. Harapannya sektor pendidikan bisa menjadi sektor terdepan dalam mewujudkan konsep Kota Cerdas yang sesungguhnya.
Sekedar informasi dari Sustainable Development Goals (SDGs) Report 2019, saat ini ada sekitar 2 milyar penduduk kota yang belum mendapatkan pelayanan pengumpulan sampah yang layak.Rata-rata tiap satu dari empat orang penduduk kota hidup dalam kondisi lingkungan yang kumuh. Baru sekitar separuh dari jumlah penduduk kota di dunia yang dapat merasakan sistem transportasi publik yang nyaman. Dan dari 10 orang penduduk kota, 9 orang di antaranya menghirup udara yang telah tercemar. Mampukah konsep Kota Cerdas menjadi jawaban terhadap permasalahan-permasalahan tersebut? Pandemi COVID-19 saat inimenjadi contoh kasus dan tantangan yang besar dengan potensi dan peluang keberhasilan yang juga sama besarnya. Mungkin ini saat yang tepat untuk menggunakan “the power of kepepet”.

Kota Tangguh Lawan Bencana
Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dalam kajian terbarunya yang berjudul “Building Resilient Cities: An Assessment of Disaster Risk Management Policies in Southeast Asia” yang diterbitkan pada akhir tahun 2018 yang lalu membeberkan beberapa temuan yang cukup memprihatinkan. Terkait dengan kesiapan terhadap resiko bencana, sebagian besar kota-kota khususnya di Asia Tenggara masih belum memiliki kajian dan perencanaan yang layak mengenai tingkat kerentanan dan penilaian terhadap resiko bencana yang mungkin muncul termasuk tentunya bencana pandemi COVID-19 yang saat ini tengah menghantam dunia dengan sangat keras. Alhasil dalam perencanaan pembangunan wilayah perkotaan sangat sedikit sekali yang mengacu pada resiko kebencanaan.
Apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa untuk kota-kota di Asia terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia baru sekitar 30% kebutuhan infrastruktur kotanya yang telah terpenuhi. Sehingga dapat kita pahami bahwa proses pembangunan kota terancam tidak berkelanjutan. Belum lagi masalah klasik berupa lemahnya koordinasi antar berbagai tingkatan pemerintah yang menyebabkan upaya-upaya penanggulangan bencana tak kunjung sinergis dan terpadu. Itu baru di lingkup pemerintahan, belum lagi jika kita soroti keterlibatan pihak lain dalam penanggulangan bencana seperti misalnya elemen masyarakat yang sesungguhnya merupakan pihak yang paling merasakan dampak saat terjadi bencana.
Di era kecanggihan teknologi informasi seperti saat ini, upaya penanggulangan bencana yang difasilitasi pemerintah kota harus dapat mengambil keuntungan dari dunia maya yang (hampir) tanpa batas ini. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia dapat dengan mudah dilakukan melalui pemanfaatan media sosial maupun akses informasi daring yang terbuka lebar. Pengalaman dan pengetahuan dari kota lain atau dari kejadian bencana sebelumnya dapat dibagikan dan dijadikan bahan pembelajaran untuk mengembangkan dan meningkatkan upaya penanggulangan bencana di tiap kota.
Pemanfaatan teknologi komunikasi juga dapat diwujudkan dalam berbagai inovasi pada komponen sistem peringatan dini, pelayanan gawat darurat, dan berbagai tindakan responsif saat kejadian bencana. Dan yang mungkin lebih penting adalah penggunaannya sebagai inovasi untuk pengintegrasian penanggulangan bencana pada sistem pendidikan dasar. Pada komponen inilah elemen masyarakat berpotensi sangat besar untuk memegang peranan yang utama jika melihat derasnya penggunaan dan tingkat kebutuhan akan teknologi informasi dan komunikasi saat ini. Dengan begitu, masyarakat dengan sendirinya akan bertransformasi dan ter­upgrade menjadi masyarakat yang memiliki tingkat ketahanan yang tinggi terhadap bencana (resilient society) sehingga upaya mitigasi dan adaptasi untuk merespon pandemi tidak lagi bergantung kepada pemerintah saja.

Adaptasi Kelaziman Baru Perkotaan
Kota-kota pasca pandemi COVID-19 di masa depan harus lebih siap dalam menerapkan manajemen resiko bencana (disaster risk management) dengan pendekatan perencanaan berbasis mitigasi yang merespon terhadap sumber bencana dan pendekatan berbasis adaptasi yang merespon terhadap dampak yang terjadi. Pendekatan mitigatif bisa melalui perencanaan dan penataan fasilitas umum seperti pasar dan area komersil lainnya dengan standar kebersihan dan kelayakan yang lebih baik, perencanaan dan pengaturan tingkat kepadatan kota (urban density) yang lebih seimbang dengan keberadaan RTH, dan ketersedian fasilitas kesehatan untuk masyarakat umum yang baik, layak, dan inklusif.
Selain itu pendekatan adaptif yang dapat dilakukan adalah dengan penyiapan infrastruktur digital kota yang komprehensif, perencanaan kota dengan mengedepankan local context dan local wisdom, dan pemerintah kota yang tanggap bencana dengan didukung sistem informasi dan edukasi yang mewadai. Dengan kata lain, eknologi informasi harus lebih dimanfaatkan oleh urban stakeholders baik dalam tahapan perencanaan, pembangunan, maupun pengelolaan perkotaan. Pemerintah juga harus mengedepankan kebijakan-kebijakan yang berbasis kelokalan (local context) sehingga potensi SDM dan SDA setempat dapat lebih terkelola dengan baik. Konsep pemerintahan yang berbasis disaster risk management juga perlu diprioritaskan agar kedepannya kita akan lebih siap dalam menghadapi resiko bencana yang setiap saat dapat terjadi. Salah satu fitur terpenting dalam konsep ini adalah keberadaan pusat informasi public yang cepat, akurat, responsif dan terpercaya.
Harapannya hikmah dari pandemi yang menghempaskan kita saat ini adalah kita mendapatkan momentum untuk bangkit kembali dengan beradaptasi terhadap kelaziman baru yang harus kita terapkan untuk dapat mewujudkan kota-kota yang cerdas dan tangguh. There is always a bright blue sky over the ocean after every big storm.

Dr. Eng. Fritz Akhmad Nuzir, S.T., M.A.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s