Jaga Ruang Publik Kita

*Tulisan ini diambil dari postingan di akun FB Fritz Akhmad Nuzir tertanggal 20 Februari 2018

Memang sudah menjadi kodrat manusia untuk lebih mudah melihat kekeliruan dan menyalahkan orang lain dari pada mengevaluasi diri dan memperbaiki tingkah laku sendiri. Terutama tentunya saya pribadi. Dalam sejarah kehidupan dunia tidak sedikit kejadian-kejadian penting misalnya dalam konteks peperangan antar bangsa yang pada awalnya berasal dari kodrat manusia sebagai makhluk primordial. Dalam konteks perkotaan pun tidak jauh berbeda.

Saya tergerak untuk menulis ini karena berbagai peristiwa yang terjadi belakangan. Salah satunya adalah peristiwa perusakan fasilitas stadion Gelora Bung Karno beberapa waktu yang lalu oleh beberapa oknum penonton. Stadion yang baru saja direnovasi dalam momentum persiapan penyelenggaraan Asian Games 18 Agustus 2018 nanti dalam sekejap mengalami kerusakan di beberapa bagian. Sungguh saya pribadi sangat prihatin dengan kejadian ini dan coba memikirkan bagaimana upaya yang bisa kita lakukan sebagai individu untuk melakukan perubahan.

Tentunya ada banyak sekali hal yang dapat kita lakukan namun saya ingin membahas dari permasalahan yang paling sederhana di atas dan juga dalam konteks yang lebih khusus, terkait dengan peristiwa di stadion yang merupakan salah satu fasilitas atau ruang publik. Ruang publik ada banyak sekali macamnya, mulai dari yang berbentuk fisik bangunan atau lingkungan terbangun sampai kepada yang bersifat kegiatan atau aktivitas. Jika berupa entitas fisik dan kondisinya berada di luar bangunan dengan pencapaian yang mudah maka ruang publik seringkali disebut ruang terbuka publik. Jika ruang terbuka publik ini dipenuhi oleh vegetasi dan elemen penghijauan maka disebut ruang terbuka hijau. Jika berupa suatu perlengkapan atau bangunan maka seringpula disebut bangunan atau fasilitas publik. Intinya memang pada kata “publik” yang dengan mudah dipahami sebagai representasi dari masyarakat atau milik bersama.

Ruang dan fasilitas publik ini adalah salah satu hal yang paling sering menjadi obyek proses salah-menyalahkan di atas. Sering kita dengar bahwa warga kota menyalahkan pemerintah kotanya yang tidak bisa menyediakan ruang atau fasilitas publik sesuai harapannya. Dari kasus stadion di atas maka giliran pemerintah atau pengelola stadion yang menyalahkan oknum penonton yang notabene adalah warga kota Jakarta. Bahkan netizen pun tidak ketinggalan gencar membagikan tautan foto dan berita yang dilengkapi dengan postingan nyinyir senyinyir-nyinyirnya. Semuanya seperti tak mau ketinggalan saling menyalahkan dan saling tunjuk tanpa sadar sebenarnya jauh lebih mudah untuk mengintrospeksi diri sendiri. Itu baru dari satu contoh yang paling gres dan mewakili semua fenomena lain yang ada di kota-kota lain di Indonesia karena terjadi di Jakarta sang ibukota.

Di kota kecil kelahiran saya, Metro, banyak sekali contoh yang serupa. Banyak warga yang menghendaki dan selalu menyuarakan kebutuhan untuk adanya suatu ruang terbuka publik, namun sementara itu tak sedikit pula kita lihat sampah-sampah berserakan di taman-taman kota yang dibangun pemerintah kota. Itu baru di taman, sementara banyak ruang-ruang terbuka publik yang lain seperti lapangan, median jalan, trotoar dengan kondisi yang memprihatinkan. Belum lagi fasilitas-fasilitas publik seperti halte bis, bangku taman, tempat sampah, lampu jalan, yang semuanya itu dibuat untuk kepentingan publik, kondisi fisiknya cenderung cepat sekali mengalami penurunan kualitas.

Terlepas dari kualitas awal yang memang tidak terlalu tinggi akibat dari kurangnya kesadaran dan rendahnya prioritas pemerintah kota terhadap pemenuhan kebutuhan warga kota akan ruang dan fasilitas publik ini. Sebagai contoh saat ini mulai sering terjadi kesalah-pahaman dalam pembangunan ruang terbuka publik yang melulu diartikan dan diwujudkan dalam bentuk pembangunan taman secara fisik. Tanpa diawali dengan proses pemahaman dan pengenalan aktivitas publik yang akan diwadahi serta jenis ruang terbuka publik yang sesuai. Dan jika saya teruskan maka tulisan ini adalah salah satu contoh nyata bahwa mudah sekali menemukan kesalahan orang lain. Intinya memang semua pihak memiliki porsi kesalahan masing-masing. Semua salah, maka mari belajar dan mengubah diri masing-masing.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan membagikan salah satu pernyataan dari salah seorang professor asli Jepang dalam suatu diskusi dengan beliau saat saya sedang menempuh pendidikan di the University of Kitakyushu. Beliau mengungkapkan bahwa segala fasilitas dan ruang publik yang berkualitas dan dapat dengan mudah ditemui di kota-kota Jepang adalah bukan merupakan hasil dari kehebatan teknologi atau kepintaran orang Jepang. Tapi sebuah karunia bahwa mereka diberikan suatu prinsip dalam berkehidupan dimana sesuatu yang menjadi milik bersama maka harus dijaga bersama sehingga dapat dinikmati bersama. Oleh karena itu tiap fasilitas dan ruang publik yang dibangun untuk kepentingan warga kota akan selalu dijaga oleh seluruh warga kota. Paling tidak, tidak akan ada yang akan sampai hati merusaknya, baik sengaja maupun tidak sengaja.

Foto di atas ini adalah foto salah satu fasilitas publik berupa area untuk merokok. Lokasinya di pelataran stasiun kereta dan bersebelahan dengan halte bis serta dilalui jalur pejalan kaki. Beberapa orang menggunakannya dengan nyaman dan tertib berdiri pada tempat yang disediakan. Puntung rokok pun dibuang pada tempat puntung rokok yang ada di tengah. Sembari merokok, mereka pun bersosialisasi atau asyik sendiri. Di halte bis, orang yang menunggu bis pun duduk atau berdiri dengan tenang. Tempat duduknya sederhana namun bersih dan terawat. Pejalan kaki pun lalu lalang dengan leluasa karena ruang masing-masing tidak saling mengganggu. Area pejalan kaki pun dilengkapi dengan guiding block yang dapat memandu para tuna netra untuk berjalan dengan aman.

Di semua fasilitas di ruang publik ini belum pernah saya lihat sekali pun ada pasukan oranye atau cleaning service yang membersihkan. Walaupun saya selalu lewati tiap harinya saat pergi dan pulang kerja. Semua sama-sama saling menjaganya

One Comment Add yours

  1. Rinda says:

    Ini kan krn nggak ada sense of belonging ya pak? Apakah mereka harus berjuang utk mendapatkan fasilitas dulu supaya mereka merasa memiliki dan sayang thd segala fasum?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s