Naik Kereta Api

Di suatu akhir pekan pada awal bulan Agustus tahun ini untuk pertama kalinya saya menggunakan moda transportasi umum yang sampai sekarang belum terlalu populer di luar Pulau Jawa. Penyebabnya ya tentu saja karena infrastruktur perkeretaan belumlah merata ke seluruh penjuru negara yang tergolong “panjang” secara geografis ini.

Adalah kereta jurusan Palembang-Lampung yang saya gunakan dan pengalaman yang saya rasakan melebihi ekspektasi saya. Secara umum fasilitas di stasiun sudah sangat layak dan nyaman. Mulai dari mesin self check-in yang berfungsi baik, area tunggu yang bersih dan rapi, area bermain anak dan ruang menyusui, tempat ibadah, dan smoking area yang juga dapat digunakan dengan baik. Fasilitas toilet di ruang tunggu pun terlihat bersih dan terawat, hanya saja pada saat itu kondisinya sedang tidak bisa digunakan (sedang dalam perawatan?).

Tinggal dilengkapi lagi dengan fitur-fitur tambahan seperti misalnya koneksi wifi untuk internet, kran atau fasilitas air minum, kursi pijat, dsb, maka semakin nyamanlah para pengguna kereta api yang sedang menunggu. Saya membayangkan juga suatu saat ada papan elektronik besar yang bertuliskan waktu-waktu keberangkatan dan kedatangan kereta. Hanya saja saat ini belum ada karena jadwal kereta masih sedikit dan terbatas.

Fasilitas ini dilengkapi pula dengan profesionalitas dan hospitality petugas-petugasnya misalnya saat pemeriksaan di pintu masuk yang tegas tapi tetap ramah dan informatif. Juga saat membimbing calon penumpang saat check-in. Yang kurang adalah kelengkapan persyaratan universal design bagi kaum difabel terutama di daerah peron, misalnya guiding block atau railing pembatas.

Untuk kereta sendiri juga perlu ada penyediaan spesifikasi gerbong kereta yang lebih baru. Walaupun secara umum kondisi bangku, toilet, dan perlengkapan yang lain masih lengkap dan layak pakai, namun kenyamanannya masih kurang saya rasakan. Berbeda dengan kondisi gerbong kereta Jakarta-Bandung yang saya sempat naiki tahun lalu.

Saya jadi berfikir apa mungkin gerbong ini merupakan hasil “daur-ulang” dari gerbong-gerbong kereta yang dulunya dipakai di Pulau Jawa? Karena saat duduk, benak saya melayang ke 15 tahun yang lalu saat sempat jadi pengguna setia kereta Jogja-Bandung.

*Foto-foto ini diambil di Stasiun Kertapati, Palembang.

This slideshow requires JavaScript.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s