Gerakan Bola-isasi

Entah siapa gerangan yang memulai “gerakan bola-isasi” jalur pejalan kaki di kota-kota Indonesia. Dari hasil gugling sebentar, ternyata kini bola-bola beton ini sudah muncul menghiasi jalur pejalan kaki di beberapa kota-kota besar Indonesia (lihat foto-foto sebelah kanan). Bola-bola beton ini pada dasarnya dikategorikan sebagai elemen bollard pada kelompok sarana street furniture, bersama-sama dengan bangku taman, lampu hias, dan lain-lain. Pertama kali saya mengenalnya adalah saat dulu sempat magang di Rainer Schmidt Landscape Architects.

Fungsi utamanya adalah sebagai pengaman atau pembatas antara jalur untuk berjalan kaki dengan jalan kendaraan bermotor. Lihat foto kiri atas. Tidak hanya untuk trotoar, bollard juga biasanya digunakan di taman-taman kota, plaza, atau ruang terbuka publik lainnya. Atas nama estetika, kemudian para arsitek lansekap, urban designer, dan produsen street furniture lainnya mulai mempercantik tampilan bollard yang umumnya berbentuk tiang/silinder menjadi bentukan dan warna yang bermacam-macam. Salah satu variannya adalah bollard berbentuk bola.

Jadi memang sebenarnya tidak ada yang salah dengan penempatan bollard berbentuk bola di jalur pejalan kaki. Hanya saja untuk kasus pada postingan saya sebelumnya ada beberapa kesalahkaprahan yang terjadi:

– Fungsi utama bollard adalah pengaman bagi pejalan kaki. Dari sini sudah jelas bahwa aktivitas berjalan kaki mutlak harus diprioritaskan. Keberadaan bollard harusnya menambah rasa aman bagi orang untuk berjalan kaki. Bukannya malah mengambil sebagian besar porsi ruang dari trotoar sehingga ruang pejalan kaki menjadi sempit atau bahkan hilang. Menurut Permenpupera No. 3 tahun 2014 pasal 8 dijelaskan bahwa ruang jalur pejalan kaki merupakan ruang yang diperlukan pejalan kaki untuk berdiri dan berjalan yang dihitung berdasarkan dimensi tubuh manusia pada saat membawa barang atau berjalan bersama dengan pejalan kaki lainnya baik dalam kondisi diam maupun bergerak. Mari sama-sama kita lihat apakah ruang yang tersisa (jika ada) memenuhi ketentuan pada peraturan tersebut? Belum lagi jika kita bicarakan ketentuan perencanaan atau perancangan fasilitas umum kota yang inklusif. Kalau tidak salah, kota ini punya mimpi jadi kota inklusif.

– Bollard juga biasanya digunakan ketika jalur pejalan kaki dan jalan kendaraan bermotor berada pada level permukaan yang sama atau hampir rata. Sehingga kemudian dirasa perlu untuk membuat suatu batas vertikal yang tetap dapat dilewati dengan mudah oleh pejalan kaki namun menghalangi akses kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat. Nah, seperti yang terlihat pada gambar, pada umumnya trotar di Indonesia rata-rata sudah lebih tinggi dari permukaan jalan. Ini juga fenomena yang sampai sekarang saya belum mendapat jawabannya. Sehingga sebenarnya kendaraan bermotor sulit untuk sampai naik ke atas trotoar secara teori. Walau pada prakteknya tidak jarang kita temui kendaraan bermotor roda dua yang menjajah jalur pejalan kaki. Keberadaan bollard memang akan semakin memperkecil peluang itu. Tapi ukuran dan posisi bollard seperti yang terlihat pada foto kiri bawah terlalu berlebihan. Jangankan motor mau lewat situ, orang saja mungkin sulit untuk berjalan di sana.

– Jika memang bollard berbentuk bola warna-warni tersebut dipasang dengan dalih keindahan kota atau daya tarik wisata, sekali lagi kesalahkaprahan pun tetap terjadi. Daerah yang dipasangi bollard tersebut adalah trotoar yang berada di tepi jalan raya lintas daerah, dimana keberadaan pejalan kaki pun bisa dihitung dengan jari. Begitu juga hanya sedikit atau bahkan tidak ada obyek wisata atau fasilitas umum yang berada di sekitar daerah tersebut. CMIWW. Lalu apakah memang jalur tersebut hendak dibuat sebagai obyek wisata, dimana orang-orang nanti akan selfie-selfie di tepi jalan yang akan membahayakan keselamatan mereka? Apakah nanti memang diharapkan bermunculan pedagang-pedagang kaki lima sehingga jalur tersebut akan ramai dan akhirnya lalu lintas pun terganggu. Mudah-mudahan tidak lah yaww. Sehingga yang terfikir bagi saya adalah sesungguhnya yang bisa menikmati keindahan bola-bola warna-warni nan mempesona tersebut hanyalah para pengendara kendaraan bermotor yang lalu lalang melintasi jalan raya tersebut. Mungkin salah seorangnya ya yang mempunyai ide “brilliant” pemasangan bollard bola-bola cantik itu.

Prasangka baik saya adalah ini hanya salah satu contoh terbaru fenomena copy-paste di kota-kota kita. Seperti kata James Corner, “The Asian cities are a classic case in point. They are just looking at whatever the biggest and best is in another city and they are doing it themselves. It is just producing a frightening sort of level of sameness.”

Sungguh enggak masuk, Pak Eko…

47430553_10155577159675738_6800181548927680512_o

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s