Belajar Meraih Mimpi dari 3J: Jogja, Jerman, dan Jepang

WhatsApp Image 2018-09-29 at 8.55.56 AM

Saya berasal dari sebuah kota kecil di ujung Pulau Sumatra. Kota yang saya yakin tidak semua orang pernah mendengar namanya sebagai sebuah kota, Kota Metro di Provinsi Lampung. Ketika orang mendengar kata “metro” mungkin yang terbayang adalah nama sebuah jaringan pusat perbelanjaan atau nama sistem transportasi publik di negara-negara maju. Kata ini juga cukup mendunia dan muncul di berbagai macam perbendaharaan kata mancanegara. Yang paling dekat maknanya adalah kata “metropolitan”, namun kata ini mengacu pada sebuah kota besar yang modern dan biasanya adalah ibukota dari suatu negara. Sulit dibayangkan sebuah kata yang “kebarat-baratan” ini melekat sebagai nama sebuah kotadengan jumlah penduduk hanya sekitar 150 ribu penduduk sejak berdirinya di suatu daerah random di sudut tenggara Asia.

Waktu kecil, saya pun dianugerahi kondisi fisik yang tidak sesehat anak laki-laki kebanyakan dan menghabiskan sebagian besar waktu bermain di dalam rumah. Hanya dengan berbekal doa dari orang tua dan “panggilan jiwa”, saya sudah meninggalkan kota kelahiran selepas dari sekolah dasar. Saya melanjutkan pendidikan tingkat menengah hingga perguruan tinggi di Kota Yogyakarta. Saya masih ingat kenangan menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 800km bersamaorangtua dengan menggunakan bis malam. Seiring dengan kilometer demi kilometer yang ditempuh, perlahan tapi pasti perasaan semangat “bebas” dari rumah dan melihat “sesuatu yang baru” berubah menjadi keraguan dan sedikit penyesalan tentang apa yang sudah diperbuat.Pada waktu itu juga saya menjadi bukti nyata perbedaan tingkat pendidikan antara Pulau Jawa dengan daerah-daerah lain. Nilai saya di sekolah dasar yang termasuk tinggi di Kota Metro ternyata hanya berada di urutan paling bawah untuk Kota Yogyakarta.  Alhamdulillah, pengorbanan saya dan keluarga mengantarkan saya hingga lulus dari salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia, Universitas Gadjah Mada.

Ada satu momen yang akan selalu saya kenang setiap saya mengalami permasalahan yang membuat saya hampir putus asa. Di satu siang saya mengendarai motor memasuki kawasan kampus UGM di daerah Bulaksumur melalui pintu gerbang utama. Dari gerbang itu saya melaju lurus menuju satu gedung yang iconic dan menjulang tinggi tepat di ujung jalan yaitu gedung Graha Sabha Pramana (GSP), gedung serbaguna dimana kegiatan wisuda dilakukan setiap tahunnya. Saya ingat waktu itu saya baru memasuki semester-semester awal perkuliahan. Jurusan Arsitektur memang cukup terkenal dengan tugas-tugas kuliahnya yang seabreng dan mata kuliah Studio Perancangan Arsitektur-nya yang sampai 6 SKS! Sehingga saat itu kondisi saya sedang kelelahan secara fisik dan psikis akibat beban tugas perkuliahan yang sangat berat. Namun entah kenapa saat motor yang saya kendarai melaju perlahan di jalan menuju gedung GSP, seketika itu pula hati kecil saya berbisik, Ayo semangat, Fritz! Kamu pasti bisa masuk ke gedung itu dan diwisuda di sana! Tidak pernah saya merasa lebih bersemangat dari momen sesaat itu, rasa capek dan stress mendadak hilang entah kemana. Dan benar saja, tepat di tahun ke empat lebih dua bulan, saya bersama ribuan mahasiswa lainnya dari seluruh penjuru Indonesia mengikuti upacara wisuda di gedung GSP itu.

Selepas dari mendapatkan gelar Sarjana S1 di bidang Arsitektur, saya masih merasa ingin memperdalam keilmuan saya. Saya berfikir saat itu bahwa jika saya melanjutkan studi ke jenjang S2, maka saya akan memiliki “nilai lebih” dan pengetahuan yang lebih mendalam tentang suatu hal dibandingkan dengan orang lain yang juga memiliki gelar sarjana yang sama. Hanya satu tujuan tempat studi yang terfikir saat itu yaitu ke negara Jepang. Alasan yang pertama adalah karena pada saat itu hampir semua dosen pengajar saya lulusan studi lanjut di Jepang. Sedangkan alasan yang kedua lebih bersifat personal. Saya merasa sedikit mengenal dan “terpikat” dengan Jepang melalui komik-komik produksi Elexmedia Komputindo yang saya gandrungi saat remaja. Latar belakang perekonomian keluarga saya adalah kelas menengah. Sehingga otomatis yang terfikir oleh saya selanjutnya adalah bagaimana mendapatkan beasiswa untuk dapat kuliah di luar negeri.

Saya menghabiskan waktu sekitar setengah tahun sejak diwisuda dengan mencoba memenuhi persyaratan beasiswa Monbukagakusho, atau yang lebih dikenal dengan singkatan, Monbusho. Beasiswa dari Kementerian Pendidikan Jepang. Inilah awal perkenalan saya dengan dunia perjuangan meraih beasiswa. Saat itu syarat yang paling memberatkan bagi saya adalah untuk mendapatkan persetujuan dan penerimaan dari seorang professor yang mengajar di salah satu perguruan tinggi di Jepang. Waktu itu teknologi informasi belumlah secanggih sekarang. Berhari-hari saya habiskan waktu untuk mencari informasi tentang profil professor Jepang melalui internet di warnet. Tiap menemukan satu nama professor yang kira-kira menurut saya waktu itu memiliki kapasitas keilmuan yang cukup menarik, maka saya akan langsung mengirimkan email perkenalan dan mengutarakan maksud saya untuk melanjutkan studi. Seingat saya ada sekitar 100-an email yang telah saya kirim berbagai professor dari berbagai kampus. Ada yang membalas, namun lebih banyak yang tanpa jawaban. Intinya saya tidak berhasil mendapatkan persetujuan dari professor sehingga tidak bisa memenuhi persyaratan utama dari beasiswa Monbusho tersebut. Saya berhenti ketika batas waktu pendaftaran telah terlewat. Dan perjuangan pertama saya meraih beasiswa kandas dengan sempurna.

Ada beberapa pelajaran yang saya dapat dari sini, walaupun tidak langsung saya sadari waktu itu. Pelajaran yang paling utama adalah saya seharusnya lebih banyak mencari informasi awal terlebih dahulu dengan belajar dari pengalaman orang lain yang telah sukses meraih beasiswa, terutama dengan yang telah berhasil studi lanjut ke Jepang. Padahal waktu itu seperti yang saya tulis di atas, banyak dosen-dosen yang notabene lulusan Jepang. Jikalau saja saya banyak bertanya kepada mereka, besar kemungkinan saya akan banyak mendapatkan tips dan saran atau malah rekomendasi dan dikenalkan langsung ke professor pembimbing mereka sebelumnya. Saya terlalu fokus dan terburu-buru melakukan upaya sendiri tanpa paham dengan benar tentang apa yang saya lakukan. Saya memang berupaya keras, namun kurang cerdas. Contoh sederhana misalnya email-email perkenalan tersebut saya tulis panjang lebar menceritakan tentang background saya dan bahkan rencana riset yang saya ingin lakukan dalam Bahasa Inggris. Saya baru tahu di kemudian hari bahwa pada masa itu, banyak professor dari Jepang yang menghindari berkomunikasi dengan Bahasa Inggris yang bukan bahasa asli mereka. Apalagi bagi mereka sangatlah sulit menemukan waktu yang luang untuk membaca email saya yang panjang lebar ditengah kesibukan yang luar biasa sebagai pengajar dan peneliti. Seharusnya email yang kita tulis hendaklah ringkas, jelas dan informatif bagi mereka sehingga dapat dengan mudah merasa tertarik untuk menerima kita sebagai calon mahasiswa bimbingannya.

Untungnya waktu itu saya tidak berlama-lama meneruskan upaya yang hampir bisa dibilang sia-sia tersebut. Didorong oleh keinginan saya dari awal yang ingin memperdalam keilmuan saya di bidang arsitektur dan juga dukungan dari orang tua yang meyakinkan saya untuk tidak mengkhawatirkan biaya kuliah (ya tentu saja! tidak ada orang tua yang tidak rela berkorban demi anaknya), akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah jenjang S2 di bidang Perancangan Arsitektur di Institut Teknologi Bandung tanpa beasiswa. Alhamdulillah semua proses selanjutnya dapat saya lalui dengan baik, mulai dari pendaftaran, ujian tertulis dan wawancara, bahkan sampai merasakan perkuliahan awal selama dua minggu sebelum kemudian hal yang membelokkan jalan hidup saya kemudian datang menghampiri.

Kepindahan saya Kota Bandung setelah sekian lama tinggal di Jogja, membuat saya “harus” memulai dari awal kembali termasuk dengan pertemanan dan kegiatan di luar kampus. Waktu itu media sosial yang ada baru sebatas Yahoo Messenger dan chatting via mIRC yang lagi-lagi hanya bisa diakses melalui warnet. Alhasil kembali waktu-waktu luang selepas kuliah banyak saya habiskan di warnet. Dan mungkin karena saya masih belum move on dengan kegagalan saya meraih beasiswa ke Jepang, saya masih tetap mencoba mencari-cari informasi beasiswa. Kali ini tujuan utama adalah mencari informasi tentang beasiswa untuk menunjang hidup saya di Bandung. Dalam prosesnya saya menemukan juga informasi-informasi mengenai beasiswa studi lanjut ke negara lain. Pada satu ketika saya mendapatkan informasi tentang pembukaan pendaftaran untuk studi lanjut di program Master of Landscape Architecture di Anhalt University of Applied Sciences di Jerman. Walaupun ini bukan peluang beasiswa namun yang membuat saya tertarik adalah kebijakan pemerintah Jerman pada waktu itu untuk menggratiskan biaya pendidikan sampai ke jenjang perguruan tinggi. Atau dengan kata lain, di universitas itu saya dapat berkuliah tanpa perlu membayar tuition fee atau “uang SPP” yang di kampus-kampus di Indonesia harus dibayar tiap semester-nya.

Setelah saya mencari tahu tentang biaya hidup di Jerman dan tentang pengalaman-pengalaman orang lain (tentunya bukan dari yang berkemampuan ekonomi tinggi) yang ternyata juga bisa berkuliah di luar negeri tanpa beasiswa, misalnya dengan biaya hidup dari hasil kerja paruh waktu, dengan iseng bin coba-coba saya melengkapi dokumen persyaratan untuk mendaftar ke kampus di Jerman tersebut. Map tebal yang berisi dokumen pendaftaran tersebut saya kirimkan tanpa harapan yang terlalu besar melalui sebuah kantor pos yang saya lewati dalam perjalanan menuju kampus Ganesha. Salah satu motivasi yang mendorong saya untuk mencoba adalah adanya peluang untuk merasakan pengalaman kuliah dan hidup di luar negeri yang tentunya akan membuka wawasan saya selebar-lebarnya. Disamping tentunya pemikiran saya yang sedikit naïf saat itu yang membayangkan “nilai lebih” yang akan saya dapatkan sebagai lulusan luar negeri (apalagi Jerman!).

Saat itu sama sekali tidak terfikir bagi saya untuk berdiskusi apalagi meminta izin dari orang tua. Sampai suatu sore sepulang dari kuliah singgahlah saya di warnet untuk sekedar melihat isi inbox email saya. Kemudian terbacalah sebuah email dari Jerman yang berisi informasi bahwa saya dinyatakan memenuhi persyaratan untuk studi lanjut di Anhalt University of Applied Sciences. Singkat cerita setelah meyakinkan orang tua, kemudian mengurus proses mundur dari ITB, dan masih harus mengikuti program matrikulasi online yang wajib untuk calon mahasiswa, sepertinya proses keberangkatan saya menuju Jerman berjalan dengan lancar.

Namun ternyata masih ada satu tahapan penting yaitu proses memperoleh visa untuk studi di Jerman. Dan karena saya tidak mendapat beasiswa maka syaratnya adalah saya harus mempunyai penjamin yang dapat menunjukkan kemampuan finansial yang kuat untuk mendukung biaya hidup saya selama di Jerman. Buktinya adalah jumlah rekening di tabungan saya yang harus sesuai dengan standar minimum yang ditetapkan pihak Kedutaan Besar Jerman. Dan jumlahnya sama sekali tidaklah sedikit! Tidak ada orang lain yang bisa saya mintai pertolongan kecuali orang tua dan saya cukup paham bahwa kemungkinan besar akan berat bagi mereka untuk memenuhinya. Namun saat saya sudah siap menerima kegagalan kembali, sekali lagi mereka menunjukkan support mereka dengan melengkapi persyaratan tersebut. Baru beberapa tahun kemudian saya mengetahui bahwa orang tua saya sampai harus meminjam uang kepada orang lain untuk mengisi rekening tabungan saya tersebut!

Kemudian mulailah perjuangan saya untuk melanjutkan studi nun jauh di tengah benua Eropa. Jerman adalah negara yang tak pernah terbayangkan untuk saya kunjungi sebelumnya, dengan bahasa yang sama sekali saya tidak mengerti. Fase ini mirip dengan ketika saya pertama kali meninggalkan Kota Metro dan keluarga untuk pindah ke Jogja. Hanya kali ini semakin jauh dan saya benar-benar seorang diri kali ini. Namun kembali saya sangat beruntung menemui orang-orang yang sangat bersahabat dan banyak membantu saya untuk beradaptasi di negara empat musim ini.

Bagaimana kemudian kisah saya di negara tempat kelahiran Albert Einstein ini? Kisah selengkapnya bisa dibaca di buku KISAH 5 BENUA. Untuk mendapatkan buku ini, silahkan hubungi nomor WA 087853553656.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s