Public Open Space 4.0

Saat saya sebelumnya menulis tentang ruang terbuka publik yang multifungsi (multifunctional public open space), atau saat saya lebih dulu mencoba membahas ide ruang terbuka hijau yang juga multifungsi (multifunctional green open space), yang ingin saya sampaikan dan diskusikan adalah suatu keniscayaan akan pentingnya ruang terbuka publik yang dapat menampung berbagai macam fungsi dan aktivitas. Idealnya berbagai fungsi tersebut akan saling melengkapi dan menunjang keberlanjutan serta kebermanfaatan ruang terbuka publik bagi warga kota.

Secara sederhana dapat dicontohkan misalnya keberadaan suatu ruang terbuka publik berupa taman kota yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat berkumpul komunitas, tempat berolahraga, pertunjukan seni, sarana edukasi, dan arena bermain anak-anak dengan diisi pula oleh kegiatan komersil seperti aneka kuliner dan spot-spot wisata lainnya sebagai fungsi penunjang tanpa melupakan fungsi sebagai kawasan hijau dan paru-paru kota yang tak kalah penting.

Secara teori, contoh di atas sepertinya sudah jelas dan mudah untuk diwujudkan. Namun pada kenyataannya banyak hal yang menjadi permasalahan klasik dalam keberadaan ruang terbuka publik khususnya di kota-kota di Indonesia. Penyediaan ruang terbuka publik diawali dengan proses perencanaan dan perancangan terutama dalam konteks tata ruang. Merencanakan ruang terbuka publik yang baru tidak harus berarti menciptakan suatu fasilitas yang baru di tempat yang baru, namun bisa saja dengan memfasilitasi fungsi atau aktivitas yang sudah lebih dulu ada. Barrie Shelton dalam bukunya yang berjudul Learning from Japanese Cities: Looking East in Urban Design (2013) mengemukakan bahwa sebenarnya ada perbedaan antara pendekatan Barat dan Timur dalam menciptakan ruang (terbuka) publiknya. Di dunia Barat pada umumnya perencana kota (urban planner) atau perancang kota (urban designer) dapat menciptakan suatu ruang baru yang kemudian diisi dengan fungsi dan aktivitas yang ditetapkan. Atau dengan kata lain, ruang lebih bersifat formal dan utama. Sedangkan di dunia Timur, biasanya fungsi dan aktivitas yang muncul terlebih dahulu dan menjadi tradisi yang kemudian melekat pada suatu ruang. Ruang adalah sesuatu yang fleksibel dan mengikuti fungsi atau aktivitas.

Dari sini saja kita dapat memahami bahwa pendekatan perencanaan dan perancangan ruang terbuka publik ala Amerika atau Eropa belum tentu dapat menciptakan ruang terbuka publik yang baik dan berhasil. Tidak sedikit kita lihat banyak taman-taman yang asri dan plaza-plaza yang menawan terlihat kosong tanpa pengunjung. Sebaliknya tidak jarang kita jumpai sudut-sudut jalan yang sempit dan pelataran pertokoan atau pasar yang sederhana namun ramai dengan pengunjung dan berbagai aktivitasnya. Karena itu boleh jadi pendekatan fungsi dan aktivitas sebagai dasar dalam penciptaan ruang terbuka publik lebih tepat untuk diterapkan di Indonesia. Selaras dengan yang disampaikan pada awal tulisan ini, keterpaduan dan kolaborasi antar berbagai fungsi dan aktivitas merupakan kunci utama dari ruang terbuka publik yang berkelanjutan (sustainable public open space).

Jika kita mengandaikan ruang terbuka publik sebagai suatu entitas yang mengalami transformasi, maka proses perwujudan ruang terbuka publik diawali dari ruang terbuka dengan fungsi tunggal dari suatu bangunan publik. Dengan meminjam istilah dari tren perubahan di dunia industri, saya coba menganalogikan ruang terbuka pada bangunan publik sebagai Ruang Terbuka Publik 1.0 (Public Open Space 1.0). Ruang ini adalah bagian dari suatu bangunan publik (misal: kantor pemerintahan, sekolah, rumah sakit umum, dsb) yang dapat diakses oleh semua atau sebagian besar dari pengunjung bangunan tersebut dan umumnya terbuka (tanpa sekat). Letaknya bisa di dalam bangunan atau di luar tapi masih menyatu atau menempel pada bangunan. Fungsinya pada umumnya tunggal, misal sebagai taman, meeting point, atau ruang tunggu.

Wujud yang selanjutnya adalah ruang terbuka publik yang terletak di suatu kawasan publik atau di antara beberapa bangunan publik dengan satu fungsi utama dan beberapa fungsi pelengkap. Ruang terbuka seperti ini saya analogikan sebagai Ruang Terbuka Publik 2.0 (Public Open Space 2.0) dimana ciri utamanya adalah karakter ruang yang terbentuk dari hubungan antar ruang (bangunan). Pada umumnya ruang ini juga muncul karena adanya aktivitas, sebagai pelengkap fungsi utama yang sudah ditetapkan. Misalnya di kawasan perkantoran, ada area parkir kendaraan pengunjung yang dijadikan tempat pedagang kaki lima berjualan aneka makanan dan minuman sehingga pada waktu-waktu tertentu bertransformasi menjadi semacam area kantin bagi karyawan. Atau contoh yang lain pada sepanjang jalur pejalan kaki di dekat sebuah sekolah yang berubah menjadi ruang terbuka publik dimana para penjemput menunggu dan bertemu dengan murid sekolah yang dijemputnya. Oleh karena ruang ini terbentuk dari aktivitas maka batas-batas fisik belum jelas dan formal atau malah tidak ada.

Transformasi selanjutnya adalah saat suatu ruang terbuka publik memang sudah direncanakan untuk mengakomodir berbagai fungsi dan aktivitas. Ruang tipe ini dianalogikan sebagai Ruang Terbuka Publik 3.0 (Public Open Space 3.0). Pada umumnya ruang tipe seperti ini sudah ditetapkan secara formal sebagai ruang terbuka publik pada satu area tertentu dengan batas-batas fisik yang jelas. Pada dasarnya, kriteria dan karakter ruang terbuka publik yang ideal dan dideskripsikan pada awal tulisan ini sudah dapat ditemukan pada tipe ini. Sebagai ruang terbuka publik yang multifungsi, kesuksesannya dinilai dari bagaimana fungsi dan aktivitas yang ada di dalamnya bisa bersinergi dan berkelanjutan. Sehingga biasanya ruang terbuka publik yang sudah memiliki nilai historis atau aktivitas warga yang sudah menjadi tradisi akan lebih mudah diterima dengan rasa kedekatan dan kepemilikan yang tinggi oleh warga kota. Dan kemudian tentunya harus didukung dengan ketersediaan sarana dan prasarana yang berkualitas. Bila keduanya tidak ada, maka bisa jadi diperlukan suatu pengelolaan atau manajemen yang khusus didedikasikan untuk merawat fasilitas ruang terbuka publik tersebut dan menciptakan serta mengembangkan fungsi dan aktivitas yang menjadi daya tarik bagi warga, misalnya melalui kerjasama antara pemerintah dan komunitas.

Saat ini sudah banyak pemerintah kota yang mulai berbenah dan menyediakan ruang-ruang terbuka publik seperti yang dideskripsikan sebagai tipe 3.0 di atas. Contohnya antara lain Taman Bungkul Surabaya yang mempunyai nilai historis religi yang cukup tinggi sebelum kemudian dibenahi dan dibangun dengan fasilitas publik yang lebih lengkap. Saat ini Taman Bungkul mewadahi aktivitas bermain untuk anak-anak, olahraga dan hobby, serta kesenian. Taman ini juga dilengkapi dengan fasilitas teknologi informasi dan tempat pedagang kaki lima yang tertata. Aktivitas-aktivitas ini bersinergi dan melengkapi fungsi dan aktivitas awalnya yang merupakan tempat ziarah atau yang sekarang menjadi wisata religi.

Kota-kota lain di Indonesia pun tak kalah berbenah. Ada Alun-Alun Kota di Bandung, Taman RPTRA di Jakarta, dan sebagainya. Sedangkan untuk di Provinsi Lampung, pemerintah daerah pun mulai membenahi ruang-ruang terbuka publik misalnya di Kota Metro dan di Kota Bandarlampung. Harapannya konsep Ruang Terbuka Publik 3.0 ini dapat terwujudkan. Memang dalam pelaksanaannya, ada yang berhasil namun ada juga yang belum memahami prinsip utama dalam perencanaan dan perancangannya sehingga banyak menemui hambatan dan mendapatkan hasil yang kurang optimal. Oleh karena itu perlu adanya komitmen dan upaya yang lebih serius dari pemerintah kota dan pihak lain yang terkait untuk menempatkan ruang terbuka publik pada prioritas yang lebih tinggi dalam pembangunan kota yang berkelanjutan. Menurut publikasi dari UCLG-ASPAC yang berjudul Public Spaces in Asia Pacific: Why Local Governments Need to Act (2016), kota-kota yang sukses dalam pembangunannya pada umumnya mengalokasikan kurang lebih 50% dari lahan perkotaannya untuk ruang publik, dengan komposisi sekitar 30-35% untuk area jalan dan 15-20% untuk ruang terbuka dan fasilitas publik. Terlebih lagi pada kesepakatan internasional dalam Sustainable Development Goals (SDGs) pada tujuan nomor 11 point 7 dinyatakan bahwa “sampai dengan 2030, menyediakan akses yang universal untuk ruang terbuka dan ruang hijau publik yang aman, inklusif, dan mudah diakses, khususnya untuk wanita dan anak-anak, orang lanjut usia, dan orang yang berkebutuhan khusus”. Dari sini dapat kita lihat betapa penting peranan ruang terbuka publik dalam wacana internasional.

Sebagai penutup, sekaligus menjelaskan arti dari judul tulisan ini, sebenarnya sudah ada satu lagi bentuk ruang terbuka publik yang lebih baik lagi yaitu Ruang Terbuka Publik 4.0 (Public Open Space 4.0). Dalam tipe 4.0 ini ruang terbuka publik tidak hanya mewadahi berbagai fungsi dan aktivitas publik namun juga mempunyai visi dan nilai tambah. Seperti pada wacana Industry 4.0 yang memperlihatkan peranan sistem non fisik, seperti internet dan teknologi informasi, Ruang Terbuka Publik 4.0 juga memunculkan fitur-fitur itu dalam suatu visi yang jelas dan strategis. Jika dari tipe 1.0 – 3.0 pada dasarnya fungsi dan aktivitas publik bertempat di satu ruang terbuka hijau saja, maka pada tipe 4.0 fungsi dan aktivitas publik dapat berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Bahkan fungsi dan aktivitas tersebut bisa juga berpindah dari ruang terbuka publik tersebut ke ruang privat. Kuncinya adalah pada visi yang jelas, inovatif, konsisten, dan komprehensif, mulai dari perencanaan, pembangunan, sampai dengan pengelolaan ruang terbuka publik tersebut.

Oki Recycling Center “Kururun”

Contohnya bisa dilihat pada suatu kawasan ruang publik terpadu di kota Oki, sebuah kota kecil di Fukuoka Perfecture. Pada tahun 2008 Kota Oki telah mendeklarasikan visinya sebagai Zero Waste City (Kota Nol Sampah) lengkap dengan strategi implentasi dan rencana aksinya. Selain dengan meningkatkan upaya daur ulang, pemerintah kota bersama dengan warga kota melakukan perencanaan dan pembangunan suatu kawasan khusus yang didedikasikan untuk mewujudkan visi itu. Pusat dari kawasan tersebut adalah Oki Recycling Center “Kururun” yang merupakan fasilitas pengolahan limbah cair dan padat dari rumah tangga warga kota Oki. Fasilitas ini terletak di pusat kota dan sekaligus berfungsi sebagai pusat informasi dan edukasi yang dapat dikunjungi setiap saat. Di Recycling Center ini terdapat fasilitas pengolahan gas Methane dengan proses fermentasi untuk dimanfaatkan menjadi sumber energi dan juga menghasilkan pupuk cair yang digunakan oleh penduduk setempat. Selain itu ada juga ruang belajar dan pameran serta pusat informasi. Ruang terbuka publik dalam bentuk taman atau ruang terbuka hijau juga terletak bersebelahan dengan Recycling Center. Di taman ini dapat dijumpai sarana permainan anak-anak juga tempat pertunjukan seni atau hobby, selain tentunya bangku-bangku taman yang dapat digunakan sebagai tempat berkumpul warga setempat. Di sebelah Recycling Center juga didirikan restoran “Deli & Buffet Kururun” yang menyajikan masakan sehat yang menggunakan bahan-bahan alami setempat. Bersebelahan dengan restoran ini ada toko Michi no Eki Oki yang menjual buah-buahan, sayur mayur, dan bahan-bahan alami lainnya yang merupakan hasil pertanian dan perkebunan dari warga Kota Oki yang lokasinya tak jauh dari situ.

Kawasan yang didedikasikan untuk publik ini letaknya memang di pusat kota dan dapat diakses dengan mudah dari kantor pemerintah kota. Di kawasan inilah visi Kota Oki sebagai Kota Nol Sampah diwujudkan melalui suatu konsep ruang terbuka publik yang visioner dan inovatif. Tidaklah umum bagi kita melihat suatu pusat pengelolaan limbah berdiri bersebelahan dengan taman kota dan restoran yang ramai dikunjungi warga kota. Dengan mengunjungi ruang terbuka publik di Kota Oki ini, warga kota secara terus menerus akan diedukasi dan mendapat informasi baik secara langsung maupun tidak langsung tentang pentingnya konsep 3R (Reduce-Reuse-Recycle) dan juga pentingnya menghargai siklus lingkungan hidup secara alami dan menggunakan sumber daya alam termasuk energi secara berkelanjutan. Kemudian pengetahuan dan kesadaran ini dapat dipraktekkan di lingkungan rumah masing-masing. Ini adalah suatu konsep yang terpadu dengan nilai tambah yang luar biasa sekaligus menjadi model terbaru dari suatu Ruang Terbuka Publik 4.0.

Walau memang untuk mendapatkan wujud Ruang Terbuka Publik 3.0 atau suatu ruang terbuka publik yang multifungsi saja masih merupakan “Pekerjaan Rumah” yang cukup berat bagi kota-kota di Indonesia khususnya di Provinsi Lampung, dengan mengetahui adanya tipe 4.0 ini mudah-mudahan dapat menjadi pemicu percepatan dan peningkatan prioritas dalam penyediaan ruang terbuka publik untuk warga kota. Mungkin tidak perlu lagi hanya sekedar menargetkan atau membidik perencanaan dan pembangunan ruang terbuka publik yang multifungsi tapi perlu juga mulai membangun suatu visi dan memperkenalkan nilai tambah bagi ruang terbuka publik. Sehingga paling tidak bisa muncul variasi model Ruang Terbuka Publik 3.1.

This slideshow requires JavaScript.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s