Oshinbun

5b2cdccc

Dhreeet…det…det…det…deeeet…dhereeeeeet…det…det…det…

Keheningan sore itu tetiba pecah oleh rentetan suara cempreng dari mesin sepeda motor dua tak keluaran tahun 70-an.  Suara itu awalnya sayup-sayup terdengar sampai kemudian membesar dan mengelegar saat sosok sang sumber suara muncul dari ujung jalan kecil menuju taman. Tampak sesosok orang mengendarai sepeda motor yang dari penampilannya sekilas terlihat telah termakan oleh zaman. Namun laju sepeda motor itu masih cukup kencang sehingga orang bisa memaklumi bahwa sepeda motor itu dipertahankan karena fungsinya. Bukan untuk koleksi museum barang antik.

Sosok pengendara sepeda motor tersebut melintasi jalan di samping taman dengan cepat dan segera saja ia mencapai ujung akhir dari taman tersebut. Taman itu sendiri berbentuk persegi panjang dan dikelilingi oleh deretan bangunan rumah susun yang rata-rata tingginya lima lantai. Komposisi deretan bangunan beton dengan taman yang berada di tengah-tengah itu seperti layaknya versi sederhana dari perpaduan blok-blok bangunan tinggi di kota New York dengan keberadaan Central Park di tengah-tengah. Tentunya ini versi yang jauh, jauh sangat sederhana.

Tepat di bangunan pertama setelah melewati ujung akhir dari taman itu, sang pengendara sepeda motor tadi berhenti. Dengan gerakan yang cepat namun pasti, ia memarkir sepeda motornya, mengambil sesuatu yang dikemas dengan bungkusan plastik dari keranjang depan, dan berlari menuju lorong tangga di bagian depan bangunan rumah susun tersebut. Sosok tersebut terus berlari menaiki tangga hingga lantai ke lima, dan berhenti sejenak di atas sana. Tidak jelas benar apa yang ia lakukan namun tak lama terlihat ia kembali bergegas turun, menaiki sepeda motornya kembali, dan segera melaju kembali ke arah perempatan jalan. Di perempatan jalan ia berbelok ke arah kanan menuju arah kompleks sekolah dasar. Caranya berbelok sudah menyerupai gaya Valentino Rossi mengambil tikungan sirkuit Twin Ring Motegi dengan dengkulnya yang hampir menyentuh aspal.  Suara sepeda motor tersebut kembali menggelegar sampai kemudian perlahan mulai sayup-sayup dan menghilang. Adegan tadi hanya berlangsung kurang dari tiga menit. Lebih cepat dari waktu yang diperlukan agar seporsi mie instant siap disantap.

Dhreeet…det…det…det…deeeet…

Raungan sang motor tua kembali terdengar. Sore itu jarum jam besar di dinding depan bangunan utama Iseigaoka Shougakkou (SD Iseigaokka) menunjukkan pukul 15.07 Japan Standard Time (JST) saat Jono memacu sepeda motor tuanya itu melaju melewati kompleks sekolah dan menuju deretan perumahan tua di blok sebelah. Ya, pengendara motor tua itu adalah Jono, seorang pemuda Jawa. Langit di musim Aki (baca: gugur) sore hari ini terlihat sangat indah sekali. Warnanya biru cerah dengan sedikit semburat garis-garis awan putih yang saling bersilangan bak hiasan bunga melati pada baju pengantin Jawa. Di bagian cakrawala paduan biru putih ini disambut dengan komposisi warna hijau tua, kuning, oranye kemerahan yang berasal dari warna dedaunan dan deretan pepohonan di perbukitan yang melingkari daerah perkotaan Kitakyushu di selatan Jepang ini.

Sayangnya Jono tak sedikitpun punya kesempatan untuk menikmati keindahan kreasi Sang Maha Pencipta ini. Yang ada di benaknya saat ini hanya satu. Dia harus segera menyelesaikan hantaran korannya ini sebelum jam 4 sore. Kalau tidak, sudah bisa dipastikan salah seorang pelanggan akan menelpon Kuroyama-san, bosnya dan komplen, seperti yang terjadi di minggu pertama Jono memulai pekerjaan Shinbun Haitatsu (baca: mengantar koran) ini. Saat itu Kuroyama-san tidak punya pilihan lain selain mengomeli dia dalam bahasa Jepang yang kasar. Walaupun si Jono tidak mengerti benar apa yang dikatakan si bos, namun tetap saja raut muka dan nada suara Kuroyama-san cukup membuat Jono merasa sangat bersalah dan takut. Dia takut jika karena itu Kuroyama-san kemudian memutuskan untuk memecatnya. Jono sangat membutuhkan baito (baca: pekerjaan sampingan) ini karena ia tak kunjung berhasil mendapatkan beasiswa untuk menunjang hidupnya selama merantau sebatang kara di negeri Sakura ini. Bukannya Jono tidak memenuhi persyaratan untuk mendapatkan beasiswa. Malahan sebenarnya ia telah melampaui standar kualifikasi dari penerima beasiswa pada umumnya. Otaknya pun cukup cemerlang. Terbukti predikat sarjana telah diraihnya dengan IPK di atas 3. Tekatnya pun telah bulat untuk menempuh studi lanjut di Jepang.  Hanya saja ia tak kunjung beruntung.

Ketika seorang kerabat dekat menawarkan untuk membantunya dengan sejumlah uang untuk melanjutkan studinya, langsung saja ia terima.

“Matur nuwun, Pakdhe. Tidak terlalu banyak, kok. Yang penting uangnya cukup untuk berangkat ke Jepang dan untuk mendaftar masuk pendidikan pasca sarjana di universitas,” ujarnya coba meyakinkan kerabatnya yang ia tahu sangat sukses sebagai pengusaha properti.

“Lalu bagaimana dengan keperluan hidupmu nanti, No? Kamu ndak usah takut ndak bisa ngganti uang ini. Pakdhe ikhlas.”

“Jangan khawatir, Pakdhe. Aku nanti cari kerja. Kalau kita berusaha, insya Allah pasti ada jalan keluarnya. Sesudah tiap kesulitan itu pasti ada kemudahan, “ jawabnya menirukan kembali ucapan ibunya yang mengutip sebuah ayat suci. Kalimat ini sering sekali ia dengar saat ibunya sedang berusaha menyemangati bapaknya yang terlihat bersedih memikirkan hasil panen mereka yang akhir-akhir sering sekali gagal akibat cuaca yang tak menentu. Keluarga mereka adalah keluarga petani turun temurun yang hidup pas-pasan dengan hanya mengandalkan sawah mereka. Sehingga satu-satunya harapan bagi Jono untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri hanya dengan beasiswa. Bapak ibunya berjuang sekuat tenaga menyisihkan uang untuk kuliah Jono dengan harapan ia bisa mengubah nasib keluarganya. Namun tetap saja tak pernah terbayangkan oleh mereka untuk menyekolahkan Jono sampai ke luar negeri.

“Ngopo tho sekolah adoh-adoh (baca: jauh-jauh), No?” tanya Ibunya dengan nada sedih saat Jono memberitahukan niatnya untuk pertama kalinya.

“Biar aku bisa jadi petani modern, Bu.”

Mendengar jawaban Jono seperti itu, Ibu hanya terdiam dan memalingkan pandangan ke arah bapaknya. Bapak hanya bergeming dengan wajah yang terpaku lurus ke arah luar jendela. Ke arah petak-petak sawah mereka yang baru saja selesai ditanam kembali. Perlahan kepala Bapak mengangguk pelan.

Uang pinjaman dari kerabatnya itu telah lama habis. Saat ini hanya gaji dari Shinbun Haitatsu inilah yang ia andalkan untuk membayar sewa apato (baca: apartment) kecil nan sederhana yang ia tempati. Di Indonesia, apato tempat Jono tinggal mungkin lebih tepat disebut kamar kos karena ukurannya yang memang hanya sebesar kamar. Namun harga sewanya setara dengan 4 kali lipatnya. Belum lagi biaya listrik, air, dan gas yang di musim gugur bersuhu rendah seperti ini semua biaya tersebut otomatis meningkat karena Jono sama sekali tidak tahan dingin. Sebenarnya itulah sebabnya kenapa saat ini gerakan Jono semuanya serba cepat dan dengan berlari. Agar panas tubuhnya tetap terjaga dan tentunya agar cepat selesai sebelum jam empat sore. Untungnya gaji yang ia terima dari baito ini cukup lumayan. Lagi-lagi tidak bisa dibandingkan dengan upah untuk pekerjaan serupa di kampong halamannya. Konsekuensinya Jono harus membagi waktu antara kuliah, belajar bahasa, dan pekerjaan yang liburnya hanya pada hari Minggu atau tanggal merah pada kalender. Sebenarnya ia pun tidak punya banyak pilihan lain karena hanya baito ini saja yang tidak membutuhkan kemampuan bahasa. Cukup ketangkasan dalam berlari dan mengemudikan sepeda motor.

Tak terasa hari ini tepat sebulan berlalu sejak pertama kali Jono memulai pekerjaan ini di ASAHI SHINBUN, salah satu perusahaan distribusi koran tertua di kota Kitakyushu. Semua rute dan alamat hantaran koran telah dihafalnya sampai-sampai gerakannya seperti sudah otomatis. Dengan memejamkan mata rasanya ia bisa menyelesaikan tugasnya. Tentu saja dengan catatan tidak ada mobil-mobil lain dan truk-truk besar yang lalu lalang dan melaju kencang berbarengan dengannya. Jono sudah hafal benar detil-detil gerakan yang bisa membuatnya menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Dimulai dari awal ketika ia menyiapkan koran-koran yang harus dibungkus dengan plastik terlebih dahulu dengan menggunakan mesin. Ia sudah tahu benar mesin mana yang masih berfungsi normal dan mesin mana yang sudah terlalu sering dipakai sehingga kecepatannya jauh berkurang. Ia pun sengaja memarkir sepeda motornya sedekat mungkin dengan pintu keluar dan di barisan yang paling luar sehingga tidak perlu mengantri.

Dalam perjalanan, ia pun sudah sedikit memodifikasi rute yang diberitahukan kepadanya. Salah satunya adalah dengan mengutamakan tempat-tempat yang bisa ditempuh dalam satu jalur tanpa harus berbelok atau memutar balik. Jikalau harus berbelok, ia pun sengaja memilih perempatan-perempatan yang sepi sehingga ia bisa beraksi ala pembalap MotoGP. Biasanya perempatan seperti ini terletak di area permukiman dengan rumah-rumah satu lantai non apartemen yang berbaris berdekatan di lereng perbukitan. Di rumah-rumah seperti ini bahkan ia tidak perlu turun dari sepeda motornya karena ia bisa memasukkan koran ke kotak surat yang terletak di pagar rumah langsung dari tepi jalan. Rute melewati area permukiman ini sengaja ia kumpulkan di bagian akhir perjalanannya mengantar koran. Satu rutinitas yang biasa Jono lakukan setelah menyelesaikan semua hantaran korannya adalah beristirahat sejenak di dekat sebuah Jidouhanbaiki (baca: mesin otomatis penjual minuman kemasan) yang terletak di sudut bangunan kantornya.

Mesin itu letaknya sedikit memakan area jalur pejalan kaki yang berbatasan langsung dengan gang kecil. Di seberang gang itu ada lahan parkir yang selalu kosong. Di lahan kosong itu selalu berkumpul beberapa ekor kucing liar. Jumlahnya tidak menentu. Kadang 4 ekor, 5 ekor, atau pernah dihitungnya sampai 10 ekor. Mereka berkumpul mengitari satu titik tertentu. Sekilas terlihat kucing-kucing tersebut berkumpul seperti sedang rapat. Namun kalau diperhatikan ternyata mereka mengelilingi sebuah mangkuk kecil yang berisi susu. Bergantian kucing-kucing itu menjilati isinya sambil mengeong saling menimpali. Sesosok perempuan tua juga ikut terlihat di tempat itu. Malah seingat Jono, perempuan tua itu tidak pernah absen. Tangannya terlihat menggenggam sebuah kotak susu. Kalau mangkuk susu yang dikelilingi kucing-kucing itu terlihat sudah kosong, maka ia dengan sigap menuangkan susu dari kotak yang selalu dibawanya itu.

“Enak sekali kucing-kucing itu ya. Minum susu gratis terus,” gerutu Jono dalam hati saat pertama kali ia memperhatikan adegan itu. Lama kelamaan ia sudah tidak merasa iri lagi dengan para kucing itu. Karena dari kantong celananya yang ia temukan selalu hanya beberapa keping uang logam.

“Yang penting hidup saya tidak tergantung pemberian orang lain,” begitu Jono selalu meyakinkan dirinya sendiri.

Dengan uang logam yang ada di kantong celananya yang ia bisa beli biasanya hanya sebotol air mineral yang harganya paling murah. Jono merasa itu sudah cukup untuk sekedar mengembalikan sedikit tenaga yang lumayan terkuras. Ia kemudian duduk di atas motornya yang sudah terlebih dahulu diparkirnya di area parkir sepeda motor di depan kantornya. Saat ia meneguk sedikit demi sedikit air mineral tersebut, matanya tak lepas mengamati sekumpulan kucing itu. Warna kulit mereka bermacam-macam. Ada yang kuning belang-belang, hitam, abu-abu, dan kombinasinya. Ada satu kucing yang juga selalu hadir. Warnanya hitam pekat dan matanya hijau berkilauan. Jono selalu dapat mengenalinya. Kucing hitam ini yang selalu mengawali aksi meminum susu itu. Sampai Jono selesai menghabiskan minumannya kucing-kucing itu masih asyik berkumpul.

Jono selalu menjadi orang yang pertama kali selesai mengantar koran. Selalu ia jumpai pintu kantor tertutup rapat pertanda belum ada orang lain yang menyelesaikan tugas mengantar koran. Setelah selesai ia pun bergegas mengendarai sepedanya untuk kembali ke kampus. Jono pun menghabiskan harinya dengan belajar bahasa Jepang di perpustakaan sampai perpustakaan tutup. Sengaja ia lewatkan makan malam supaya lebih hemat.

Dhreeet…det…det…det…deeeet…

Cuaca cerah hari ini sepertinya mempengaruhi semangat dan ketangkasan Jono dalam bekerja. Tak terasa tumpukan koran di keranjang sepeda motornya sudah menipis. Tepat saat jam tangan yang ia kenakan menunjukkan waktu 15 menit sebelum jam 4 sore, koran terakhir sudah ia masukkan ke kotak pos terakhir. Kotak pos ini menjadi satu dengan pagar batu setinggi pinggang orang dewasa. Di balik pagar tidak terlihat ada aktivitas penghuni rumah. Namun dari kondisi mobil mewah yang terparkir rapi di garasi dan suasana hening di dalam rumah, Jono menduga penghuni rumah adalah seorang yang sudah lanjut usia. Apalagi ditambah dengan hantaran koran ini. Hampir semua pelanggan koran yang pernah Jono temui adalah para lansia.

Dari rumah pelanggan yang terakhir itu, Jono memacu motornya kembali melewati deretan pagar batu yang berbatasan langsung dengan jalan aspal yang tidak begitu lebar. Di depan sana sudah terlihat ujung jalan yang berakhir di sebuah pertigaan. Jono tinggal belok kiri dan sampailah ia di kantor. Tepat jam 15.48 Jono sampai di halaman kantor dan segera memarkir sepeda motornya. Masih 10 menit lebih awal dari biasanya.  Pintu kantor seperti biasa masih tertutup rapat. Dengan santai Jono berjalan menuju Jidouhanbaiki di sudut kantor. Dari kantong celananya ia ambil satu keping uang logam seratus yen dan 3 keping uang logam 10 yen. Satu per satu ia masukkan ke lubang koin pada mesin itu dan diakhiri dengan tombol di bawah contoh kemasan minuman mineral yang ia biasa beli.

unnamed (2)

“Duk, duk!” terdengar suara benda jatuh dari sebuah kotak dengan pintu kecil yang transparan di bagian bawah mesin, tempat mengambil minuman yang dibeli. Ketika Jono sedang hendak berjongkok mengambilnya, terdengar suara benda jatuh yang lain.

“Duk!”

Suaranya terdengar dari arah dalam kantor. Suara-suara aneh yang lain kembali terdengar perlahan. Sepertinya ada seseorang di dalam kantor. Tepat di sebelah mesin ada sebuah lubang saluran kondensor AC yang tidak tertutup rapat. Lubang itu terletak sekitar satu jengkal tangan dari atas kepala Jono. Dilepasnya helm dan ditaruhnya di bawah sebagai pijakan untuk melihat ke dalam kantor melalui lubang itu. Bagian atas helm itu terasa licin saat Jono menginjaknya namun dengan berhati-hati dan berpegangan pada dinding, mata Jono akhirnya bisa berada sejajar dengan posisi lubang. Apa yang terlihat selanjutnya dari balik lubang itu adalah pemandangan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Ruangan kantornya terlihat normal seperti biasa. Tumpukan koran lama masih tersusun rapi di salah satu sudut. Beberapa mesin pembungkus plastik pun berjejer pada posisinya. Di sudut yang lain tergantung beberapa jas hujan pada rak besi yang di bagian atasnya terlihat deretan helm-helm cadangan. Hanya saja di sudut yang paling jauh dari posisi lubang ini tepatnya pada posisi meja di mana biasanya Kuroyama-san duduk, terlihat sedikit berantakan. Kertas-kertas terlihat bertaburan di lantai sementara meja kerjanya terlihat bergerak-gerak tidak beraturan. Terlihat samar-samar sosok seseorang duduk di kursi dengan posisi membelakangi arah pandangannya saat ini. Dari gerakannya yang menunduk dengan tangan yang memegangi kepala dan gerak-geriknya yang aneh, sepertinya orang itu sedang kesakitan.

Sosok orang itu menyerupai bosnya. Dan dari pakaian seragam kantor warna biru tua yang dikenakan orang itu, Jono semakin yakin bahwa sosok yang sedang duduk itu adalah Kuroyama-san. Walaupun dari kejauhan, Jono bisa melihat dengan cukup jelas apa yang terjadi.

Dalam hitungan detik, tubuh Kuroyama-san sedikit demi sedikit semakin mengecil sebelum akhirnya menghilang di balik tumpukan seragam yang sekarang tertumpuk setengah menggantung di atas tempat duduk. Tak lama dari tumpukan baju itu keluar sosok kecil yang kemudian melompat ke atas meja kerja. Sosok kecil itu adalah kucing hitam yang ia kenali selalu berada di lahan kosong bersama kucing-kucing yang lain. Degup jantung Jono seketika melaju kencang. Otaknya mencoba mencerna kejadian yang baru ia lihat tadi. Kucing hitam itu sekarang menggerakkan kaki depannya ke arah depan dan menekuk kaki belakangnya. Badannya membungkuk ke bawah sementara mulutnya terbuka lebar. Persis seperti kucing yang baru bangun tidur. Sorotan mata hijaunya menyapu seluruh bagian dalam kantor sebelum terhenti pada arah lubang di dekat AC. Pandangan matanya bertemu dengan pandangan mata Jono. Seketika kucing itu mengeong dengan suara yang keras sekali. Jono tersentak dan pijakannya goyah. Helm yang menjadi pijakannya tergeser dan Jono pun terjatuh. Secepat mungkin ia berusaha bangkit dan meninggalkan tempat itu dengan segera. Namun ketika ia berbalik, di belakangnya sudah berdiri sosok perempuan tua yang juga sering ia lihat bersama sekumpulan kucing-kucing itu. Pandangan mata perempuan tua itu menatap tajam ke arahnya sementara raut mukanya tanpa ekpresi. Tangannya memegang satu kotak susu yang masih belum dibuka.

Satu per satu kucing-kucing itu berdatangan dari arah lahan kosong di seberang jalan. Kucing kuning belang-belang, kucing abu-abu, kucing putih dengan beberapa garis hitam di badannya, dan disusul beberapa kucing yang lain. Semuanya mengambil posisi mengelilingi Jono. Tiba-tiba dari arah belakang terdengar kembali suara kucing yang mengeong. Kali ini suaranya tidak begitu keras. Namun nada suaranya sangat menggetarkan hati Jono yang juga belum sepenuhnya mengerti apa yang sedang terjadi. Ketika Jono membalikkan badannya kembali, terlihat sosok kucing hitam yang berjalan pelan dari arah pintu belakang kantor.

Saat itu suasana gang itu sangat sepi. Tidak ada orang lain lagi selain mereka. Perlahan tapi pasti kucing hitam itu berjalan mendekati Jono. Bola mata hijaunya menyala-nyala sementara otot-otot mulut kucing membentuk susunan menyerupai bentuk mulut manusia yang sedang tersenyum. Melihat itu tanpa Jono sadari ia bergerak melangkah mundur. Tak lama kakinya membentur badan mesin minuman tadi dan tiba-tiba sisi samping mesin itu secara otomatis terbuka dan dari dalamnya keluar sepasang tentakel besi yang dengan cepat melilit tubuh Jono. Segera Jono berontak sekuat tenaga dan berusaha melepaskan diri namun lilitan tentakel besi itu sangat kuat mencengkram kedua tangan dan kakinya. Ketika Jono hendak berteriak meminta tolong, tangan perempuan tua itu menutupi mulutnya dengan sebuah kain. Aroma dari kain itu sangat aneh. Perlahan kesadarannya pun menghilang. Sebelum penglihatannya menjadi gelap total, yang terakhir ia dengar adalah suara kucing hitam tersebut. Kali ini ini bukan mengeong, melainkan berbicara. Dengan suara berat seperti suara Kuroyama-san.

“Kamu seharusnya benar-benar memperhatikan waktumu, Jono. Terlambat itu tidak baik. Namun terlalu cepat juga akan membuat kamu melihat hal-hal yang tidak seharusnya kamu lihat.”

Gerakan Jono perlahan menjadi lemah dan tentakel itu dengan mudah membawanya masuk ke dalam Jidouhanbaiki itu. Sisi mesin yang tadinya terbuka perlahan menutup rapat. Pergelangan tangan kanan perempuan tua yang memegang kain berlumur obat bius tiba-tiba berputar masuk ke dalam seperti gasing dan keluar lagi dalam wujud tentakel besi. Tentakel besi ini kemudian masuk ke dalam satu lubang di mesin minuman itu yang berbentuk seperti lubang kunci. Kemudian terdengar bunyi klik dan setelahnya permukaan besi tempat mesin itu berdiri perlahan terbuka. Mesin itu bergerak masuk ke bawah tanah tanpa bersuara sama sekali. Setelah mesin itu masuk, permukaan besi itu perlahan menutup kembali.

Perempuan tua dan beberapa ekor kucing itu berjalan beriringan ke arah lahan kosong, sementara kucing hitam tadi telah menunggu di sana.

Image converted using ImgCvt

Ketika Jono tersadar, tubuhnya tetap tidak bisa bergerak. Ia berada di dalam sebuah tabung kaca seukuran tubuhnya. Dari balik kaca itu ia bisa melihat pemandangan sekelilingnya yang serupa dengan interior pesawat luar angkasa yang sering ia lihat di film-film science fiction. Panel elektronik dan layar komputer yang terlihat sangat canggih tersusun di sekeliling ruangan itu dan mengeluarkan cahaya warna-warni. Di depan panel tersebut duduk beberapa sosok kecil yang berpakaian serba ungu. Ketika ia sudah sadar sepenuhnya, Jono dapat melihat dengan jelas bahwa sosok-sosok kecil itu berwujud kucing.

“Bos, manusia itu sudah sadar. Harus kita apakan?” tanya seekor kucing yang duduk di depan Jono. Bukan dalam suara kucing, bukan juga dalam suara manusia. Anehnya Jono mengerti artinya.

Seekor kucing yang duduk di tengah ruangan mengalihkan pandangannya ke arah Jono. Kucing hitam yang sama. Hanya kali ini ia mengenakan pakaian serba ungu dengan jubah berwarna hitam.

“Apa boleh buat, masukkan gas bius lagi. Sebentar lagi kita sudah harus berangkat menuju Silverine. Nanti kita urusi manusia ini lagi di sana. Ia perlu banyak kita latih sebelum siap jadi budak bangsa Silverine, seperti ribuan manusia lain yang sudah melayani kita. Oh ya, Agen Sorine apa sudah disiapkan untuk menggantikan posisi manusia ini di Bumi?”

“Sudah, Bos. Mulai besok Agen Sorine sudah siap bertugas di Bumi.”

“Bagus. Kalau begitu ayo kita segera berangkat!” perintah sang kucing hitam seraya menekan tombol merah yang ada di kursinya.

Tak lama kemudian badan pesawat itu bergetar hebat dan melesat dengan kecepatan cahaya ke angkasa. Sementara itu gas berwarna putih pekat perlahan menyelubungi tabung kaca. Jono berteriak. Tapi dari mulutnya tidak keluar suara apa pun.

Keesokannya harinya sesosok pemuda yang menyerupai Jono sampai di kantor ASAHI SHINBUN tepat pukul 4 sore. Selesai memarkir sepedanya motornya, ia masuk ke kantor dan menutup pintu kantor dengan rapat. Selang lima menit dari pintu belakang kantor keluar seekor kucing yang berwarna putih bersih. Ia berjalan pelan menuju lahan kosong di seberang gang. Di sana sekumpulan kucing telah menunggu.

“Selamat bergabung, Agen Sorine,” ujar kucing berwarna abu-abu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s