(Resensi Buku) Kota Kita Milik Siapa

 

Jika ada survey persoalan perkotaan paling aktual di Bandar Lampung saat ini, mungkin warga Bandar Lampung akan menunjuk kemacetan di jalan pada urutan pertama. Pemda Kota Bandar Lampung baru memulai pembangunan tiga flyover (jembatan layang) di depan Mal Boemi Kedaton, simpang Unila, dan simpang Jalan Pramuka, Rajabasa. Proyek besar yang digesa selesai tahun ini juga itu menyebabkan kemacetan di jalan sekitar lokasi pembangunannya.

Persoalan kemacetan akibat proyek flyover ini mungkin bersifat sementara. Seperti juga debat pro-kontra seputar pembangunan jembatan layang akan selesai dengan sendirinya. Keputusan sudah ditetapkan oleh penguasa. Pembangunan terus berjalan sesuai rencana Pemerintah Kota. Persoalan mendasar dalam pengambilan keputusan pemerintah terkadang bukan pada keputusan apa yang diambil, melainkan pada bagaimana keputusan itu dibuat. Terlebih ketika keputusan itu menyangkut kepentingan rakyat, hajat hidup kita semua.

Dalam kasus pembangunan flyover itu, misalnya, pro dan kontra banyak kita baca di media massa dan media sosial. Berbagai perspektif berhadapan, dengan argumentasinya masing-masing. Pertanyaannya adalah, apakah beragam sudut pandang warga itu sudah mendapat tempat dalam proses pengambilan keputusan? Sekadar di dengar dalam forum musyawarah pembangunan, itu saja tak cukup.

Karena pembangunan hakikatnya untuk mengatasi persoalan masyarakat, maka pembangunan perkotaan sangat perlu mendengarkan aspirasi warganya. Bukan sekadar mendengar dengan telinga, tetapi harus dengan hati dan pikiran. Mendengar dengan ketulusan, kesungguhan, dan komitmen. Mendengar dengan penuh penerimaan, penghargaan, dan kepedulian. Hanya dengan itu, pemerintah akan memiliki pemahaman yang tegas tentang apa yang diharapkan warganya. Pemerintah dan warganya bisa bersama-sama belajar, bersama-sama tumbuh, dan bersama melaksakanan pembangunan yang melahirkan solusi sesungguhnya. Inilah paradigma pembangunan yang diharapkan. Bukan paradigma yang menganggap kewenangan dan kekuasaan adalah segala-galanya.

Dr. Deden Rukmana, Associate Professor di Savannah State University, dalam pengantar buku “Kotak-Katik Kota Kita; Narasi Perkotaan Berwawasan Lingkungan di Provinsi Lampung” menulis bahwa: “Sumber-sumber daya lokal yang dimiliki oleh masyarakat mesti digali dan didayagunakan sebaik-baiknya untuk pengembangan kota di masa mendatang. Masyarakat kota mesti dijadikan “pemilik” kota. Mereka mesti dibuat bangga menjadi warga kota tersebut.”

Kebanggaan itu akan muncul bila warga terlibat dalam segala upaya pengembangan kota. Segala aspek pengembangan kota seperti transportasi, perumahan, sarana dan prasarana lingkungan, pendidikan, pariwisata dan beragam aspek lainnya mesti dikenali dengan baik melalui pendekatan kearifan lokal. Pendekatan kearifan lokal menempatkan warga kota sebagai stakeholder terpenting dan pelaku utama dalam pengembangan kota. Pendekatan kearifan lokal mesti bisa menjawab atau mengurangi dampak-dampak buruk dari globalisasi dan kapitalisme terhadap pengembangan kota-kota Indonesia di masa mendatang.

Buku “Kotak-Katik Kota Kita; Narasi Perkotaan Berwawasan Lingkungan di Provinsi Lampung” merupakan kumpulan tulisan tiga penulis: Fritz Akhmad Nuzir, Yerri Noer Kartiko, dan Ridwan Saifuddin, yang lahir dari kepedulian penulis terhadap dinamika dan permasalahan perkotaan. Meski banyak mengambil seting Kota Bandar Lampung dan Kota Metro, namun buku ini tidak lepas dari nuansa global dalam memahami tantangan dan potensi pengembangan perkotaan.

Gagasan besar buku ini adalah tentang paradigma pembangunan kota yang semakin mendesak untuk terintegrasi dengan budaya dan perilaku warganya. Pembangunan yang tidak mengatasi masalah dengan masalah baru, akibat tajamnya kesenjangan antara pembangunan fisik kota dengan pembangunan budaya dan perilaku warganya. Prinsipnya adalah partisipasi dan sinergi, dalam arti yang sesungguhnya.

Buku ini diawali bab tentang New Urban Agenda atau Agenda Baru Perkotaan yang menjadi dokumen penting dari Perhimpunan Bangsa-Bangsa bagi pembangunan kota-kota di dunia di masa mendatang. Bab ini memberikan nuansa global dalam memahami tantangan dan potensi pengembangan kota-kota lokal di Provinsi Lampung.

Bab-bab selanjutnya dalam buku ini ditulis dengan bahasa yang lugas untuk mengungkapkan pemahaman yang mendalam tentang kearifan lokal dari beragam aspek di Kota Bandar Lampung dan Metro. Aspek-aspek pengembangan kota yang dibahas dalam buku ini sangat beragam termasuk kualitas lingkungan kota, konsep kota metropolis, agama, sempadan, kawasan kumuh, ruang hijau, emisi karbondioksida, pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun, transportasi, pengelolaan sampah, kekayaan budaya lokal, konsep kota pintar, serta pariwisata dan pengembangan ekonomi rakyat.

Karena kota milik kita, maka buku ini ada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s