Deret Pohon Mahoni sebagai Elemen Lanskap Heritage pada Aksis Struktur Ruang Kota Kolonis di Kota Metro

Deretan Pepohonan Mahoni di Jalan AH Nasution, Metro, Lampung. Sumber: Pojoksamber.com

Kolonisasi di Kota Metro

Program Trias van Deventer ditetapkan oleh Ratu Wilhelmina di Belanda pada tanggal 17 September 1901 agar diberlakukan di negeri-negeri jajahannya terutama di Hindia Belanda. Program ini berisi tiga kebijakan yaitu: transmigrasi atau kolonisasi, pendidikan, dan irigasi. Di pulau Jawa, kolonisasi ditujukan untuk mengurangi populasi penduduknya yang sangat besar. Sementara di bidang pendidikan, sekolah guru, sekolah pamongpraja, dan sekolah dokter mulai dibuka dan diperbanyak. Terakhir, kebijakan di bidang irigasi diejawantahkan dengan pembangunan bendungan dan saluran irigasi untuk meningkatkan hasil pertanian kaum pribumi pada waktu itu.

Program kolonisasi pertama di Lampung dilakukan pemerintah Belanda pada 1905. Rombongan pertama program kolonisasi yang ditempatkan di Gedongtataan (sekarang masuk Kabupaten Pesawaran, Lampung) diikuti ratusan orang dari desa Bagelen, Jawa Tengah. Kolonis yang ditempatkan di Gedongtataan didatangkan dalam beberapa gelombang tiap tahunnya sampai dengan tahun 1909. Di daerah kolonisasi tersebut, pemerintah Kolonial Belanda saat itu tetap menerapkan pola pemerintahan lokal yang berbentuk kepasirahan atau komunitas masyarakat adat yang memberi keleluasaan pada Belanda untuk mengontrol masyarakat. Dengan cara atau pendekatan seperti itulah Belanda akhirnya bisa menguasai kawasan yang membentang dari Bakauheni hingga Liwa, Blambangan Umpu, dan Mesuji.

Berbeda dengan sistem pemerintahan yang tetap mempertahankan pola asli setempat, pemerintah Kolonial Belanda menerapkan pembangunan infrastruktur jalan, permukiman penduduk, dan saluran irigasi yang dibangun dengan perhitungan sangat cermat seperti layaknya di Belanda pada daerah-daerah kolonisasi yang baru tersebut. Pada daerah-daerah tersebut sampai sekarang terlihat struktur ruang kota yang teratur dan tertata dengan baik karena dari awal memang sudah dirancang pemerintah Belanda sebagai kawasan perkampungan yang kelak akan membesar (menjadi kota) dengan pertanian sebagai penyangga utama kehidupan warganya. Di kota Metro sendiri, gelombang kolonis pertama didatangkan pada tahun 1936, dimana kemudian salah satu anggota kolonis, Dastro Gono Wardoyo, ditetapkan oleh pemerintah Kolonial Belanda sebagai Kepala Desa Metro. Karena pertumbuhannya yang cepat, pada Rabu, 9 Juni 1937, Metro dijadikan sebagai tempat kedudukan Asisten Wedana dan sebagai pusat pemerintahan Onder District Metro. Belanda menunjuk Mas Sudarto sebagai Asisten Wedana (Camat) pertama Metro.

Nama “Metro” diberikan pemerintah Kolonial Belanda kepada daerah baru tersebut dari kata “mitro” (bahasa Jawa) yang berarti teman atau mitra. Sumber yang lain menyebutkan Metro berasal dari kata “meterm” (Bahasa Belanda) yang berarti pusat atau sentral karena memang letak daerah kolonisasi tersebut berada tepat di tengah-tengah daerah Lampung pada waktu itu, tepatnya di antara Adipuro (Trimurjo) dan Rancangpurwo (Pekalongan). Di daerah ini Belanda membangun berbagai insfrastruktur pendukung perkampungan. Jalan-jalan mulai dibangun sehingga mempermudah akses penduduk. Salah satu ciri khas dari jalan-jalan baru yang dibangun Belanda tersebut adalah adanya pohon-pohon Mahoni yang ditanam di sepanjang sisi ruas jalan tersebut. Salah satunya adalah di sepanjang ruas Jalan AH Nasution yang melintasi kota Metro hingga saat ini. Ciri khas penanaman pohon-pohon seperti ini juga dapat kita temukan di pulau Jawa, dimana pohon Mahoni, pohon Beringin, dan pohon-pohon tua lainnya, sudah banyak ditanam di pinggir jalan sebagai peneduh sejak jaman penjajahan Belanda. Karakter streetscape seperti ini menarik untuk dikaji lebih mendalam untuk kemudian dapat didiskusikan dan diwacanakan sebagai salah satu elemen lanskap heritage yang terdapat di Indonesia.

Karakter Lanskap Kota Kolonis

Program kolonisasi tidak hanya dilakukan di Lampung atau di pulau Sumatera saja, tetapi juga dilakukan di berbagai tempat yang lain seperti di pulau Kalimantan dan pulau Lombok. Program ini selain memindahkan penduduk dari pulau Jawa ternyata juga “memindahkan” suatu elemen lanskap kota yang khas. Di pulau Kalimantan misalnya, terdapat kota Barabai yang dijuluki sebagai “Bandoeng van Borneo” atau Bandung-nya Kalimantan. Selain dikarenakan udaranya yang sejuk dan suasana kotanya yang tenang, julukan ini juga merujuk pada ruas-ruas jalan di pusat kota yang diteduhi oleh deretan pohon-pohon Mahoni yang rindang, yang oleh orang setempat disebut sebagai pohon Kenari. Pohon-pohon ini ditanam oleh pemerintah Kolonial Belanda dan dipelihara dengan baik oleh penduduk kota Barabai sampai dengan sekarang (Indoborneonatural.blogspot.co.id, 2015).

Di kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, deretan pohon Kenari dan Mahoni juga menghiasi bagian tepi dari ruas-ruas jalan utamanya dan menjadi identitas tersendiri bagi tata ruang kotanya. Pohon-pohon tersebut bahkan dilindungi keberadaannya dengan Peraturan Wali Kota Mataram Nomor 24 Tahun 2009 tentang Penataan Taman dan Dekorasi Kota (Tribunnews.com, 2016). Sementara di pulau Jawa, peninggalan kota Kolonis dengan karakter lanskapnya yang unik salah satunya dapat dilihat di kota Malang tepatnya di kawasan Ijen. Lanskap kawasan Ijen dihiasi dengan kombinasi dari Palem Raja (Roystonea regia), Mahoni (Swietenia mahagoni) dan Bungur (Lagerstroemia speciosa) yang memiliki umur lebih dari 50 tahun di tepi ruas jalannya sehingga kawasan ini dinilai memiliki nilai aspek sosial budaya paling tinggi (Budiyono, 2012). Lalu bagaimana dengan deretan pohon Mahoni yang ada di kota Metro, Lampung? Apakah pemerintah kota Metro sudah sepenuhnya menyadari potensi dan nilai-nilai lingkungan serta sejarah dari keberadaan pohon-pohon tua tersebut? Serta bagaimana kondisi umum pohon-pohon tersebut saat ini?

Fungsi Pohon sebagai Elemen Streetscape

Bentukan visual dari suatu ruas jalan dan kawasan di sekitarnya yang masih alami atau telah mengalami perekayasaan dari manusia di suatu lingkungan perkotaan dapat disebut sebagai streetscape atau bentang jalan. Salah satu elemen yang utama dari streetscape ini adalah tanaman, atau lebih spesifiknya lagi, tanaman pohon, yang harus direncanakan, didesain, dan dirawat dengan baik demi kenyamanan pengguna jalan (Rahman et al, 2015). Selain sebagai peneduh dan penyaring polutan, pohon juga memiliki fungsi estetika dan menciptakan identitas visual yang unik dari suatu streetscape (Carpenter & Walker, 1975).

Pohon Mahonia (Swietenia mahagoni) termasuk dalam tanaman tropis berusia panjang yang cocok untuk dibudidayakan di Indonesia karena dapat tumbuh di tempat-tempat yang terpapar sinar matahari langsung sehingga dapat dimanfaatkan sebagai tanaman peneduh, untuk bahan obat-obatan dan pestisida alami, bahan mebel dan kerajinan tangan yang baik, serta sebagai elemen streetscape yang sangat menonjol dikarenakan karakter fisiknya yang dapat mencapai ketinggian hingga 30 meter dengan diameter batang yang besar (Sutarni, 1995).

Pohon Mahoni di Kota Metro

Di kota Metro, pohon Mahoni tumbuh dengan baik di sepanjang Jalan AH Nasution. Ruas jalan ini membelah struktur ruang kota Metro sejajar dengan arah barat-timur dan membentang mulai dari ujung jalan paling barat yang terletak di pusat kota Metro yang berbatasan langsung dengan Taman Merdeka dan Jalan Jenderal Sudirman sampai dengan ujung jalan paling timur yang berbatasan langsung dengan kabupaten Lampung Timur. Pola struktur ruang kota Metro merupakan peninggalan pemerintah Kolonial Belanda yang bercirikan struktur ruang dengan grid yang simetris lengkap dengan city center (pusat kota) di bagian tengah yaitu Taman Merdeka dan Masjid Agung Taqwa Kota Metro khas kota-kota di Belanda pada khususnya atau di Eropa pada umumnya. Terlihat pula Jalan AH Nasution merupakan ruas jalan yang berada pada posisi aksial atau sumbu dari struktur ruang yang simetris tersebut.

Tingkat kepadatan lalu lintas yang melintas di Jalan AH Nasution semakin meningkat dari tahun ke tahun. Begitu pula tata guna lahan yang semakin beragam dan mulai didominasi oleh kegiatan atau fungsi perekonomian dan perkantoran. Pembangunan fasilitas umum pun semakin meningkat mulai dari jalur pejalan kaki sampai dengan fasilitas pendidikan dan kesehatan. Tren ini pun membawa dampak langsung terhadap kondisi streetscape di sepanjang Jalan AH Nasution ini. Saat ini hanya tersisa sebanyak 163 pohon Mahoni yang masih berdiri di sepanjang jalan ini. Jarak antar pohon kurang lebih 10 meter. Usia pohon-pohon tersebut telah mencapai lebih dari setengah abad dengan tinggi kanopi tertingginya mencapai sekitar 30 meter dan ukuran batangnya seukuran lebih dari pelukan orang dewasa (Pojoksamber.com, 2016).

Berdasarkan observasi, pada setiap perempatan jalan yang bersimpangan dengan Jalan AH Nasution tersebut, deretan pohon Mahoninya terlihat lebih sedikit dan jarang ketimbang di bagian jalan yang lain. Pengembangan trotoar, akses keluar masuk plot pribadi, dan area parkir tepi jalan secara perlahan mempengaruhi ketersediaan ruang hijau yang awalnya diperuntukkan bagi tumbuh dan berkembangnya deretan pohon Mahoni tersebut. Kesadaran masyarakat akan pentingnya keberadaan pepohonan ini pun baru sebatas kenangan nostalgia semata. Terbukti dengan mudah dapat ditemui spanduk atau poster yang dipakukan langsung ke pohon-pohon tersebut. Sementara belum ada suatu peraturan khusus tentang konservasi deretan pohon Mahoni tersebut.

Daftar Pustaka

Budiyono, D., et al. (2012). Lanskap Kota Malang sebagai Obyek Wisata Sejarah Kolonial. Jurnal Lanskap Indonesia, Vol. 4, No. 1.

Carpenter, P.L. & Walker, T.D. (1998). Plants in The Landscape. USA: Waveland Press, Inc.

Sutarni, M.S. (1995). Flora Eksotika Tanaman Peneduh. Jakarta: Penerbit Kanisius.

Rahman, A., et al. (2015). Evaluasi Aspek Fungsi Tanaman pada Lanskap Jalan Kampus Universitas Sam Ratulangi. Cocos. Jurnal Ilmiah Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi, Vol. 6, No. 17.

http://indoborneonatural.blogspot.co.id/2015/12/sebagian-kecil-tentang-sejarah-tentang.html

http://www.pojoksamber.com/mahoni-pohon-tua-penghisap-polusi-di-kota-metro/

http://www.tribunnews.com/travel/2016/02/05/pohon-kenari-tua-di-kota-mataram-yang-bikin-penasaran-rombongan-turis-belanda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s