Right for Green(er) Urban Infrastructure

16402125_10154068916310738_628100300_n

Taman Merdeka, kota Metro, provinsi Lampung. Dokumentasi Pribadi, 2017.

Berbeda dengan istilah Green Infrastructure yang secara formal didefinisikan sebagai sumber daya alami dari suatu kota seperti misalnya penghijauan, perairan, dan sebagainya, “hijau” disini harus dimaknai lebih luas sebagai suatu wawasan dan perbuatan yang ramah lingkungan serta berhubungan langsung dengan warga kota yang notabene adalah manusia. Dalam konteks infrastruktur kota, pemaknaan di atas pun menghasilkan wacana infrastruktur kota yang ramah lingkungan dan pro-manusia secara hakiki. Kata “lebih” disini melengkapi pemaknaannya melalui konsep keberlanjutan (sustainability) yang melekat. Tidak pernah ada kecukupan, harus selalu lebih baik dan lebih baik lagi.

Dengan pandangan seperti ini, kita dapat melihat apakah pembangunan infrastruktur wilayah, dengan penekanan pada wujud kota, di Provinsi Lampung saat ini telah memenuhi hak kita atas infrastruktur kota yang lebih “hijau” tersebut? Dua contoh yang paling happening dan menjadi media darling saat ini baik secara pro maupun kontra adalah serial fly-over di kota Bandarlampung dan Bandar Udara Radin Inten II. Di era teknologi informasi yang sangat dahsyat saat ini keduanya menjadi sorotan lantaran dampaknya terhadap lingkungan alam khususnya di perkotaan. Bukannya bermaksud mengecilkan peranannya terhadap pembangunan yang sudah pasti akan meningkatkan perekonomian daerah, khususnya dari sektor transportasi, akan tetapi perlu juga disadari bahwa peningkatan emisi karbon juga pasti terjadi. Emisi karbon berhubungan langsung terhadap fenomena perubahan iklim yang telah memicu terjadi bencana alam di berbagai penjuru bumi dan sepertiga dari total emisi karbon itu bersumber dari sektor transportasi. Kembali kepada pertanyaan tentang hak akan infrastruktur yang ramah lingkungan, yang memperhatikan penduduk kota sebagai manusia, tentunya kita sudah bisa meraba jawabannya di hati kecil kita masing-masing.

Infrastruktur kota yang paling sering dipinggirkan terutama di pembangunan kota-kota di negara berkembang adalah ruang publik, akibat tergerus kepentingan ekonomi dan politik. Padahal ini adalah hak utama sebagai warga kota. Keberadaan ruang publik merupakan bentuk pengakuan langsung terhadap eksisnya manusia-manusia yang tinggal di kota tersebut.  Idealnya lagi ruang publik itu bersinergi langsung dengan ruang terbuka hijaunya menjadi sebuah lansekap multifungsi. Ini yang dikembangkan di kota-kota modern seperti Tokyo misalnya yang hanya mempunyai 3 meter persegi ruang terbuka hijau untuk tiap penduduknya. Kota Jakarta juga saat ini hanya memiliki sekitar 6,5 meter persegi area hijau untuk tiap warga kotanya. Namun kita harus tahu bahwa saat ini di area-area hijau yang terbatas itulah dikembangkan konsep-konsep taman kota yang menjadi ruang publik yang atraktif, nyaman, dan lestari. Kota Metro sendiri tentunya tidak kita bisa bandingkan secara langsung karena masih memiliki sekitar 77 meter persegi per penduduk, namun hanya sedikit sekali ruang terbuka hijau itu yang dapat berfungsi optimal sebagai ruang publik. Hanya sekitar 17% area hijau di kota Metro yang dikategorikan sebagai RTH Publik, itupun tidak semuanya terawat dengan baik. Padahal menurut UU No. 26 tahun 2007, dari 30% RTH yang disyaratkan dalam suatu kota, minimal 20%-nya adalah RTH Publik. Taman Merdeka atau yang lebih dikenal dengan sebutan Taman Kota Metro menjadi sebuah anomali yang dalam perkembangannya saat ini pun sedikit demi sedikit terkomersialisasi dan terpolitisisasi. Padahal banyak potensi lingkungan di Kota Metro yang dapat ditransformasikan menjadi suatu ruang publik yang terbuka dan hijau.

Hak warga kota yang lain adalah atas keberadaan suatu sistem jaringan jalur pejalan kaki yang aman, nyaman, dan ramah terhadap pedestrian. Karena sesungguhnya moda berjalan kaki merupakan dasar dari segala macam moda transportasi lainnya. Untuk jarak pendek, moda berjalan kaki merupakan moda yang paling efisien dan efektif terutama dalam penyediaan sarana dan prasarananya. Walaupun pengembangannya tidak bisa hanya ditekankan pada pembangunan fasilitas saja tanpa memperhatikan profil pedestrian atau pejalan kakinya, aktivitas dan interaksi sosial yang terjadi, dan ketersambungan antar jalur pejalan kaki tersebut  serta keberagaman jangkauan ke tata guna lahan yang berbeda yang dapat memfasilitasi sebuah perjalanan yang baik dan menarik bagi warga kotanya. Dan yang tidak kalah penting adalah bagaimana menghadirkan fasilitas yang dapat digunakan oleh seluruh warganya tanpa terkecuali, tanpa mengenal batasan usia dan kondisi fisik. Di area pejalan kaki ini pula sebenarnya bisa hadir suatu ruang publik yang lebih dinamis dengan kebutuhan fisik ruang yang tidak sulit untuk dipenuhi. Saat ini hak warga kota atas infrastruktur ini belum dapat dikategorikan terpenuhi, padahal secara ruang potensinya ada, secara biaya tentunya tidak semahal membangun fly-over tadi atau segala rupa patung, tugu, monumen, yang sepertinya masih menjadi prioritas para “penguasa” kota.

Dan yang terakhir adalah hak atas transportasi umum perkotaan yang melindungi dan melayani, meminjam motto dari kepolisian Amerika Serikat, to protect and to serve. Ini sebagai pasangan yang tidak terpisahkan dari pengembangan moda berjalan kaki, dan juga moda bersepeda, yang hanya dapat efektif untuk perjalanan jarak pendek sampai dengan menengah. Dengan adanya infrastruktur transportasi umum perkotaan yang baik, kebutuhan gaya hidup modern manusia perkotaan yang serba cepat dan tepat dengan mendobrak batasan jarak dan waktu, dapat terpenuhi. Sementara ekses negatif transportasi dalam bentuk emisi karbon akan dapat lebih terkontrol dan terukur ketimbang penggunaan kendaraan bermotor pribadi yang tak kunjung bijak. Struktur ruang kota Metro sangat mendukung pengembangan transportasi umum dan massal ala kota modern seperti tram dan bis, atau bisa juga dengan mengoptimalkan potensi lokal yang sudah ada seperti angkot.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s