We Must Change A.S.A.P.

Tulisan ini telah dimuat dalam Harian Umum LAMPUNG POST edisi Rabu, 4 November 2015.

 

Emisi dari karbondioksida dari pembakaran bahan bakar fosil dan produksi semen di dunia meningkat dari 22,6 milyar ton pada tahun 1990 menjadi kurang lebih 31 milyar ton pada tahun 2007 atau dengan kata lain, meningkat tajam sebanyak 37 persen. “Fenomena” pembakaran hutan yang mencapai sekitar 13 juta hektar setiap tahunnya, juga menambah 6,5 milyar ton karbondioksida yang dilepas ke atmosfer per tahunnya. Lagi-lagi negara-negara di Asia berperan besar dalam “prestasi” ini. Di pulau Sumatera, Indonesia, telah terjadi penurunan luasan hutan tropis yang sangat signifikan dari 21,12 juta hektar pada tahun 1990 menjadi 13,58 juta hektar pada tahun 2010 akibat dari pembakaran hutan. Apabila hal ini terus berlanjut dengan pola yang sama seperti ini maka kurang dari 20 tahun yang akan datang, hutan tropis di Sumatera, dan juga di Kalimantan, mungkin sudah tidak ada lagi.

Tahun ini fenomena tersebut diperparah dengan adanya fenomena alam El Nino yang mempengaruhi kondisi alam di berbagai tempat di belahan dunia yang berbeda. Salah satu efeknya adalah menghangatnya air di permukaan Samudera Pasifik yang kemudian memanaskan udara di atasnya. Udara panas ini kemudian mengalir menuju daerah tropis yang kemudian menghangatkan daerah tersebut dan menghalangi terbentuknya awan. Hal inilah yang kemudian menyebabkan kekeringan dan musim kemarau yang berkepanjangan akibat dari tidak terbentuknya awan yang menjadi awalan turunnya hujan. Akibatnya segala daya upaya yang dilakukan untuk memadamkan kebakaran hutan tersebut sekaligus menghentikan penyebaran asap yang ditimbulkan selalu mengalami kegagalan. Ditambah lagi proses pembakaran telah sampai ke akar-akar yang terletak di bawah permukaan tanah sehingga walaupun titik api telah padam, asap tetap muncul dari bawah tanah.

Yang paling menderita selain tentunya beraneka ragam hewan dan tumbuhan yang ada di hutan tersebut adalah penduduk kota-kota bahkan di negara tetangga yang dilalui oleh pergerakan asap dengan intensitas yang sangat tinggi tersebut. Pemandangan di kota-kota seperti Pekanbaru, Palangkaraya, Medan, Pontianak dan sebagainya telah berubah menjadi sangat mencekam dengan kabut asap seperti suasana kota di serial game komputer “Silent Hills”. Lebih mengkhawatirkan lagi hal ini menjadi sangat berbahaya karena asap ini membawa partikel-partikel pencemar udara dan juga menyebabkan banyak orang menjadi kesulitan dalam bernafas sehingga harus mengenakan masker dan alat bantu pernafasan.

Seperti yang diberitakan di media-media dari lokal sampai internasional, keadaan ini telah berlangsung lebih dari dua bulan sampai dengan saat ini, jauh lebih lama dari pada fenomena serupa yang terjadi setiap tahunnya. Tidak sedikit lagi jumlah penduduk kota-kota tersebut yang mengalami gangguan kesehatan dari tingkatan ringan sampai tingkatan yang membahayakan jiwa terutama anak-anak. Beruntungnya, pada saat tulisan ini dibuat, hujan yang dinanti-nanti kedatangannya telah mulai turun di beberapa tempat, yang langsung mengubah suasana kota menjadi sejuk dan cerah seperti sebelumnya. Namun apakah kondisi ini dapat bertahan lama? Apakah memang bencana alam ini telah benar-benar berakhir? Kalau memang iya, apakah yang harus kita lakukan pasca bencana alam ini? Kembali seperti biasa-biasa saja? No way! We must change A.S.A.P. (As Soon As Possible). Kita harus berubah dalam tempo secepat-cepatnya.

Penulis mencoba mengkaji gagasan konsep pengembangan kota yang mungkin bisa menjadi solusi alternatif, yaitu Resilient City (Kota Tangguh). Konsep “Kota Tangguh” ini pada dasarnya berarti bahwa suatu kota akan siap menghadapi perubahan yang sedang dan akan terjadi dengan meminimalisir perubahan dan dampak yang akan ditimbulkan oleh suatu bencana yang tidak dapat diprediksi. Bencana ini pun tidak melulu yang disebabkan oleh fenomena alam, namun bisa juga bencana akibat ulah manusia seperti misalnya kebakaran hutan di Sumatra dan Kalimantan yang sedang terjadi saat ini. Kota yang tangguh juga kemudian akan dapat beradaptasi dan berevolusi pasca terjadinya bencana. Prinsip ini sesungguhnya merupakan prinsip pembangunan yang berkelanjutan.

Ada tiga faktor kunci yang harus dibangun secara bertahap dalam menerapkan konsep Kota Tangguh yaitu Institution (regulasi dan kelembagaan), Infrastructure (sarana dan prasarana), dan Agent (perantara dan pelaksana pembangunan). Yang menarik disini tidak ada lagi dikotomi pemerintah-masyarakat, subyek-obyek pembangunan, ataupun atas-bawah akan tetapi komponen pelaku pembangunan itu telah melebur dalam satu bentuk yaitu perantara pembangunan. Pemerintah adalah masyarakat, masyarakat adalah pemerintah. Atas adalah bawah, bawah adalah atas.

Kemudian dalam penerapannya juga ada delapan strategi yang dapat dilakukan dengan prioritas yang menyesuaikan situasi dan kondisi masing-masing kota. Yang pertama adalah mulai dikenalkannya konsep manajemen resiko akibat bencana yang merupakan karakter dari konsep “Kota Tangguh”. Konsep ini dapat diterapkan melalui beberapa pendekatan yaitu pembentukan komunitas yang mandiri dan solid; pengelolaan komunitas tersebut dengan prinsip dari masyarakat, untuk masyarakat, dan oleh masyarakat sehingga benar-benar memahami situasi dan kondisi langsung di lapangan pada saat terjadinya bencana alam; serta penerapan teknologi dan pengetahuan yang tepat guna dan sasaran untuk mengantisipasi kejadian bencana alam. Teknologi ini tidaklah harus yang canggih dan mahal, akan tetapi bisa jadi merupakan teknologi yang bersumber dari pengetahuan dan kebiasaan masyarakat setempat. Misalnya pada kasus kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan ini, penggunaan teknologi yang berbasis GPS dan juga drone telah mulai digunakan untuk menentukan titik lokasi api dan partikel-partikel pencemar udara yang ada pada asap. Ditambah dengan penggunaan teknologi informasi dan aplikasi media sosial yang sangat berkembang dengan sangat pesat saat ini yang dapat menjadi faktor utama yang penting dalam penerapan manajemen resiko ini karena dapat dengan mudah digunakan oleh masyarakat awam.

Yang kedua adalah perubahan pola pengelolaan listrik dan air bersih dari yang pada umumnya sekarang adalah secara terpusat dalam skala yang besar, menjadi dengan sistem pembagian dalam lingkungan-lingkungan yang berskala kecil atau sub-sub jaringan dengan metode swa-kelola. Sehingga apabila terjadi sesuatu hal yang mengganggu sumber atau salah satu jaringan listrik dan air bersih tersebut maka dapat diisolisir dan tidak mengganggu keseluruhan sistemnya. Pada kondisi darurat misalnya pada daerah-daerah yang terkena kabut asap dimana orang tidak bisa leluasa berpergian dan terpaksa lebih banyak berlindung di dalam rumah, pengelolaan dalam lingkup kecil sangatlah efektif dan efisien serta menjamin capaian pasokan sumber daya tersebut dari rumah ke rumah. Namun memang perlu penyesuaian infrastruktur kota yang tidak mudah.

Strategi yang ketiga yaitu penerapan sistem pengelolaan sampah yang terpadu dan komprehensif karena masalah sampah sesungguhnya melibatkan jaringan yang kompleks yang tidak cukup hanya dengan mendaur-ulang saja tapi harus dimulai dari awal pada saat proses produksi dengan pengurangan kuantitas sampah dan juga pemilahan sampah yang tidak kalah pentingnya. Pengelolaan sampah dengan penekanan pada proses daur ulang saja merupakan pendekatan model lama yang kurang berhasil dan membutuhkan investasi baik waktu dan biaya yang tidak sedikit. Kita harus mulai dengan pendekatan baru yaitu pengurangan sampah yang berarti juga kita akan lebih bijak dalam mengkonsumsi segala sesuatu yang menghasilkan sampah. Juga pemilahan sampah akan memberikan kita kesadaran akan nilai suatu benda walaupun sudah menjadi sampah sekalipun. Dari kesadaran nilai sampah ini pengolahan sampah secara daur ulang pun menjadi lebih mudah. Kembali pada situasi terkini berkaitan dengan bencana kabut asap dimana penggunaan masker penutup mulut dan hidung meningkat dengan pesat, sebenarnya kita harus sudah memikirkan bagaimana pengelolaan sampah masker bekas pakai yang jumlahnya sudah pasti sangat banyak.

Ini erat juga kaitannya dengan strategi yang keempat yaitu pengenalan dan penggunaan energi yang dapat diperbarui seperti energi surya, angin, panas bumi, dan juga dari sampah (bio-gas) sebagai pengganti energi yang berbahan dasar fosil. Sumber energi alternatif seperti bisa sangat berperan penting sebagai cadangan energi pada saat situasi bencana atau darurat dimana pasokan energi (misalnya listrik) dari pemerintah mendadak terputus. Kemudian strategi yang kelima adalah peningkatan dan pemeliharaan ruang terbuka hijau dan ekosistem lainnya sebagai sarana untuk menyaring dan menyerap gas pencemar yang ada di udara. Ini sebenarnya yang dapat menjadi benteng pertahanan terakhir terhadap bencana kabut asap yang sedang terjadi. Pepohonan hijau dapat menjadi filter terhadap pencemaran udara dan juga sebagai sumber oksigen bagi manusia. Area terbuka hijau seperti taman dan lapangan olahraga dapat dengan mudah pada kondisi darurat difungsikan sebagai tempat pengungsian atau penampungan sementara korban bencana alam seperti pada saat gempa dan sebagainya.

Ruang terbuka hijau ini juga sebaiknya memiliki manfaat lain, misalnya untuk urban farming (kebun kota) sebagai bagian dari strategi yang keenam yaitu menciptakan “pasar-pasar tradisional” yang dekat dengan tempat tinggal kita sehingga mengurangi energi yang terbuang akibat dari bertransportasi. Pada kondisi darurat pula kebutuhan pangan dapat terjamin dengan mudah melalui adanya kebun-kebun kota yang tersebar di seluruh penjuru kota. Berkaitan pula dengan strategi selanjutnya yang berupa penataan kota yang compact dan walkable, dalam artian segala fasilitas umum haruslah mudah dijangkau dengan berjalan kaki. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi energi yang digunakan ketika naik kendaraan bermotor sekaligus juga mengurangi emisi Greenhouse Gases yang dihasilkan. Dan yang terakhir adalah penerapan sistem transportasi umum yang baik dan dapat diandalkan sehingga penduduk kota tidak lagi hanya bergantung pada kendaraan bermotor pribadi saja. Strategi-strategi inilah yang menjadi kunci suksesnya penerapan konsep “Kota Tangguh”.

One Comment Add yours

  1. Jorja says:

    dayel/welkiy changed along with a picture: The frame becomes a dry erase board! Another favorite post is from Pied Piper Photography because she has many displays in each room (she also shared from rooms around her home) but she uses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s