Masa Depan Kota Kita (part 2)

Sambungan dari Part 1

Dengan terheran-heran mereka melintasi gerbang itu dan berhenti di area taman parkir yang berada di sisi jalan sebelah kiri. Area taman parkir itu lumayan luas. Cukup untuk menampung lebih dari seratus unit mobil dan motor. Saat itu pun area itu hampir terisi penuh. Dari situ mereka berjalan kaki menuju ke arah gerbang tadi. Mereka sangat penasaran dengan keberadaan jalur rel tadi. Sesampainya di pinggir jalan terlihat papan nama area taman parkir ini yang bertuliskan SUDIRMAN PARK AND RIDE. Bertambah kaget mereka setelah dari dekat mereka menyadari bahwa itu bukan gerbang melainkan jembatan penyebrangan menuju bangunan berbentuk halte yang berada di tengah jalan itu. Bergegas mereka menaiki jembatan itu dan sampailah ke bagian tengahnya. Bangunan itu mengingatkan mereka akan bentukan halte angkot yang mereka lihat di sepanjang perjalanan tadi. Hanya saja ukurannya sekitar dua kali lipat halte angkot itu. Ketika mereka sampai di situ, sudah banyak orang yang antri di pelatarannya. Dan tak lama kemudian rasa penasaran mereka pun lunas terjawab.

“Eh, apa itu ya di depan sana?”, suara berat Prof. Eko terdengar sambil menunjuk ke arah tengah kota.

Dari arah yang sama segera terdengar bunyi yang cukup keras yang menyerupai klakson kereta api dan menyusul kemudian dua rangkaian gerbong mendekat. Tapi gerbong-gerbong ini bukanlah gerbong kereta api, melainkan gerbong trem! Di bagian depan trem tersebut ada tulisan METRO URBAN LINE. Di bawah tulisan itu ada tulisan lain yang lebih kecil berbunyi SUDIRMAN Rd. – AH NASUTION Rd. Terlihat banyak sekali penumpang yang turun. Mungkin karena ini adalah jam pulang kerja.

“Ah, seperti model trem di kota Hiroshima sepuluh tahun yang lalu. Mungkin ini dapat lungsuran dari sana. Tapi masih bagus banget kelihatannya. Ayo segera kita naik!”, ajak Prof. Eko kepada anggota rombongan yang lain sambil bergegas naik ke gerbong paling belakang.

Tak lama kemudian trem itu bergerak ke arah yang berlawanan yaitu kembali menuju ke arah tengah kota. Bagian dalam gerbong tersebut masih terlihat baru dan bersih. Di bagian tempat duduknya dihiasi motif ornamen yang sama seperti yang tercetak di dinding gerbang utama Kota Metro. Tempat duduknya terletak memanjang di kedua sisi dan saling berhadapan sementara area di bagian tengah adalah area bagi penumpang yang berdiri.

“Oh, yang tadi itu adalah halte trem. Baru kelihatan tulisannya sekarang.”, sambung Prof. Eko lagi sambil menunjuk ke arah bangunan yang mereka tinggalkan.

tram3

Dari arah belakang mereka terbaca tulisan yang berada di atap halte itu yang bunyinya METRO URBAN LINE – SUDIRMAN STATION. Trem itu melaju perlahan membelah Jalan Jenderal Sudirman yang saat ini kondisinya sudah berubah total. Ruas jalan kendaraan bermotor yang sebelumnya ada dua jalur pada dua sisi saat ini hanya tersisa satu jalur saja di masing-masing sisi jalan. Ruas jalan ini diapit oleh area hijau yang cukup lebar dengan pepohonan peneduh yang sangat rimbun. Area hijau ini membatasi antara jalan kendaraan bermotor dan area pejalan kaki yang saat ini menjadi sangat luas karena membentang sampai persis ke batas bangunan. Tidak ada lagi terlihat parkir kendaraan bermotor di depannya. Bangunan-bangunan yang ada di sepanjang jalan ini adalah bangunan-bangunan dengan fungsi komersil dan bisnis seperti toko, restoran, bank, kantor, dan sebagainya. Jumlah lantai bangunan-bangunan tersebut tidak ada yang melebihi dari empat lantai sehingga kawasan itu walaupun sangat padat tetapi tetap terlihat lapang. Papan nama bangunan-bangunan tersebut pun walaupun beraneka ragam bentuknya akan tetapi mempunyai keseragaman letak dan ukurannya. Saat ini kawasan tersebut terlihat mulai ramai oleh pengunjung.

“Teman-teman, mari kita turun di pemberhentian terdekat. Ingin sekali saya merasakan berjalan kaki di tempat seperti ini. Badan jadi sehat, sekalian cuci mata…haha…”, terdengar gelak tawa dari Chandra yang sepertinya sangat menyukai suasana keramaian seperti di luar tram.

Yang lain pun tidak ada yang menolak. Trem tersebut berhenti di halte berikutnya yang terletak di depan kompleks pertokoan yang dulu dikenal dengan nama-nama SHOPPING dan METRO MEGA MALL. Di Halte itu tertulis nama METRO URBAN LINE – SUMUR BANDUNG STATION. Bergegas semua anggota rombongan itu turun dari trem dan mulai berjalan menyusuri kawasan tersebut. Di area pejalan kaki itu terlihat pula jalur sepeda seperti di trotoar sebelumnya. Namun yang istimewa, trotoar ini dilengkapi juga guiding block yang berwarna kuning dengan pola tegel khusus yang diperuntukkan bagi para penyandang tuna netra. Rombongan itu tampak sangat menikmati suasana kawasan tersebut. Semburat sinar senja menyeruak dari atas pepohonan menimbulkan efek bayangan yang dramatis di trotoar dan dinding bangunan-bangunan di sekitarnya.

“Ini Jalan Jenderal Sudirman di Metro atau Orchard Road di Singapore ya, Prof? Hahaha…”, terdengar kembali canda Chandra kepada Prof. Eko yang ternyata malah mengangguk-angguk dengan raut wajah serius.

Tak jauh mereka berjalan, sampailah mereka ke sudut sebuah boulevard. Dulu di boulevard itu ada monumen yang dikenal dengan nama TUGU PENA berbentuk pena di atas sebuah buku yang melambangkan visi Kota Metro sebagai Kota Pendidikan. Sekarang telah digantikan dengan air mancur mirip seperti yang ada di Bunderan HI di Jakarta. Namun di tengah air mancur tersebut ada tulisan yang sangat artistik dan eye catching berbunyi TUGU PENA BOULEVARD. Tiba-tiba air mancur itu memancarkan airnya dan entah bagaimana terlihat efek siluet bentukan tugu yang lama dari pancaran air tersebut.

“How cool!”, seru Hermawan setengah berteriak.

Hampir serentak semuanya kemudian mengeluarkan smartphone-nya masing-masing dan berusaha merekam momen itu. Setelah puas menyaksikan “pertunjukan” air mancur itu, mereka terus berjalan menyeberangi boulevard menuju ke arah tengah kota. Di area tengah kota ini dulunya terdapat bangunan-bangunan penting seperti Kantor Walikota dan kantor-kantor dinas lainnya, Masjid Taqwa, Gereja Hati Kudus Yesus, Gedung Wanita, Rumah Dinas Walikota. Wakil Walikota, dan Ketua DPRD, Taman Kanak-kanak Pertiwi Teladan, beberapa Sekolah Dasar, Wisma Haji, Bank Lampung, Rumah Sakit Umum Daerah Ahmad Yani, Gedung Olahraga, Perpustakaan Daerah, dan Kantor Pos. Mereka pun penasaran seperti apa perubahan yang terjadi pada kawasan ini.

Maka berjalanlah mereka menyusuri kawasan itu mulai dari lokasi Kantor Pos yang terletak di sudut boulevard. Bangunan Kantor Pos tersebut telah bertambah besar namun tetap satu lantai sehingga tidak tersisa lagi area parkir di halaman depannya. Di halaman depannya yang tidak begitu besar hanya terlihat deretan parkir sepeda yang hampir penuh terisi. Selepas dari situ mereka kembali dikejutkan oleh perubahan pada bangunan berikutnya yaitu Kantor Walikota.

Bangunan yang dulunya hanya bertingkat dua, saat ini menjulang tinggi menjadi sepuluh lantai. Namun menariknya hanya ada satu bangunan saja tidak seperti sebelumnya yang terdiri dari satu bangunan utama dan dua bangunan sayap.  Juga kantor BAPPEDA yang berada tepat di sebelahnya pun sudah tidak ada wujudnya lagi. Dengan begitu halamannya menjadi sangat luas. Area halaman Kantor Walikota itu berubah menjadi seperti taman dengan bangunan kantornya yang berada di tengah. Apalagi area kantor ini tidak lagi dibatasi dengan pagar sehingga sudah seperti taman untuk masyarakat umum saja. Sama seperti bentuk gerbang kota, bangunan ini juga bergaya modern dengan tetap bercirikan unsur-unsur tradisional. Di sudut-sudut taman itu terlihat ada beberapa tempat duduk yang sebagian disertai papan petunjuk bertuliskan SMOKING AREA. Di halaman itu juga ada parkir sepeda yang cukup besar dimana terlihat beberapa pegawai sedang mengambil sepedanya yang lalu dikendarainya keluar halaman kantor. Area parkir kendaraan bermotor tidak terlalu besar. Hanya cukup untuk beberapa unit kendaraan dinas yang saat itu terparkir di sana.

“Look up there! Ada monitor besar yang menempel di dinding gedung Kantor Walikota itu. Amazing!”, lagi-lagi Hermawan memekik kegirangan sambil menunjuk ke arah gedung Kantor Walikota di hadapan mereka.

Monitor itu berukuran super besar yang mana lebarnya hampir menutupi lantai 6, 7, dan 8 dari gedung itu. Sejenak mereka berhenti memperhatikan monitor itu yang tampilannya berganti-ganti. Pertama-tama muncul tayangan live CCTV dari beberapa sudut di seluruh penjuru kota. Kemudian muncul tayangan informasi demografis seperti populasi, kelahiran, kematian, yang terupdate setiap jamnya. Lalu menyusul setelahnya tayangan informasi yang lain seperti energi listrik yang tersedia di PLN, energi yang terbarukan lainnya, jumlah sampah yang dikumpulkan, jumlah sampah yang didaur-ulang, jumlah biogas yang dihasilkan, jumlah emisi gas karbon, dan informasi-informasi lain seputar unsur-unsur pembangunan kota berkelanjutan yang juga selalu diupdate setiap harinya. Selanjutnya muncul tampilan dari laman Facebook resmi Pemerintah Kota Metro yang berisi tentang informasi-informasi resmi dari pemerintah kota. Dan yang terakhir adalah tayangan laman akun Twitter resmi Pemerintah Kota Metro yang sangat interaktif menanggapi usulan, komentar, dan pertanyaan langsung dari follower-nya yang tidak hanya penduduk Kota Metro tetapi juga warga Kota Metro yang tengah berada di seluruh penjuru dunia.

“Dulu awalnya dari akun Twitter itu-lah saya bisa berinteraksi dengan pemerintah kota ini walaupun saya tinggal nun jauh di New York. Unbelievable…”, seloroh Hermawan sambil matanya terpaku pada monitor besar itu.

Setelah beberapa saat menyimak informasi, mereka berjalan menyeberangi sebuah perempatan jalan menuju area lokasi beberapa kantor pemerintahan dan Gedung Wanita. Ternyata yang tersisa hanyalah Gedung Wanita yang terlihat sudah direnovasi dan diperbesar. Sementara area bekas kantor-kantor pemerintahan tersebut telah berubah menjadi area taman parkir yang lain. Luasannya tidak jauh berbeda dengan area taman parkir yang mereka temui sebelumnya. Di area ini terdapat juga halte angkot dan halte trem yang letaknya berdekatan. Mereka kemudian menaiki jembatan penyeberangan yang berada di sudut perempatan Gedung Wanita itu. Dari atas jembatan penyeberangan mereka mengamati ke arah timur dimana terlihat gedung Gereja Hati Kudus Yesus di sebelah kiri dan gedung Bank Lampung di sebelah kanan dengan taman parkir lagi di depannya. Jalur trem itu terus membelah Jalan AH Nasution ke arah Pekalongan. Terlihat oleh mereka dengan jelas karakter jalan itu yang sangat berkesan dimana pohon-pohon Mahoni raksasa tetap menjulang tinggi dan berderet rapi di sepanjang jalan itu. Dari jauh terlihat sebuah papan nama di ujung jalan itu yang bertuliskan AH NASUTION CULINARY WALK.

Turun dari jembatan penyeberangan, sampailah mereka di Taman Kota. Yang pertama kali mereka jumpai adalah sebuah papan informasi dengan gambar peta Kota Metro yang berukuran tidak terlalu besar. Papan informasi ini terlihat mengkilap sekali dan dilindungi oleh atap yang ternyata dipasangi panel surya. Begitu mereka mendekat dan menyentuh permukaan papan itu terkagetlah mereka karena muncul suara wanita dari arah depan mereka.

“Selamat Datang di PETA INTERAKTIF KOTA METRO. Welcome to METRO CITY INTERACTIVE MAP. Apa yang bisa kami bantu hari ini? What could we do for you today? Silahkan sentuh layar sesuai dengan pilihan Anda. Please touch the screen to select your inquiry.”, terdengar suara rekaman seorang wanita yang otomatis keluar dari speaker di dalam papan elektronik tersebut. Pada gambar peta tersebut kemudian muncul tulisan nama-nama tempat yang sebagian besar sudah mereka baca di sepanjang perjalanan tadi.

“Lihat itu, ada beberapa nama tempat lain yang menarik itu kita kunjungi. Ada IRINGMULYO SCIENCE AND RESEARCH PARK, TEJOAGUNG RESILIENT VILLAGE, dan TEJOSARI INTERNATIONAL SPORT COMPLEX di sebelah barat Metro. Juga ada HADIMULYO HOME INDUSTRY CENTER dan KAUMAN CREATIVE VILLAGE. Mudah-mudahan kita bisa ada kesempatan untuk mengunjunginya.”, ujar Andi sambil menekan-nekan layar sentuh itu.

“Tenang saja, Pak. Mudah kok untuk pergi kesana. Lihat ada garis-garis warna-warni di peta ini yang menunjukkan jalur-jalur angkutan umum. Ada ANGKOT LINE dan METRO URBAN LINE alias trem yang kita naiki tadi. Sungguh sudah canggih sekali sistem transportasinya ya…”, Darius kembali menanggapi.

“Kita jalan saja, Pak. Kan trotoarnya sudah bagus dimana-mana. Atau naik sepeda, lebih cepat dan aman karena sudah ada jalurnya. Hitung-hitung saya sambil jaga kondisi di saat jeda kompetisi seperti ini.”, potong Fajar tiba-tiba.

“Setuju banget! Film saya berikutnya juga film aksi nih! Jadi saya harus mulai latihan fisik. Biar kelihatan sedikit lah ototnya.”, kata Gadis sambil tersenyum.

“Tolong nanti kalau sudah launching film-nya, saya diundang ya, dik Gadis. Nanti saya promosikan ke simpatisan saya deh.”, kata Bambang mengumbar janji. Gadis kembali hanya tersenyum saja tanpa mengiyakan.

“Waduh, kalau saya yang sudah tua ini diajak jalan jauh sudah enggak kuat lagi. Apalagi kalau bersepeda. Kalau jadi pergi lagi ke tempat-tempat itu nanti saya nyusul pakai angkot saja boleh ya?”, pinta Prof. Eko setengah memelas.

“Tenang prof. Nanti saya temani. Saya juga sangat penasaran untuk mencoba naik angkot yang katanya menggunakan bahan bakar Biofuel yang dibuat dari sisa-sisa minyak goreng yang didaur-ulang itu. Peluang bisnis bahan bakar yang menarik itu. Apalagi saya kan hobby makan dan masak. Banyak tuh sisa-sisa minyak goreng di dapur saya…hahaha…”, serentak semua anggota rombongan tertawa mendengar lelucon dari Chandra. Bukan leluconnya yang lucu, tapi gaya tertawanya sambil terbahak-bahak itu yang kocak.

“Alright, guys. Ayo kita duduk di rerumputan di sebelah sana. Sepertinya sekarang sudah bagus sekali perawatan rumputnya. Terlihat sangat hijau dan sangat mengundang untuk diduduki. Persis seperti di Central Park.”, ajak Hermawan seraya berjalan paling dulu menuju ke bagian tengah taman itu.

Di atas rerumputan semua anggota rombongan duduk bersila, kecuali Fajar yang malah sampai merebahkan badannya. Kami duduk menghadap ke arah timur. Terlihat di tengah taman tersebut masih tetap tegak terdiri TUGU METREM yang dikelilingi oleh tanaman-tanaman bunga aneka warna. Di sisi yang berbatasan dengan dengan Jalan AH Nasution terlihat susunan huruf-huruf besar yang terbuat dari beton yang terbaca MERDEKA PEOPLE SQUARE. Sangat dramatis susunan huruf itu apalagi ditambah dengan efek lampu di bagian bawah yang sudah mulai dihidupkan karena hari sudah bertambah sore dan suasana mulai gelap.

Taman itu ramai oleh pengunjung, apalagi di bagian sudut-sudutnya yang saat ini sudah ada alat-alat permainanya. Di sisi yang berbatasan dengan Masjid Taqwa terlihat deretan kios-kios jajanan dengan desain yang menarik dan tertata rapi. Dan kemudian mereka menemukan suatu atraksi yang sangat mengingatkan akan keramaian Taman Kota ini dalam kenangan mereka yaitu Odong-odong. Ya kendaraan hias dengan aneka bentuk yang dikenal orang dengan nama Odong-odong itu masih ada dan tetap ramai peminatnya yang tentunya dari kalangan anak-anak kecil. Bahkan jika dulu Odong-odong itu berjalan memutari taman dengan menggunakan jalur kendaraan bermotor, saat ini sudah ada jalur khususnya di bagian dalam taman. Jalur itu tidak begitu luas namun cukup untuk kendaraan hias tersebut berjalan. Bahkan sepertinya jalur tersebut digunakan juga sebagai jogging track. Jadi saat ini banyak terlihat ibu-ibu yang melakukan jogging sembari menemani anaknya yang sedang naik Odong-odong itu. Merka terlihat sama-sama bergembira.

Pandangan mata mereka kemudian beranjak menyapu ke lingkungan di sekeliling taman itu. Mulai dari sisi sebelah selatan yang tidak begitu berubah. Ada TK Pertiwi Teladan di bagian ujungnya dan deretan rumah dinas para pamong Kota Metro. Ada yang berbeda di sebelah rumah dinas Wakil Walikota. Di area itu dulu adalah lokasi kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan. Dan di sebelahnya ada kantor Inspektorat Kota Metro. Bangunan kedua kantor itu masih terlihat utuh dari kejauhan namun terlihat keduanya lebih menyatu dan sepertinya semuanya memiliki tiga lantai. Dari kejauhan terlihat papan nama besar di bagian atasnya dengan huruf-huruf yang terbaca jelas dari tempat kami duduk, INSTITUT TEKNOLOGI KOTA METRO. Jadi semakin terlihat karakter kota pendidikan di Kota Metro ini dengan adanya fasilitas pendidikan yang baru ini di tengah kota.

Tiba-tiba terdengar lantunan lantang nan syahdu dari arah depan kami. Suara itu adalah suara adzan Maghrib yang terdengar dari arah depan kami. Pandangan kami segera terarah ke asal suara tersebut yaitu sebuah menara yang tingginya sekitar 20 meter. Menara itu adalah menara Masjid Taqwa yang terpelihara keaslian bentuknya dari mulai dibangun pada tahun 70-an sampai saat ini. Usianya bahkan lebih tua dari bangunan utama masjid yang sudah sempat direnovasi total. Seperti yang terakhir kali mereka ingat, bangunan masjid yang berlantai dua itu masih tetap sama. Saat ini terlihat puluhan orang di taman mulai meninggalkan aktivitasnya lalu berbondong-bondong menuju masjid. Warna senja telah berubah menjadi kemerahan pertanda waktu Maghrib telah tiba. Begitu juga waktu mereka di situ. Seluruh anggota rombongan itu saling memandang satu sama lain kemudian tersenyum. Tanpa dikomando mereka semua serempak bertepuk tangan.

Prok…prok…prok…

Tepuk tangan mereka semakin keras dan membahana yang kemudian diikuti dengan tepuk tangan dari semua hadirin yang ada di ruangan itu. Delapan orang itu kemudian melepas helm simulasi yang mereka kenakan dan pemandangan pun berubah menjadi suasana semula yaitu di sebuah ruangan pertemuan di Kantor Walikota Kota Metro. Ruangan itu tidak begitu besar namun tampak penuh karena banyak juga yang hadir di situ selain mereka berdelapan. Hampir semuanya yang hadir mengenakan pakaian dinas PNS dan tadi di awal pertemuan mereka sempat memperkenalkan diri sebagai kepala-kepala dinas dan unit teknis di Pemerintahan Kota Metro. Para kepala dinas tersebut duduk di belakang rombongan delapan orang tadi sementara di hadapan mereka semua ada layar monitor yang cukup besar. Saat ini di monitor itu muncul tulisan, THIS 4D SIMULATION HAS BEEN COMPLETED. PLEASE REMOVE YOUR SIMULATION GEAR.

Ketika suara tepuk tangan itu berakhir, dari arah belakang mereka kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat yang diikuti oleh suara pria yang dengan pengeras suara bertanya,

“Jadi bagaimana Bapak dan Ibu kebanggaan Kota Metro semua? Apakah simulasi tentang THE FUTURE OF METRO CITY tadi menarik? Apakah Anda semua sepakat untuk bersama-sama mewujudkan mimpi-mimpi itu? Mari investasikan potensi Anda untuk mulai sekarang bekerja sama dengan kami. SEPAKAT?!!!”

“SEPAKAT!!!”, terdengar lantang dan keras sekali jawabannya, tidak hanya dari mereka berdelapan tapi juga dari semua orang yang ada di ruangan itu. Tangan mereka semua mengepal ke atas.

Berdiri di hadapan mereka semua saat ini adalah sosok pria dengan pengeras suara tadi. Beliau adalah bapak Walikota Kota Metro untuk periode 2025-2030. Di wajahnya tersungging senyuman lebar dan dari matanya terpancar semangat yang menggebu-gebu. Tangan kanannya juga mengepal ke atas. Kembali suara tepuk tangan terdengar membahana di ruangan itu. Ke delapan orang itu beranjak dari tempat duduknya untuk menyalami bapak Walikota tersebut. Mereka bersembilan kemudian bergandengan tangan menghadap ke arah hadirin kemudian secara bersamaan mengangkat tangan dan berteriak,

“HIDUP KOTA METRO! HIDUP ORANG METRO!”

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s