Masa Depan Kota Kita (part 1)

Bias sinar matahari senja menyeruak dari balik pepohonan yang beraneka ragam di sepanjang jalan yang melintasi Kecamatan Simbar Waringin ini. Berkas cahaya keemasan menerpa dengan kuat di wajah setiap anggota rombongan itu sehingga beberapa diantaranya sampai harus mengangkat telapak tangannya untuk melindungi kedua matanya. Namun demikian mereka tetap melaju dengan kecepatan yang tidak terlalu kencang agar mereka bisa menikmati setiap jengkal pemandangan alam dan rumah-rumah penduduk yang terhampar di sekitar jalan lintas ini. Di sebelah kanan jalan ini terbentang saluran irigasi yang sumber airnya berasal dari Sungai Batanghari. Jalan ini adalah satu-satunya jalan raya yang menghubungkan antara Kota Bandar Lampung dengan tujuan kami yaitu Kota Metro.

Rata-rata sudah lebih dari satu dasawarsa sejak terakhir kali masing-masing dari mereka mengunjungi kembali tanah kelahiran mereka itu. Rasa kangen terlihat jelas dari raut wajah dan binar mata mereka. Rombongan ini berjumlah delapan orang yang kesemuanya telah meraih prestasi dan posisi yang tinggi di pekerjaannya saat ini. Di barisan terdepan ada Andi yang baru saja diangkat menjadi salah satu Direktur Jendral di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia. Di sebelahnya ada Bambang yang tahun lalu terpilih menjadi anggota DPR.

Di barisan kedua duduk di paling kiri Chandra yang memiliki jaringan perusahaan pertambangan batubara terbesar di Asia Tenggara. Lalu di tengah ada Darius yang merupakan seorang pilot di salah satu maskapai ternama di dunia. Di paling kanan ada Eko yang berkarir sebagai seorang profesor di bidang Arsitektur di salah satu universitas papan atas di Singapura. Kemudian di belakangnya duduk Fajar, seorang pesepakbola professional yang saat ini merumput di Serie A Liga Italia. Di sebelah kirinya ada Gadis, seorang bintang film sekaligus penyanyi yang menjadi bintang iklan dari salah satu merk produk air mineral yang ternama. Dan yang terakhir di pojok kiri ada Hermawan yang bekerja di United Nations Environment Programme (UNEP), salah satu organisasi PBB yang fokus di bidang lingkungan. Benar-benar sekumpulan orang-orang yang luar biasa. Uniknya mereka semua dilahirkan di Kota Metro.

Tak lama kemudian pemandangan di sekitar jalan itu berubah menjadi hamparan sawah-sawah nan hijau yang ditumbuhi padi. Wajah mereka pun terlihat semakin ceria karena ini adalah pertanda bahwa gerbang masuk Kota Metro sudah tidak jauh lagi. Benar saja tak lama kemudian dari ujung jalan terlihat sebuah gerbang dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Bentuknya sederhana menyerupai bingkai foto raksasa yang hilang bagian bawahnya. Namun dari dekat terlihat bahwa dinding gerbang tersebut transparan karena terbuat dari material semacam kaca yang berlapis-lapis yang diberi filter warna gelap. Di seluruh permukaannya terukir ornamen ragam hias tradisional yang bervariasi. Sehingga gerbang tersebut terkesan modern sekaligus tradisional di saat yang sama. Di bagian atas gerbang tersebut tertulis, WELCOME TO METRO LAMPUNG. Sekali lagi ada kontradiksi. Seperti ingin menunjukkan semangat go international namun dengan tetap membawa nama Lampung-nya. Yang jelas gerbang ini belum ada ketika orang-orang dalam rombongan itu terakhir kali meninggalkan batas kota ini. Ini terlihat jelas dari ekspresi mereka yang terlihat takjub dan lekat memandangnya.

Selepas dari gerbang tersebut, pemandangan di depan mereka berubah menjadi sesuatu yang lebih familiar. Ruas jalan raya tersebut terbagi menjadi dua jalur dengan median jalan yang diisi oleh area hijau dan tanaman-tanaman hias. Tapi sepertinya ada yang berbeda.

“Lihat! Alangkah idealnya ruas jalan ini sekarang. Tengoklah di kanan-kirinya saat ini ada trotoar yang cukup lebar, cukup untuk dua orang pejalan kaki berjalan berdampingan. Lihat juga itu masih ada sedikit area hijau di antara trotoar dan jalan raya ini yang melengkapi median jalan yang sudah asri sejak dulu. Tambah rindang dan sejuk ya!”, tiba-tiba terdengar suara Andi dari depan yang memecah kesunyian. Tanpa menunggu balasan dari yang lainnya, Andi berkata lagi,

“Wah perhatikan juga di jalan ini ternyata ada jalur untuk angkutan umum. Lihat aspalnya diwarnai dengan warna hijau. Itu ada angkot yang melintas di jalur itu. Tapi di belakangnya ada juga mobil pribadi yang melintasi jalur itu. Ah ternyata jalur itu tidak khusus hanya untuk angkutan umum saja tetapi hanya diprioritaskan saja karena memang jalan ini tidak terlalu lebar. Tapi apakah ada angkutan umum yang lain selain angkot?”, tanyanya.

Tidak jelas kepada siapa dia bertanya. Namun tiba-tiba dari arah belakangnya terdengar suara Darius yang menimpali.

“Coba lihat itu di sebelah sana, Pak. Ada halte yang atasnya bertuliskan ANGKOT STOP D527. Tuh Pak, dilihat lagi angkotnya ternyata berhenti di situ. Sementara mobil yang di belakangnya mendahului pelan-pelan dari sebelah kanan. Wow! Apa itu!? Sepertinya di halte-nya ada papan elektronik yang menginformasikan jadwal kedatangan angkot, persis seperti di bandara saja ya…”, ujar Darius dengan tak kalah takjubnya.

Tertarik dan ingin melihat halte itu dengan lebih jelas, mereka sengaja memperlambat lajunya dan mengambil posisi di belakang angkot yang sedang berhenti itu. Dari situ terlihat jelas betapa bagusnya fasilitas halte tersebut. Tidak terlalu mewah tapi sangat fungsional. Ada tempat duduk, papan informasi elektronik, dan atap pelindung dari terik sinar matahari dan hujan. Dan yang paling penting semuanya terlihat sangat terawat dan bersih. Angkot itu saat ini sedang menurunkan penumpang dan beberapa orang yang hendak naik terlihat mengantri dengan tertib dengan dipandu seorang kernet. Sekilas terlihat kernet tersebut dan supir angkotnya memakai pakaian seragam yang bercorak batik. Terlihat sangat profesional.

Tak lama kemudian semua penumpang angkot tersebut sudah naik dan angkot itupun mulai berjalan kembali. Mereka melaju kembali sampai ke pertigaan 16C. Beberapa meter sebelumnya mereka melihat ada sebuah penunjuk arah berwarna biru dengan gambar tanda panah dan tulisan putih yang menjelaskan bahwa arah lurus ke depan adalah menuju METRO CITY CENTER, sedangkan arah ke kanan adalah menuju MULYOJATI MAIN STATION via SOUTH RING ROAD. Angkot itu terlihat berbelok ke kanan sementara rombongan itu melaju terus menuju ke arah pusat kota. Sekilas mereka melihat ke arah angkot itu berbelok, tampak jalan yang dilaluinya kini lebih lebar dan dipisahkan juga dengan median jalan, khas desain jalan lingkar kota. Tak berapa jauh dari situ, sekitar 500 meter, terlihat juga halte yang lain lagi dimana sebuah angkot yang lain tengah berhenti.

Selepas dari pertigaan itu, mereka melewati daerah Ganjar Agung. Terlihat di kanan-kiri rumah-rumah penduduk yang hampir semuanya bertingkat dua lantai. Halaman rumah-rumah tersebut tidak terlalu besar namun sebagian besar diisi oleh tanaman hias dan pohon peneduh. Ada juga yang menghijaukannya dengan rerumputan saja. Pagar di depannya rata-ratanya tingginya tidak ada yang lebih dari satu meter. Dan di depan pagar tersebut terbentang jalur pejalan kaki yang lebih lebar lagi karena ditambah dengan jalur sepeda yang dicat warna merah. Setelah jalur sepeda masih ada area hijau baru kemudian jalur jalan untuk kendaraan bermotor. Terlihat beberapa orang dengan santainya berjalan sambil berbincang-bincang sementara tak sedikit juga orang yang hilir mudik dengan menggunakan sepeda.

“Sudah berubah sekali ya daerah ini. Tambah padat tapi tetap terlihat nyaman dan asri. Apalagi dengan trotoar dan jalur sepeda yang baru itu. Sudah seperti kota-kota modern saja!”, celetuk Fajar dari arah belakang.

“Enak juga kalau sore-sore seperti ini bisa jogging di trotoar itu. Rumah saya dulu tidak jauh dari ini.”, sambungnya lagi. Semua orang di rombongan itu mengangguk tanda setuju.

Namun tak lama kemudian perhatian mereka beralih ke saluran irigasi yang kini terlihat kembali di sebelah kanan mereka. Deretan rumah-rumah itu mendadak tergantikan dengan area terbuka yang memanjang di kanan kiri saluran irigasi. Area terbuka itu berteras-teras sampai hampir selevel dengan permukaan air. Beberapa orang terlihat sedang duduk-duduk dan bermain musik di teras-teras itu sambil memandangi aliran air di depannya. Beberapa bangku taman juga tertata dekat dengan pohon-pohon peneduh di sepanjang area itu. Satu sisi area terbuka ini berbatasan langsung dengan trotoar, sedangkan sisi yang lain di seberang saluran irigasi berbatasan langsung dengan area persawahan yang di beberapa bagian sudah mulai menguning tanda akan memasuki masa panen raya.

“Fajar kalau mau jogging di situ saja tuh!”, ujar Gadis yang duduk di sebelahnya sambil menuju ke arah area terbuka di sepanjang saluran irigasi itu.

“Ada jogging track yang betulan di situ. Lihat juga kayaknya airnya jernih sekali! Beda banget dengan air yang kita lihat di sepanjang saluran irigasi yang di luar kota tadi. Kemungkinan sudah dibangun pintu air yang ada filternya ya. Cocok banget nih area ini jadi lokasi syuting film! Kayak…”

“Kayak promenade di tengah kota Seoul ya. Kebetulan beberapa waktu yang lalu saya baru saja ikut rombongan studi banding ke sana.”, tukas Bambang sambil menengok ke belakang. Gadis tersenyum dan mengiyakan, namun pandangannya tetap tertuju ke arah sebelah kanannya. Ternyata benar yang dikatakan Bambang. Tak berapa lama kemudian mereka melihat huruf-huruf besar yang tersusun menghadap ke jalan raya dan terbaca, CANAL PROMENADE PARK.

“Tuh kan benar kata saya…”, ujar Bambang sambil tersenyum bangga.

“Benar-benar keren ya promenade ini. Apalagi disana ada juga kios-kios pedagang kaki lima yang tertata rapi. Desain kiosnya juga keren-keren! Dulu sepertinya di daerah ini cuma ada tempat rekreasi PALEM INDAH ya. Tapi sekarang sudah jadi keren banget begini semuanya!”, timpal Gadis lagi tanpa mempedulikan kepongahan yang ditunjukkan oleh Bambang. Tapi memang pemandangan promenade itu benar-benar menyita perhatian mereka. Masing-masing dari mereka sepertinya berfikir kenapa tidak sejak dari dulu daerah saluran irigasi itu diubah menjadi seperti yang mereka lihat sekarang ini.

han-river-promenade

Area promenade itu berakhir di sebuah taman yang lain yang desainnya juga tak kalah menarik. Di pintu masuknya tertulis nama HEROES PARK. Segera mereka sadar bahwa mereka akan melewati Taman Makam Pahlawan yang terletak di seberang taman itu, persis sebelum pertigaan. Mereka berhenti sebentar di depannya karena memang lampu lalu lintas di pertigaan itu menunjukkan warna merah. Kesempatan itu mereka pergunakan untuk melihat kondisi Taman Makam Pahlawan tersebut yang ternyata tidak ada perubahan yang signifikan padanya. Malah sekilas terkesan semakin bersahaja dan terawat dengan baik kondisinya. Tak jauh dari situ juga kembali terlihat halte yang kali ini bertuliskan ANGKOT STOP D529 Mereka baru bergerak kembali ketika lampu lalu lintas sudah menunjukkan warna hijau. Terlihat lagi papan penunjuk arah yang kali ini menginformasikan bahwa ke arah kiri menuju KARANG REJO RECYCLING CENTER dan DAM RAMAN SOLAR ENERGY FARM via WEST RING ROAD.

Rombongan kemudian melewati Rumah Sakit Mardi Waluyo yang sekarang sudah berupa satu bangunan berlantai tujuh dengan dikelilingi taman parkir yang cukup luas. Tak jauh dari situ terlihat lagi di ujung dalam bentukan gerbang yang lain namun ukurannya lebih kecil. Di atasnya adalah tulisan yang terbaca CITY CENTER ZONE. Sebelum gerbang tersebut ada jalan yang menuju ke arah kiri dan kanan yang di tiap sudutnya ada plang nama yang bertuliskan INNER RING ROAD. Setelah agak mendekat terlihat di bagian tengah gerbang tersebut ternyata ada semacam bangunan halte yang lantainya agak sedikit naik dari permukaan jalan. Bangunan itu terbagi dua dimana pada bagian tengahnya ternyata ada jalur rel yang memanjang ke arah tengah kota. Mereka tampak kebingungan. Apakah ada kereta api yang melintasi Kota Metro? Tapi mengapa hanya berhenti atau dimulai dari gerbang ini?

to be continued to Part 2

2 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s