Japanese Darling

1lYL7iYx

Kuseka sisa air mata terakhir dari kedua pipiku. Perona pipi warna merah jambu yang selalu menghiasi wajahku sudah hilang tak berbekas. Kutarik nafas sedalam-dalamnya sambil kurasakan aliran oksigen memasuki tiap senti relung paru-paruku hingga penuh. Lalu kulepaskan perlahan hingga hembusan terakhir. Bibirku terasa bergetar ketika udara itu keluar melewatinya. Seperti tidak rela mengetahui bahwa itu adalah salah satu dari helaan nafas terakhirku.

Lidah dan tenggorokanku terasa panas sekali. Efek pil yang kutelan tadi rupanya. Tapi anehnya wajahku malah mulai terasa dingin. Sangat dingin hingga rahangku mengaku. Keringat dingin yang sedari tadi mengalir deras dari kulit wajah dan kepalaku tanpa terasa sudah terhenti. Punggungku sudah tidak dapat lagi menahan tubuhku dalam posisi duduk. Perlahan tapi pasti tubuhku mulai condong ke samping kanan tanpa bisa kutahan lagi sampai akhirnya aku terhempas ke lantai. Tabung plastik kosong yang tadinya berisi satu-satunya pil yang sudah kutelan habis, terlepas dari genggamanku dan menggelinding menjauhi tubuhku, melaju terus ke arah balkon yang terbuka lebar. Kedua kakiku sudah sejak tadi tak bisa kurasakan lagi.

Tiba-tiba berkelebat di benakku bayangan Yuki, suamiku dan Arata, anak laki-lakiku satu-satunya. Yuki dengan setelan jas hitam dan kemeja putih yang selalu dipakainya saat di acara resmi dan Arata dengan seragam “youchien” (baca: Taman Kanak-kanak) yang menggenggam tangan Papa-nya dengan erat. Mereka berdua berdiri mematung dan menatap ke arahku dalam diam. Namun tersirat jelas raut kekecewaan di wajah mereka.

“Mama…”, terdengar suara Arata memanggilku perlahan.

Aku ingat! Kenangan itu adalah hari pertama Arata masuk sekolah. Semua murid baru diantar oleh kedua orang tuanya. Tapi aku hanya bisa mengantarnya sampai depan gerbang sekolah saja. Manajerku tidak mengizinkan. Dia mengkhawatirkan akan terjadi keributan di sekolah itu jika orang-orang melihat kehadiranku. Mereka pasti akan berebut meminta foto bersama, tanda tanganku, atau paling tidak sekedar menyalamiku. Aku ingat Arata menangis waktu itu dan Yuki berusaha membujuknya seraya melirik dengan raut marah ke arahku. Sosok mereka berdua menghilang dari balik gerbang dan bayangan flashback itu pun memudar.

Yang muncul kemudian adalah bayangan wajahku yang terpantul dari keramik porcelen lantai berwarna putih yang masih bersih dan mengkilap. Terlihat pipi kananku menempel di lantai, sementara dari mulutku mulai keluar cairan berwarna hitam pekat. Kuperhatikan kedua mataku untuk terakhir kalinya dari pantulan lantai itu. Kosong.

Tiba-tiba semua menjadi hening. Ah, inikah ketenangan yang selalu kucari itu. Hening, tenang, dan kemudian senyap.

Ruangan royal suite hotel itu luas sekali. Interiornya pun mewah. Hampir semua furniturnya terbuat dari kayu yang berukir aneka ragam. Di langit-langitnya pun tergantung lampu-lampu kristal yang cantik. Secantik wajah penghuninya yang sekarang tergeletak di lantai porcelen. Sayang wajahnya saat ini tak terlihat karena tertutup geraian rambutnya yang lurus panjang sebahu. Biasanya rambut itu tertata rapi namun sekarang tergerai berantakan menutupi kepala dan wajahnya yang tertelungkup itu.

Penyebabnya adalah angin yang tertiup dari balkon kamar yang berjarak sekitar dua meter dari tubuh wanita itu. Sesekali angin bertiup kencang dan menyibakkan rambutnya yang diberi warna coklat mocca. Terang saja banyak angin yang tertiup masuk karena pintu balkon tersebut terbuka lebar. Dari balkon kita bisa melihat pemandangan pusat kota Tokyo dari lantai 21. Terlihat jelas sungai Sumida yang membelah kota megapolitan terbesar di Jepang ini. Pagi itu cuaca di luar cerah sekali. Matahari bersinar terang dari balik awan-awan putih yang menghiasi langit biru. Terlihat beberapa kumpulan burung terbang bergerombol melintasi puncak gedung-gedung tinggi lainnya. Sungguh suasana yang menentramkan batin sebelum beberapa saat kemudian terdengar teriakan melengking dari arah dalam kamar tersebut.

Tampak seorang wanita tua dengan seragam karyawan hotel berdiri tertegun dengan kedua tangannya menutupi mulutnya sendiri. Di hadapannya terlihat jelas sosok seorang wanita dengan piyama hotel yang tergeletak di lantai. Tubuh itu kaku tak bergerak. Wanita tua itu tetap tidak bergerak. Satu detik, dua detik, sepuluh detik, sampai sekitar dua menit lamanya adegan itu tidak berubah. Sampai kemudian terdengar suara langkah kaki berlari tergopoh-gopoh dan dari balik pintu utama kamar itu muncul beberapa sosok laki-laki. Suasana hening seketika berubah gegap gempita. Sirine ambulance bersahutan dengan mobil polisi terdengar melengking dari segala penjuru dan merubah suasana cerah pagi itu menjadi kelabu.

Keesokan harinya, headline semua surat kabar di Tokyo dan di seluruh Jepang mengabarkan peristiwa yang sama. Peristiwa yang terjadi pagi itu. Seorang aktris terpopuler Jepang saat ini yang bernama Asano Hirayama ditemukan tewas bunuh diri di sebuah hotel bintang lima di Tokyo. Polisi menemukan secarik kertas di atas tempat tidur yang diduga catatan bunuh diri yang ditulis sendiri oleh Asano. Di kertas itu tertulis dua potong kalimat pendek yang bunyinya, “Selamat tinggal dunia. Biarkan saya sendiri.”

“Dunia Kehilangan Asano”, judul artikel yang tertulis paling besar di surat kabar Asabi.

“Asano Jangan Pergi Sendiri”, judul artikel utama di surat kabar yang lain.

“Hari ini, Jepang kehilangan salah satu bakat terbaik yang telah dimilikinya.”, tutup seorang pembawa acara di akhir ulasan berita tentang kematian Asano.

“Bidadari itu telah kembali ke surga…”, gumam seorang nenek lirih yang menyaksikan berita itu melalui televisi umum di sebuah pusat perbelanjaan.

Jepang berkabung. Kepergian Asano dengan cara yang sangat menyedihkan seperti itu sungguh sangat tidak terbayangkan semua orang. Bagaimana tidak. Karir Asano saat ini sedang dalam puncaknya. Siapa orang di Jepang yang tidak mengenalnya. Dia adalah Media Darling-nya Jepang dalam satu dekade ini. Asano lahir dari keluarga biasa. Ayahnya adalah seorang dokter dan ibunya pada awalnya juga seorang dokter yang kemudian memutuskan berhenti setelah melahirkan Asano. Kepopuleran Asano sudah terasa sejak masa-masa sekolah dan mulai menjadi-jadi ketika dia terpilih untuk bergabung dalam salah satu grup idol yang digandrungi para fans yang fanatik. Merasa sangat tertarik dengan dunia perfilman, Asano kemudian memutuskan keluar dari grup idol tersebut dan memulai karirnya di bidang akting. Bakatnya di dunia akting langsung mendapat tempat di hati para penggemar film di Jepang. Ditunjang dengan wajahnya yang sangat cantik, karir aktingnya pun semakin cemerlang.

Tidak cukup hanya di layar lebar saja, Asano juga sering sekali diminta untuk tampil menyanyi atau sekedar menjadi bintang tamu di acara-acara televisi di seluruh daerah di Jepang. Hampir setiap hari wajahnya selalu menemani saat-saat dimana setiap keluarga menikmati waktu bersama mereka dengan menonton acara televisi bersama. Muda, cantik, berbakat, itulah Asano. Pribadinya juga terkenal baik dan ramah. Tak pernah sekalipun terlihat fotonya dengan wajah sedih ataupun murung. Ini yang membuat semakin banyak orang menjadi penggemarnya.

Sekitar lima tahun yang lalu pada saat Asano memutuskan untuk menikahi seorang pria biasa yang merupakan teman sekolahnya dulu. Acara pernikahannya merupakan acara pernikahan yang paling banyak dihadiri orang-orang yang tak lain adalah penggemarnya. Acara itu juga diliput oleh semua media baik cetak maupun elektronik. Seperti pernikahan Pangeran William dan Catherine Middleton di Inggris. Pasca pernikahan pun karirnya tidak menurun. Malah beberapa waktu yang lalu dikabarkan bahwa Asano baru saja menyelesaikan syuting film yang diproduksi oleh studio film dari Hollywood. Ini adalah puncaknya, masanya, eranya Asano. Lalu tiba-tiba, BAM! Tubuh Asano ditemukan tak bernyawa seorang diri di sebuah kamar hotel. Para penggemarnya shock. Mereka tidak terima! Bagi mereka tidak mungkin Asano bunuh diri.

Sudah hampir sebulan lamanya sejak pagi yang menggemparkan itu. Saat seorang tokoh pujaan rakyat Jepang menghabisi nyawanya sendiri secara tragis. Namun media seperti belum rela melepaskan kepergiannya. Banyak sekali acara talkshow ataupun variety show lainnya yang membahas kematian Asano. Banyak sekali rumor yang berkembang tentang kejanggalan-kejanggalan dalam peristiwa bunuh dirinya Asano. Penjelasan resmi dari pihak kepolisian sudah jelas terbukti bahwa Asano melakukan bunuh diri dengan meminum obat yang mengandung kadar racun yang sangat tinggi. Hal ini dikuatkan dengan keterangan dari pihak dokter yang melakukan otopsi. Namun anehnya, sama sekali tidak ditemukan resep atau bukti fisik keberadaan obat tersebut di kamar hotel itu. Sehingga muncul kemudian dugaan bahwa dia diracun oleh orang lain. Namun kemungkinan inipun sangat kecil karena selama lima hari penuh sebelum Asano ditemukan tewas, tidak ada orang lain yang bisa menemuinya. Bahkan keluarganya sendiri. Itu yang biasa Asano lakukan saat dia sedang mempersiapkan dirinya untuk berakting dalam film yang baru. Dia akan mengurung diri di sebuah hotel selama beberapa hari untuk mempelajari naskah skenario dan mendalami karakter yang akan diperankannya. Sangat serius dan bahkan cenderung terobsesi. Namun ritual ini yang tampaknya membuat aktingnya berkualitas.

“Ya, memang benar. Tidak ada seorang pun yang diperbolehkan untuk menemui Asano di saat dia sedang mempersiapkan diri untuk sebuah film. Termasuk saya sendiri. Kami hanya berkomunikasi melalui telefon. Itu pun saya dilarang untuk menelfonnya. Saya hanya menunggu telfon dari Asano. Ini sudah saya ceritakan ke Polisi.”, tutur Kanesa Miyoko, manajer pribadi Asano dalam sebuah acara talkshow live di televisi. Kanesa adalah sosok seorang gadis yang usianya sepertinya tidak terpaut jauh dari Asano. Kalau diperhatikan wajahnya pun cukup manis walaupun sedikit tertutupi oleh kacamata dengan bingkai tebal yang dikenakannya. Rambutnya yang hitam dan panjang sebahu selalu diikat dengan model ekor kuda. Kalau kacamata itu dilepas dan rambutnya digerai, Asano dan Kanesa akan terlihat seperti kakak beradik.

“Lalu kapan terakhir kali Anda mendapat telfon dari Asano sebelum kematiannya?”, cecar sang pembawa acara.

“Tidak pernah. Asano tidak pernah menelfon saya selama lima hari itu. Saat terakhir saya melihatnya adalah…adalah…ketika saya mengantarkannya sampai ke depan pintu kamar hotel itu. Saya tidak pernah menyangka bahwa itu saat terakhir saya melihatnya…”, nada suara Kanesa berubah menjadi parau. Wajahnya tertunduk.

“Apakah sebagai manajernya Anda tidak khawatir?”, sambung sang pembawa acara lagi dengan menghiraukan perubahan sikap Kanesa.

“Saya khawatir! Lima hari itu terlalu lama! TAPI SAYA TIDAK BISA BERBUAT APA-APA!”, jerit Kanesa. Wajahnya tetap menunduk. Tangannya memegang kedua lututnya dengan sangat erat. Badannya terlihat bergetar. Dia terlihat sangat tertekan.

Memang benar, lima hari itu adalah rekor terlama untuk persiapan intensif ala Asano. Bahkan ternyata menjadi yang terakhir. Orang jadi bertanya-tanya. Apakah mungkin persiapan yang keras itu mempengaruhi kejiwaannya. Apalagi ketika kemudian terungkap fakta yang mencengangkan bahwa pada film berikutnya Asano akan berperan menjadi seorang psikopat yang menjadi seorang pembunuh dan pada akhirnya membunuh dirinya sendiri! Apakah ini kebetulan saja? Tidak ada seorang pun yang tahu.

“Apakah mungkin Asano dibunuh oleh seseorang, pak?”, tanya seorang pembawa acara pada acara talkshow yang lain. Kali ini yang diwawancarai adalah Ken Kobayashi, detektif polisi yang memimpin penyelidikan kematian Asano.

“Sampai sejauh ini kami belum menemukan indikasi ke arah itu. Karena memang tidak ada orang lain yang bersamanya saat sebelum kematiannya.”, jawab Ken dengan intonasi yang tegas.

“Apakah ada kemungkinan ini adalah peristiwa perampokan?”

“Tidak. Tidak ada barang berharga yang hilang. Kamarnya pun dalam kondisi yang rapi.”

“Kapan tepatnya Asano meninggal, pak?” Berapa lama jasadnya berada di kamar hotel sebelum dia ditemukan?”

“Tidak lama. Menurut tim forensik kami, Asano tewas tidak lama sebelum dia ditemukan oleh petugas kebersihan yang masuk karena melihat tanda permintaan untuk membersihkan kamar di gagang pintu. Tepat pagi itu.”

“Siapa yang memasangnya, pak? Apakah ada sidik jarinya?”

“Tidak ada.”

“Bagaimana dengan Kanesa, manajernya? Apakah mungkin dia iri melihat kepopuleran Asano?”, lanjut pembawa acara itu lagi.

“Tidak. Kami sudah menginterogasi Kanesa dengan intensif. Alibinya sempurna. Bahkan kami juga sudah menyelidiki latar belakang Kanesa. Dia tidak mungkin melakukan pembunuhan. Malah sekarang dia sangat tertekan.”, jelas Ken.

“Mungkin dia tertekan karena kehilangan pekerjaan…haha…”, tukas pembawa acara mencoba bergurau tapi dari semua bintang tamu dan penonton di studio itu tidak ada satupun yang tertawa.

Kematian Asano sangatlah misterius. Ini juga disebabkan karena walaupun semua orang mengenal Asano sebagai sosok yang sangat menyenangkan dan selalu terlihat ceria seperti layaknya seorang entertainer sejati, faktanya tidak ada seorang pun yang tahu tentang kehidupan pribadinya. Termasuk segala sesuatu tentang keluarganya. Suaminya hanya terlihat pada saat acara pernikahan mereka berdua dan setelah itu seperti lenyap ditelan bumi. Kedua orang tuanya pun malah tidak pernah terliput media sama sekali. Asano selalu menceritakan bahwa kedua orang tuanya sangat menjaga privasi. Semua informasi tentang keluarganya hanya berdasarkan cerita dari Asano saja. Namun ketika ditanyakan tentang sosok anak satu-satunya, Asano akan bungkam seribu bahasa. Setelah kematiannya, publik Jepang baru menyadari bahwa sosok seorang idola yang setiap hari menghiasi layar televisi di rumah mereka masing-masing dan juga sosok yang setiap akhir pekan selalu ingin mereka tonton film terbarunya di bioskop, ternyata seperti seseorang yang tidak mereka kenal sama sekali.

Pada saat pemakamannya ribuan orang hadir. Akan tetapi tetap tidak ada tanda-tanda kehadiran keluarganya sendiri. Sungguh malang dan tragis akhir dari Asano. Seorang diri dalam keramaian. Namun sepertinya memang itu yang dia mau. Seperti tertulis dalam catatan yang ditinggalkannya sebelum dia bunuh diri.

Hari ini adalah tepat setahun sejak kematian Asano. Peristiwa itu bahkan sudah mendunia. Sejak menjadi trending topic di Twitter, Line, Facebook, dan berbagai media sosial online yang lain. Hari ini ribuan orang yang berkumpul di halaman depan hotel tempat Asano ditemukan bunuh diri. Mereka berkumpul membawa rangkaian bunga, meletakkannya di depan poster yang bergambar foto wajah Asano yang terpasang di pintu masuk hotel, dan menghidupkan lilin yang dipegangnya sembari berdiri berangkulan dengan teman dan keluarga masing-masing. Masih tampak jelas raut kehilangan di wajah mereka.

Banyak media internasional yang meliput acara peringatan ini. Termasuk juga TV TWO, salah satu stasiun televisi di Indonesia yang menyiarkannya secara LIVE lengkap dengan pembawa acara dan bintang tamu sebagai komentator. Di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota Denpasar, dua pasang mata tampak serius mengamati tayangan langsung itu melalui sebuah layar televisi yang masih berbentuk tabung di sudut ruang keluarganya. Ruangan tersebut sangat kecil dengan perabotan yang juga sangat sederhana. Televisi tua itu mungkin adalah barang yang paling mahal yang ada di ruangan itu. Dari layar televisi tampak sang pembawa acara berusaha menghubungi reporternya yang meliput langsung acara tersebut di Tokyo.

“Ani, bagaimana keadaan para penggemar Asano yang berkumpul di sana?”, tanya pembawa acara kepada reporternya.

“Halo pemirsa, suasana disini sungguh sangat mengharukan. Ribuan orang datang kesini untuk mengenang kepergian Asano sang mega bintang. Banyak di antara mereka yang datang bersama keluarga. Mereka membawa foto Asano yang dibingkai, mendekapnya di dada, sambil meneteskan air mata. Sungguh sangat menyedihkan sekali, pemirsa.”

“Wah, sampai begitu ya. Lalu bagaimana dengan perkembangan terakhir kasus kematian Asano? Apakah Ani berhasil mendapatkan sesuatu?”

“Ya, saat ini saya sedang bersama detektif Ken Kobayashi yang merupakan Team Leader dalam kasus Asano. Kobayashi-san, would you please tell us about the latest development on Asano’s case?”

Seketika kamera menyorot wajah detektif Ken Kobayashi yang saat ini terlihat berdiri di samping Ani, sang reporter. Ken terlihat berfikir sejenak sebelum menjawab.

“Kasus ini tetaplah sangat rumit. Kami dari pihak kepolisian merasa kesulitan untuk menyelidikinya karena keluarga Asano sendiri pun menghilang. Bahkan kami pun baru-baru ini menemukan fakta yang sangat mengejutkan. Kami bahkan telah menggelar jumpa pers sendiri untuk itu.”, jawab Ken dalam bahasa Jepang yang sangat formal. Seorang penerjemah pun berusaha menjelaskan kepada Ani secara singkat.

“What is it, Kobayashi-san? Could you please share it with us?”, tanya Ani lagi. Wajah Ken berubah menjadi agak terkejut.

“Saya kira Anda sudah mengetahuinya? Baik saya akan sampaikan lagi bahwa Asano Hirayama sebenarnya bukan nama asli. Nama itu hanyalah nama yang diciptakan oleh tim manajemennya yang berusaha menjaga privasi dari aktris tersebut. Fakta ini kami dapatkan dari pengakuan Kanesa Miyoko, manajer pribadi dari Asano. Maaf saya ralat, manajer dari seseorang yang kita kenal dengan nama Asano. Identitas aslinya sampai saat ini kami belum berhasil untuk mengungkapnya. Kami akan terus berusaha. Mohon dukungan Anda.”, jelas Ken sebelum mengakhiri wawancara tersebut.

“KLIK”

Tombol power televisi di ruangan itu ditekan oleh sosok tangan seorang laki-laki. Dalam sekejap gambar yang ada di layar televisi itu berubah menjadi hitam pekat. Yang terlihat dari pantulan kaca layar televisi itu adalah sosok seorang wanita yang sedang duduk di hadapannya. Laki-laki tadi duduk kembali ke sebelah wanita tersebut setelah mematikan televisi itu. Dia menarik kepala wanita itu dengan lembut dan meletakkannya di dadanya seraya berkata.

“Tak kuduga Kanesa akhirnya memberitahukan hal itu juga. Tapi jangan khawatir, dia hanya tahu sebatas itu. Tidak lebih. Dia kan tidak tahu tentang obat yang diberikan oleh teman ayah yang bekerja sebagai dokter di tim forensik kepolisian itu. Obat yang baru saja ditemukannya yang mampu menghentikan detak jantung selama satu jam. Dia juga tidak mengenal aku, anakmu, dan juga kedua mendiang orang tuamu. Iya kan, Asano?”, bisik laki-laki itu sambil tersenyum. Mendadak wanita itu menarik kepalanya dan menatap wajah laki-laki itu sambil meletakkan ujung jari telunjuknya di bibir laki-laki di hadapannya.

“Sssttt, Yuki! Jangan sebut nama itu lagi. Biarlah itu jadi masa lalu saja. Sekarang aku adalah Kirana, istrimu dan ibu dari Arata, anak laki-laki kita. Aku mencintai kalian berdua.”, tukas Kirana setengah berteriak namun dengan nada suaranya yang lembut.

“Tapi apa kamu tidak khawatir melihat tayangan tadi? Atau kamu menyesal, Kirana?”

“Menyesal? Ya aku menyesal, sayang. Aku menyesal tidak melakukan ini sejak lama. Maafkan aku atas waktu-waktu kebersamaan kita yang kulewatkan. Sekarang kalian adalah duniaku dan…”

“Mama? Ada apa?”, tiba-tiba terdengar suara anak laki-laki dari sudut ruangan yang lain. Arata tertegun menatap ke arah Kirana dan Yuki. Wajahnya terlihat khawatir melihat kedua orang tuanya sedang berbjncang dengan serius. Yuki dan Kirana menatap balik ke arah Arata dan tersenyum. Tanpa mengucap sepatah katapun, Yuki meraih tangan Arata dan mendudukkan anaknya itu ke atas pangkuannya. Yuki pun kemudian tertawa. Kirana juga ikut tertawa pelan. Dan Arata tertawa lebih lebar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s