Harmoni di Hangzhou

*Tulisan ini bisa dibaca juga di http://www.pojoksamber.com dan juga telah terbit di Koran Editor edisi Kamis, 23 Oktober 2014.

 

IMG_2534

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya tanggal 14-17 Oktober 2014, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan International Symposium on Architectural Interchanges in Asia (ISAIA) di Hangzhou, China. Kegiatan ISAIA ini merupakan kali ke-10 dari kegiatan serupa yang merupakan hasil kerjasama dari Architectural Society of China (ASC), Architectural Institute of Japan (AIJ) dan Architectural Institute of Korea (AIK) serta diadakan bergiliran di kota-kota di China, Jepang, maupun Korea Selatan seperti Beijing, Kitakyushu, Gwangju, dan lain sebagainya sejak tahun 1986. Tujuannya adalah untuk mengeksplorasi tradisi kebudayaan arsitektur Asia Timur, hubungan antara perkembangan arsitektur modern dan karya-karya arsitektur tradisional, teknologi bangunan modern, dan sustainable architecture.

Tema ISAIA kali ini adalah Unsur-unsur Kebudayaan dalam Perkembangan Dunia Arsitektur dimana ada 3 orang arsitek terkemuka dari China, Jepang, dan Korea Selatan yang memberikan keynote speeches. Selain itu ada 12 pakar serta ratusan arsitek dan peneliti yang saling bertukar pengetahuan dalam tema-tema seperti perancangan dan perencanaan arsitektur, perencanaan kota, tata lansekap, dan sebagainya. Kota Hangzhou sengaja dipilih sebagai tempat simposium kali ini karena sesuai dengan tema, Hangzhou adalah kota yang indah dan mempunyai konteks sejarah yang panjang dan budaya yang kuat. Acara ini dibuka oleh sambutan-sambutan dari Presiden ASC, Che Shujian, Presiden AIJ, Hiroshi Yoshino, Presiden AIK, Kwang-Woo Kim, dan juga Dirjen Departemen Perumahan dan Pengembangan Kota dan Daerah Provinsi Zhejiang, China, Tan Yueming.

Keynote speaker yang pertama yaitu arsitek Cheng Taining dari China yang terkenal dengan karya-karyanya antara lain Zhejiang Art Museum, The Dragon Hangzhou Hotel dan Hangzhou Railway Station. Dalam pemaparannya, Cheng Taining menjelaskan tentang gagasan konsep dan contoh karya-karyanya dalam mengeksplorasi nilai-nilai yang diwarisi dari kebudayaan tradisional China untuk membangun secara bertahap sistem filosofi dan estetika yang memperlihatkan nilai ketimuran sekaligus universal dalam rangka mempromosikan pengembangan arsitektur kontemporer China.

 

IMG_2649

Hangzhou Railway Station (Dokumentasi Pribadi)

Selanjutnya Prof. Takeshi Nakagawa dari Waseda University, Tokyo, yang juga merupakan mantan Presiden AIJ 2007-2009, memaparkan tentang unsur-unsur dalam hubungan secara arsitektural dan kultural antara perkembangan dunia arsitektur dengan nilai-nilai kebudayaan dalam sejarah perkembangan arsitektur di Jepang.

 

IMG_2409

Suasana di hall tempat simposium saat Keynote Speeches (Dokumentasi Pribadi)

Pembicara terakhir adalah arsitek H-Sang Seung yang merupakan CEO dari IROJE Architects and Planners yang memiliki kantor di Seoul, Korea Selatan dan Beijing, China. H-Sang Seung pernah meraih penghargaan Korea Architectural Culture Grand Award pada tahun 2012 atas karyanya yaitu Art Villas di Jeju. Beliau memaparkan tentang konsep Landscript yang intinya tentang prinsip arsitektur yang berfikir secara mendalam dan puitis dalam membangun dengan melindungi lingkungan alam. Pada saat saya baru tiba di hotel tempat simposium tersebut di malam sebelum hari pembukaan, secara kebetulan saya bertemu dan duduk satu meja dengan H-Sang Seung secara langsung di ruang makan. Momen berharga ini langsung saja saya minta agar diabadikan dengan berfoto bersama beliau yang disambutnya dengan ramah dan hangat.

 

IMG_2371

Bersama arsitek H-Sang Seung (tengah) (Dokumentasi Pribadi)

Selain sebagai ajang pertukaran pengetahuan dan diskusi ilmiah antar para peneliti dan praktisi di bidang arsitektur, kegiatan simposium ini juga dilengkapi dengan sesi perjalanan di hari terakhir dimana ada 2 pilihan. Yang pertama yaitu mengunjungi tempat-tempat wisata yang terkenal di Hangzhou seperti West Lake, Leifeng Tower, Hefang Street dan sebagainya. Atau yang kedua yaitu mengunjungi Xiangshan Campus of China Academy of Fine Arts yang karya arsitek terkenal dari China yaitu Wang Shu yang merupakan peraih Pritzker Architecture Prize, sebagai penghargaan tertinggi dunia di bidang arsitektur, pada tahun 2012. Wang Shu adalah satu-satunya arsitek berkebangsaan China dan benar-benar berdomisili di China yang memenangkan penghargaan ini. Tentu saja saya tidak mengalami kesulitan untuk menentukan pilihan mengambil sesi perjalanan yang kedua untuk melihat sendiri karya terbesar Wang Shu sampai saat ini.

Perjalanan yang ditempuh untuk menuju kompleks kampus tersebut lumayan jauh dan memakan waktu kurang lebih 1 jam dengan menggunakan bis. Untungnya saya duduk bersebelahan dengan salah seorang panitia yang merupakan seorang mahasiswa yang tinggal di Hangzhou. Fren, begitu dia lebih memilih dipanggil daripada nama Chinese-nya, menerjemahkan setiap penjelasan pemandu perjalanan dan menerangkan dalam Bahasa Inggris kepada saya. Banyak yang diceritakannya, mulai dari kondisi jalan-jalan di kota Hanzhou yang sangat dipadati oleh mobil dan kendaraan bermotor lainnya, sehingga sampai-sampai pemerintah setempat menerapkan sistem genap-ganjil untuk nomor plat kendaraan yang boleh melintas pada jam-jam padat setiap harinya. Jumlah kendaraan bermotor yang terlalu banyak ini juga menyebabkan polusi udara akibat dari gas emisi kendaraan tersebut. Beruntung Hangzhou memiliki area hijau dan pepohonan yang cukup banyak di daerah West Lake, sepanjang Grand Canal, dan juga di area downtown-nya sehingga lumayan bisa menetralisir efek polusi udara tersebut. Namun Fren mengungkapkan bahwa dia jarang bisa melihat langit cerah berwarna biru di atas kota Hangzhou.

 

IMG_2632

Area pejalan kaki yang hijau (Dokumentasi Pribadi)

 

IMG_2641

Gedung pencakar langit kontras dengan pepohonan yang rimbun (Dokumentasi Pribadi)

Di kota ini angkutan umum yang dominan adalah bis kota yang banyak digunakan masyarakatnya. Bis ini memiliki jalur sendiri walaupun tidak terpisahkan dengan batas fisik seperti jalur busway di Jakarta. Selain bis, ada juga kereta bawah tanah atau subway dimana saat ini baru ada satu jalur. Satu jalur yang lain sedang dalam konstruksi dan direncanakan untuk mulai beroperasi pada tahun depan. Selain bis, kendaraan roda dua seperti motor dan sepeda, memiliki jalur terpisah juga dengan kendaraan bermotor roda empat terutama di jalan-jalan utama. Ini membuat lalu lintas di Hangzhou walaupun sangat padat, tidak terlihat “acak-acakan”.

Masyarakat Hangzhou sangat bangga terhadap pesona keindahan alamnya seperti West Lake yang saat ini tercatat sebagai World Cultural Heritage. Danau ini terletak sangat dekat dengan pusat kota Hangzhou dimana lingkungannya masih sangat asri. Selain pepohonan, banyak juga dijumpai perkebunan teh yang menghasilkan Longjing Tea, salah satu jenis teh terkenal dari China. Bahkan, kata Fren, teh Longjing dari West Lake mempunyai rasa yang paling enak. Saya menikmati pemandangan indah di sepanjang perjalanan di sekitar West Lake ini dengan perasaan sejuk sekaligus takjub, apalagi kemudian di dalam bis diputar lagu tradisional China yang oleh pemandu perjalanan diperkenalkan sebagai lagu untuk kegiatan memetik teh. Selain West Lake, ada juga Grand Canal yang membentang dari Hangzhou sampai ke Beijing.

 

IMG_2605

Mensketsa gazebo tradisional dengan kebun teh di latar belakangnya (Dokumentasi Pribadi)

Perjalanan satu jam lebih tak terasa. Bis yang saya tumpangi segera memasuki wilayah kampus China Academy of Art di daerah Zhuantang. Keingin-tahuan saya terhadap keindahan karya arsitektural dari Wang Shu segera terjawab. Atmosfer kreatifitas dan ekspresi seni yang kental dengan cita rasa lokal segera terasa ketika melewati bangunan-bangunan di kompleks ini saat menuju tempat parkir. Area kampus ini memiliki luas 64 ribu meter persegi dan dikelilingi oleh pegunungan dan sungai yang jernih. Ada tiga unit kampus yaitu School of Visual Art, School of Media Animation, dan Basic Education Center. Perencanaan masterplan kampus yang menekankan penciptaan atmosfer dari keseluruhan lingkungan kampus dan perlindungan ekologinya, dengan perpaduan antara model pembangunan gaya China dan Barat, berhasil menciptakan tata ruang kampus yang fungsional, dan menyatukan antara bangunan, ruang, lansekap, dan lingkungan alam, serta menciptakan lingkungan kampus yang bergaya taman dan terbuka yang sangat cocok untuk lingkungan akademis sekaligus wisata.

 

IMG_2583

Bangunan yang menyatu dengan alam (Dokumentasi Pribadi)

Begitu sampai bis di area parkir, peserta kemudian diberi waktu 2 jam untuk mengunjungi dan mengelilingi area kampus ini. Tadinya saya pikir waktu yang diberikan tersebut sangat lama, namun pada akhirnya saya sadar bahwa waktu 2 jam tersebut sesungguhnya sangat sedikit sekali.  Turun dari bis, saya memutuskan untuk segera memasuki salah satu bangunan terdekat untuk melihat bagian dalam dan desain interiornya. Dari sini pun rasa kagum saya semakin bertambah karena karakter budaya China yang dapat dirasakan dalam detil-detil dan ornamen bangunannya dapat berpadu sangat harmonis dengan pengaturan fungsi-fungsi ruang dan material-material modern yang digunakan. Selain itu juga, prinsip passive design atau desain yang merespon lingkungan seperti penghawaan dan pencahayaan alami juga dengan sukses diterapkan pada innercourt, koridor-koridor di dalam bangunan, dan juga pada ruang-ruang kelasnya.

 

IMG_2568

Koridor di bagian dalam (Dokumentasi Pribadi)

IMG_2570

 

Jendela kayu tradisional yang dipadukan dengan rangka besi modern (Dokumentasi Pribadi)

Terpesona dan tergetar akan pengalaman berada di dalam salah satu bangunan yang didesain oleh Wang Shu membuat saya sedikit melupakan waktu. Akibatnya ketika saya memulai perjalanan mengelilingi area kampus ini, waktu yang tersisa hanya satu jam saja. Waktu ini saya pergunakan untuk mengambil banyak foto dari bangunan lain dan taman-taman serta area terbuka lain yang tertata dengan indah di area kampus ini. Lingkungan alam dan bangunan, Timur dan Barat, tradisi dan teknologi, sains dan seni, elemen batu dan air, menyatu dengan serasi dan indah dalam kreasi Wang Shu. Saya meninggalkan area kampus ini dengan perasaan puas sekaligus tidak puas. Puas karena saya mendapat pengalaman yang sangat berharga sebagai seorang arsitek dan pengajar di bidang arsitektur. Tidak puas karena saya ingin suatu hari nanti kembali lagi ke tempat ini. Hangzhou dan Wang Shu. Dua nama yang merdu dan harmoni dalam kenangan saya.

 

IMG_2590

 

Bangunan yang terinspirasi dari alam (Dokumentasi Pribadi)

 

IMG_2591

Gaya Timur dan Barat menyatu dalam desain ornamen bangunan (Dokumentasi Pribadi)

4 Comments Add yours

  1. Dear Fritz,

    I am Putri Qistina, from Teater Ekamatra. Teater Ekamatra is an established Singapore arts company that spotlights contemporary experimental theatre.

    On behalf of my Company Manager, we would like to contact you regarding a project that we would like to with you. Can we get your e-mail address?

    Thank you and we hope to hear from you soonest!

    1. fritztory says:

      Hi Putri,

      So sorry for a very late reply. You can contact me at: fritz.ahmad@gmail.com. Looking forward to hear from you.

    2. Mavrick says:

      Jason Derulo is at present at the pinnacle of the Uk singles chart for the second week with his recent track Do#1;82&7nt Wanna Go Home. The North american musician is without a doubt fending off tight competition

  2. Aileen says:

    City has become the first political entity in Latin America to legalize gay maL&gaie.r#8221;ratin America has played no substantial part in influential history. But after “The Crash” (cf. Takuan Seiyo and Fjordman) Europeans might start to emigrate here as refugees. There’s even a possibility that because of it the American South might start becoming an interesting place.As to the lefty Ebrard, mayor of Mexico City who allowed homo marriage, if anyone of you is interested in learning a bit about the injuries that the Left has inflicted here down the South don’t miss this book: .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s