Revolusi Kota Hijau

Tulisan ini sudah dimuat di Harian KORAN EDITOR edisi Selasa, 3 September 2014.

 

Mendiang Prof. Eko Budihardjo dalam bukunya yang berjudul “Reformasi Perkotaan” menulis satu artikel yang berjudul “Kota-kota yang Terluka”. Pada alinea pembuka artikel tersebut, beliau mengungkapkan tentang fenomena “Urban Suicide” atau “Bunuh Diri Perkotaan” yang terjadi di sebagian besar kota-kota di Indonesia. Disebut bunuh diri karena itu seringkali dilakukan oleh pengelola kota itu sendiri, dalam hal ini adalah pemerintah kota, yang dengan berbagai kebijakannya justru malah merusak keseimbangan hubungan antara manusia dengan lingkungan perkotaan baik yang masih alami maupun yang sudah terbentuk menjadi lingkungan binaan. Disebut bunuh diri juga karena sebagian besar kebijakan-kebijakan itu dibuat dalam keadaan sadar akan dampaknya. Sehingga beliau pun menyindir dengan menyatakan bahwa beliau akan sangat terkejut apabila mengetahui ada yang merasa terkejut akan terjadinya kerusakan lingkungan dan bencana alam yang menimpa kota-kota di Indonesia.

Pemerintah kota tak terkecuali di Kota Metro, seharusnya lebih menunjukkan perhatian dan bertanggung jawab akan keberlangsungan pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan. Ramah lingkungan tidak hanya ditunjukkan melalui slogan atau ceremonial belaka, akan tetapi harus juga memikirkan bagaimana ejawantahannya dalam aspek ekonomi dan sosial budayanya. Apabila tidak difikirkan secara integral maka alasan keterbatasan finansial-lah yang selalu dikemukakan saat penerapan kebijakan ramah lingkungan. Pada tulisan ini saya ingin memberikan gambaran yang lebih jelas dari tulisan saya sebelumnya yang berjudul “Lihat Komet dari Jepang” yang dimuat di Koran Editor edisi 4 Agustus 2014 yang lalu.

Menurut Prof. Eko Budihardjo, pembangunan yang berkelanjutan mencakup 10 E sebagai berikut Ecological Balance (keseimbangan ekologis), Employment (penyediaan lapangan kerja), Empowerment (pemberdayaan masyarakat), Enforcement (penegakan hukum), Engagement (pelibatan swasta), Enjoyment (kenyamanan warga), Ethics of Development (etika pembangunan), Equity (keadilan), Energy Conservation (konservasi energi), dan Environmental Aesthetic (estetika lingkungan). Kita bisa lihat bahwa dari kesepuluh faktor di atas, hanya tiga yang berhubungan dengan lingkungan alami secara langsung. Sisanya mengacu pada kondisi sosial, ekonomi, budaya bahkan aspek hukum dalam masyarakat perkotaan.

Ada juga kebiasaan pemerintah-pemerintah kota selaku pengambil kebijakan dan pembuat peraturan yang seakan “mengkambing-hitamkan” perilaku masyarakat yang selalu dianggap belum sadar terhadap kelestarian lingkungannya. Padahal perilaku masyarakat kota sesungguhnya adalah cerminan dari pola pemerintahan kota tersebut. Menurut Dickella Premakumara, peneliti asal Srilanka yang menetap di Jepang, pada konsep “Resilient City” yang merupakan pengembangan dari konsep “Green City” ada tiga faktor kunci yaitu Institution (regulasi dan instansi), Infrastructure (sarana dan prasarana), dan Agent (perantara pembangunan). Yang menarik disini tidak ada lagi dikotomi pemerintah-masyarakat, subyek-obyek pembangunan, ataupun atas-bawah akan tetapi komponen pelaku pembangunan itu telah melebur dalam satu bentuk yaitu perantara pembangunan. Pemerintah adalah masyarakat, masyarakat adalah pemerintah. Atas adalah bawah, bawah adalah atas. Khusus untuk Kota Metro, hal ini tidak terlalu sulit diterapkan, Dalam karakteristik fisik dan sosial yang kecil dan serba terbatas, pemerintah kota juga merupakan bagian dari tataran masyarakat. Si Fulan yang adalah pejabat teras notabene juga tetangga sebelah rumah si Maman. Jadi sudah semestinya si Fulan dan si Maman bersama-sama duduk merencanakan dan berjalan menerapkan serta merawat produk pembangunan Kota Metro. Tentunya sesuai kapasitas masing-masing.

Dalam tiga tahun terakhir program Green City atau Kota Hijau adalah salah satu program yang digadang-gadangkan oleh pemerintah Kota Metro dalam merespon perubahan lingkungan kotanya. Ada delapan elemen didalamnya yaitu Green Planning and Design, Green Community, Green Energy, Green Transportation, Green Building, Green Open Space, Green Water, dan Green Waste. (Tidak) lucunya sampai sekarang program ini belumlah sepenuhnya diimplementasikan dalam pembangunan Kota Metro. Masih hanya sekedar memenuhi tuntutan anggaran yang diberikan oleh penggagas program yang dalam hal ini adalah Kementrian Pekerjaan Umum. Walaupun kemudian oleh sang empunya kerja, pelaksanaan program dinilai baik, pada kenyataannya esensi ke delapan elemen konsep itu belum diterapkan dengan sungguh-sungguh oleh pemerintah kota maupun masyarakatnya. Kata “green” yang ada di tiap elemen masih sekadar tempelan belaka bukan dalam artian ramah lingkungan.

Planning (perencanaan) yang dilakukan belumlah “green” karena perubahan alih fungsi lahan di Kota Metro masih sebesar 9 sampai 10 hektar per tahunnya. Belum lagi perkembangan fisik Kota Metro yang mulai menjauh dari pusat kota sehingga pergerakan masyarakat kota tidak bisa lagi dengan berjalan kaki atau bersepeda tapi harus dengan kendaraan bermotor. Hasilnya udara kota pun semakin tercemar. Apalagi bicara design (perancangan) kawasan kota karena justru wajah Kota Metro semakin hari semakin dihiasi tampilan-tampilan Rumah-Toko-Hotel yang disingkat RTH. Seharusnya bukan RTH model itu yang muncul melainkan RTH = Ruang Terbuka Hijau yang berfungsi secara ekologis, ekonomis, dan psikologis untuk lingkungan kota.

Community (komunitas) pun belumlah sepenuhnya “green”, karena pemberdayaan masih sebatas kalau ada event (kegiatan) atau lomba saja. Sebagai contoh Kota Metro sudah sering mendapat Adipura, penghargaan untuk kebersihan kota dan juga sudah banyak sekolah-sekolah yang mendapat gelar Sekolah Adiwiyata, namun lihat saja masih banyak sampah yang dibuang di sungai setiap harinya. Ya mungkin terkecuali pada hari penilaian lomba Adi-adian tersebut. Bisa dilihat juga masih banyak warga masyarakat yang merokok di sembarang tempat, padahal baru saja ditetapkan Peraturan Daerah Kawasan Tanpa Asap Rokok. Dalihnya selalu karena tidak adanya fasilitas area merokok. Ya memang ada benarnya. Regulasi harus didukung dengan adanya sarana prasarana pendukung. Tapi tentunya apabila ada kesadaran pasti ada upaya dan itikad baik dari masing-masing individu dan komunitas. Ini menunjukkan masih lemahnya kualitas komunitas hijau yang dimiliki. Padahal elemen komunitas inilah yang sebenarnya menjadi nilai lebih dari penerapan program Kota Hijau di Kota Metro.

Mengenai energi pun masih melulu seputar pembahasan penggunaan panel surya dan energi dari sampah serta teknologi energi terbarukan lain yang sesungguhnya selalu terbentur kendala dana dan perawatannya. Sementara itu kesadaran pengguna energi konvensional untuk melakukan penghematan pun masih lemah. Begitu juga pada elemen transportasi yang jauh dari kata “green”. Semakin banyak jumlah pengguna kendaraan bermotor dan semakin berkurang penggunaan sepeda maupun sarana transportasi tradisional yang bebas emisi yaitu becak. Di tiap perempatan jalan dulu selalu dapat ditemui beberapa becak yang dengan setia menunggu calon penumpang. Saat ini sebagian besar sudah tergantikan dengan ojek sepeda motor. Tentunya lengkap dengan emisi gas karbon yang dikeluarkannya.

Istilah Green Building yang sudah sangat mendunia pun terasa jauh mengawang-awang. Bangunan-bangunan baik publik maupun milik pribadi banyak yang bergantung pada sistem pencahayaan dan penghawaan buatan atau AC (Air Conditioner) yang dalam penggunaannya seringkali tidak bijak sehingga memboroskan energi listrik. Belumlah banyak upaya penerapan-penerapan passive design pada proses perancangan oleh para arsitek. Belumlah ada upaya penghitungan seberapa besar Ecological Footprints (Jejak-jejak Ekologis) yang ditimbulkan melalui proses konstruksi bangunan tersebut, mulai dari pemilihan bahan bangunan sampai kepada buangan yang dihasilkan.

Green Open Space atau Ruang Terbuka Hijau yang sebenarnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan ketujuh elemen yang lain, sampai saat ini masih menjadi “pajangan” dari penerapan program Kota Hijau. Setiap tahunnya selalu ada perencanaan dan pembangunan paling tidak satu taman baru. Itu sudah bagus. Hanya saja seperti biasa, pembangunan taman baru sering kali tidak optimal dan terkesan hanya sekedar menghabiskan anggaran karena pemilihan lokasi tidak terkaji dengan baik dimana ada taman yang lokasinya jauh dari sarana transportasi umum dan sarana pejalan kaki. Pelaksanaan rancangan pun kurang berkualitas ditambah dengan perawatan yang hampir tidak ada. Alhasil “pajangan-pajangan” itu pun menjadi kurang sedap dipandang sekaligus mubazir.

 

Pengelolaan air dan sampah pun sangat jauh dari prinsip ramah lingkungan. Kondisi permukaan air tanah yang semakin menurun akibat dari kurangnya area resapan adalah imbas dari meningkat dengan pesatnya lahan terbangun dan tidak terkontrolnya pembuatan sumur-sumur baik gali maupun bor. Pengelolaan sampah yang semakin ruwet pun menjadi persoalan besar yang makin hari semakin mengkhawatirkan, sementara sarana dan prasarana pengolahan sampah termasuk incinerator (fasilitas pembakaran sampah) yang dimiliki tidak bisa dioptimalkan. Konsep daur ulang saja yang terus menerus digaungkan sementara sebenarnya sampah belumlah dipahami sebagai suatu yang mempunyai nilai guna. Ini hanya bisa dicapai apabila pemilahan sampah dapat dilakukan dengan baik mulai dari tingkat keluarga.

Bahayanya lagi di tahun depan ini, Kota Metro akan mengalami perubahan kepemimpinan karena berakhirnya masa kepemimpinan Walikota saat ini yaitu Lukman Hakim. Walaupun pada masa kepemimpinan beliau saat ini, program Kota Hijau mendapat perhatian dan prioritas yang cukup besar. Namun sesuai kebiasaan politik praktis di Indonesia, belum tentu walikota yang terpilih selanjutnya mau meneruskannya. Apalagi ketika program Kota Hijau ini belumlah membudaya dan tidak mengalami perubahan yang total atau revolusi dalam pelaksanaannya. Maka sudah bisa ditebak, pembangunan tidak lagi berkelanjutan, boro-boro mau ramah lingkungan. Harapan masih ada namun untuk saat ini sangat tergantung pada diri kita masing-masing sebagai warga masyarakat kota. Karena jika melihat beberapa calon walikota sudah mulai bersosialisasi dengan memaku poster mereka pada pohon-pohon peneduh di tepi jalan maka kecil kemungkinan mereka paham tentang Revolusi Kota Hijau. Belum-belum kok sudah merusak lingkungan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s