Pembangunan Berkelanjutan yang Sederhana ala Kota Metro

Tulisan ini dimuat di Harian KORAN EDITOR edisi Senin, 4 Agustus 2014.

 

Dengan luas sekitar enam ribu hektar, Kota Metro sebenarnya adalah salah satu kota terkecil di provinsi Lampung dan juga di pulau Sumatera. Selain itu sumber daya alam dan manusianya juga sangat terbatas. Namun alih-alih tersendat perkembangannya, keterbatasan tersebut telah secara implisit berbalik mendukung pembangunan berkelanjutan yang sederhana kota Metro dalam beberapa tahun terakhir.

Mengapa disebut sederhana? Karena setiap kegiatan pembangunan telah dilakukan berdasarkan kemampuan yang sebenarnya dari masing-masing elemen kota seperti pemerintah daerah, penduduk, pengusaha, akademisi, organisasi non-profit, dan lain-lain. Kecilnya dimensi fisik perkotaan membuat elemen-elemen tersebut tidak harus membuat kegiatan skala besar dan mahal namun cukup dengan kegiatan skala kecil tapi efektif dan efisien. Sumber daya alam yang terbatas telah membentuk karakter dan pola pikir masyarakat yang tahan banting, yang menyebar secara alami dengan cepat karena jumlah penduduknya yang kecil. Hanya ada 150.950 jiwa penduduk dalam 5 kabupaten dan 22 kecamatan.

Beberapa contoh dari pembangunan berkelanjutan yang sederhana di Kota Metro adalah mulai dari diberlakukannya peraturan dan kebijakan dari pemerintah daerah yang memprioritaskan lingkungan, pembangunan infrastruktur hijau perkotaan seperti taman, area hijau, jalur sepeda, dan lain-lain, serta yang paling penting, penggagasan dan pelaksanaan event/kegiatan yang melibatkan komunitas setempat, mahasiswa, pengusaha, dan stakeholder lainnya. Bahkan sebagian dari kegiatan-kegiatan tersebut digagas dan diselenggarakan oleh komunitas-komunitas itu sendiri dan terbukti lebih bermakna dan bermanfaat. Berbagai prestasi dan penghargaan yang diterima oleh perorangan atau pemerintah daerah Kota Metro telah membuktikan bahwa dalam beberapa cara Kota Metro dapat mengubah keterbatasan mereka menjadi keunggulan. Mereka melakukannya dengan melakukan seperangkat tindakan dalam satu set pendekatan yang kontekstual, oleh masyarakat, dari masyarakat, dan untuk masyarakat.

Namun pola pembangunan ini masih belumlah sempurna. Keberlangsungannya masih belum teruji oleh perubahan politik dan ekonomi yang sering menjadi kendala utama di setiap pembangunan kota di dunia terutama di Indonesia. Apalagi tidak lama lagi, tepatnya pada tahun 2015 yang akan datang, Kota Metro akan kembali menyelenggarakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Pilkada ini akan menjadi ujian yang sangat penting setelah dua kali periode kepemimpinan Lukman Hakim, Walikota Metro saat ini. Oleh karena itu tujuan dari tulisan ini di samping untuk memperkenalkan contoh-contoh nyata pembangunan berkelanjutan yang sederhana di Kota Metro, juga untuk sama-sama memikirkan cara untuk menghindari atau mengatasi kemunduran di masa depan.

Pola pembangunan berkelanjutan di Kota Metro dimulai dari pengenalan konsep “Garden City” dan juga program “GERHAN (Gerakan Rehabilitasi Lahan)” pada tahun 2007 oleh pemerintah daerah. Kemudian pada tahun 2009, program “OMOT (One Man One Tree)” dimulai dengan penanaman 36.000 pohon dan dilanjutkan dengan 10.000 pohon pada tahun 2010. Juga di tahun yang sama, program “OBIT (One Billion Tree)” digagas dengan penanaman 25.000 pohon yang didistribusikan untuk ditanam di semua kantor pemerintah daerah di Kota Metro.

Sesuatu yang agak unik yang terjadi pada tahun 2011 ketika pemerintah daerah memberlakukan dan mensosialisasikan Peraturan Daerah No 14/KPTS/C.2.3/2011 yang mewajibkan setiap pasangan yang hendak mendaftarkan pernikahannya untuk menanam 5 pohon terlebih dulu. Dan dalam tahun ini juga, pemerintah Kota Metro menunjukkan komitmen mereka untuk mempromosikan pembangunan kota ramah lingkungan dengan bergabung dalam gerakan nasional “RAKH (Rencana Aksi Kota Hijau)” yang diselenggarakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum.

Setahun setelahnya yaitu pada tahun 2012, rencana aksi ini mulai diimplementasikan dalam program “P2KH (Program Pengembangan Kota Hijau)”. Kota Metro adalah salah satu dari 50 kota yang dipilih untuk menjalankan program ini. Dalam menjalankan P2KH, Kota Metro membuat Masterplan Ruang Terbuka Hijau yang diikuti dengan pembangunan sebuah taman kota baru seperti yang direncanakan dalam masterplan baru tersebut. Selain dari kebijakan pemerintah tersebut, pada saat yang sama warga Kota Metro juga dilibatkan melalui pengumpulan 29 komunitas masyarakat setempat yang ada untuk membentuk “Forum Komunitas Hijau Kota Metro” yang ternyata menjadi salah satu faktor kunci untuk keberhasilan P2KH di Kota Metro.

Kegiatan-kegiatan P2KH yang dilakukan Kota Metro diapresiasi secara positif oleh Pemerintah Pusat, sehingga Kota Metro sekali lagi terpilih sebagai salah satu kota yang dipilih untuk P2KH pada tahun 2013. Pada tahun ini, pemerintah membangun taman kota baru yang lain yang dengan konsisten mengacu pada Masterplan Ruang Terbuka Hijau yang telah dibuat di tahun sebelumnya. Dan juga dalam tahun yang sama, pemerintah Kota Metro menyelenggarakan “Festival Hijau Kota Metro” yang pertama, yang dirayakan oleh ribuan warganya. Antusiasme yang tinggi ini adalah hasil dari keterlibatan komunitas masyarakat setempat karena merekalah yang benar-benar melakukan aksi sehari-harinya untuk memasyarakatkan ide-ide dan prinsip-prinsip pembangunan ramah lingkungan dan berkelanjutan yang ditekankan pada P2KH. Dan karena kota ini secara fisik berukuran kecil dan cukup padat, kebanyakan orang mengenal satu sama lain dan mengetahui apa yang orang lain lakukan. Oleh karena itu menjadi lebih mudah untuk memberikan pengetahuan dan kesadaran ke masyarakat.

Pemerintah Kota Metro telah mengakui pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pola pembangunan perkotaan yang berkelanjutan. Hal ini dapat dilihat dengan komitmen terbaru Kota Metro pada kegiatan Ecodistrict yang juga diselenggarakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum, dengan berfokus pada tiga jenis masalah yaitu kemiskinan, perubahan iklim, dan ketahanan pangan. Keseluruhan solusi yang diupayakan melalui kegiatan ini hampir semuanya melibatkan peran serta warga masyarakat setempat secara langsung. Hasilnya pun membanggakan. Kota Metro meraih peringkat ke 2 terbaik secara nasional dalam kegiatan Ecodistrict ini.

Dalam karakteristik fisik dan sosial yang kecil dan serba terbatas, pemerintah daerah juga merupakan bagian dari warga masyarakat. Sebagian besar kegiatan yang dilakukan oleh para pegawai pemerintah daerah dan pejabat-pejabatnya juga melibatkan masyarakat atau setidaknya beberapa komunitas. Misalnya, kegiatan-kegiatan seperti “Jumat Bersih-Sabtu Menanam-Minggu Sehat”, “Car Free Day” setiap hari Minggu kedua tiap bulannya, dan “Bike to Work” yang mewajibkan bahwa setiap hari Jumat para pegawai pemerintah daerah harus menggunakan sepeda atau transportasi umum. Kegiatan ini secara tidak langsung dilihat oleh warga sebagai contoh yang baik dan bahkan mereka ikut berpartisipasi secara langsung, misalnya pada acara Car Free Day, ketika ratusan warga masyarakat secara teratur mengambil bagian.

Pendekatan lain untuk melibatkan masyarakat adalah melalui konsep pendidikan. Kota Metro telah dikenal luas memiliki visi sebagai kota pendidikan yang berarti perkembangan kota bergantung pada infrastruktur dan sistem pendidikan di semua tingkat. Oleh karena itu sistem pendidikan di Kota Metro sudah cukup baik, terbukti dengan fakta bahwa Kota Metro dikenal sebagai tujuan utama pelajar di Provinsi Lampung. Hampir semua sekolah (pada setiap tingkat: TK, SD, SMP, SMA, dan universitas) baik swasta dan nasional, di kota Metro telah melakukan upaya untuk perlindungan dan pelestarian lingkungan di lokasi sekolah mereka dan sekitarnya. Kemudian diharapkan bahwa setiap pelajar akan membawa dan melaksanakan apa yang mereka pelajari dan lakukan di sekolah tersebut ke rumah mereka masing-masing.

Sekali lagi meskipun berukuran kecil, kota Metro telah unggul dengan prestasi dan pengakuan dalam tingkat nasional dalam hal pembangunan ramah lingkungan seperti Sobat Bumi dan Adiwiyata, Adipura (tujuh kali berturut-turut) dan Adipura Kencana, Kalpataru (untuk Walikota), Penanaman Sejuta Pohon Award, Kota Sehat Award, Ecodistrict Runner-up dan banyak lagi. Namun penghargaan tersebut sebenarnya tidak berarti apa-apa jika tidak ada kontinuitas, perbaikan, dan komitmen untuk bertindak mulai dari diri sendiri dengan hal-hal yang sederhana saat ini juga. Karena masih ada banyak permasalahan lain belum ditangani dengan baik seperti manajemen sampah rumah tangga, sistem transportasi umum, pengembangan sumber energi terbarukan, dan lain-lain. Dan ini memerlukan peran serta dari semua pihak baik yang ada di Kota Metro, maupun di Provinsi Lampung yang kita cintai bersama.

One Comment Add yours

  1. Dina says:

    That’s way more clever than I was exeiptcng. Thanks!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s