Summer Breeze

Hari ini sudah menjelang senja. Waktu sudah berputar hingga hampir mencapai pukul enam sore. Namun cerahnya langit tidaklah berkurang sedari siang tadi. Begitu juga dengan suhu udara yang tetap tinggi. Ya seperti inilah musim panas di Jepang. Suasana di dalam kereta ini pun tidak jauh berbeda dengan suasana di luar sana. Sinar matahari tanpa ampun menyeruak ke seluruh sudut kereta. Kisi-kisi jaring alumunium di tiap jendela kereta yang bisa digerakkan ke atas dan ke bawah tidak lagi sanggup melindungi penumpang kereta baik dari terik mentari maupun dari panas udara saat ini. Hanya hembusan angin buatan dari sistem AC kereta yang membantu menyejukkan bagian dalam kereta ini. Itupun hanya sedikit saja pengaruhnya karena sistem AC tersebut sudah cukup tua, sama seperti kondisi gerbong kereta ini.

Kereta yang aku tumpangi ini hanya terdiri dari dua gerbong saja. Tujuan akhirnya adalah salah satu daerah di pinggiran di kota Kitakyushu ini. Laju kereta ini tidak begitu kencang. Entah karena umur mesinnya yang juga sudah tua atau memang rute ini tidaklah ramai penumpangnya sehingga waktu tempuhnya sepertinya sengaja diatur agar tidak terlalu cepat demi menghemat biaya operasionalnya. Dari dua gerbong ini, hanya ada dua orang dalam satu gerbong yang paling belakang, selain diriku sendiri ditambah dengan masinis di gerbong depan. Masing-masing menempati bangku yang saling berjauhan namun semuanya menghadap ke arahku sehingga aku bisa memperhatikan mereka dengan jelas. Bangku-bangku di kereta ini terbagi menjadi dua deret di kanan dan kiri. Di tiap deret terdapat baris-baris bangku yang berhadap-hadapan. Tiap baris bangku ini harusnya dapat diisi oleh empat orang. Rangka bangkunya terbuat dari besi tua yang sepertinya rutin dicat ulang. Warnanya putih namun dari beberapa kelupasan cat terlihatlah lapisan-lapisan cat sebelumnya. Alas duduk dan sandaran bangku kereta ini dilapisi kain tebal berwarna biru dengan pola garis kotak-kotak putih yang terlihat bersih. Mungkin karena memang tidak begitu banyak penumpang di kereta ini.

Di bangku barisan paling belakang di deret sebelah kanan, duduk seorang pria berumur sekitar empat puluh-an tahun. Pria ini memakai jas berwarna hitam, kemeja putih kebiruan, dasi biru tua,  dan celana kain warna hitam. Sepatu kulit yang dikenakannya yang sudah terlihat agak berdebu. Pakaiannya pun sudah agak kurang rapi, wajarlah ini kan sudah jam pulang kerja. Sebuah tas koper tipis berwarna coklat tua tergeletak begitu saja di sebelah kiri kakinya. Tampilan pria ini adalah penampilan tipikal kalangan pekerja kantor di Jepang atau yang sering disebut dengan Sarariman (salaryman). “Status populer” untuk kalangan kelas menengah Jepang di era modern ini. Walaupun pada awalnya status Sarariman ini dipandang sebagai simbol kemapanan ekonomi pasca kekalahan Jepang di Perang Dunia II dahulu namun sekarang status ini sering dikonotasikan menjadi sesuatu yang tidak kreatif, membosankan, dan statis di kalangan masyarakat umum Jepang sendiri.

standing_sarariman_1

 

Pria yang sedang kuamati ini pun sepertinya tidaklah jauh berbeda. Bisa kubayangkan bahwa dia walaupun sudah cukup berumur, kemungkinan besar belumlah menikah. Sehingga saat ini walaupun dia sepertinya dalam perjalanan pulang setelah seminggu penuh bekerja dengan tingkat rutinitas kerja yang tinggi namun membosankan, tidak ada siapa-siapa yang akan menyambutnya di rumah. Yang akan dia lakukan sesampainya di stasiun tujuan adalah mampir sebentar ke konbini (convenience store), menghabiskan waktu sekitar satu atau dua jam di pojok majalah dan komik dewasa, membeli makanan malam instan yang akan segera dihabiskan sembari berjalan menuju bar untuk “minum-minum” hingga lepas tengah malam kemudian pulang ke apartmentnya dengan kondisi mabuk dan bangun pagi harinya dengan rasa pusing di kepalanya. Begitulah rutinitas sehari-harinya. Sedangkan di akhir pekan tidaklah jauh berbeda. Hanya saja kegiatan-kegiatannya itu berlipat dua, secara jumlah dan jangka waktunya.

Jarak beberapa baris bangku di depan pria itu, duduk seorang gadis belia dengan rambut tergerai sebahu yang berwarna kecoklatan. Pandangannya selalu tertunduk ke arah smartphone yang ada di genggaman tangannya, namun tetap saja wajahnya yang cantik dapat terlihat dengan jelas. Make up yang cukup tebal dengan perona pipi warna merah jambu dan gincu merah di bibirnya semakin memperindah wajahnya. Rambutnya pun tertata rapi dengan poni di bagian depan dan sedikit ikal bagian belakangnya. Pakaian yang dikenakannya pun tak kalah menarik. Baju terusan berwarna dasar krem muda yang terbuat dari bahan chiffon yang ringan dengan potongan leher yang rendah dan dihiasi renda-renda vintage berwarna putih terlihat serasi dan anggun dikenakannya. Renda-renda yang sama menghiasi juga bagian bawah pakaiannya yang menggantung beberapa centimeter di atas lututnya. Kulitnya yang putih terlihat jelas dari bagian tangan dan kakinya yang tidak tertutup. Pakaian seperti ini memang menjadi tren di kalangan wanita di Jepang saat ini karena disamping modis juga tidak membuat gerah saat dikenakan di musim panas. Selain itu tampaknya para pria pun “menyukainya”, buktinya sering kali pria yang di belakang melirik ke arah gadis ini. Walaupun hanya terlihat sedikit bagian kepala dan punggungnya, pria tersebut terlihat cukup tertarik dengan “pemandangan indah” yang ada di depannya. Atau juga mungkin karena aroma parfum sang gadis yang sangat wangi dari arah depannya.

Anyway, sebaliknya gadis itu nampak tidak tertarik dengan keadaan di sekitarnya. Dia sangat asyik dengan aplikasi-aplikasi game dan media sosial yang ada di layar mungil telfon genggamnya yang canggih. Umurnya sekitar dua puluhan tahun dan kemungkinan besar adalah seorang mahasiswi. Tingkah laku gadis ini mewakili generasi muda Jepang saat ini yang sangat terbiasa “melihat dunia” dengan internet melalui smartphone-nya. Sosial media yang pada awalnya diperkenalkan sebagai media komunikasi yang menghubungkan manusia yang terpisah jarak dan waktu, pada perkembangannya saat ini malah semakin membuat jarak yang jauh antar manusia di kehidupan yang nyata.

Teknologi yang berkembang dengan sangat pesat memang sejatinya punya dua sisi, ada baik dan buruknya. Di kalangan kaum muda di Jepang khususnya bagi mereka yang sedang menempuh jenjang perkuliahan, perkembangan teknologi ini menjadi cukup mengkhawatirkan. Akibat dari sistem pendidikan tinggi di Jepang yang sangat menekankan pada ketepatan dalam hal administrasi sehingga seperti “menjamin” asalkan mahasiswa memenuhi persyaratan-persyaratan administrasi maka sudah dapat dipastikan 100% kelulusannya. Masa perkuliahan seakan menjadi satu-satunya momen transisi dalam kehidupan modern di Jepang saat ini dimana kaum muda dapat menikmati hidup sebebas-bebasnya. Setelah lepas dari peraturan-peraturan sekolah dasar dan menengah yang ketat dan serba seragam dan sebelum masuk ke dalam kehidupan profesional yang keras dan kejam tanpa ampun, hanya di masa perkuliahan inilah mereka bisa hidup “santai”. Apalagi juga mulai di usia “hatachi” (dua puluh tahun) inilah mereka mulai hidup terpisah dari orang tua. Namun terpisah bukan langsung berarti mandiri karena sebenarnya sebagian masih menerima pembiayaan dari orangtua. Alhasil teknologi-teknologi yang canggih tadi seringnya hanya digunakan untuk bersenang-senang. Untuk lifestyle saja. Bahkan seringkali mereka bekerja paruh waktu bukan karena mereka tidak mampu secara finansial tetapi lebih karena mereka “butuh” untuk membeli gadget-gadget yang terbaru. Sepertinya gadis yang sedang kita bicarakan ini tidak jauh berbeda. Sepertinya kalau aku tidak salah, saat ini dia sedang dalam perjalanan menuju tempat “hang-out” dengan teman-temannya selepas dari kuliah. Apalagi liburan musim panas sudah dekat. Dari tadi pasti dia sedang asyik chatting merencanakan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan di saat liburan nanti.

SM2 Summer 2010 4

 

Tiba-tiba terasa kereta ini melambatkan lajunya dan beberapa saat kemudian berhenti. Dua pintu di bagian depan dan belakang kereta membuka perlahan dengan sendirinya. Tak lama kemudian menutup kembali. TIdak ada seorang pun yang masuk atau keluar. Semua tetap duduk di tempatnya masing-masing. Ketika aku sedikit menengok keluar dari balik jendela yang tinggi, ternyata kereta ini singgah di sebuah stasiun kecil yang berupa bangunan tua yang dikelilingi oleh pohon-pohon yang tinggi dan berdaun lebat. Tidak ada siapa-siapa di pelataran peronnya. Yang ada hanya sebuah bangku panjang yang terlihat sudah reyot. Sang gadis terlihat seperti orang yang baru terbangun dari tidur. Wajahnya mendongak dan menengok ke kiri dan ke kanan seperti hendak memastikan dia belum sampai pada tujuannya. Gerakannya walaupun perlahan namun anggun dan mempesona. Pada saat inilah wajahnya yang cantik semakin jelas terlihat. Matanya yang kecil terlihat mempesona dengan tambahan bulu-bulu mata yang lentik. Alis matanya terlukis dengan indah dan sempurna. Hidungnya terlihat mancung karena pulasan make-up di kanan kirinya. Gadis-gadis Jepang memang terkenal sangat lihai dalam berhias dan mempercantik dirinya. Bulir-bulir peluh mengalir perlahan dari pangkal kedua pipi dan lengan atasnya yang terpapar sinar matahari. Tapi itu tidak membuat kecantikannya berkurang, malahan menjadi seperti layaknya kilau-kilau gemerlap logam mulia yang memanjakan dan menghipnotis orang yang memandangnya. Sayang seiring dengan kereta yang mulai melaju lagi, wajah gadis itu kembali tertunduk pada layar kecil yang saat ini ada di pangkuannya. Ternyata sang pria yang duduk di belakangnya pun terkena pengaruh dari adegan sekilas yang ada di hadapannya. Matanya menjadi agak terbelalak dan nafasnya sedikit tersengal-sengal. Raut wajahnya berubah menjadi sedikit kecewa ketika adegan itu usai.

Gerbong kereta kembali berguncang perlahan namun teratur seiring dengan derapan roda besi kereta itu pada lintasan rel yang membelah daerah penuh pepohonan. Selang-seling dengan pepohonan, terlihat satu dua rumah penduduk yang kecil dan sederhana beratapkan pelana dengan penutup genteng khas Jepang tempo dulu. Juga petak-petak sawah dan kebun di antaranya. Pemandangan ini bertahan beberapa saat sebelum kemudian bermunculan penampakan-penampakan bangunan beton dua tiga lantai yang mirip satu dengan yang lain. Semakin lama imaji bangunan-bangunan tersebut akhirnya menggantikan rimbun pepohonan tadi sampai tidak ada lagi yang tersisa. Sekarang yang tersaji ke pandangan mata kita adalah hutan beton hasil modernisasi yang merata di seluruh Jepang. Semua bentuk kota dan perkembangannya dari ujung utara sampai ke selatan kepulauan Jepang mengacu pada pola yang sama dan konsisten. Hanya detilnya yang bervariasi sesuai dengan ciri masing-masing daerah.

Tidak lama lagi berarti kita akan sampai pada tujuan akhir kereta ini yaitu Stasiun Honjo di bagian barat kota Kitakyushu. Sang pria dan sang gadis sudah sama-sama menyadarinya dan keduanya pun sudah bersiap-siap untuk turun. Sang pria sudah mulai mengambil ancang-ancang untuk berdiri. Sedangkan sang gadis masih sibuk memasukkan smartphone-nya ke dalam tas mungil berwarna merah muda yang dibawanya dan kemudian mengeluarkan sebuah cermin kecil berbentuk bulat dari dalamnya. Hal yang dilakukan berikutnya sudah pasti adalah melihat ke arah wajah cantik yang ada di balik cermin untuk menghapus jejak-jejak keringat dengan bedak yang semakin tebal. Tak lupa dipolesnya kembali sedikit gincu merah di bibirnya. Setelah puas, segera saja dia berdiri dan berjalan perlahan menuju pintu di bagian belakang tanpa menunggu kereta berhenti terlebih dahulu dan tanpa menoleh ke arah mana pun. Saat berjalan, hentakan sepatu high-heels yang dikenakannya berbunyi senada dengan suara roda kereta yang mulai menghentikan lajunya. Sang pria pun tergopoh-gopoh berdiri di depan pintu belakang yang ada di dekatnya, namun pandangannya berkali-kali tetap menuju ke arah sang gadis. Sang gadis itu sendiri sepertinya sadar bahwa dirinya sedang diamati namun dia tidak menunjukkan reaksi apapun.

Sesaat kemudian laju kereta itu benar-benar terhenti. Semua pintu gerbong seketika membuka secara otomatis. Ada empat pintu, dua di gerbong depan dan dua di belakang. Dari gerbong depan tidak ada aktivitas apa-apa kecuali sang masinis yang sedang menuliskan sesuatu di tumpukan kertas-kertas yang dipegangnya, sementara dari gerbong belakang sang gadis keluar terlebih dahulu diikuti sang pria. Aku menyusul kemudian. Sang gadis berjalan cepat menyusuri pelataran peron menuju pintu keluar bagian barat. Sepertinya sepatu high-heels sama sekali tidak menyulitkannya. Sementara justru sang pria yang terlihat agak sedikit lambat laju jalannya. Terlihat perutnya memang sudah agak sedikit membuncit. Sepertinya akibat dari kurang olahraga dan rutinitasnya menenggak minuman beralkohol. Mereka berdua menuju arah yang sama, atau mungkinkah memang pria itu sengaja mengikuti sang gadis? Aku tetap menjaga jarak dan mengawasi mereka berdua dari arah belakang. Entah mengapa kedua orang ini menarik perhatianku.  Melihat gerak-gerik sang pria, aku juga jadi agak mengkhawatirkan keselamatan sang gadis. Di ujung depan, pintu keluar sudah terlihat.

Sambil terus berjalan, sang gadis kembali membuka tas merah jambunya dan mengeluarkan dompet berwarna krem dari dalamnya. Sampai di pintu keluar, dompet tadi dia dekatkan ke arah palang besi elektronik yang menghalangi. Dari mesinnya terdengar bunyi “nit” baru kemudian palang tersebut terbuka dan sang gadis segera saja melaluinya dengan sigap. Sepertinya sang gadis memang melalui rute ini dan menggunakan kereta yang sama sehari-harinya karena dari apa yang dilakukannya tadi kemungkinan besar di dalam dompetnya sudah tersimpan kartu langganan kereta dengan chip elektronik. Lain halnya dengan sang pria yang berhenti sejenak beberapa langkah dari palang elektronik itu sambil sibuk merogoh satu persatu kantung baju dan celananya sebelum kemudian mengeluarkan selembar kertas kecil dari dalam kantong belakang celana sebelah kiri. Kertas kecil itu sepertinya adalah tiket kereta yang kemudian dia masukkan ke dalam lubang pipih di bagian tengah mesin di palang itu. Ketika pintu itu terbuka sang gadis sudah berada di seberang jalan dan terus berjalan menjauhi stasiun. Sejenak sang pria tampak bimbang sambil terus menerus melihat ke arah sang gadis yang semakin menjauh, sebelum kemudian mengambil telfon genggam dari saku kemejanya dan mulai menekan-nekan tombolnya. Agak lama dia menempelkan telfon ke telinganya seperti menunggu panggilannya telfonnya yang tak kunjung tersambung. Namun akhirnya dia menyimpan kembali telfonnya dan mulai melangkah ke arah yang berlawanan.

Melihat sang pria yang tidak lagi mengikuti sang gadis, aku menjadi lega dan memutuskan untuk beristirahat sejenak di dekat pintu keluar stasiun ini. Sementara pandanganku tetap mengikuti langkah kedua orang tadi. Sang pria ternyata masuk ke sebuah “konbini” (minimarket) yang ada tepat di sudut perempatan jalan masuk stasiun. Benar dugaanku kan. Sementara sang gadis terlihat memasuki sebuah bangunan modern tiga lantai yang dengan desain arsitektur yang menarik dan terlihat megah. Bangunan itu berjarak sekitar 500 meter dari stasiun. Disekelilingnya terlihat barisan mobil-mobil yang terparkir dengan rapi yang cukup banyak jumlahnya. Di dinding bangunan tersebut ada sebuah papan nama elektronik namun tak bisa kulihat dengan jelas apa tulisan yang tertera di situ. Sang gadis menghilang dari balik pintu kaca yang gelap. Tak lama kemudian sang pria keluar dari konbini dengan membawa sebuah bingkisan berbentuk kotak di tangan kanannya. Sementara tangan kirinya tetap menenteng tas coklatnya. Dia berjalan dengan cepat kembali ke arah stasiun, melewati pintu keluarnya, melewati aku tanpa menyadari kehadiranku, dan menyeberang jalan tepat di depan stasiun. Sekilas kuamati wajahnya tampak berseri-seri seperti wajah seorang laki-laki yang hendak bertemu kekasihnya. Menyadari bahwa dia menuju arah bangunan tempat sang gadis tadi, rasa penasaranku kembali bergejolak. Apa yang akan pria ini lakukan? Apakah dia akan mencoba menemui sang gadis tadi? Segera saja aku bergegas menyeberang jalan dan mengikuti sang pria tadi. Lampu signal pejalan kaki sudah menunjukkan tanda merah namun itu tidak menghalangiku. Beruntung beberapa terjangan mobil yang melaju dapat kuhindari.

Tidak sulit bagiku untuk menyusul langkah kaki pria itu. Saat ini aku berada sekitar dua meter di balakangnya dan dia tidak menyadari kehadiranku. Terdengar perlahan suara siulan yang melantunkan sebuah lagu dengan merdu dari arahnya. Wah, nampaknya semangat sekali pria ini. Berbeda dengan kondisinya saat di kereta tadi. Mungkin di konbini tadi dia sudah sempat menenggak minuman penambah stamina. Benar saja tak lama kemudian kami sudah berada di depan pintu bangunan modern itu. Dari dekat tampak jelas bahwa bangunan ini sangat baru dan bersih. Di bagian depannya ada sebuah pintu kaca besar yang dilapisi filter gelap untuk mengurangi sinar dan panas matahari yang masuk. Pintu ini terbuka secara otomatis ketika sang pria tepat berada satu meter di depannya. Tanpa ragu-ragu pria tersebut masuk ke dalam dan aku pun mengikutinya. Dari balik pintu kaca ini kami disambut oleh senyuman manis sang gadis.

“Irrashaimase…”

Terdengar suara lembut gadis itu menyambut kami dari balik meja tinggi tepat di depan pintu masuk. Meja itu layaknya meja resepsionis di sebuah hotel dan ketika pandanganku menyapu seluruh bagian ruangan yang baru saja aku masuki ini, memang ruangan ini menyerupai lobby di sebuah hotel mewah.

“Ah, Kubo-san. Selamat datang kembali. Apakah semua baik-baik saja?” Gadis itu meneruskan sapaannya yang kali ini ditujukan khusus kepada pria itu.

“Senang bertemu Anda kembali, Ayano-san. Walaupun hari ini sangat panas, saya tetap semangat untuk datang ke sini lagi.” Sang pria yang bernama Kubo itu menjawab dengan nada suara yang penuh percaya diri. Ternyata mereka berdua sudah saling mengenal. Aku mulai bingung. Sebenarnya tempat apa ini? Ruangan ini seperti lobby hotel tapi mengapa gadis itu berpakaian seperti layaknya seorang perawat. Baju terusan berwarna hijau muda yang sederhana. Jauh berbeda dengan apa yang dikenakannya saat di kereta tadi.

“Saya tadi melihat Ayano-san di kereta namun Anda terlihat sangat sibuk sehingga saya segan untuk menyapa. Bagaimana kegiatan pelajaran di kampus? Pasti sangat sulit ya belajar dan bekerja paruh waktu seperti ini. Apakah semuanya lancar?” Kubo balik bertanya kepada Ayano. Yang ditanya mendadak tersipu.

“Ah begitu ya. Mohon maaf. Saya tadi tidak melihat Anda. Iya saya tadi di kereta sedang menyelesaikan menulis email untuk Professor saya yang menanyakan tentang kemajuan riset saya. Ya untungnya semua baik-baik saja. Saya senang bekerja di sini karena saya jadi teringat kenangan atas kakek dan nenek saya yang sudah meninggal. Mereka yang merawat saya sejak kecil dan saya belum sempat membalas perbuatan baik mereka. Dengan bekerja di sini saya selalu merasa seperti mendapat kesempatan yang berharga untuk bersama mereka kembali. Terimakasih atas perhatiannya, Kubo-san.”

“Baguslah kalau begitu, Ayano-san. Sekarang kalau boleh saya ingin bertemu dengan ibu saya. Apakah beliau sedang ada di kamarnya? Tadi saya mencoba menelfon beliau sambil berjalan kesini namun tidak diangkat.”

“Tentu saja boleh, Kubo-san. Saat ini ibu Anda sudah menunggu di ruang rekreasi. Sebenarnya dari tadi beliau sudah menunggu kedatangan putra kesayangannya. Mari saya antar.” Jawab Ayano dengan sangat ramah sambil kemudian beranjak dari mejanya dan mempersilahkan Kubo untuk berjalan ke arah ruang rekreasi.

“Oh terimakasih. Saya sangat rindu dengan Ibu. Walaupun baru dua hari yang lalu saya datang namun sepertinya sudah lama sekali. Ini saya sudah bawakan “bento unagi” (makanan dibungkus yang berisi nasi dan daging belut bakar) dari konbini. Mereka sudah mulai menjualnya. Dulu saat saya kecil, Ibu selalu membelikan saya ini sepulangnya dari kerja saat musim panas seperti sekarang ini. Dan kami selalu memakannya bersama-sama dengan lahap. Ah saya jadi teringat masa lalu…” celoteh Kubo dengan riangnya saat mereka berdua berjalan menyusuri lorong yang berhiaskan wallpaper yang berwarna biru cerah. Ayano mendengarkan dengan seksama sambil sesekali tersenyum kecil. Wajahnya nampak jauh lebih cantik lagi.

Aku sejenak terpana memandangi mereka berdua yang meninggalkanku. Sebelum kemudian sepasang tangan raksasa memegangi badanku.

“Aduh ini kenapa ada “Mushi” (kumbang) disini!” Suara seorang pria terdengar menggelegar. Aku hanya bisa pasrah dan menundukkan kepalaku ketika tangan pria tersebut memegangi badanku dan membawaku keluar dari pintu besar tadi. Aku meronta dan menggerakkan ke enam kakiku sekenanya sambil mengambil ancang-ancang untuk terbang. Namun ternyata pria tersebut secara perlahan menurunkanku di sepetak rumput yang ada di pinggir bangunan itu.

“Pergilah. Hati-hati jangan tertangkap anak-anak di sekitar sini.” Katanya perlahan sambil tersenyum ke arahku.

Sesaat setelah kakiku menjejak tanah, seketika itu pula aku terbang sekuat tenaga menjauh. Sekilas aku menoleh ke arah pria itu yang juga berpakaian serba hijau. Dia melambaikan tangan ke arahku. Kulihat ke arah papan nama bangunan itu dan terbaca jelas di hadapanku. NIJI SENIOR CENTER. Where Elderlies feels Like Home.

Ketika terbang, hangat musim panas dan hembusan angin dari pantai barat Jepang menerpa wajahku. Sebelum tak lama kemudian kuhinggap di sebatang pohon yang masih tersisa di lingkungan ini.

– – –   – – –   – – –

Kebenaran yang tak terlihat tetaplah menjadi suratan hidup, kebohongan yang disamarkan tetaplah menjadi entiti yang palsu.

SONY DSC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s