Pengenalan Lingkungan Sungai

Jadi ceritanya saya ikut salah satu kegiatan magang dari program Environmental Leader of Sustainable Use of Water and Resources, University of Kitakyushu, pada tanggal 23-25 Januari 2014 yang lalu. Kegiatan utamanya adalah penyelenggaraan workshop uji coba metode pembelajaran pendidikan lingkungan hidup bertema air dan sungai di SD Pertiwi, Bandung. Kegiatan ini adalah hasil kerjasama dengan Universitas Pasundan, Bandung. Ada dua orang professor dari Kitakyushu University, Matsumoto Sensei dan Haraguchi Sensei, dua orang mahasiswa program Doktor yaitu saya dan Ibu Indri, dan Rendy, seorang mahasiswa program Master. Selain workshop tadi, saya dan seorang mahasiswa master tadi ditugaskan untuk membantu Haraguchi Sensei meneliti kandungan dan kejernihan air sungai Cikapundung.

DSC_0236

Hari pertama kami mengunjungi Sekolah Alam Bandung. Lokasinya terletak di daerah Dago Bengkok, di sekitar bantaran Cikapundung bagian hulu. Rombongan kami terdiri dari Haraguchi Sensei, saya, Rendy, dan Ibu Neni, seorang psikolog yang bertugas sebagai penerjemah untuk kegiatan kami ini. Untuk ke lokasi sekolahnya, tidak bisa dengan mobil. Jadi kami harus berjalan kaki dari tepi jalan tempat kami memarkir mobil menuju kompleks sekolah tersebut. Kondisi jalan setapak yang kami lalui cukup curam dan ditambah dengan turunnya hujan rintik-rintik membuat kami berjalan perlahan-lahan sambil melihat-lihat kondisi alam sekitar. Sebenarnya kondisi lingkungannya masih cukup alami. Hanya saja di sepanjang tepi salah satu jalur jalan setapak berserakan kantung-kantung plastic yang berisi sampah rumah tangga. Tepi jalan tadi ditumbuhi rumput yang sepanjangnya ada tembok yang tingginya sekitar dua meter. Di balik tembok itu ada rumah-rumah penduduk yang menghadap ke arah sungai. Nah katanya, dari balik tembok itulah asalnya kantung-kantung plastik itu. Main asal lempar saja, mungkin pada ingin jadi atlit lempar jauh.

DSC_0238

Sesampainya di Sekolah Alam, kami langsung menemui anak-anak di salah satu kelas. Sejenak kami memperkenalkan diri dan setelahnya kami bersama anak-anak berjalan menuju tepi sungai. Di sepanjang perjalanan, saya sempat mengobrol dengan salah seorang guru disana. Beliau menjelaskan bahwa pada tahun ajaran ini ada dua kelas yang melakukan kegiatan belajar mengajar di Sekolah Alam. Metode pengajarannya tidak dengan pelajaran-pelajaran yang terjadwal terpisah-pisah seperti di sekolah-sekolah lain pada umumnya. Tapi dalam bentuk aktivitas-aktivitas yang melibatkan murid-murid dan dipandu oleh para guru. Di dalam aktivitas itulah kemudian murid belajar tentang bahasa, matematika, agama, ilmu pengetahuan alam, dan sebagainya. Kata beliau, murid-murid pun jadi lebih bebas berekspresi dan cinta alam.

DSC_0248

DSC_0276

DSC_0302

Sesampainya di sungai kami bertemu dengan Pak Asep dari komunitas Cikacika, salah satu lembaga swadaya masyarakat yang berdedikasi untuk merawat daerah sungai tersebut. Beliau menjelaskan tentang kondisi sungai dan lingkungannya. Lokasi daerah sungai yang kami kunjungi adalah kawasan konservasi dan juga terdapat instalasi pengolahan air PDAM. Aliran sungai cukup deras dengan kedalaman dua meter bahkan bisa naik sampai dua meter lagi kalau debit sungai naik misalnya pada musim hujan. Secara fisik daerah sungai yang kami kunjungi cukup menarik. Ditambah dengan adanya taman di sekitar basecamp Cikacika ini. Anak-anak menjadi sangat tertarik dan antusias. Sungai pun cocok untuk arung jeram. Dengan batu-batu besar di tengah sungai. Pohon-pohon cukup rindang. Hanya sayang terlihat timbunan sampah di tengah sungai. Selesai berbincang-bincang dengan Pak Asep, kami mengambil sample air sungai untuk diteliti. Dan kemudian diiringi hujan rintik-rintik kami bersama anak-anak kembali ke sekolah.

DSC_0331

Di kelas, kami kemudian mengajarkan anak-anak cara membuat dan bermain origami sumo. Pemenangnya mendapat sumpit cantik dari Jepang. Pada saat yang bersamaan, Haraguchi Sensei pun menyempatkan untuk berdiskusi dengan para guru. Beliau menceritakan tentang keberhasilan kota Kitakyushu memperbaiki lingkungannya. Juga diterangkan tentang pentingnya peranan masyarakat dalam pengelolaan sampah khususnya dalam proses pemisahan dengan kantung plastik yang beda warna. Ada yang nyeletuk. Disini mah boro-boro, misahin dua jenis sampah basah kering saja susah. Setelah dikumpulin pun akhirnya dicampur lagi di TPA. Kalau pendapat saya gini. Kitakyushu dulu sudah merasakan kerusakan alam yang sangat parah akibat polusi udara dan air. Baru kemudian berupaya keras memperbaiki dan setelah dengan kerja keras yang cukup lama, akhirnya berhasil. Berarti mungkin Bandung dan kota-kota lain di Indonesia harus rusak dulu juga baru kemudian pemerintah dan masyarakatnya sadar dan segera memperbaikinya. Dan bapak ibu guru serentak bilang, ENGGAAAK MAAUUUU… Sayang karena waktu terbatas, kami harus pamit. Tidak lupa kami juga mengambil sample air dari saluran air hujan yang ada di sana. Terima kasih, Sekolah Alam.

DSC_0338

DSC_0348

Dari situ kami menuju sungai Cikapundung. Tepatnya di daerah Taman Sari. Dibawah jalan layang dan dekat Taman Jomblo yang baru diresmikan. Disini, dipandu oleh Ibu Yonik dari Universitas Pasundan, kami kembali mengambil sample air, lalu berkumpul di sebuah ruang terbuka menyerupai plaza (kalau enggak salah namanya Taman Kukuyaan?), Di sini Haraguchi Sensei mulai melakukan tes terhadap sample-sample air yang telah diambil dari dua lokasi. Tes yang dilakukan adalah untuk mengetahui kandungan COD, NH2, NH3, Sulfat, Phosfat, dan sebagainya, serta melihat tingkat kejernihan sample air sungai tersebut. Dengan peralatan yang dibawa oleh Sensei, hasil tes itu langsung bisa diketahui. Nggak saya umumkan disini ya. Nanti dimarahin. Hehe. Hanya tes bakteri yang akan dilihat hasilnya di lab. Mungkin pada bingung ya? Sama, saya juga 🙂 Metode tes seperti ini hal yang baru bagi saya, karena bidang keilmuan saya adalah arsitektur. Tapi jadi dapat tambahan ilmu baru nih, yang memang berhubungan dengan prinsip kesadaran berlingkungan hidup yang harus selalu diterapkan oleh para arsitek saat ini. Intinya adalah air sungai Cikapundung tersebut terdapat kandungan unsur-unsur kimia tadi. Tapi sebenarnya sudah kelihatan sih dari pencemaran yang terjadi di sungai dan lingkungan. Sumbernya ya dari sampah.

DSC_0368

DSC_0374

DSC_0377

Hari kedua kami kembali mengambil sample air dari sungai Cikapundung yang di dekat Jl. Asia Afrika dan di sungai Cicadas. Tapi kemudian langsung kembali lagi ke hotel. Di hotel, Haraguchi Sensei memberi tugas kepada saya dan Rendy untuk mencoba melakukan tes sendiri, dibantu oleh Ibu Neni dan Ibu Yonik. Berhubung biasanya saya Cuma megang pensil dan kertas gambar, hasilnya salah melulu. Tapi bisa juga lah akhirnya walau sensei jadi agak cemberut. Sorenya kami mengunjungi lokasi workshop yaitu SD Pertiwi yang lokasinya juga di dekat Taman Jomblo untuk briefing acara yang dipandu oleh Ibu Indri kepada mahasiswa-mahasiswi Universitas Pasundan yang akan membantu pelaksanaan kegiatan workship keesokan harinya.

DSC_0454

DSC_0461

DSC_0463

Oh iya, ada yang kelupaan. Pada pagi hari sebelum mengambil sample air sungai di hari yang kedua ini, kami mendapat kesempatan untuk mengunjungi kantor Unit Pengolahan Air PDAM Bandung di Badaksinga. Di sana kami berdiskusi dengan para penanggung jawab fasilitas tersebut dan mendapat banyak informasi sekaligus diajak keliling melihat fasilitasnya. Dari diskusi saya mencatat bahwa ada dua sungai yang menjadi sumber air bersih bagi PDAM Kota Bandung yaitu sungai Cikapundung (tentunya di bagian hulu yang belum tercemar) dan sungai Cisangkui. Ada tiga tipe fasilitas atau unit pengolahan air yaitu yang mengolah air permukaan, air tanah, dan mata air. Total produksi secara keseluruhan adalah 2800 liter/detik yang telah memenuhi 70% kebutuhan air masyarakat Bandung. Unit pengolahan air (permukaan) yang ada di Badaksinga memproduksi 1800 liter air per detiknya. Permasalahan dalam menjaga kualitas air yaitu tingkat kekeruhan air yang tinggi, sampah yang dibuang ke sungai, dan kandungan material organik. Khusus yang di Badaksinga, fasilitas ini pertama kali dibangun pada tahun 1961 dengan kapasitas 1000 liter/detik. Dan pada tahun 1989 kapasitasnya ditambah 800 liter/detik.

DSC_0395

Di hari ketiga, inti kegiatan kami yaitu workshop yang melibatkan perwakilan dari SD-SD di sekitar sungai Cikapundung pun akhirnya dilaksanakan dengan baik. Ada sekitar 40 siswa SD dan guru-gurunya yang ikut serta. Acara ini juga dihadiri oleh beberapa akademisi dari perguruan tinggi yang lain baik di Bandung maupun di daerah lain serta beberapa wartawan. Acara dibuka dengan perkenalan dengan professor-professor dan timnya, kemudian penjelasan tentang konsep workshop dan contoh-contoh pelaksanaan sebelumnya. Workshop tentang metode pembelajaran lingkungan khususnya sungai sudah diujicoba di Jepang dan sekarang mulai diujicoba di luar Jepang. Sebelumnya workshop serupa pernah dilaksanakan di Balikpapan. Setelah perkenalan, siswa-siswa SD dibagi dalam grup dan diberi kuesioner. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner tersebut, peserta harus datang ke sungai langsung dan juga melakukan tes di kelas. Peserta datang ke sungai untuk menjawab pertanyaan berdasar pengamatan langsung seperti misalnya apa ada sampah, tumbuhan, atau binatang di sungai, dan sebagainya. Sementara di kelas, peserta mendengar cerita mengenai sungai dan melakukan tes terhadap kandungan COD dan tingkat kejernihan pada sample air sungai. Persis seperti yang telah kami lakukan sendiri di hari sebelumnya.

DSC_0488

DSC_0500

DSC_0508

DSC_0565

Saya kebagian bertugas di kelas untuk membimbing anak-anak memeriksa kondisi kejernihan air sungai dengan alat yang dibawa dari Jepang. Alat tersebut berbentuk tabung sepanjang 100 cm yang di sisinya terdapat ukuran ketinggian dalam centimeter. Di dalam tabung ini dimasukkan pin yang bertanda silang. Sebenarnya alat ini kami buat dari bahan dan metode yang lebih sederhana karena kalau yang asli harganya lumayan mahal. Alat ini bisa juga dibuat dari botol air mineral yang disambung-sambung sehingga nanti dikemudian hari para guru bisa membuatnya untuk mengajarkan hal yang sama kepada para muridnya. Cara kerjanya air dimasukkan ke dalam tabung sedikit demi sedikit sampai pin yang bertanda silang tadi tidak bisa dilihat lagi ketika diintip dari posisi tegak lurus. Ketika tanda silang tidak terlihat lagi maka diamati ketinggian air berapa cm. Di Jepang tanda silang masih bisa terlihat ketika diisi air 100 cm. Sedangkn dari sample air yang kami ambil dari sungai Cikapundung, hanya pada ketinggian air 15 cm saja anak-anak sudah tidak bisa melihat tanda silang. Kenapa ya? Ketika saya tanya, anak-anak kompak menjawab, AIRNYA KERUH PAK… Kenapa bisa keruh? KARENA BANYAK SAMPAH… Terus apa yang akan kalian lakukan? Spontan mereka jawab bergantian, TIDAK BUANG SAMPAH DI SUNGAI… BERSIHKAN SUNGAI… Workshop diakhiri dengan pembuatan “Laporan” oleh anak-anak yang harus dibuat sekreatif mungkin. Tidak hanya berupa tulisan tapi bisa juga dengan gambar.

DSC_0582

DSC_0595

DSC_0597

DSC_0600

Kesimpulan yang saya peroleh dari kegiatan ini Sungai Cikapundung mengalami penurunan kualitas lingkungan walaupun begitu letak dan fungsinya masih sangat penting bagi kota Bandung. Masyarakat adalah pihak yang merasakan secara langsung dampaknya sehingga tingkat kesadaran untuk menjaga lingkungan alam harus dimulai sejak dini. Workshop yang interaktif merupakan metoda yang efektif dan efisien dalam memperkenalkan lingkungan alam dan upaya-upaya menjaganya. Namun kegiatan ini harus dilakukan secara terus menerus dengan melibatkan sebanyak mungkin komunitas-komunitas masyarakat. Dari sudut pandang lansekap perkotaan, keberadaan lingkungan alami tidak bisa diabaikan. Seburuk apapun kondisinya, masyarakat kota selalu membutuhkan dan merindukannya. Seorang perencana dan perancang saat ini dituntut untuk mempererat hubungannya dengan lingkungan baik lingkungan alam maupun lingkungan masyarakat.

signFritz3

3 Comments Add yours

  1. Tasya says:

    Halo selamat siang, informasi blog nya sangat bagus sekali. Kalau boleh saya ingin bertanya seputar tentang kegiatan ini. Karena saya berencana melakukan kegiatan yang berhubungan dengan air dan lingkungan, salah satunya adalah pemeriksaan keadaan air di sekitar sungai yang ada. Saya butuh banyak infomasi mengenai hal ini. Bolehkah?

    1. fritztory says:

      Tentu saja sangat boleh dan dengan senang hati.

    2. Jeannie says:

      Your answer was just what I neeedd. It’s made my day!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s