The Dawn

579050_3947431971804_686445872_n-2

Cerita ini dimulai dengan pemandangan dari atas sebuah menara tua setinggi kurang lebih dua puluh meter menjelang pukul lima pagi. Menara ini satu-satunya yang tersisa dari kompleks masjid agung di kota ini yang sedang dalam proses renovasi, atau pembangunan ulang lebih tepatnya. Kita berada tepat di bagian menara yang paling atas, dimana terdapat ruangan kecil yang hanya cukup untuk dua orang dewasa saja. Ruangan ini berbentuk lingkaran dan hanya memiliki dinding pengaman setinggi pinggang orang dewasa. Empat buah tiang beton berbentuk silinder menyokong atap kubah kecil yang terbuat dari rangka kayu dan seng. Di ujung atap ini terdapat ornamen simbol bulan sabit dengan bintang di tengahnya yang terbuat dari kuningan.

Di hadapan kita terhampar sebuah taman yang berbentuk persegi. Taman yang berukuran kurang lebih dua kali ukuran lapangan bola ini berada tepat di tengah kota sehingga orang di sini mengenalnya dengan sebutan “Taman Kota”. Di tengah-tengah taman ini terdapat sebuah kolam air mancur yang bentuknya menyerupai bunga teratai. Sementara di sekeliling taman berbaris rapi pohon- pohon Mahoni yang seakan menjadi “pagar pelindung” dari kolam air mancur tersebut. Di antaranya tersebar rerumputan bak jalinan rajut.

Di latar belakang terlihat menara lain yang tidak lebih tinggi namun berdiameter lebih besar dari menara masjid ini. Menara tersebut dulunya dipakai sebagai tempat penyimpanan air minum untuk penduduk kota ini. Bentuknya yang kecil di bagian bawah dan besar di bagian atas mengingatkan fungsi awalnya untuk menampung air. Menara air itu berwarna biru muda namun saat ini yang terlihat hanya warna abu-abu. Dari atas sini di tengah kegelapan subuh, taman itu bagaikan seekor kura-kura raksasa berwarna hijau tua yang tidak bisa bergerak dan tidak mengenal waktu, diikat pada menara air yang menyerupai tonggak raksasa. Sementara gedung-gedung baru bermunculan dan zaman berganti di sekitarnya.

Di atas menara ini angin bertiup sangat kencang. Membuat suhu udara pagi buta yang memang sudah dingin, menjadi bertambah dingin. Membuat kita tidak tahan untuk berlama-lama di atas sini. Bagaikan burung walet, kita melayang turun. Menuju salah satu sudut taman yang paling dekat dengan gerbang masjid. Sambil melayang, kita menengok ke arah masjid yang sosoknya berganti dengan sebuah bangunan sementara yang menyerupai tenda penampungan pengungsi yang dipakai sebagai pengganti tempat beribadah. Beberapa orang yang baru saja selesai menunaikan sholat Subuh berjama’ah tampak keluar dari tenda tersebut. Salah satunya adalah seorang pemuda bernama Bravo. Dia berjalan perlahan menuju ke arah sudut taman tempat kita baru saja menjejakkan kaki.

Nama lengkapnya adalah Bravono Prasojo. Teman-temannya memanggilnya Bravo, sementara keluarganya memanggilnya cukup dengan Avo saja. Prasojo adalah nama bapaknya. Beliau juga yang memberikan nama Bravo yang berasal dari istilah dalam komunikasi untuk memperjelas penyebutan kode huruf B. Prasojo mempunyai hobi berkomunikasi dengan menggunakan radio amatir. Bahkan hobi ini dijadikannya sebagai sumber penghasilannya yaitu dengan membuat stasiun radio amatir di rumahnya dan menjual berbagai macam peralatan radio amatir plus beberapa perangkat elektronik lainnya. Hobi ini berawal dari masa kecil Prasojo yang sering memainkan perangkat HT (Handheld Transceiver) atau istilah populernya adalah Walkie Talkie yang sering dibawa pulang oleh bapaknya, kakek dari Bravo, yang seorang tentara.

Sosok Bravo semakin dekat dari tempat kita. Perawakannya cukup tinggi untuk ukuran penduduk kota itu, sekitar 175 cm. Hanya saja tinggi badan yang cukup ideal tersebut tidak diimbangi dengan berat badan yang memadai. Dari kejauhan, dia terlihat seperti orang-orangan sawah yang berjalan. Langkahnya gontai dan ragu-ragu, tidak tegap dan bersemangat seperti layaknya seorang yang masih muda. Padahal usianya tepat dua puluh dua tahun hari ini.

Tak lama kemudian, jaraknya hanya berkisar lima meter dari tempat kita berdiri mengamati. Semakin jelaslah penampakan dari pemuda kita ini. Bravo sepintas terlihat seperti gelandangan yang sering tidur di emperan pertokoan. Kaos T-Shirt lengan panjang polos warna krem yang dikenakannya sudah sangat kumal dan penuh dengan segala macam noda. Seperti sudah dikenakan berhari-hari. Tidak jelas juga apakah warna asli kaos itu memang warna krem atau warna putih yang sudah kusam. Celana jeans warna biru muda yang dikenakannya pun lebih parah lagi. Selain penuh dengan lumpur dan bercak-bercak warna hitam, celana itu robek di sana- sini. Entah bagaimana tadi dia bisa sholat, karena kondisi pakaiannya itu yang tidak layak apabila digunakan pada saat sholat. Turun ke bawah lagi, ternyata apa yang digunakan di kakinya jauh lebih baik daripada pakaiannya. Sepatu kets warna abu-abu yang masih terlihat baru melindungi kakinya dari dinginnya trotoar di awal pagi ini. Tampaknya cuma sepatu inilah yang membedakannya dengan para gelandangan. Di pundaknya, Bravo menyandang sebuah tas ransel kecil berwarna hitam.

Dan ketika jaraknya tepat di hadapan kita, nampak lebih jelas detil wajahnya. Wajahnya tidak begitu istimewa, tidak rupawan, tidak pula buruk rupa. Standar saja. Yang menonjol hanyalah tulang pipinya, efek dari kekurusannya. Matanya yang sudah agak kecil dari lahir, semakin bertambah kecil seiring dengan membesarnya kantung matanya akibat kurang tidur. Membuatnya tampak lebih tua dari usianya. Rambutnya yang cepak tampak seperti baru saja dipotong. Terlihat bekas-bekas air wudhlu di rambut dan wajahnya. Dan anehnya, dari pakaiannya yang tampak seperti gelandangan itu tercium bau wangi, bukan sebaliknya. Kalau kita amati, memang pakaiannya terlihat seperti baru dicuci. Namun mungkin karena terlalu sering dipakai, akhirnya menjadi seperti itu. Tiba- tiba suara yang muncul dari mulutnya menghentikan pengamatan kita. Sambil tersenyum yang nyaris tidak terlihat, Bravo menyapa.

“Hai, Ca. Apa kabar kamu?” Nada suaranya datar.

Tapi siapa yang dia sapa? Ternyata dia bukan berbicara kepada kita. Bahkan ternyata kita tidak terlihat di hadapannya. Kita hadir hanya sebagai pengamat. Tidak bisa mempengaruhi jalan cerita. Ada orang lain yang hadir di situ. Seseorang yang berdiri di belakang kita. Dan orang tersebut langsung berlari memeluk Bravo. Menembus tubuh kita yang tidak terlihat.

“Mas Avo jahat! Kemana saja kamu, mas?! Kami semua, aku mengkhawatirkan kamu, mas!” Pekik orang tersebut sambil terisak-isak. Suaranya seperti suara seorang gadis.

Benar saja, ketika kita perhatikan sekarang tepat di hadapan kita, ada sosok seorang gadis yang berada di pelukan Bravo. Keduanya berpelukan sangat erat. Walaupun adegan pelukan tersebut agak lucu jika diperhatikan. Bravo jauh lebih tinggi sehingga gadis itu hanya dapat memeluk perut Bravo, sementara kepalanya menempel pada dada Bravo. Wajahnya membelakangi kita sehingga kita belum dapat mengenalinya. Keduanya berpelukan tidak terlalu lama, karena mereka segera menyadari beberapa pasang mata mulai memperhatikan mereka. Waktu menunjukkan pukul lima lewat lima menit. Sang rembulan masih nampak di ujung langit sebelah timur sana. Gelap dan dingin masih menguasai.

“Sudah Ica, berhenti menangis. Tuh, banyak orang yang melihat kita.” Ujar Bravo menenangkan, kali ini ada sedikit emosi yang terdengar pada nada suaranya. Gadis itu perlahan mulai berhenti menangis dan melepaskan pelukannya. Sekarang keduanya berdiri berhadapan. Si gadis masih berdiri membelakangi kita. Sehingga mau tidak mau kita harus sedikit bergeser. Mereka berdua saat ini berdiri di hadapan kita. Jaraknya sekitar dua meter. Bravo di sebelah kiri dan si gadis di sebelah kanan. Barulah mulai terlihat sosok gadis tersebut.

Dia adalah Ica, adiknya yang bungsu dan anak perempuan satu-satunya di keluarganya. Nama lengkapnya adalah Charliana Prasojo. Seperti juga Bravo, Ica diberi nama oleh bapaknya dari kata Charlie yang merupakan istilah komunikasi untuk kode huruf C. Tapi semua orang mengenalnya dengan nama panggilan Ica. Usianya hanya berbeda dua tahun dari Bravo. Tapi dia tampak jauh lebih muda dari kakaknya itu. Mungkin salah satunya dikarenakan postur tubuhnya yang masih seperti anak SMP, kurus tapi tidak terlalu kurus, tidak ada yang terlalu istimewa. Rambutnya dipotong pendek, hampir seperti laki-laki, dengan poni yang menutupi sebagian besar dahinya. Yang cukup menarik mungkin wajahnya. Sebenarnya wajah Ica agak mirip dengan Bravo, namun jauh lebih terawat. Mata yang kecil dilengkapi dengan bulu mata yang lentik. Tanpa ada kantong mata sama sekali. Pipinya terlihat sangat “chubby” apabila dibandingkan dengan pipi kakaknya yang kurus. Sekilas Ica benar-benar seperti anak laki-laki karena saat itu dia mengenakan celana dan jaket training warna biru yang agak kebesaran serta sepatu olahraga yang berwarna hitam. Hanya warna merah muda dari kaos yang sedikit terlihat dikenakannya dibalik jaket training yang menandakan kewanitaannya. Seketika Ica menggantikan isakan tangisnya dengan senyuman yang lebar. Tampak deretan giginya yang putih dan rapi.

“Ica senang mas Avo akhirnya pulang. Waktu pertama kali mas Avo SMS Ica memberitahu rencana mas untuk pulang, malamnya Ica enggak bisa tidur saking senangnya. Sudah lama banget, mas! Hampir setahun ya?” Tanya Ica sambil menatap lekat dan memegang erat tangan Bravo. Seperti tidak mau berpisah lagi dengan kakaknya.

“Iya, Ca. Sudah 333 hari tepatnya hari ini. Aku selalu menghitung hari sejak aku meninggalkan rumah.”

“Kenapa mas Avo lari dari rumah?!” Potong Ica seperti sudah memendam pertanyaan itu sejak hampir setahun yang lalu. Suaranya setengah berteriak, untung saja di sekitar mereka sudah tidak ada orang lagi. Keheningan subuh kembali menguasai.

“Mas Avo, tidak lari dari rumah…ah, sudahlah. Kita jalan yuk, nanti sambil jalan mas Avo ceritakan semuanya.” Ujar Bravo sambil menarik tangan Ica. Ica hanya mengangguk, senyuman menghilang digantikan raut wajah ingin tahu. Mereka berdua berjalan beriringan menyisiri trotoar di tepi taman. Bravo melepaskan pegangan tangannya karena dia khawatir orang-orang akan mengira mereka sebagai sepasang kekasih yang tak lazim terlihat berduaan di taman pada waktu sepagi ini. Kita pun berjalan mengiringi mereka. Kadang di samping tapi tidak terlalu jauh sehingga masih bisa mendengar pembicaraan mereka. Kadang agak di depan untuk bisa melihat ekspresi wajah mereka. Waktu saat ini menunjukkan pukul lima seperempat.

Rumah mereka atau lebih tepatnya rumah orangtua mereka tidak begitu jauh dari sini. Sekitar setengah jam berjalan kaki ke arah timur. Menyusuri sepanjang jalan utama yang membelah kota tersebut. Jalan tersebut cukup lebar untuk ukuran kota ini. Cukup untuk empat lajur kendaraan bermotor dua arah. Permukaan aspalnya masih sangat mulus walaupun sudah berumur lebih dari puluhan tahun. Pertanda bahwa tidak terlampau banyak kendaraan bermotor yang melintasinya. Pagi ini pun ruas jalan itu seperti makin bertambah lebar. Karena masih lengang tanpa ada satu pun kendaraan bermotor yang melintas.

Untuk beberapa saat mereka berjalan tanpa berbicara. Terlalu banyak yang ingin mereka bicarakan sampai mereka berdua sama-sama bingung untuk memulai dari mana. Belum lagi perasaan lega dan senang yang masih belum benar-benar mereda. Tak lama mereka sampai di sudut yang lain dari taman tersebut. Di seberangnya terlihat gereja yang sebenarnya berusia cukup tua juga namun saat ini baru saja selesai direnovasi sehingga terlihat seperti bangunan baru. Tampak depan gereja tersebut agak sedikit berbeda dari bangunan gereja pada umumnya karena adanya dinding bersudut tajam yang menyerupai bagian depan dari sebuah kapal laut. Dinding ini dipenuhi dengan batu-batu alam yang tersusun rapi. Sementara di bagian atasnya terpasang sebuah salib yang berukuran lumayan besar.

Saat mereka berdua akan menyeberangi jalan yang membatasi antara taman dengan gereja tersebut, muncul dari arah sebelah kiri mereka sosok sesuatu yang berjalan dengan cukup cepat melintasi jalan tersebut. Cukup sulit untuk mengetahui apakah gerangan sosok itu dari kejauhan. Bravo menarik tangan Ica untuk berhenti sebentar dan menunggu sosok itu untuk lewat terlebih dahulu. Setelah agak dekat barulah jelas terlihat bahwa sosok itu adalah seorang ibu yang menaiki sebuah sepeda model lama dengan membawa dua keranjang besar di bagian belakang sepedanya yang berisi penuh dengan sayur-sayuran. Saking penuhnya sampai-sampai ban roda belakangnya terlihat agak kempis. Walaupun begitu, si pengendara sepeda tetap dengan tangkas mengayuh sepedanya sehingga melaju dengan cukup cepat. Seperti ringan saja baginya.

Ibu itu adalah salah satu dari sekian banyak penjual sayur-sayuran yang berangkat dari rumahnya di pinggiran kota menuju ke salah satu pasar tradisional di kota untuk menjual hasil kebunnya. Dia dan teman-temannya penjual sayur yang lain setiap hari selalu memulai aktivitasnya di pagi buta seperti ini. Mereka dan sepedanya seperti layaknya pembalap profesional yang memacu kendaraannya sekencang-kencangnya di “track” jalan raya ini, agar bisa sampai seawal mungkin di pasar dan sesegera mungkin melariskan dagangannya. Mereka adalah “makhluk” penghuni pertama pagi hari di kota ini. Bravo tersenyum teringat sesuatu.

“Kamu ingat enggak, Ca? Dulu kita dan Alfa sering iseng menggoda ibu-ibu itu saat kita masih SD. Tiap hari Minggu atau hari libur, kita kan selalu jogging bersama melewati jalan ini juga. Tujuan kita selalu taman kota. Dan di sepanjang perjalanan kita selalu berpapasan dengan mereka. Kadang salah satu dari kita akan secara tiba-tiba melompat ke arah mereka ketika mereka sudah cukup dekat dengan kita. Dan ibu-ibu itu pasti kaget kemudian berteriak latah. Sepedanya pun oleng tapi tidak sampai jatuh. Tapi mereka tidak pernah berhenti, meninggalkan kita yang tertawa terpingkal-pingkal. Ingat kan, Ca?” Celoteh Bravo memecah kesunyian. Memori masa kecil mereka mendadak muncul jelas sekali di benaknya.

“Ingat dong, mas. Pernah satu ketika ada yang jatuh dari keranjang ibu-ibu tersebut karena sepedanya oleng. Tiga buah timun. Pas sekali! Dan akhirnya kita pun sarapan timun!” Tawa kecil mereka berdua menyusul ucapan Ica tersebut.

Ketika tawa mereka terhenti, suasana menjadi hening kembali. Mereka teringat untuk segera menyeberangi jalan. Sementara kita sudah tiba di seberang jalan terlebih dahulu, persis di depan gereja. Saat mereka mendekat, kita bisa melihat raut wajah mereka. Wajah Bravo terlihat lebih “cerah” daripada sebelumnya. Sementara wajah Ica terlihat berseri-seri, tidak terlihat lagi bekas tangisan sebelumnya. Mereka berdua berjalan melewati kita, tanpa menyadari atau bahkan melihat kehadiran kita. Kita berdiri di situ menjadi bagian dari kegelapan pagi itu.

Sekarang mereka berdua berjalan kembali. Kita mengikuti dari belakang. Kembali menyusuri trotoar yang sudah retak dan berlubang di sana-sini. Angin dingin yang tadinya bertiup kencang sekarang hilang tanpa bekas. Suhu udara tidak lagi sedingin tadi.

“Mas Alfa selalu menanyakan kabar mas Avo ke Ica. Ternyata mas Alfa mengkhawatirkan mas Avo juga. Walaupun kalau bertemu pasti selalu berantem.” Kali ini giliran Ica yang memulai pembicaraan.

“Yang benar, Ca? Aku fikir dia senang aku pergi. Aku dan Alfa memang tak pernah bisa akur. Bukan karena kami saling benci. Tidak sama sekali. Kami hanya… berbeda, Ca.”

Bravo menatap ke atas langit sambil mengingat sosok kakaknya yang paling tua itu. Alfa, nama lengkapnya adalah Alfawan Prasojo. Berasal dari kata Alpha, kode untuk huruf A. Dia adalah sosok anak yang ideal di mata setiap orang tua. Pintar, sopan, cekatan, patuh pada orang tua, dan serba bisa. Ditambah dengan penampilan fisiknya yang selalu rapi dan bersih. Umurnya hanya satu tahun berbeda dengan Bravo sehingga mereka berdua terlihat sepantaran. Bahkan jika Bravo memperhatikan penampilannya seperti layaknya Alfa, atau sebaliknya, mereka berdua terlihat seperti anak kembar. Tapi hanya sebatas penampilan fisik saja, karena sifat mereka berdua benar-benar bertolak belakang. Apalagi Bravo sering merasa bahwa Alfa selalu berusaha mengaturnya dan melindunginya sehingga selalu membuatnya merasa lebih inferior. Pada awalnya memang mereka sangat dekat, namun ketika Alfa dan Bravo semakin beranjak dewasa, semakin jauh pula hubungan mereka berdua. Sangat jauh sampai Bravo tidak tahu dan tidak peduli apa yang Alfa lakukan, dan sayangnya, begitu juga sebaliknya. Padahal mereka tinggal di satu rumah yang sama. Hanya kehadiran Ica-lah yang bisa menyatukan mereka. Ica selalu menjadi seperti pembawa pesan antara mereka berdua. Bravo tersenyum pahit menyadari itu. Saat ini dia merasa sedikit senang karena ternyata Alfa mengkhawatirkan keadaanya juga. Walau mungkin hanya sedikit.

“Aku tidak lari dari rumah, Ca.” Bravo meneruskan penjelasannya yang terpotong tadi. Kedua telapak tangannya diselipkan ke kantong depan celana jeansnya. Ica menoleh ke arah kakaknya dan serius mendengarkan. Dari belakang kita melihat sosok mereka berdua berjalan perlahan berdampingan.

“Aku hanya pergi untuk sementara. Memberi waktu kepada Bapak untuk menyadari kesalahannya. Kalau aku tidak pergi, mungkin segala sesuatunya akan bertambah buruk, Ca. Apa dia benar sudah percaya padaku, Ca? Seperti yang kamu bilang di SMS.” Tanya Bravo seperti meyakinkan dirinya.

“Iya, mas. Bapak bilang ke Ica. Bapak sekarang sudah percaya mas Avo tidak kecanduan narkoba. Ica sudah jelaskan, mas Avo jadi kurus seperti ini karena mas Avo sekarang jadi vegetarian.”

“Bukan vegetarian, ca. Tapi vegan. Vegan itu artinya aku sama sekali tidak makan dan minum semuanya yang mengandung unsur hewani. Binatang itu makhluk hidup yang punya nyawa, Ca. Beberapa bahkan punya akal. Kalau manusia menjadikan mereka sebagi makanan, berarti terlebih dahulu mereka harus membunuhnya, menghilangkan nyawanya. Lalu apa beda manusia dengan binatang kalau saling membunuh seperti itu?” Bravo menjelaskan dengan berapi-api. Kedua telapak tangannya yang tadinya berada di saku celananya sekarang menggantung dan terbuka di udara.

“Ica ngerti, mas.” Sahut Ica sambil tersenyum. Kakaknya yang satu ini sangat teguh pendiriannya. Dan kalau sedang menjelaskan pendapatnya terlihat sangat bersemangat sekali. Kedua tangannya akan bergerak-gerak seperti seorang dirijen orchestra. Terlihat lucu sekali. Dalam hati Ica senang sekali Bravo telah kembali.

Terakhir kali Ica melihat Bravo adalah saat kakaknya itu sedang bertengkar hebat dengan bapaknya. Bapaknya mendapat informasi dari paman mereka, Sasongko, adik laki-laki bapaknya yang usianya hanya terpaut beberapa tahun di atas Alfa dan Bravo bahwa dia melihat Bravo sedang membeli narkoba dari temannya. Sasongko ini adalah seorang pengangguran yang sering dapat pekerjaan serabutan yang dekat dengan dunia kejahatan. Dia banyak berteman dengan preman, pencuri, penadah, penjual narkoba dan banyak lagi profesi kelam lainnya. Tapi Prasojo selalu mempercayainya. Bahkan lebih mempercayai Sasongko daripada anak kandungnya sendiri. Prasojo memang sangat dekat dengan Sasongko karena Prasojo selalu harus melindungi Sasongko ketika mereka berdua pada masa kecilnya sama-sama “berjuang” menghadapi kekerasan bapak mereka yang menerapkan disiplin ala militer di keluarga mereka. Sampai-sampai ketika Sasongko tidak pernah lulus kuliah dan kemudian menjadi pengangguran, Prasojo selalu rutin memberikan biaya hidup untuk adiknya tersebut. Dan sayangnya kekerasan pada masa kecil mereka mempengaruhi kehidupan mereka sampai saat ini. Sasongko memilih hidup dekat dengan dunia kejahatan yang keras. Sementara Prasojo sering bertindak keras dan cenderung kasar terhadap keluarganya sendiri, terutama anak-anaknya. Seperti yang dia alami dulu.

“Aku masih ingat bagaimana dulu Bapak menodongkan pistolnya di wajahku, Ca. Tak pernah bisa kuhilangkan adegan itu dari benakku. Bagaimana bisa seorang bapak tega menodongkan pistol di kepala anak kandungnya sendiri? Bagaimana bisa Bapak tega untuk berencana memasukkan aku ke panti rehabilitasi narkoba hanya karena informasi ngawur dari seorang paman yang preman pemabuk dan pecandu narkoba. Kamu tahu kan, Ca. Panti rehabilitasi itu terkenal sangat mengerikan. Orang yang masuk kesana tidak dirawat baik-baik. Melainkan dimasukkan ke dalam ruangan kecil tidak berjendela dan dipakaikan jaket pengikat seperti di film-film psikopat itu. Mereka akan menderita karena sakau terlebih dahulu, tanpa diberi makan berhari-hari sampai kemudian mereka hampir mati. Tapi tak jarang yang benar-benar mati, Ca!” Bravo menelan ludah sebelum melanjutkan.

“Dulu itu yang sebenarnya terjadi adalah aku memergoki Om Sasongko membeli narkoba dengan menggunakan uang yang diberikan Bapak dari jerih payahnya, Ca. Dan aku sebenarnya tidak akan memberitahukannya kepada Bapak karena aku tidak peduli. Tapi Om Sasongko takut aku akan melapor sehingga Bapak akan marah kepadanya dan tidak akan memberi uang lagi tiap bulannya. Kamu tahu kan betapa Bapak sangat membenci narkoba sejak kakek meninggal akibat overdosis.” Kalimat demi kalimat keluar dari mulut Bravo tanpa terbendung. Seperti air bah yang meluap dari sebuah dam akibat kandungan air yang sudah melewati batasnya. Ica hanya terdiam. Benaknya memikirkan hal yang lain.

“Kenapa kamu diam, Ca? Kamu percaya kan apa yang aku katakan barusan?

“Ica percaya, mas. Ica hanya membayangkan kejadian di malam itu. Ibu sangat terpukul sekali mas. Tapi Ibu tidak bisa berbuat apa-apa. Mas Avo tahu kan betapa Ibu sangat menuruti Bapak. Ica sangat heran melihat Bapak yang percaya begitu saja dengan Om Sasongko. Ica juga kaget saat tahu kalau Bapak punya pistol betulan, mas. Ica kasihan sekali melihat ibu dan mas Avo. Ica tidak menyangka bahwa mas Avo kemudian akan pergi lama meninggalkan rumah. Malam itu Ica bingung sekali mas. Mana mas Alfa saat itu sedang lembur di kantornya. Paginya saat mas Alfa pulang, Ica ceritakan semuanya. Mas Alfa yang selalu menuruti apa kata Bapak pun kelihatan kecewa. Ica sedih dengan apa yang terjadi di keluarga kita, mas.”

Butir-butir air mata kembali mengalir di pipi Ica. Butir-butir air mata tersebut terlihat berkilauan memantulkan semburat sinar keemasan dari matahari pagi yang mulai muncul dari ujung langit di hadapan mereka. Sinar keemasan itu mengenai juga tekstur dedaunan dari pohon-pohon Mahoni berumur puluhan tahun yang berjejer rapi di kanan-kiri jalan. Mahkota daun pohon Mahoni tua yang rimbun ditambah dengan batang pohonnya yang besar dan kokoh dimana guratan-guratan yang ada pada batang tersebut dari kejauhan terlihat seperti ukiran-ukiran purbakala di dinding-dinding candi, kesemuanya itu mengambil bentuk seperti sebuah terowongan waktu. Bravo menahan nafas sejenak melihat semua itu. Suhu udara mendadak meningkat dengan drastis. Ica membuka jaket training yang dikenakannya karena mulai merasa kepanasan dan menyeka air matanya dengan jaket tersebut. Terlihat bekas keringat di tengah punggung kaos warna merah muda yang dikenakannya dibalik jaket. Wajahnya kembali murung.

Beberapa meter di depan mereka terlihat seorang laki-laki dewasa berpakaian serba kuning sedang menunduk di tepi jalan. Setelah agak dekat terlihatlah apa yang sedang laki-laki itu kerjakan. Dia adalah salah satu petugas kebersihan kota yang setiap pagi selalu menyapu daun-daun pohon Mahoni yang berserakan di jalan utama kota itu. Memang sebagian besar sampah yang mengotori jalan tersebut adalah daun-daun kering yang sudah jatuh dari pohon, namun ada juga beberapa orang tidak tahu aturan yang sembarangan membuang puntung rokok, bungkus makanan, dan berbagai sampah lain di jalan ini. Laki-laki berseragam kuning itulah yang setiap pagi dengan sabar dan telatennya, memungut, menyapu, dan mengumpulkan sampah-sampah tersebut untuk kemudian dikumpulkan dengan menggunakan truk sampah. Ya karena memang itulah pekerjaan mereka, sumber penghasilan mereka untuk keluarganya. Para penyapu jalan ini adalah “makhluk” nomor dua yang muncul di setiap pagi hari.

Waktu menunjukkan sekitar pukul 5.45 pagi. Tak terasa mereka sudah hampir sampai. Dari sini beberapa rumah lagi, mereka akan sampai ke rumah. Kalau diperhatikan dengan seksama, tembok pagar rumah mereka yang berwarna hijau sudah bisa terlihat. Bravo menghentikan langkahnya. Dia terlihat ragu. Ica memperhatikan sikap kakaknya itu. Dia memperhatikan juga wajah kakaknya yang terlihat semakin kurus sejak terakhir mereka bertemu. Wajah Bravo terlihat sangat pucat sekarang. Bibirnya terlihat kebiruan seperti orang yang kedinginan. Atau ketakutan. Ya mungkin Bravo sedang teringat momen dimana dia hampir saja kehilangan nyawa di tangan bapaknya sendiri. Dan dia sekarang takut mengalami hal itu kembali. Ica memegang kedua tangan kakaknya yang sekarang terasa sangat dingin walaupun hangat mentari pagi mulai terasa dan berkata.

“Jangan khawatir, mas Avo. Bapak sudah tidak marah lagi. Beliau sekarang malah mengkhawatirkan mas Avo. Beliau tidak percaya lagi dengan Om Sasongko karena beberapa waktu yang lalu Om Sasongko sudah ditangkap polisi pada saat sedang membeli narkoba. Malah Bapak sekarang sudah tidak sekasar dulu lagi, mas. Mungkin karena beliau juga sangat menyesal telah melakukan hal itu kepada mas Avo. Kami semua kangen sama mas Avo. Pulang yuk, mas.” Bujuk Ica sambil tersenyum manis ke arah kakaknya. Bravo tersenyum tipis tapi wajahnya malah bertambah pucat.

“Ca, terimakasih ya sudah percaya sama aku. Aku minta maaf sudah buat kamu dan semuanya khawatir. Tapi sebelum aku pulang, aku mau cerita suatu hal yang terjadi saat aku pergi dari rumah. Setelah aku ceritakan, kamu berhak untuk marah kepadaku…” Lanjut Bravo dengan nada yang ragu-ragu tapi pasrah.

“Cerita apa sih, mas Avo? Sudah deh, kita sudah mau sampai di rumah.”

“Tidak bisa, Ica. Aku harus ceritakan hal ini.” Bravo menghela nafas panjang sebelum melanjutkan.

“Malam itu aku ingin pergi ke tempat yang jauh sejauh-jauhnya. Tapi karena aku tidak punya cukup uang, hanya ada beberapa ribu rupiah di dompetku waktu itu, aku putuskan untuk pergi ke rumah seorang teman. Aku tidak punya banyak teman, dan di antara beberapa teman yang aku punya itu hanya ada satu orang yang bisa dengan bebas aku kunjungi rumahnya. Karena dia hanya tinggal sendirian di rumahnya itu. Orang tuanya tinggal di kota lain. Aku tidak terlalu dekat hanya saja dia sering mengajakku menginap disana. Walaupun sampai sebelum malam itu, belum pernah sekali pun ku terima ajakannya. Sesampainya di sana, ternyata ada banyak orang yang lain disana. Aku mengenal beberapa dari mereka. Awalnya aku tidak menyadari apa yang sedang mereka lakukan, namun perlahan aku mulai menyadari bahwa mereka sedang pesta narkoba….” Sampai di sini, ucapan Bravo terputus. Matanya mulai terlihat memerah dan badannya mulai terasa bergetar.

“Malam itu aku berhasil menghindar dari tawaran semua orang-orang di sana untuk menggunakan narkoba. Tapi ternyata mereka semua tinggal disana sampai tiga hari. Dan di hari ketiga, karena aku mulai bingung dan takut dengan keadaan diriku dan selalu teringat tuduhan Bapak, aku melemah. Aku mulai mencoba satu tablet extacy. Aku fikir bagaimanapun juga Bapak sudah menganggapku sebagai pecandu narkoba. Jadi sekalian saja aku coba. Cuma satu tablet ini, fikirku. Tapi satu tablet itu disusul dengan tablet yang lain. Kemudian tablet lain yang lebih kecil. Kemudian dalam bentuk serbuk, kemudian suntikan, dan akhirnya semua telah kucoba. Seminggu lamanya aku berada di rumah itu menggunakan segala macam narkoba setiap harinya. Sampai kemudian aku mulai berfikir untuk pulang. Namun setiap kali aku ingin pulang, aku takut. Dan saat aku takut, aku kembali menggunakan narkoba. Begitu terus berulang-ulang. Sampai tidak terasa berbulan-bulan telah lewat. Aku tidak bisa menghubungi kamu karena HP-ku tertinggal di kamar. Sampai pada suatu ketika, ketika aku terbangun dengan jarum suntik masih menancap di tanganku, aku melihat HP temanku itu tergeletak di sebelahku. Tiba-tiba saja aku teringat nomor HP kamu, Ca. Lalu aku SMS kamu dan selanjutnya kamu tahu. Aku ingin berada di rumah saat hari ulang tahunku. Sebenarnya sudah sejak dua hari yang lalu aku menginap di halaman masjid agung, berpindah-pindah tempat agar tidak ketahuan orang. Setiap malam aku sakau di toilet masjid. Tadi malam adalah yang paling parah, Ca … … …”

“Mas Avo! Kenapa, mas?! mas!”

Mendadak tubuh Bravo limbung dan jatuh berlutut. Sementara Ica masih memegangi tangannya. Dari sekujur tubuhnya keluar keringat dingin. Ica mencoba membantu Bravo berdiri namun tidak kuat. Untungnya seorang tukang becak melintas dan berhenti di dekat mereka. Bravo kemudian dipapah naik ke atas becak sementara tukang becak itu mendorong becaknya dengan cepat ke arah rumah. Ica berlari lebih kencang sambil menangis meraung-raung mendahului. Dari dalam rumah dengan tembok pagar berwarna hijau itu keluar beberapa sosok manusia. Yang pertama berlari keluar adalah Alfa, kemudian disusul Prasojo dan istrinya yang menangis histeris. Kejadian ini kita saksikan dari seberang jalan, tepat di depan rumah Prasojo. Semuanya berlangsung dalam slow motion.

Tepat pukul enam pagi jalan utama itu mulai ramai oleh rombongan anak sekolah yang berdiri di tepi jalan menanti mobil angkutan kota yang akan mengantar mereka ke sekolah masing-masing. Beberapa orang berpakaian dinas khas pegawai negeri sipil pun terlihat mengendarai motor dengan santai menuju kantor.

………

Bravo terbangun di sebuah ruangan tanpa jendela. Matanya masih agak berat untuk dibuka tapi dia merasa sakit yang amat sangat di kepalanya sehingga dia memaksakan untuk membuka matanya. Tidak ada lampu penerangan di ruangan ini sehingga awalnya matanya tidak bisa melihat apa-apa. Perlahan ketika penglihatannya mulai bisa beradaptasi, dia memperhatikan sekelilingnya. Tidak ada apa-apa di ruangan ini. Hanya ranjang besi tempat dia terbaring. Di depannya terlihat pintu yang sepertinya terbuat dari besi dengan lubang kaca berbentuk persegi yang dari baliknya terpancar sinar redup yang menjadi satu-satunya penerangan di ruangan ini. Dia coba menggerakkan tangannya sendiri untuk mencoba memijat kepalanya yang sakit tapi tidak bisa. Dia coba melihat tangannya. Betapa terkejutnya dia melihat tangannya berada dalam posisi mendekap badannya sendiri tapi tidak bisa bergerak. Akibat dari jaket pengikat yang digunakannya. Badannya bergetar, dia berteriak. Tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Baru dia sadari ternyata ada kain yang terikat menyumpal mulutnya. Panik, dia bangun dan bergegas menuju pintu dan mencoba membukanya. Tapi ternyata pintu itu tidak ada gagang pintu pada bagian dalamnya. Badannya semakin bergetar hebat. Dia menyandarkan badannya di pintu besi itu dan mengintip dari balik lubang kaca untuk mencari bantuan di luar. Yang dia lihat hanyalah lorong panjang bercahaya redup dengan barisan pintu- pintu besi yang sama. Bravo berteriak sangat kencang, tapi kita yang melihat dari balik pintu itu tidak mendengar apa-apa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s