Surat untuk Adik-adikku di Tulang Bawang Barat

Kitakyushu, 29 Mei 2013

Halo adik-adikku di Tulang Bawang Barat,

Tabik Pun!

Apa kabar semua? Semoga sehat dan semangat setiap saat. Benar-benar senang sekali saya bisa berkesempatan menulis surat kepada adik-adik semua. Kata Kak Marisa dan Kak Angga, suratnya harus inspiratif. Tapi kalau menurut saya, itu terserah adik-adik semua. Yang paling penting, baca-atif, alias bisa dibaca. Hehe.

Sebelum panjang, lebar, keliling, dan luas 🙂 saya ingin memperkenalkan diri dulu. Nama saya agak susah diucapkan, Fritz Akhmad Nuzir. Kalau di rumah, saya dipanggil dengan nama Fran, singkatan dari tiga kata nama saya itu. Tapi kalau di sekolah, tempat kerja, dan di kalangan teman-teman biasanya cukup dengan nama yang paling depan saja, Fritz. Ya seperti bunyi peluit wasit sepakbola. Hehe. Untuk adik-adik silahkan saja pilih mana yang disuka untuk memanggil saya. Seperti kata Shakespeare, seorang pujangga asal Inggris, what’s in a name? Apalah arti sebuah nama? Yang penting kan orangnya, ya ini yang menulis surat ini untuk adik-adik semua di Tulang Bawang Barat.

Saya terlahir di keluarga yang sederhana sebagai satu-satunya anak laki-laki dengan dua orang kakak dan satu orang adik perempuan. Kami tinggal di Metro, Lampung, tepatnya di daerah bedeng Selikur, di sebuah lingkungan bertetangga yang sangat sederhana juga. Adik-adik tentunya tahu kan dimana kota Metro? Kedua orang tua saya saat ini adalah pensiunan Pegawai Negeri Sipil yang benar-benar merintis karirnya dari bawah dengan penuh perjuangan. Bapak saya sempat bekerja sambilan sebagai supir angkutan umum dan makelar jual beli mobil bekas, sedang ibu saya setiap bulan puasa sering menjual es batu kepada para tetangga. Proses perjuangan orang tua inilah yang mewarnai masa kecil saya. Ditambah lagi dengan anugerah penyakit Asma yang saya derita karena faktor keturunan. Sudah cukup rasanya melewati masa kecil saya dari Taman Kanak-kanak hingga Sekolah Dasar dengan amat sangat “merepotkan” orang tua. Tentu saja itu hanya anggapan saya saja, namun cukup memupuk perasaan ingin mandiri dan membanggakan orang tua sedikit demi sedikit sejak saat kecil.

Kedua perasaan itu yang membuat saya selepas lulus SD pada usia 12 tahun memberanikan diri untuk mengikuti kakak saya yang sudah lebih dulu bersekolah di luar kota, jauh dari kampung halaman kami. Saya masih ingat betul ekspresi sangat cemas dari ibu saya ketika mengantar saya dan bapak saya untuk mendaftar sekolah di salah satu SMP negeri di Yogyakarta. Waktu itu modal saya hanya prestasi nilai saya yang cukup baik di tingkat Metro. Namun ternyata saya diterima di SMP Negeri 5 Yogyakarta dengan urutan nomor dua, dari belakang! Hehe. Kenyataan itu cukup membuat mental saya naik turun. Apalagi saat itu adalah pertama kalinya saya tinggal jauh dari orang tua. Namun pelan-pelan, saya juga belajar mandiri dan bertanggung-jawab terhadap diri sendiri. Kondisi kesehatan saya yang sangat dikhawatirkan oleh ibu saya ternyata tidak mengalami suatu hal yang mengkhawatirkan. Hanya memang kemudian prestasi akademik saya tidak terlalu menonjol, tapi juga tidak terlalu buruk. Alhamdulillah, saya berhasil membuktikan bahwa anak dari luar Pulau Jawa tidak kalah bersaing.

Nilai kelulusan saya yang pas-pasan akhirnya gagal mengantarkan saya ke SMU negeri unggulan. Saya diterima di SMU Negeri 8 Yogyakarta yang pada waktu itu pamornya masih berada di bawah SMU Negeri 1 Yogyakarta dan SMU Negeri 3 Yogyakarta. Beberapa teman dekat saya berhasil masuk ke kedua sekolah tersebut. Lagi-lagi hal itu sedikit melemahkan mental saya. Namun ternyata justru saya kemudian menemukan lingkungan dan suasana belajar yang penuh semangat, keakraban, dan ketekunan. Walaupun tidak serta merta prestasi saya meningkat, namun yang saya dapat adalah motivasi dan ambisi saya yang menjadi sangat tinggi untuk lulus dan kemudian masuk perguruan tinggi negeri menyaingi teman-teman saya yang masuk ke SMU negeri unggulan tadi.

Pada saat di tingkat SMU ini pula saya sedikit demi sedikit mengasah minat-minat saya yang kemudian akan mempengaruhi perjalanan hidup saya. Minat yang pertama adalah ketertarikan akan seni rupa. Walau dulu waktu TK, saya sempat menjadi juara lomba menggambar antar siswa TK se-kabupaten, praktis hanya itu saja bentuk apresiasi positif yang saya dapat di bidang seni rupa. Nah, pada waktu di SMU ini saya sempat pula mengikuti lomba sketsa Kartini antar seluruh siswa di sekolah ini dan Alhamdulillah, saya mendapat predikat juara, walau saya lupa juara berapa dan berapa pesertanya 🙂 Tapi entah kenapa, ketika hendak menentukan jurusan apa yang akan saya ambil pada saat akan masuk kuliah, minat seni rupa saya yang saya pertimbangkan sehingga akhirnya memilih jurusan arsitektur. Waktu itu di bayangan saya, kuliah arsitektur itu yang penting bisa menggambar. Well, ada benarnya juga sih, walau lebih banyak salahnya. Hehe.

Minat saya yang kedua adalah minat akan cerita. Awalnya karena sempat hobby sekali membaca komik, saya hanya pasif menjadi penikmat cerita. Namun karena pada satu kesempatan, saya diberikan tugas mengarang cerita pendek masa liburan oleh Pak Nurrachmat, guru Bahasa Indonesia saya di SMU tersebut dan ternyata cerita pendek saya tersebut beliau pilih untuk dibacakan di seluruh kelas, itu sangat membuat saya terkesan. Menurut saya waktu itu cerita pendek saya-lah yang terbaik. Tapi mungkin juga beliau memilih untuk membacakan cerita yang paling norak agar ditertawakan. Hehe. Apapun alasannya, sejak saat itu saya menjadi tertarik untuk bercerita melalui tulisan atau singkatnya, menulis. Proses berkembangnya minat menulis saya ini sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan proses berkembangnya minat seni rupa saya yang kemudian berkembang di pendidikan tinggi menjadi minat mendesain ruang. Dan cenderung tidak terdeteksi oleh orang di sekitar saya, bahkan oleh saya sendiri. Karena saya hanya menulis secara otodidak, tidak teratur, dan jarang saya simpan hasil tulisan saya sehingga akhirnya hilang.

Pada saat SMU ini pula saya belajar prihatin dan semakin bertanggung-jawab. Karena adik perempuan saya ikut menyusul ke Yogyakarta. Apalagi menjelang tahun terakhir di SMU, saya rutin mengikuti bimbingan belajar dan try-out di mana-mana. Walaupun berulangkali hasil yang saya raih kurang memuaskan, saya terus mencoba. Alhasil kondisi kesehatan saya berulang kali drop. Nah entah kenapa mulai saat ini, setiap kali sakit, saya selalu merasa sakit itu adalah peringatan dari Allah agar saya kembali semangat mencapai tujuan saya. Sehingga tiap kali sembuh dari sakit, maka saya pun bersemangat kembali. Seperti baterai handphone yang baru saja dicharge ulang, fresh !

Dulu masih ada yang namanya UMPTN, Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Nah sebelum itu biasanya perguruan tinggi swasta (PTS) mulai mengadakan ujian masuk juga. Kerja keras saya pun mulai terbayar. Satu per satu ujian masuk PTS saya ikuti. Hitung-hitung sebagai latihan, pikir saya. Mulai dari STT Telkom, saya diterima. UII Jurusan Teknik Arsitektur, saya juga diterima tanpa biaya masuk. Sampai UMY Jurusan Kedokteran Umum pun saya diterima. Karena itu saya sempat bingung untuk memutuskan pilihan kuliah dimana, namun seseorang pernah menasehati saya, yang akan selalu saya ingat, bahwa apabila kamu telah memilih sesuatu dan kemudian mendapat tawaran pilihan-pilihan yang lain namun kamu tetap memikirkan pilihan yang pertama tadi, maka itulah pilihan kamu, Jangan ragu. Sehingga akhirnya saya tetap mengikuti UMPTN dengan memilih Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Gadjah Mada. Pada hari ujian, saya hampir pingsan karena kondisi badan sangat tidak fit. Ujian pun akhirnya seadanya, sekuat tenaga. Tiba waktu pengumuman, saya pun hampir pingsan. Pingsan kegirangan karena kerja keras terbayar lunas. Keinginan saya tercapai. Saya diterima di Universitas Gadjah Mada, Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Arsitektur.

Berlanjut ke masa kuliah yang dimulai pada pertengahan tahun 2000. Ternyata apa yang saya bayangkan sebelumnya tentang ilmu di di bidang arsitektur cukup jauh berbeda dengan apa yang saya dapatkan di bangku perkuliahan ini. Arsitektur tidak hanya sekedar eksplorasi seni dan keindahan visual, akan tetapi juga pemikiran dan proses kreasi untuk mencari solusi terhadap permasalahan lingkungan, ekonomi, sosial, dan budaya. Sangat kompleks sekali dan tidak semudah yang saya bayangkan. Pengetahuan saya terhadap ilmu arsitektur ternyata masih sangat sedikit sekali. Hal ini sempat membuat saya agak sedikit tertekan dan ragu pada awalnya. Apalagi teman-teman saya satu angkatan adalah mahasiswa-mahasiswi pilihan hasil seleksi UMPTN yang sangat ketat, sehingga tentunya kualitas mereka tidak perlu dipertanyakan dan sering membuat saya kagum.

Namun sepertinya pengalaman saya di masa SMP dan SMU telah menggembleng saya sedemikian rupa, sehingga masa adaptasi saya terhadap tekanan perkuliahan tidak begitu lama. Secara perlahan dan sedikit demi sedikit saya mengikuti perkuliahan dengan semangat dan mencoba menyerap ilmu sebanyak mungkin. Di tiap semester, saya selalu mengambil jumlah perkuliahan maksimal dan menyelesaikannya dengan optimal. Nilai yang saya dapat pun tidak mengecewakan. Walaupun saya juga sadar bahwa ilmu yang saya dapat jauh lebih penting dari sekedar nilai belaka. Akhirnya masa perkuliahan bagi saya rasanya berlangsung cukup singkat. Sepertinya masih kurang untuk mendapat ilmu arsitektur yang masih sangat banyak. Dan kemudian saya sadari ternyata kecintaan saya terhadap dunia arsitektur mulai tumbuh. Bahkan entah kenapa, saya tak pernah ragu lagi sedikit pun bahwa dunia arsitektur adalah masa depan saya. Saya termasuk dalam sekelompok 7 orang mahasiswa yang lulus tercepat dalam angkatan saya, yaitu 4 tahun 2 bulan.

Hal lain yang mewarnai masa perkuliahan saya adalah pengalaman saya mendapatkan penghasilan sendiri. Perasaan ingin mandiri yang terpupuk sejak kecil ternyata mulai bisa saya realisasikan. Walaupun alhamdulillah perlahan kehidupan keluarga saya di kampung halaman secara ekonomi dan bahkan secara sosial mulai mencukupi.  Hal ini dikarenakan diangkatnya bapak saya sebagai Wakil Walikota kota Metro. Namun kehidupan saya dan kakak serta adik di rantau ini sama sekali tidak berubah. Kami tetap hidup sederhana karena tujuan kami tetap sama yaitu menempuh pendidikan untuk masa depan kami sendiri. Kami sudah merasa sangat bersyukur bahwa orangtua kami dapat mengemban amanah dan memberikan manfaat bagi masyarakat kota Metro. Adapun rezeki yang didapat adalah hanya titipan dari Allah SWT yang harus dipergunakan dan dapat dipertanggungjawabkan sebaik mungkin. Bukan untuk berfoya-foya.

Saya bersama beberapa teman sempat mendirikan semacam studio desain dengan nama HALF Studio sebagai wadah bagi untuk berkreasi dan memperoleh penghasilan dari kreasi tersebut. Kami mengerjakan banyak hal seperti misalnya membuat maket atau miniatur bangunan dan interior, mengerjakan desain rumah tinggal, membuat desain layout untuk publikasi, dan sebagainya. Kegiatan kami berlangsung kurang lebih selama satu tahun dan penghasilan yang kami terima, walaupun tidak seberapa, cukup membuat saya bangga. Akhirnya saya bisa membuktikan bahwa saya bisa hidup dari jerih payah saya sendiri.

Namun ternyata “kehausan” saya terhadap ilmu arsitektur belum sepenuhnya terpenuhi selepas mendapat gelar Sarjana Teknik. Saya masih merasa belum ada sesuatu yang unggul dan menjadi pembeda dalam diri saya sebagai seorang sarjana di bidang arsitektur dibanding dengan teman-teman saya yang lain. Sehingga kemudian saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Sebenarnya pada awal berkuliah, tujuan saya adalah menyelesaikan kuliah dan diwisuda. Ketika tiap kesempatan saya lewat di depan gedung Graha Sabha Pramana UGM, tempat dilaksanakannya prosesi wisuda secara rutin, saya sering membayangkan suatu saat berada di sana dan diwisuda. Sangat sederhana sekali angan-angan ini, tapi cukup menjaga semangat saya untuk menyelesaikan perkuliahan.

Tapi kemudian seiring dengan perjalanan waktu, muncul keinginan untuk melanjutkan pendidikan bahkan ke luar negeri. Hal ini mungkin dikarenakan saya melihat pendidikan dari dosen-dosen saya yang hampir semuanya lulusan dari luar negeri. Apalagi saya pernah menjadi asisten salah satu dosen lulusan Jepang, Pak Budi Prayitno namanya. Saya sering sekali berdiskusi dengan beliau mengenai pendidikan di Jepang dan akhirnya saya tertarik untuk mengikuti jejak beliau. Sejak saat itu juga saya mulai tertarik untuk bekerja di dunia akademisi, dengan menjadi dosen. Kakek saya adalah seorang guru mengaji, mungkin “darah” guru beliau mengalir juga ke saya.

Namun ternyata rintangan kembali menghadang. Niat saya untuk kembali melanjutkan pendidikan pasca sarjana ke Jepang ternyata tidak berjalan mulus, karena saya tidak kunjung mendapatkan beasiswa. Walaupun saya yakin orang tua saya mampu membiayai saya, pada awalnya saya tetap bertekad untuk tidak membebani kedua orang tua saya lagi. Saya mengalami kesulitan untuk mendapatkan beasiswa karena tidak kunjung memperoleh korespondesi dengan dosen pembimbing yang tepat di Jepang. Sebenarnya saya akui bahwa usaha yang saya lakukan dulu belumlah optimal dan kurang fokus. Sedangkan waktu terus berjalan. Akhirnya saya sempat memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di program Magister Arsitektur, Institut Teknologi Bandung. Setelah melalui beberapa tes dan memenuhi persyaratan administrasi, saya diterima. Saya sempat mengikuti perkuliahan selama dua minggu sebelum akhirnya saya menerima sebuah kabar gembira yang tidak saya sangka-sangka.

Saya diterima di program Master of Landscape Architecture, Anhalt University of Applied Sciences, Jerman. Saya menerima kabar itu lewat e-mail. Memang beberapa waktu sebelumnya, saya sempat menemukan informasi mengenai pembukaan pendaftaran di universitas tersebut. Saat itu saya sudah berada di Bandung dan hanya sekedar “iseng” saja untuk mendaftar kesana. Walaupun memang ada beberapa hal yang membuat saya tertarik.

Pertama tema ilmu yang dipelajari yaitu arsitektur lansekap cukup menarik bagi saya karena mempelajari mengenai desain dan penataan ruang di luar bangunan. Ya bisa berupa taman, kebun, halaman, jalan, trotoar, dan sebagainya. Intinya lingkungan kita sehari-hari. Kedua, pihak universitas tidak memungut SPP atau tuition fee sama sekali sehingga sama saja dengan sekolah gratis. Ketiga, pada kurikulumnya dicantumkan program magang atau kerja praktek yang harus ditempuh mulai dari tahun kedua. Sehingga dari situ saya dapat memperoleh biaya hidup saya di sana. Sama saja dengan mendapat beasiswa. Jadi saya coba mendaftar dan ternyata memang jalan hidup saya seperti itu.

Saya berangkat ke Jerman pada bulan Oktober 2005 dengan semangat nekat. Kenapa nekat? Ya karena saya belum pernah ke luar negeri sendiri sekali pun sebelumnya. Tidak ada teman atau keluarga di Jerman. Tidak bisa bahasa Jerman. Kemampuan bahasa Inggris pun saya dapat hanya dari bangku SMP dan SMU tanpa pernah ikut bimbingan les atau kursus sekali pun. Saya mengenal Jerman dan Bernburg, kota tempat universitas saya hanya dari internet. Tapi karena memang sudah terlanjur semangat tadi, saya tetap berangkat juga. Dan benar saja, perjuangan saya di sana tidak lebih mudah.

Sangat berat pada awalnya bagi saya untuk beradaptasi. Terhadap cuacanya yang jauh berbeda dengan di Indonesia, terhadap makanan, terhadap perkuliahan. Namun sekali lagi pengalaman hidup mandiri yang saya dapat sejak kecil kembali membantu saya. Perlahan-lahan saya kemudian bisa beradaptasi. Saya hidup jauh lebih prihatin dan hemat ketimbang di Indonesia. Untuk tempat tinggal saya menempati asrama mahasiswa yang berupa sebuah gedung tua dengan sewa yang sangat murah. Kemana-mana saya berjalan kaki, bahkan makan sehari hanya paling banyak dua kali.

Dan sejak semester pertama, saya mulai mencari kesempatan untuk bisa bekerja di kampus. Alhamdulillah saya mendapat tawaran untuk membantu professor saya membuat desain layout bukunya. Namanya Prof. Erich Buhmann. Pekerjaan itu saya lakukan pada saat liburan semester pertama. Ketika teman-teman yang lain asyik jalan-jalan keliling Eropa menikmati libur panjang, selama kurang lebih dua bulan saya bekerja di kantor professor kadang juga di rumahnya. Dan setiap bulan itu pula saya menerima gaji yang jumlahnya lumayan, cukup untuk hidup sehari-hari. Begitu juga pada liburan semester kedua. Saya kembali bekerja membantu professor untuk mengerjakan sebuah sayembara desain. Bahkan selain mendapat gaji, kali ini saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi lokasi pekerjaan yaitu di negara Malta dan sempat bekerja untuk beberapa bulan di Berlin. Semua biaya ditanggung oleh professor. Pada suatu ketika, saya sempat merenung dan memikirkan semua apa yang sudah saya dapatkan selama periode awal di Jerman. Sungguh tak pernah terbayangkan sama sekali pun sebelumnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Pada tahun kedua saya mulai melakukan magang. Tawaran magang juga saya dapatkan dari teman professor saya tersebut yaitu Rainer Schmidt, seorang arsitek lansekap yang terkenal di Jerman. Saya melakukan magang di kantor beliau yang berada di kota Muenchen. Lagi-lagi saya mendapat anugerah dari Allah atas kerja keras saya. Pada bulan ketiga saya bekerja di kantor itu, saya mendapat kenaikan gaji hampir dua kali lipat. Sampai saat ini saya tidak pernah tahu alasannya, mungkin karena mereka sangat puas dengan kinerja saya, Saya sangat bertanggung jawab dalam menyelesaikan pekerjaan saya bahkan tak jarang saya bekerja hingga larut malam di kantor.

Namun pola hidup hemat tetap saya lakukan. Apalagi kota Muenchen terkenal dengan kota yang paling mahal biaya hidupnya di Jerman. Saya sengaja memilih tempat tinggal di daerah pinggiran kota. Untuk mencapainya harus menuju ke stasiun terakhir kereta bawah tanah dan masih harus menggunakan bis. Seringkali saya harus pulang malam karena lembur, dan akibatnya tidak ada lagi bis yang beroperasi sehingga saya harus berjalan kaki sejauh kurang lebih dua kilometer. Kalau di Indonesia dengan cuaca yang “normal” sih tidak apa-apa. Saya rasa adik-adik juga pasti banyak yang melakukannya. Tapi ini Jerman, yang cuacanya kalau di musim dingin bisa mencapai minus sepuluh derajat. Saya bahkan pernah melakukannya di tengah hujan salju yang lebat. Kalau di film mungkin terlihat keren ya, adik-adik? Tapi itu benar-benar dingin sekali. Sepanjang perjalanan saya hampir tidak bisa merasakan ujung jari tangan saya lagi. Saya berada di kota Muenchen selama kurang lebih 7 bulan. Dan setelah itu saya kembali ke kota Bernburg untuk menyelesaikan tugas akhir saya. Dan tepat bulan September 2007 saya berhasil menyelesaikan pendidikan saya dan memperoleh gelar Master of Arts in Landscape Architecture.

Wah tidak terasa ya, sudah banyak sekali halaman isi surat ini. Hmm, kalau begitu saya pikir harus saya cukupkan sampai di sini dulu. Sebenarnya saya masih ingin bercerita tentang pengalaman saya bekerja di Dubai, negara yang kaya raya secara materi, namun miskin jiwanya dan pengalaman serta alasan saya kembali bekerja dan mengabdi di Lampung. Namun mungkin di lain kesempatan. Insha Allah saya akan tulis lagi sambungannya apabila adik-adik suka dan berkenan dengan surat saya. Oya, biar semangat, saya berjanji akan mengirim hadiah 3 buah buku kumpulan cerpen SEMUDA karya saya, kepada 3 orang yang terpilih setelah membalas surat saya. Jadi segera tulis surat balasan ke saya dan minta tolong kepada Kak Marissa atau Kak Angga untuk meng-email-nya kepada saya. Mohon maaf belum dapat bertemu langsung dengan adik-adik semua karena saat ini saya sedang melanjutkan pendidikan lagi jauh sekali di negeri matahari terbit, Jepang. Semoga isi surat saya menginspirasi.

Salam rindu dan semangat!

Kak Fritz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s