“Okaerinasai, anata…”

Pagi ini sebuah inspirasi datang mendadak ke dalam benakku. Setelah selesai membereskan kamar studio apartemenku yang hanya berukuran 3 x 3 meter ini, aku duduk di kursi meja kerja sambil ditemani secangkir teh hangat. Tanpa menunggu lama segera saja aku mulai mengetik rangkaian kata di laptop mungil di hadapanku. Mudah-mudahan bisa menjadi sebuah cerita yang menarik.

Aku akan menulis tentang sebuah kisah kehidupan yang mungkin tidak terbayangkan bagi kita semua. Sebuah kisah cinta tepatnya. Hanya saja cinta yang dimaksud di sini bermakna sangat dalam. Alkisah ada seorang pemuda dan pemudi yang saling jatuh cinta. Tidak ada yang salah memang dalam cinta kasih mereka. Yang salah hanyalah fakta kehidupan yang mereka jalani di Jepang ini.

Sang pemuda bernama Gulfran adalah seorang anak tunggal dari satu keluarga asal Syiria yang terpaksa mengungsi jauh dari negara asal mereka akibat dari konflik yang mencekam di sana. Dua puluh satu tahun yang lalu sang ayah, Hamid, membawa istri dan anak laki-laki satu-satunya dengan menghabiskan seluruh harta kekayaannya demi menempuh perjalanan yang berbahaya sejauh mungkin ke belahan dunia bagian timur.

“Ayah ingin agar Ibu dan kamu anakku, selalu dapat melihat matahari terbit esok hari,” jawab Hamid selalu ketika ditanya Gulfran kecil alasan mereka meninggalkan Syiria.

Dan sampailah mereka di Jepang, tepatnya di kota Fukuoka. Sejak itu ayah dan ibu Gulfran bekerja sangat keras melakukan apapun yang mereka bisa untuk dapat bertahan hidup. Apapun asalkan halal karena mereka adalah keluarga muslim yang taat. Gulfran kecil tumbuh dan dibesarkan di lingkungan dan budaya Jepang di sekolah dan dalam pergaulan sehari-hari. Namun di dalam rumah, orangtuanya tetap mendidiknya sesuai dengan syariah Islam. Dan tak pernah ada masalah besar tentang itu sampai kemudian kisah cinta Gulfran dan Megumi dimulai.

Ya, Megumi, seorang gadis Jepang yang bergaya modern, sedikit meninggalkan tradisi dan budaya Jepang. Dia cerminan dari generasi baru bangsa Jepang yang penuh dengan pertanyaan dan perlahan berubah akibat dari kedahsyatan teknologi informasi yang melanda Jepang, well, tidak hanya Jepang tapi seluruh dunia. Pola fikir masyarakat Barat yang bertameng kebebasan sangat mempengaruhi Megumi, tapi tidak dengan keluarganya. Ayahnya sudah meninggal ketika dia baru berusia 9 tahun tapi Ibunya, Uechi, membesarkan Megumi, anak mereka satu-satunya dalam tradisi Jepang yang sangat kental. Walaupun akhirnya karena pergaulan baik di sekolah dan dengan teman-temannya, serta dengan media komunikasi yang sangat canggih saat ini, Megumi kemudian berkenalan dengan warna-warni kebebasan budaya Barat. Dia sempat menikmatinya dan nyaris terjerumus ke dalam pergaulan bebas, pesta pora, minuman keras dan obat terlarang, sebelum kemudian bertemu dengan Gulfran.

Mereka bertemu pertama kali di sebuah perguruan tinggi ternama di Fukuoka. Mereka sama-sama menempuh jenjang pendidikan program master. Tapi dengan motivasi yang berbeda. Gulfran ingin sekali menempuh pendidikan setinggi-tingginya agar dia dapat kembali ke Syiria dan berjuang untuk negerinya. Tentunya dengan bekal pendidikan dan keahlian yang dia miliki, bukan dengan mengangkat senjata.

Sementara Megumi melanjutkan pendidikannya hanya semata-mata karena dia tidak mau bekerja. Karena seperti pada umumnya di Jepang, pemuda dan pemudi seusianya sudah harus mandiri dan tidak lagi disupport oleh keluarganya. Dengan sekolah lagi, dia bisa dapat beasiswa sehingga tidak perlu bekerja. Walaupun di Jepang, beasiswa tersebut hanyalah berupa piutang yang diberikan pemerintah yang dapat dikurangi atau bahkan dilunasi dengan prestasi mahasiswa yang bersangkutan. Apabila tidak berprestasi, maka penerima beasiswa tersebut diharuskan melunasi uang yang diterima sebagai beasiswa setelah dia lulus dari pendidikan tersebut. Megumi tidak peduli tentang itu, yang penting baginya saat ini dia masih ingin selama mungkin menikmati kebebasannya. Dia sangat membenci semua aturan-aturan tradisi dari Ibunya yang kolot karena setiap dia mempertanyakan alasan-alasan dari aturan-aturan tersebut, ibunya selalu marah dan memberikan jawaban yang tidak masuk akal. Sekarang dia bebas. Bahkan ketika dia meninggalkan rumahnya untuk hidup sendiri dengan menyewa apartemen mahasiswa di kampusnya, dia sempat berfikir untuk tidak pernah kembali lagi.

Megumi tergolong cantik, sangat cantik malah. Oleh karena itu ketika pertama kali dia memperkenalkan diri di kelas, hampir setiap pasang mata di sana tak lepas menatapnya. Kecuali satu pasang mata milik seorang pemuda asing dengan perawakan khas Timur Tengah yang malah nampak asyik membaca buku. Bahkan setelah seminggu pertama perkuliahan berlangsung, setiap pemuda di angkatannya telah berlomba-lomba meminta nomor telfonnya dan akun Facebook atau Twitter-nya, pemuda asing itu yang kemudian dia ketahui bernama Gulfran hanya sesekali tersenyum dan menyapanya ketika berpapasan. That’s it. Walaupun mereka sering sekali bertemu karena mereka berada di laboratorium seorang sensei yang sama, tak pernah sekalipun mereka ngobrol. Namun entah kenapa, justru Megumi ingin sekali mengenal Gulfran lebih jauh. Apalagi ketika di setiap kelas yang mereka ambil bersama, Gulfran selalu aktif dalam setiap diskusi dengan bahasa Jepangnya yang sangat fasih. Sementara kebanyakan pemuda Jepang yang dia kenal malah tertidur saat di kelas. Ada sedikit rasa kagum bercampur penasaran yang tumbuh di hati Megumi.

Sampai akhirnya pada satu mata kuliah, mereka berada dalam satu kelompok yang hanya terdiri dari dua orang mahasiswa yang dipilih secara acak untuk membuat tugas paper bersama. Mau tidak mau Gulfran harus berdiskusi dengan Megumi. Tapi dasar Megumi yang tidak terlalu peduli dengan perkuliahan apalagi dengan tugas-tugasnya, dia malah memanfaatkan kesempatan itu untuk bertanya-tanya kepada Gulfran tentang dia dan kehidupan pribadinya. Pada awalnya Megumi mengira Gulfran adalah seorang yang pendiam dan tidak akan mau membicarakan kehidupan pribadinya. Tapi ternyata tidak. Gulfran menjawab setiap keingintahuan Megumi tentang dirinya, keluarganya, dan agamanya dengan bersahabat dan tidak canggung.

Dari situ, hubungan keduanya semakin dekat. Ada kesamaan di antara perbedaan mereka berdua yang bagaikan bumi dan langit. Gulfran menemukan pertanyaan, sedangkan Megumi menemukan jawaban. Mereka kemudian saling jatuh cinta tanpa pernah sekalipun mengucapkan kalimat klise, aku cinta padamu. Hubungan mereka jauh dari hubungan percintaan muda mudi Jepang pada umumnya. Mereka akan asyik berbincang-bincang dan saling mencurahkan segala permasalahan dan perasaan masing-masing selama berjam-jam di kampus baik di laboratorium, di kantin, maupun di perpustakaan, walaupun harus sering ditegur oleh penjaga perpustakaan. Tapi di luar kampus mereka jarang bertemu karena Gulfran sibuk membantu usaha restoran halal milik keluarganya, sedangkan Megumi mulai mengambil kerja part-time untuk merasakan mendapat penghasilan dari kerja keras sendiri.

Tidak lama setelah mereka berdua lulus kuliah bersamaan, Gulfran melamar Megumi untuk menikah. Tidak mudah bagi Megumi untuk menerima lamaran Gulfran karena begitu banyaknya perbedaan mereka. Namun ternyata untuk berpisah pun dia tidak sanggup. Akhirnya Megumi bersedia menikah dengan Gulfran. Pernikahan itu sendiri berlangsung sederhana, sesuai dengan tata cara Islam, dengan hanya dihadiri oleh keluarga besar dari pihak Gulfran. Sementara Megumi tidak memberitahukan perihal pernikahannya kepada ibunya sendiri karena dia yakin ibunya tak akan pernah setuju. Rasa bersalah dan keraguan akan masa depan kehidupannya bersama Gulfran sempat menjalar di hatinya karena pada hari pernikahannya itu juga, dia bersedia untuk mengikuti ajaran agama Islam yang dianut Gulfran. Megumi mencoba meyakinkan hatinya bahwa dia pasti akan bisa melupakan keraguannya tersebut. Pada hari pernikahan mereka, Gulfran mengenakan pakaian jas dan celana kain serba hitam, sementara Megumi mengenakan hijab untuk pertama kalinya dan kelengkapannya yang serba putih. Ibu Gulfran menangis melihat mereka berdua sementara Hamid tersenyum lebar.

13380347121696019606

Usai pernikahan mereka tinggal di rumah keluarga Gulfran. Gulfran mendapat pekerjaan sebagai asisten profesor di kampus mereka dulu dan juga mendapat kepercayaan untuk menjadi pengurus satu-satunya masjid di kota itu. Keraguan Megumi terhadap masa depannya sedikit demi sedikit mulai hilang. Namun sebaliknya rasa bersalah terhadap ibunya semakin besar. Setiap hari Megumi melihat perilaku Gulfran yang sangat hormat dan sayang kepada kedua orangtuanya terutama kepada ibunya. Sampai pada suatu ketika dia memberanikan diri untuk berbicara kepada Gulfran mengenai rencananya untuk mengunjungi ibunya, memperkenalkan Gulfran, dan untuk tinggal sementara bersama ibunya. Rumah ibunya berada di pinggiran kota Fukuoka sehingga walaupun agak jauh, Gulfran masih dapat pergi dan pulang bekerja ke kampus setiap harinya. Tanpa ragu sedikitpun, Gulfran menyetujui usul istrinya tersebut.

Seminggu kemudian mereka pergi menuju rumah Uechi. Saat itu adalah pertama kalinya Megumi menginjakkan kakinya kembali di depan pintu rumahnya. Dari balik pintu muncul wajah dingin wanita Jepang yang sudah lanjut usia yang tak lain adalah ibunya, Uechi. Sejenak tampak ibunya tidak mengenali Megumi yang sudah memakai hijab. Namun begitu dia teringat akan anaknya yang sudah lama meninggalkannya, Uechi berteriak histeris dan menghambur untuk memeluk Megumi. Mereka berdua berpelukan erat sambil sama-sama menangis untuk beberapa saat sebelum akhirnya sang ibu tersadar bahwa beberapa tetangga mereka mulai memperhatikan dan dia segera menyuruh mereka berdua untuk segera masuk.

Sesampainya di dalam, Megumi langsung memperkenalkan Gulfran dan menceritakan segalanya, termasuk alasannya mengenakan hijab. Awalnya terlihat raut wajah ibunya yang tegang namun kemudian berubah cerah ketika mendengar kabar gembira dari Megumi yaitu bahwa saat ini dirinya tengah hamil 3 bulan. Mereka tinggal di sana selama lebih kurang 6 bulan tanpa persoalan yang berarti sampai kemudian Megumi melahirkan seorang anak perempuan yang mereka beri nama Kiraini yang artinya cantik. Pada sekitar bulan ketujuh, mulai tampak perubahan sikap Uechi.

Uechi mulai berlaku tidak ramah kepada Gulfran seakan-akan dia takut bahwa Gulfran akan membawa Megumi dan cucunya yang baru lahir pergi jauh dari dirinya lagi. Sampai pada suatu saat, ketika mereka sedang duduk bersama di ruang makan seusai makan malam, Uechi dengan mendadak mengutarakan bahwa Megumi boleh menjadi seorang muslimah, tapi tidak dengan Kiraini, cucunya. Hal itu diutarakan layaknya sebuah perintah dan setelah selesai berbicara, Uechi meninggalkan ruang makan dan masuk ke kamarnya. Sejak saat itulah Gulfran merasa dimusuhi ibu mertuanya sendiri.

Tidak hanya itu saja, bahkan tetangganya mulai bersikap aneh terhadap dirinya dan Megumi. Pandangan sinis dan cibiran selalu mereka terima setiap mereka berpapasan dengan tetangga mereka. Dan parahnya, setiap Gulfran berangkat dan pulang kerja dengan mengendarai mobilnya, dia merasa selalu diikuti oleh mobil polisi! Entah apa yang dilakukan atau dikatakan oleh ibu mertuanya mengenai dirinya. Sempat dia mendengar gunjingan bahwa ibu mertuanya tersebut telah menyebarkan fitnah kepada para tetangga bahwa Gulfran termasuk dalam suatu organisasi teroris. Penampilan fisik Gulfran sangat sesuai dengan ciri-ciri fisik teroris yang digembor-gemborkan oleh media Barat.

Puncaknya terjadi ketika pada suatu hari Uechi memaksa Megumi untuk melepaskan hijab-nya bahkan dengan menariknya langsung dengan kasar. Gulfran yang pada saat itu baru sampai di rumah sepulangnya dari kampus, langsung melindungi Megumi yang jatuh tertelungkup sambil terisak-isak dan membawanya masuk ke kamar mereka. Sementara Uechi berteriak-teriak dari luar kamar melarang Megumi untuk mengenakan hijab-nya kembali. Dan pada saat itu juga Gulfran tidak tahan lagi. Dia bilang kepada Megumi untuk memilih antara berpisah dengan dirinya dan tetap tinggal dengan ibunya atau ikut dengannya dan berpisah dengan ibunya.

“Pilihan manapun yang kamu pilih, aku siap. Tapi Kiraini harus ikut dengan saya,” tegas Gulfran. Megumi tidak menjawab. Dia hanya terisak sambil merangkul Gulfran dengan erat seakan takut kehilangannya.

Keesokan harinya, mereka pergi meninggalkan rumah pagi-pagi sekali tanpa diketahui oleh Uechi. Karena sangat mendadak, Gulfran membawa Megumi dan Kiraini untuk sementara singgah di rumah temannya, Mahmud, yang berasal dari Irak, untuk kemudian mencari tempat dimana mereka bisa tinggal seterusnya. Sesampainya di rumah Mahmud, ternyata sedang ada pesta yang dihadiri oleh khusus teman laki-laki tuan rumah. Gulfran sambil menggendong Kiraini, bergegas menemui Mahmud sementara, karena tidak memakai hijab, Megumi disuruh menunggu di foyer.

Pada saat menunggu, Megumi melihat ada toilet di ujung lorong yang terlihat dari pintunya yang terbuka. Muncul keinginan Megumi untuk ke toilet sebentar dan perlahan dia berjalan menyusuri lorong tersebut. Sesampainya di toilet, Megumi merapikan dirinya sambil melihat ke arah cermin. Mendadak pintu toilet tertutup dan terdengar suara seseorang mengunci pintu itu dari luar. Sontak Megumi berteriak minta tolong dan terdengar suara berat yang berbicara dalam bahasa Jepang namun dengan aksen khas Timur Tengah yang memerintahkan Megumi untuk menunggu di dalam toilet sampai Gulfran selesai berbicara dengan Mahmud. Pasrah dalam ketakutan, Megumi hanya bisa kembali menangis terisak-isak di dalam toilet.

Untungnya tidak lama, Gulfran datang dan membukakan pintu untuk Megumi. Mukanya merah dan nafasnya tersengal-sengal. Gulfran terlihat sangat marah dengan Kiraini yang menangis menjerit-jerit di gendongannya. Belum pernah Megumi melihat Gulfran marah seperti itu. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Gulfran membawa Megumi untuk meninggalkan rumah Mahmud. Tak lama mereka berhenti di masjid yang sehari-harinya diurus oleh Gulfran. Gulfran membawa Megumi masuk ke sebuah kamar yang disediakan sebagai tempat beristirahat pengurus masjid. Setelah beristirahat sejenak dan menidurkan Kiraini di pembaringan yang ada di ruangan tersebut, Gulfran menceritakan apa yang terjadi di rumah Mahmud tadi.

Ternyata tadi di rumah Mahmud terjadi sebuah pertengkaran yang sengit yang dipicu oleh hal sepele yang terjadi saat pesta. Orang-orang terlibat perdebatan sengit dan saling memaki tanpa tujuan yang jelas. Gulfran yang baru datang sempat diolok-olok oleh seseorang dan mengungkit-ungkit soal dirinya yang menikahi seorang wanita Jepang. Hampir saja Gulfran terpancing emosinya, sebelum akhirnya Mahmud mengajaknya menjauh. Setelah menjauh, Gulfran bertanya kepada Mahmud tentang dimana kira-kira ada tempat tinggal yang bisa disewa oleh dia dan istrinya. Namun bukannya memberikan informasi, Mahmud malah memohon maaf bahwa tadi dia telah mengunci Megumi di dalam toilet karena dia tidak mau penampilan Megumi yang tidak memakai hijab dapat membangkitkan nafsu syahwat tamu-tamunya. Seketika emosi Gulfran memuncak dan dia langsung meninggalkan Mahmud.

Setelah itu Gulfran berkeluh kesan kepada Megumi bahwa sebenarnya dia bisa memaklumi penolakan ibunya terhadap orang asing terutama umat muslim yang memang paling kelihatan identitasnya dibanding pemeluk agama lainnya. Karena syariah Islam yang sejatinya penuh perdamaian dan akhlak mulia ternyata tidak bisa dijalankan oleh umat Islam itu sendiri. Contoh yang baru saja mereka rasakan di rumah Mahmud berupa perlakuan yang sewenang-wenang dan sama sekali tidak menghormati perasaan orang lain.

Begitu mudahnya umat Islam saling bermusuhan antar sesama, seperti di negara asalnya sendiri misalnya dan di banyak negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Bahkan Gulfran menceritakan bahwa banyak di antara orang-orang yang menghadiri pesta di rumah Mahmud tadi yang dia kenal dan kebanyakan tidak patuh terhadap peraturan di negeri Jepang ini. Seperti misalnya mengendarai mobil tanpa memiliki driving license, melakukan perdagangan tanpa izin, naik kereta tanpa tiket, dan sebagainya. Mereka juga kebanyakan tidak menyesuaikan diri terhadap budaya Jepang, yang menurut Gulfran sebenarnya sangat menghargai sesama.

“Orang Jepang itu menghargai orang lain lebih dari menghargai dirinya sendiri. Orang Jepang tidak akan pernah menyakiti orang lain. Orang Jepang tidak pernah mau untuk ditolong apalagi berhutang budi. Karena sekali pernah mendapat pertolongan, dia akan berkewajiban membalasnya seumur hidup,” jelas Gulfran dengan wajah tertunduk. Bagimana bisa Gulfran tahu lebih banyak mengenai orang Jepang ketimbang aku yang asli orang Jepang, pikir Megumi. Lama kami berdua duduk tertegun di ruangan itu tanpa berkata-kata. Sampai kemudian adzan Maghrib berkumandang dari speaker masjid yang tergantung di plafon pojok ruangan.

Tak lama kemudian, mereka mendapatkan tempat tinggal yang bisa disewa dengan harga yang cukup murah. Tempat baru mereka hanya berupa sebuah studio apartemen yang tidak terlalu besar, dengan dapur dan kamar mandi yang menjadi satu dengan satu-satunya kamar tidur yang ada. Mereka juga mendapat izin dari pengelola apartemen agar Kiraini yang masih bayi dapat tinggal bersama mereka.

Saat ini Megumi telah mengenakan hijab kembali dan setiap harinya saat Gulfran pergi ke kampus, Megumi disibukkan dengan tingkah polah Kiraini yang semakin lucu dan sehat. Saat Kiraini tertidur, Megumi membereskan kamar mereka, menyiapkan makan malam, dan sambil menunggu Gulfran pulang, dia mempunyai kesibukan baru yaitu menulis. Dia memiliki sebuah blog, yang berisi tulisan-tulisan tentang kehidupan sehari-hari dirinya sebagai seorang muslimah Jepang. Dan alhamdulillah, satu penerbit internasional tertarik untuk menerbitkan buku dari blog-nya tersebut. Kehidupannya perlahan-lahan tertata menuju suatu tujuan yang jelas. Walaupun dia sadar, masih banyak rintangan dan tantangan yang akan dia hadapi, bahkan dari keluarganya sendiri, Megumi tahu bahwa dia akan selalu berusaha dan berdoa kepada Allah SWT. Bersama Gulfran dan Kiraini, dalam Islam.

Assalamualaikum! tadaima (saya pulang)…” terdengar suara Gulfran mengucapkan salam dan menutup pintu studio apartemen kami. Ah, suamiku tercinta sudah pulang rupanya.

Okaerinasai, anata (selamat datang kembali, sayang)…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s