Gara-gara Dicukur Nenek-nenek

Jangan berperasangka buruk dulu setelah membaca judul tulisan ini. Judul tulisan ini tidaklah bermaksud negatif, akan tetapi malah ingin menunjukkan rasa kagum. Beberapa hari ini di Jepang, masyarakat menikmati libur panjang dalam rangka Golden Week, seperti yang pernah saya singgung pada tulisan saya sebelumnya. Walaupun sama sekali tidak berniat merayakannya, kesempatan hari libur ini saya manfaatkan untuk merapikan rambut. Walaupun belum panjang, namun sudah agak berantakan. Namun karena saya belum tahu tempat potong rambut atau salon yang cocok, maka saya mengajak salah satu senior di kampus untuk pergi bersama ke salon langganannya.

Salon atau lebih tepatnya barbershop di Jepang ini cukup mudah untuk ditemui. Hampir di setiap kawasan komersil bisa ditemui satu atau lebih barbershop yang berdekatan. Yang uniknya, keberadaan suatu barbershop ditandai dengan sebuah silinder yang berputar dengan warna strip biru dan merah, mirip seperti pola strip pada salah satu merk amplop surat, baik digantung maupun berdiri vertikal di sisi pintu masuk. Setelah cek dan ricek, ternyata tanda seperti ini juga ada di barbershop yang ada di Amerika Serikat.

barber1

Salah satu contoh barbershop di Jepang

Pertama kali saya mengetahui harga untuk potong rambut di Jepang, wah ternyata cukup mahal apabila dibandingkan dengan di Indonesia. Bisa sampai 10 kali lipat, yaitu sekitar 2.000 – 3.000 yen. Untung saja, senior saya tersebut mengetahui barbershop yang biaya potong rambutnya cukup murah yaitu hanya sekitar 1.000 yen. Sempat saya ragu akan kualitasnya dengan harga yang miring tersebut, namun karena saya tidak mau juga bayar mahal-mahal untuk sekedar potong rambut, ya jadilah saya ikut senior saya tersebut potong rambut di barbershop langganannya.

Barbershop ini terletak di deretan pertokoan sederhana dekat sebuah stasiun kereta api. Dari luar terlihat biasa-biasa saja, hanya ada tanda strip biru merah dan papan informasi yang bertuliskan daftar paket servis potong rambut dengan kategori A, B, C, dan seterusnya. Karena saya belum bisa membaca kanji dan hiragana saya masih sangat-sangat pas-pas-an, saya hanya bisa menebak bahwa paket A hanya servis potong rambut saja, yang paling murah, sedangkan paket B dan seterusnya mungkin ada pemberian shampoo, cream-bath, dan seterusnya. Dan paket A ini hanya seharga 1.050 yen. Paket inilah yang kami pilih.

Berbeda dengan di Indonesia, sebelum dipotong rambutnya, saya harus membayar terlebih dahulu di kasir sesuai dengan paket yang dipilih. Ruangannya tidak terlalu besar dengan nuansa warna putih dimana-mana dan cermin besar memanjang di salah satu dinding dimana kursi-kursi cukur berjejer di depannya. Pelanggan di barbershop tersebut tidak terlalu banyak sehingga segera setelah membayar, saya langsung dipersilahkan duduk di kursi cukur. Pegawai di barbershop ini tidak terlalu banyak juga, hanya terlihat dua orang pria dewasa yang saya tebak adalah barber-nya dan, ini yang buat saya bingung pada awalnya, tiga orang nenek-nenek yang mondar-mandir di ruangan tersebut. Salah satu nenek kemudian saya ketahui bertugas sebagai kasir, sementara dua yang lain saya belum tahu.

Tebakan saya tidak salah. Salah satu dari dua pria tersebut menghampiri saya dan langsung bertanya dalam bahasa Jepang. Pertanyaannya ternyata belum masuk ke dalam database kosa kata bahasa Jepang saya yang masih nyaris kosong. Tapi kemudian dia memeragakan gerakan mencukur rambut di bagian samping dan atas kepala saya. Langsung saja saya mengangguk, tanda bingung, eh, setuju 🙂

Tanpa basa-basi lagi dengan cekatan, pria tersebut merapikan rambut saya dengan teknik yang sangat sederhana tapi rapi dan lembut. Tidak ada gerakan kasar sama sekali. Gunting rambut dan sisirnya menyusuri kepala saya seperti gerakan dirijen orchectra. Dan mungkin hanya sekitar 8-10 menit kemudian, rambut saya sudah rapi kembali. Nah disinilah hal yang unik kembali terjadi.

120718-F-RH017-039

Ilustrasi Nenek di Barbershop

Setelah merapikan hampir sebagian besar rambutku dan kemudian menyisirnya rapi, pria tadi tidak meneruskan hingga selesai, melainkan digantikan oleh seorang nenek. Beliau yang kemudian dengan sangat teliti merapikan jambang, rambut halus di telinga, memberi bedak anti gatal, dan membersihkan potongan-potongan rambut dari badanku. Saya mengibaratkannya sebagai pekerjaan finishing touch yang menyempurnakan proses pemotongan rambut. Sangat profesional, teliti, rapi dan nyaman sekali. Bahkan beliau sempat mengajak ngobrol yang apa daya hanya saya balas dengan anggukan dan senyuman. Saya coba memperhatikan senior saya yang duduk di kursi cukur sebelah, dan ternyata seorang nenek yang lain sedang merapikan rambutnya juga.

Pengalaman potong rambut pertama saya di Jepang sangat berkesan sekali. Gara-gara dicukur nenek-nenek.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s