SEMUDA (Selalu Muda) Cetakan Kedua – The Phinisi Press

promo semuda 2

 

 

Kultwit resensi dari akun twitter @lailadimyati:

Sebenernya “Semuda” bukanlah novel, tapi kumpulan cerpen yang dirangkum dalam sebuah buku.

Ini sebenarnya kumpulan cerpen yang sangat menarik: ditulis dalam rentang waktu yang cukup jauh, 2004 hingga 2010.

Terlihat gaya penulisan Fritz yang mulai semakin matang. Walaupun saya tidak yakin bahwa bab dibuat berdasarkan tahun penulisan.

Namun, kontinuitas antar bab terlihat saling bertautan. Saya menebak, dari 9 org Muda, sebenarnya hanya ada 4.

Mungkin Fritz tidak kontinyu menulis di setiap tahunnya.

Di Bab pertama, sy nyaris malas melanjutkan membaca, walaupun hanya sekedar melanjutkan ke hlmn 3. “Tulisannya terlalu amatir”, pikir saya.

Namun, plot yang dipaparkan sebenarnya cukup menarik, bahkan sejak dari halaman pertama.

Kenapa? Karena dari paragraf ke dua saja, saya sudah membayangkan bahwa setting waktu Muda adalah jaman Rokoko. Sebelum revolusi Perancis.

Mungkin khayalan saya terlalu tinggi. Tapi pesan yang ingin disampaikan Fritz bahwa Muda bisa menjelma jadi siapa saja, betul2 tersampaikan.

Muda adalah malaikat. Juga pesepak bola. Jg orang papa. Jg pemalas. Jg pekerja keras. Jg pengusaha. Jg agen perubahan. Jg pembunuh bayaran.

Sudut pandang karakter tidak hanya protagonis, namun antagonis. Pun tidak hanya sebagai “saya”, namun juga “dia” dan mereka”.

Kenapa “mereka”?

Karena Muda adalah multi-karakter. Dari waria menjadi pria sahaja.

Saya salut atas perencanaan plot Semuda. Saya pecinta novel psychological thriller, yang hobi menebak ujung cerita.

Dalam Semuda, hanya ada 1 bab yang bisa saya tebak ujung ceritanya. Luar biasa.

Dan itu pun tertebak, karena alur ceritanya nyaris sama dengan cerpen yang saya buat saat kuliah, sekian belas tahun yang lalu.

Sudah dua kali saya khatam membaca Semuda. Dan semakin yakin bahwa Muda adalah karakter satir yg halus. Tidak menggurui, hny memberi contoh.

Penasaran dengan Muda? Pria yang bisa menjelma jadi miskin, juga kaya. Saleh, namun pembunuh. Rapuh, sekaligus tahan banting?

Ya baca bukunya donk 😀

Untuk Om @FritzNuzir, terima kasih atas plot-plot yang indah dalam Semuda. Saya tunggu tulisanmu berikutnya. Salam lop pis dan gaul!.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s