Mencuci Pakaian di Malam Minggu

Ngapain kok nyuci pakaian malam-malam? Malam Minggu pula? Tapi memang ya kegiatan itu yang saya lakukan. Hanya ada dua kemungkinan mengapa hal itu bisa saya lakukan. Pertama, saya terlalu sibuk dengan kegiatan di kampus selama satu minggu kemarin sehingga tidak ada waktu lagi untuk mencuci pakaian. Atau kedua, saya sangat nggak ada kerjaan di malam Minggu ini dan kesepian karena keluarga belum menyusul saya ke Jepang ini sehingga mencuci pakaian adalah cara saya menghabiskan waktu malam Minggu yang panjang ini. Jawabannya adalah kombinasi dari kedua alasan di atas walaupun lebih dominan faktor yang kedua. Maklumlah, bujang lokal.

Namun saat saya menjemur pakaian saya satu per satu di balkon apartemen nan mungil ini, benak saya melayang pada kejadian yang belum beberapa lama saya alami. Pada saat selesai sholat Maghrib tadi, sebenarnya saya berencana untuk mulai memasak makan malam. Namun baru saja hendak menyiapkan bahan-bahan ala kadarnya, terdengar suara bel berbunyi. Ada tamu rupanya, kira-kira siapa yang datang di waktu seperti ini. Ketika saya buka pintu, ternyata ada dua orang teman asal Indonesia yang datang bersama dua orang lagi yang belum saya kenal. Perawakannya seperti orang Jepang, tapi kok berjenggot dan berjubah seperti orang Arab. Ternyata mereka adalah orang muslim asli Jepang yang tinggal di daerah Kanazawa dekat Tokyo. Salah satunya bahkan ternyata seorang mualaf baru sejak satu setengah tahun yang lalu. Salah satu yang lain berjenggot sangat tebal tapi cukup good looking dan bahasa Inggrisnya cukup bagus, berbeda dengan orang Jepang yang sudah saya temui di sini. Karena beliau juga berkacamata maka sebut saja beliau, Ustadz Nobita. Beliau bersama beberapa orang yang lain datang ke kota ini untuk bersilaturahmi karena mumpung saat ini di Jepang sedang libur Golden Week.

islam_in_japan

Ilustrasi muslim Jepang

Singkat cerita, kami kemudian berkumpul di rumah seorang teman untuk bersama-sama melakukan sholat Isya’ berjamaah bersama dengan teman-teman muslim lainnya. Salah seorang dari rombongan yang baru datang, yang juga orang Jepang, beradzan dengan lantunan yang cukup unik, merdu tapi ringan. Adzan ala Jepang. Selepas sholat, Ustadz Nobita tadi berceramah dengan bahasa Inggrisnya yang cas cis cus, yang malah ditambah dengan sedikit logat Arab. Isi ceramahnya menekankan tentang pentingnya kita menjaga iman kita. Sangat jelas dan mudah dimengerti. Beliau juga sempat bercerita sekilas mengenai susahnya orang sebangsa mereka sendiri untuk menerima mereka dalam kehidupan sehari-hari. Dan betapa inginnya mereka untuk berdakwah agar semakin banyak orang Jepang yang menjadi muslim. Sangat menggugah hati. Namun bukan isi ceramahnya saja yang membuat saya akan selalu mengingatnya.

Dalam perjalanan pulang, seorang teman yang menjadi tuan rumah bagi rombongan Ustadz Nobita tadi bercerita bahwa sebenarnya Ustadz Nobita tersebut tadinya adalah seorang aktor dan penyanyi yang juga lulusan dari Inggris. Beliau kemudian menjadi muslim dan beristrikan seorang wanita kebangsaan India. Fakta itu membuat saya menjadi takjub dan bertanya-tanya bagaimana kisah masuk Islamnya Ustadz Nobita tersebut. Pasti sangat luar biasa. Ingin sekali rasanya mendengar kisahnya langsung dari mulut beliau. Sayang sekali, entah kapan saya bisa bertemu dengan Ustadz Nobita dan rombongannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s