O-Kane Mochi

O-Kane Mochi secara harafiah berarti pembawa emas dan biasanya digunakan untuk menyebut orang yang kaya raya. Tapi bukan berarti saya akan menulis tentang orang kaya di Jepang. Saya ingin bercerita tentang kekayaan hati orang Jepang dalam menghargai waktu. Karena ada pepatah bahwa waktu adalah uang, maka dapat dibayangkan betapa “kaya”-nya orang Jepang.

Penghargaan terhadap waktu langsung saya alami saat saya pertama kali menginjakkan kaki di Jepang, tepatnya di bandara internasional Fukuoka. Sebelum berangkat saya telah memberitahu pihak Universitas tempat saya akan menempuh pendidikan tentang jadwal kedatangan saya yaitu pukul setengah 3 sore waktu Jepang. Dan kemudian salah seorang staf administrasi Universitas berjanji untuk menjemput saya. Saya telah mengenal beliau sebelumnya saat beliau beberapa bulan sebelumnya melakukan kunjungan dinas ke Indonesia.

Image

Fukuoka Airport

Singkat cerita, ternyata pesawat yang saya tumpangi tiba lebih awal sehingga alhasil setelah mengambil semua barang bagasi, saya sampai di ruang tunggu kedatangan 15 menit lebih awal. Dan saya tidak melihat orang yang akan menjemput saya. Saya sudah mendengar tentang perilaku tepat waktu orang Jepang, jadi saya memutuskan untuk duduk dan menunggu saja di ruang tunggu tersebut. Toh, memang belum waktunya. Walaupun saya tidak menduga bahwa sebegitu tepat waktunya orang Jepang. Dan selama menunggu, terlintas juga di benak saya bahwa ketepatan waktu orang Jepang ternyata hanya mitos belaka. Tapi ternyata benar, tepat jam setengah 3 sore, tidak kurang atau lebih satu menit pun, sosok yang sudah kenal sebelumnya, muncul dari balik pintu masuk. Langsung saja saya lambaikan tangan dan menghampirinya dengan senyum kagum di wajah saya. Amazing!

Pada kegiatan akademik di kampus, ketepatan waktu kuliah benar-benar saya rasakan. Hampir tidak ada mahasiswa asal Jepang yang datang terlambat. Tapi ini saya anggap cukup wajar, mengingat tingkat kedisiplinan di universitas memang sudah seharusnya. Tapi hal yang sama terulang lagi pagi tadi. Dengan orang yang sama pula.

Beliau beserta istrinya berjanji untuk mengajak saya pergi ke sebuah shopping mall terdekat untuk sekedar melihat-lihat dan ngopi-ngopi di sebuah kedai kopi di dalam mall tersebut. Beliau berjanji menjemput saya jam setengah 10 pagi. Lagi-lagi tepat pukul setengah 10 pagi, bel di pintu one bedroom apartment saya sudah berdering. Dan kami pun segera berangkat.

Tapi tidak hanya waktu saja yang mereka hargai. Dengan budaya asli Jepang sendiri pun mereka sangat bangga dan penuh penghargaan. Hal ini saya sadari ketika di dalam sebuat mall yang modern, ternyata banyak saya temui retail-retail yang berjualan barang-barang tradisional, baik makanan, mainan, maupun sekedar pernak-pernik. Padahal daerah ini tidak banyak dikunjungi turis, lain halnya jika mall ini berada di daerah obyek wisata. Banyak hal-hal khas budaya Jepang yang saya temui, seperti misalnya kabuto yang merupakan topi perang yang digunakan oleh seorang samurai. Tapi yang dijual bukan kabuto dalam ukuran sebenarnya, melainkan dalam ukuran mini beserta tempat untuk memajangnya. Saya diberitahu bahwa kabuto mini tersebut biasanya dijadikan hadiah untuk seorang anak laki-laki dalam keluarga Jepang.

Image

Kabuto as a present for a boy in the family

Hal tradisional lainnya yang dijual di mall tersebut adalah hiasan koinobori. Hiasan ini berbentuk ikan koi yang dipasang di tiang di atas rumah mulai dari akhir April dan akan mencapai puncaknya pada peringatan Hari Anak Laki-laki pada setiap tanggal 5 Mei. Semakin kaya keluarga tersebut maka semakin besar hiasan koinobori yang dipasang. Yang menarik adalah walaupun teknik yang digunakan untuk membuat hiasan ini sudah modern tapi bahan yang digunakan tetap kertas asli Jepang. Sangat menarik sekali!

Image

Koinobori on top of the roof

Hal menarik yang terakhir adalah dijualnya panganan sejenis kue tradisional Jepang yang berbentuk ikan yang disebut dengan taiyaki dalam sebuah kios kecil yang terletak di tengah mall tersebut. Kue ini berisi kacang merah manis yang setelah saya makan, teksturnya mirip sekali dengan martabak. Oishii desu yo!

Image

Kue Taiyaki yang sedang dimasak 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s