Trotoar sebagai Wajah Kota Bandar Lampung

 

Seperti yang diungkapkan Bambang Eryudhawan, IAI, seorang tokoh arsitek Nasional, pada suatu forum penataran profesi yang diselenggarakan oleh Ikatan Arsitek Indonesia, bahwa orang Indonesia tidak pernah bisa membuat area pedestrian, atau yang lebih dikenal dengan trotoar, dengan baik dan benar. Hal tersebut beliau ungkapkan berdasarkan pengalaman mengunjungi kota-kota di Indonesia dan juga di mancanegara. Trotoar yang sejatinya ditujukan bagi para pedestrian atau pejalan kaki untuk melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya secara umum sangat menyedihkan kondisinya, terutama dalam aspek kenyamanan dan keselamatan para pejalan kaki. Kalaupun ada suatu area pedestian dengan kondisi yang ideal, tak jarang malah tidak ada orang yang menggunakannya sehingga akhirnya terbengkalai dan rusak. Jadi apa sebenarnya yang salah?

 

Image

Trotoar di Jakarta. Sumber: google 

 

Kota Bandar Lampung dalam setahun belakangan ini telah mengalami perubahan infrastruktur perkotaan yang cukup signifikan. Salah satu yang paling menonjol adalah perubahan “wujud” trotoar yang ada di sepanjang jalan-jalan utama di kota Bandar Lampung ini. Hal ini menjadi cukup menjadi perhatian dan perbincangan di masyarakat dikarenakan kegiatan pengerjaannya yang terlihat dengan jelas di seluruh perkotaan secara bersamaan dan dalam waktu yang cukup lama. Walaupun agak terlambat karena pekerjaannya sudah berjalan, namun tetap tidak ada kata terlambat untuk kita bahas dalam tulisan ini mengenai seperti apa seharusnya area pedestrian yang ideal itu berikut aspek-aspek perencanaannya, dengan tujuan agar di kemudian hari dapat ditingkatkan menjadi lebih baik lagi.

Pada kasus perubahan area pedestrian atau trotoar di Bandar Lampung, yang sangat disayangkan adalah yang menjadi dasar dari perubahan tersebut adalah suatu alasan yang bisa dianggap “keliru” pada era pembangunan yang berkelanjutan saat ini. Sejak awal alasan dari perubahan trotoar ini adalah untuk memperlebar ruas jalan untuk kendaraan kurang lebih 1,5 meter di sebelah kiri dan kanan. Sehingga trotoar harus bergeser mendekati batas lahan masyarakat dengan menutupi saluran drainase yang tadinya terbuka. Harapannya dengan begitu kemacetan yang terjadi akan berkurang. Padahal kenyataannya tidak sepenuhnya tepat. Terbukti kemacetan tetap terjadi. 

 

Image

Pengerjaan trotoar baru di Bandar Lampung. Sumber: Lampungpost.com

 

Jalan yang lebar tidak serta merta mengurai kemacetan karena banyak faktor lain yang harus diperhatikan juga seperti misalnya keberadaan transportasi publik yang baik, kebijakan pengadaan kendaraan bermotor yang baru, perilaku pengendara kendaraan bermotor dalam berlalu lintas, dan masih banyak lagi. Coba kita lihat saja, apakah kurang lebar jalan-jalan di kota Jakarta? Kenyataannya kemacetan yang sudah dalam kriteria “parah” masih saja tetap terjadi. Malah lebih jauh lagi pembuatan fly-over pun tidak memecahkan masalah kemacetan. Di kota Surabaya misalnya, pemerintah setempat telah sepakat untuk tidak membangun fly-over karena dampak negatif yang ditimbulkan cukup banyak. Prof. Dr. Ir. Lilianny Sigit Arifin, Ph.D., seorang akademisi bidang Arsitektur di Surabaya, dalam sebuah diskusi berkomentar, pembuatan fly-over hanya akan memperparah polusi udara dan merubah karakter kota (image of the city) menjadi lebih “keras” dan tidak humanis. Sayangnya malah di kota Bandar Lampung, beberapa tiang pondasi fly-over sudah mulai bermunculan.

Kembali ke tema awal, area pedestrian mungkin hanya dipandang sebagai pelengkap dalam sebuah perancangan ruas jalan. Lebih buruknya lagi, area pedestrian dalam sebuah gambar perancangan ruas jalan bisa hanya berupa dua buah garis paralel yang berjarak 1,5m satu dengan yang lain, hanya itu saja dan tidak lebih. Hasilnya adalah suatu area yang sempit, beralaskan paving beton yang keras dan berdebu, tanpa ada pelindung dari sinar matahari dan polusi asap kendaraan bermotor, serta tanpa pengaman dari lalu lintas yang berbahaya. Jadi tidak perlu lagi bertanya-tanya kenapa banyak area pedestrian atau trotoar yang tidak digunakan atau malah beralih fungsi menjadi tempat parkir atau tempat berjualan bagi para pedagang kaki lima. Padahal sebenarnya area pedestrian menunjukkan suatu karakter humanis pada suatu kota. Bukankah kota itu dibuat untuk semua manusia yang menjadi masyarakatnya? Bukan untuk kendaraan bermotor yang notabene hanya dipunyai oleh kalangan yang mampu saja.

Bukanlah alasan yang tepat bahwa berjalan kaki untuk beraktivitas bukanlah kebudayaan kita sehingga hal tersebut belum menjadi sesuatu kebiasaan di masyarakat. Ketika kendaraan bermotor belum ada, manusia dimanapun dia berada, di Eropa atau di Asia, akan melakukan aktivitas berpindahnya dengan berjalan kaki. Dan sampai saat ini, walaupun setelah kendaraan bermotor menjadi sedemikian dominan dalam proses berpindah (commuting), sebenarnya faktanya adalah berjalan kaki tetap menjadi sesuatu metode commuting yang paling ramah lingkungan dan efisien untuk perjalanan jarak pendek. Karena untuk suatu perjalanan jarak pendek, mesin kendaraan bermotor akan dimulai dari kondisi yang dingin dan akan masih tetap berada pada kondisi yang dingin ketika mencapai tujuan. Padahal sebenarnya pembakaran yang paling banyak membutuhkan energi dan mengeluarkan emisi yang paling tinggi adalah ketika mesin kendaraan bermotor dihidupkan dalam kondisi dingin.

Jadi apa alasan sebenarnya selain dari akibat suatu kondisi kegagalan dalam perencanaan kota dan daerah yang disebut urban sprawl dimana suatu area perkotaan berkembang sedemikian pesat secara horisontal sehingga penduduknya harus menempuh jarak yang sangat jauh untuk beraktivitas? Penyebab utamanya sederhana saja adalah kegagalan dalam menciptakan suatu area pejalan kaki yang nyaman, aman, dan berfungsi secara baik untuk kegiatan berjalan kaki.

Area pedestrian atau pejalan kaki yang baik akan memiliki suatu ruang untuk berjalan kaki dengan jarak bersih minimal 2 meter sehingga nyaman untuk dua orang pejalan kaki berjalan bersama dan atau berpapasan dengan pejalan kaki yang lain. Dan tidak hanya cukup dengan ruang untuk berjalan kaki saja, akan tetapi perlu diperhatikan bagaimana agar kegiatan berjalan kaki bisa menjadi kegiatan yang nyaman dan menyenangkan. Dimulai dari material penutup permukaan yang harus diperhatikan dengan memilih bahan yang tidak terlalu halus sehingga dapat menyebabkan tergelincir dan juga tidak terlalu kasar sehingga dapat menyebabkan tersandung. Material lokal yang mudah dirawat dan tahan terhadap faktor alam akan menjadi pilihan yang tepat.

Kembali lagi ke contoh kasus trotoar baru di Bandar Lampung, beberapa ruas trotoar yang baru memang sudah dibuat cukup lebar seperti yang ada di sepanjang Jalan Kartini dan Jalan Raden Intan. Setelah sempat awalnya di beberapa tempat seperti misalnya di Jalan Jenderal Sudirman, trotoar yang baru agak “pas-pasan”  dari segi lebarnya. Namun yang lagi-lagi menjadi hal yang sangat disayangkan adalah material penutup permukaan yang digunakan yang berupa keramik lantai biasa. Keramik ini terlihat mengkilap dan tipis yang biasanya digunakan untuk penutup lantai di dalam sebuah bangunan. Selain dapat menyebabkan pejalan kaki rawan terpeleset, keramik semacam ini tidak tahan terhadap cuaca dan tekanan dari kegiatan berjalan kaki. Apalagi di trotoar sepanjang jalan-jalan utama seperti Jalan Kartini dan Jalan Raden Intan dimana kegiatan berjalan kaki pasti akan lebih intensif. Ditambah lagi pemilihan warna dan pola dari keramik tadi yang sepertinya tidak mencerminkan karakter seni dan budaya setempat. 

 

Image

Trotoar warna-warni di Jl. Kartini, Bandar Lampung.

Sumber: lampung.tribunnews.com

 

Selanjutnya yang juga belum nampak dari trotoar baru di Bandar Lampung adalah aspek yang berkaitan dengan faktor alam, pengaruh sinar matahari dan curah hujan yang sangat kuat di daerah tropis menjadi suatu faktor yang seringkali menyebabkan ketidaknyamanan dalam berjalan kaki, ditambah dengan faktor polusi udara dari asap pembuangan kendaraan bermotor. Tidak ada yang lebih tepat untuk menjadi solusi dari permasalahan ini selain dengan menghadirkan elemen area peneduh di area pejalan kaki ini. Area peneduh ini terdiri dari deretan pohon peneduh yang melindungi dari terik matahari dan hujan, serta dilengkapi dengan area taman yang dapat menjadi penyaring asap polusi dari kendaraan bermotor. Area taman ini juga dapat berfungsi sebagai pembatas sekaligus pelindung bagi para pejalan kaki dari arus lalu lintas yang berbahaya.

Dan lebih dari itu area taman ini juga dapat menambah kenyamanan bagi para pejalan kaki, apalagi apabila dilengkapi dengan street furniture seperti tempat duduk, lampu taman, tempat sampah, dan sebagainya. Sehingga idealnya, area pedestrian ini selain dapat berfungsi sebagai area pejalan kaki secara optimal, akan berfungsi juga sebagai ruang terbuka publik yang nyaman, ramai, dan hijau yang secara otomatis akan memiliki potensi kegiatan sosial, ekonomi dan pariwisata yang tinggi. Sungguh merupakan daya tarik yang luar biasa apabila di sepanjang Jalan Kartini dan Jalan Raden Intan dihiasi dengan pepohonan yang rindang serta vegetasi lain yang sedap dipandang. Yang terbayang adalah sebuah pemandangan seperti di sepanjang Orchard Road di Singapura. 

 

Image

Orchard Road, Singapore

Sumber: google

 

Namun suatu trotoar yang kondisi fisiknya ideal pun tidak serta merta dapat berfungsi dengan baik. Ada beberapa aspek lain yang harus diperhatikan antara lain yaitu ketersambungan atau konektifitas trotoar dengan fungsi-fungsi publik seperti mall, sekolah, kantor, pasar, dan sebagainya. Dengan begitu trotoar tersebut pasti akan digunakan secara intensif. Selanjutnya adalah keterhubungan dengan keberadaan transportasi publik yang ada. Keberadaan Bus Rapid Transit (BRT) Trans Bandar Lampung dan fasilitas haltenya harus berintegrasi dengan fasilitas area pejalan kaki yang aman dan nyaman. Sehingga penumpang BRT begitu turun langsung dapat beraktivitas ke tujuannya masing-masing dengan menggunakan trotoar. Namun kondisinya yang ada saat ini agak memprihatinkan. Keberadaan halte BRT justru memutus jalur trotoar dengan lokasinya yang tepat di tengah-tengah trotoar dan tinggi tanpa diberi fasilitas ramp atau tangga yang memadai. Padahal telah dengan jelas ditetapkan dalam Undang-undang Penataan Ruang No. 26 Tahun 2007 bahwa pada area pedestrian tidak boleh ada yang menghalangi dalam bentuk bangunan atau fasilitas lainnya. 

Keberadaan pedagang kaki lima di trotoar juga menjadi isu tersendiri. Tidak boleh lagi terjadi pembiaran pada para pedagang kaki lima yang berjualan di jalur trotoar. Karena kalau masih dibiarkan, sebagus apapun trotoar yang baru ini, nasibnya tidak akan jauh berbeda dengan trotoar yang lama. Terbengkalai, tidak pernah digunakan, dan akhirnya rusak sedikit demi sedikit.

Dan yang terakhir tapi tak kalah penting adalah aspek aksesibilitas pada area pedestrian tersebut. Area pedestrian harus dapat digunakan oleh setiap orang apapun kondisi fisiknya. Mulai dari anak-anak sampai manula, mulai dari orang sehat sampai orang sakit, pria dan wanita, ibu hamil, ataupun orang-orang yang berkemampuan berbeda (people with different abbilities) seperti tuna netra, tuna rungu, pengguna kursi roda dan sebagainya. Jadi yang perlu diperhatikan adalah faktor kemudahan penggunaannya. Hampir sebagian besar trotoar yang ada di Provinsi Lampung umumnya dan Kota Bandar Lampung khususnya masih secara fisik terpisah-pisah oleh adanya entry-exit area keluar masuk ke lahan masyarakat dan juga persimpangan jalan. Akibat dari kondisi itu, pejalan kaki terpaksa harus melangkah turun setinggi kurang lebih 20 cm dan naik kembali setinggi kurang lebih 20 cm juga pada setiap area keluar masuk bangunan tanpa adanya fasilitas ramp. Tentunya area pedestrian ini menjadi suatu area yang mustahil dilalui oleh para pengguna kursi roda atau pun tuna retra misalnya. Bahkan untuk pejalan kaki secara umum pun sangat merepotkan. Alhasil trotoar tersebut akan sangat jarang sekali digunakan. Untuk mensiasati ini seharusnya bagian trotoar pada area keluar masuk bangunan harus didesain secara khusus, misal dengan penggunaan ramp yang landai dan aman, atau dapat dengan menaikkan level permukaan lahan pada area keluar masuk tersebut sampai ke level permukaan trotoar. 

 

Image

Entry-exit pada Trotoar di Chiangmai, Thailand

Sumber: Dokumen Pribadi

 

Pada trotoar yang baru ini sebenarnya banyak tersimpan harapan masyarakat untuk merubah “wajah” kota menjadi lebih baik. Namun sayangnya perubahan yang terjadi masih belum optimal baik dalam perencanaannya maupun pelaksanaannya. Memang kondisi trotoar yang belum optimal ini tidak hanya terjadi di Kota Bandar Lampung saja. Sebagai contoh di Kota Metro juga terjadi pembuatan trotoar baru dengan kondisi yang kurang lebih sama dengan yang ditulis di atas. Hanya saja hal ini harus menjadi perhatian yang sangat serius karena Kota Bandar Lampung adalah ibukota Provinsi Lampung dimana pembangunan yang ada di kota ini haruslah dapat menjadi contoh yang baik bagi pembangunan yang ada di seluruh daerah di Provinsi Lampung. Bukan hanya sekedar untuk memenuhi kepentingan satu pihak saja. Dan sekali lagi, pembangunan saat ini haruslah didasari jiwa sustainability atau keberlanjutan. Keberlanjutan maksudnya bukan sekedar proyek-proyeknya yang berlanjut, tapi manfaatnya yang harus dapat dirasakan oleh generasi yang akan datang, dan yang paling penting, melestarikan lingkungan alami tempat anak cucu kita hidup nantinya.

 

Fritz Akhmad Nuzir, S.T., M.A., IAI., IALI.

Ketua Program Studi Arsitektur Universitas Bandar Lampung dan Ketua Umum Ikatan Arsitek Lansekap Indonesia (IALI) PD Lampung

*Tulisan ini diterbitkan di majalah Media Kontruksi Lampung yang diterbitkan oleh Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Daerah (LPJKD) Lampung 

One Comment Add yours

  1. Bicara trotoar dalam suatu kota apa bila ingin benar2 bermanfaat tidak cukup hanya dengan cara encrit2,,karena trotoar adalah salah satu moda transportasi yg paling awal dalam semua kota,,dgn adanya perkembangan moda dan system transportasi [terutama kendaraan bermotor], maka perlu ada system yg jelas dalam perpaduan antar moda, baik kendaraan umum/masal maupun pribadi [termasuk pejalan kaki /mungkin termasuk speda] disinergikan system perparkiran dan termasuk pola pertokoan yg menyangkut akses costemer kepertokoan.
    Selama hal ini tidak diperhatikan maka system pedesterian hanya menuai kesiasian belaka. Mungkin sudah saatnya aturan2 ttg bangunan [building code] Bandarlampung diregulasi secara total. Pola2 pembangunan yg selama ini bertumpu pada system finalty sudah sepantasnya di ubah dengan reward, mereka yg melanggar hrs dihukum berat sementara yg menyumbang [merelakan sebagian lahanya untuk umum/ruang terbuka n perparkiran] diberi insentif bisa menyangkut kemudahan ijin, keringanan pajak, atau penambahan luas atau ketinggian bangunan yg akan memberikan bentuk dan ketinggian bangunan bervariatif sehingga merubah penampilan wajah kota menjadi tidak membosankan dg jarak set back dan ketinggian bangunan yg seragam seperti selama ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s