SCHOENE TRAUME 02

 

“APA! Jangan bercanda kamu, Lena!” Tukas Muda begitu selesai ceritaku tentang kejadian semalam.

“Kok kamu sama saja dengan Emre sih?! Buat apa aku bercanda?! Iya sayang! Aku bermimpi semalam! Dan sekarang aku takut…” Jawabku setengah berteriak. Rasa takutku mulai bercampur dengan rasa kesal karena kedua orang yang paling dekat denganku tidak mempercayaiku. Dan air mata mulai menetes kembali di pipiku.

“Okay my flower, don’t cry…I believe you…” Kedua tangannya meraihku dan memelukku. Kurasakan degup jantung Muda semakin kecap ketika dia mendekapku. Apakah dia merasa takut juga?

“Sekarang tenang dulu, Lena. Bagaimana kalau kita bicarakan ini di apartemenmu? Di sini tidak aman.” Kata Muda dengan nada suara yang lebih pelan. Terasa getaran di setiap katanya.

“Ya sayang.”

Segera kami beranjak dari meja tempat Muda sedari tadi menungguku. Kemudian kami berpamitan dengan Herr Steiner dan bergegas keluar dari pintu belakang Cafetaria. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, namun sinar matahari musim panas masih bersinar dengan teriknya. Kami berjalan menyeberangi perempatan jalan utama di depan Cafetaria tanpa menyadari sepasang mata mengawasi kami dari sudut perempatan jalan yang lain. Dan juga berpasang-pasang mata yang lain.

Sesampainya di apartemen, segera kumerebahkan diri di sofa ruang tengah sementara Muda menyusul setelah menutup pintu apartemenku. Lelah sekali rasanya hari ini, lebih dari hari-hari biasanya. Mungkin karena beban pikiran yang tak henti menghantuiku. Mengapa aku bisa bermimpi?

“Lena, coba kamu ingat kembali apa yang sebenarnya terjadi? Apakah kamu benar-benar bermimpi?” Kata Muda sembari duduk di kursi sofa lain di hadapanku.

“Sudah Muda. Sudah aku coba ingat seharian ini. Dan aku yakin sekali aku memang telah bermimpi.”

“Okay. Lalu apa kamu masih ingat apa yang terjadi dalam mimpimu?”

Sejenak aku tertegun. Timbul keraguan untuk menceritakan isi mimpiku. Selain karena aku hanya berhasil mengingat sebagian kecil isinya saja, dan juga karena aku takut Muda semakin tidak mempercayaiku. Dan akhirnya aku pun menggeleng.

“Tidak, aku tidak ingat.”

“Kamu yakin, Lena?” Sahutnya tidak percaya.

“Ya sayang.”

Muda tampak gelisah. Entah apa yang dipikirkannya. Sepertinya ada sesuatu yang sangat mengganggunya. Cukup lama kami tidak berkata-kata. Hanya Muda yang semakin terlihat gelisah. Sebentar-sebentar dia berdiri, berjalan ke arah jendela, mengintip keluar, dan kembali duduk. Sepertinya ada sesuatu yang ia tunggu.

“Lena, ada sesuatu yang sudah lama ingin aku ceritakan ke kamu. Sekarang sepertinya aku harus menceritakannya.” Suara berat Muda memecahkan kesunyian kami. Suara ini biasa kudengar saat Muda sedang bersedih. Perasaanku semakin tidak enak.

“Ada apa, sayang?” Kataku sambil mendekat ke arahnya.

“Kamu ingat kenapa kita tidak bisa bermimpi?”

“Karena peristiwa Black Valentine itu bukan?”

“Iya, tapi Black Valentine itu tidak seperti yang semua orang di dunia ini tahu…” Kalimatnya terhenti sejenak.

“Maksud kamu?”

“Sebelum aku ceritakan, kamu harus berjanji bahwa kamu akan segera meninggalkan Berlin dan bersembunyi sejauh mungkin setelah kamu tahu yang sebenarnya. Janji?”

“Aku tak mengerti, sayang!”

Tanpa mempedulikan ucapanku lagi, Muda mulai bercerita. Black Valentine katanya adalah sebuah konspirasi terbesar di sepanjang sejarah manusia karena melibatkan semua pemimpin negara-negara besar di dunia yang tergabung dalam United Nation (UN). Yang meledakkan DC Headquarter sebenarnya bukan sekelompok teroris, akan tetapi diledakkan secara otomatis atas perintah langsung dari Dewan Keamanan UN.

Perintah tersebut adalah wujud dari kesepakatan UN untuk menghapuskan mimpi dari bagian kehidupan manusia selamanya. Alasannya adalah demi kedamaian dunia. Negara tanpa mimpi seperti yang dipraktekkan oleh Jerman ternyata berhasil menjadi sebuah negara yang maju dan makmur. Dan juga berdasar penelitian lebih lanjut, bahwa tanpa mimpi, manusia akan lebih stabil, damai, dan tidak ambisius. Dengan begitu harapannya tidak akan ada lagi peperangan.

Sepertinya memang pemerintah punya alasan yang sangat mulia namun ternyata ada juga alasan lain yang melatarbelakangi kesepakatan semua pimpinan negara UN. Kebanyakan pimpinan negara yang menjadi otak dari kesepakatan tersebut ternyata mempunyai ambisi untuk menjadi penguasa di negaranya selama-lamanya. Mereka tahu bahwa tanpa mimpi maka tidak ada orang yang bisa menjadi pemimpin. Karena akibatnya manusia tidak lagi punya ambisi dan cita-cita. Manusia berubah menjadi seperti robot yang mudah diatur.

Brak !!!

Terdengar suara seperti pintu didobrak. Muda berhenti sejenak, mengintip keluar dari pintu depan apartemen dan kembali duduk dengan nafas terengah-engah.

“Ada apa, Muda?!” Tanyaku khawatir.

“Tidak apa-apa. Kamu percaya aku kan?”

“Iya aku percaya. Tapi apa hubungannya itu semua dengan aku?”

“Okay, biarkan aku selesaikan ceritaku.”

Johann dan Anje Reinhart, orang tuaku, sebenarnya tidak dibunuh oleh sekawanan perampok. Sebaliknya mereka masih hidup sampai sekarang. Merekalah otak dari Dream Fighter. Mereka memutuskan untuk menghilang karena mereka mengetahui rencana-rencana pemerintah yang sebagian besar tidak berperikemanusiaan. Hanya demi keuntungan pimpinan-pimpinannya saja. Setelah lebih dari 20 tahun mereka bekerja untuk pemerintah, mereka memutuskan untuk berhenti dan berlibur sejenak.

Sekembalinya dari berlibur mereka tidak hanya membawa aku saja, akan tetapi mereka juga membawa mimpi mereka yang baru, berjuang untuk kemanusiaan. Mereka memulai suatu gerakan oposisi bawah tanah yang selalu mengawasi pemerintah dan mengambil tindakan konfrontatif apabila diperlukan. Gerakan ini lambat laun mulai dianggap mengganggu oleh pimpinan-pimpinan yang korup sehingga ketika terjadi kesepakatan konspirasi Black Valentine, gerakan inilah yang dikambinghitamkan. Dan gerakan ini dilabeli oleh masyarakat dengan nama Dream Fighter, nama yang sangat disukai oleh Johann karena sesuai dengan cita-citanya.

Muda kemudian bercerita bahwa dalam persembunyian, kedua orang tuanya tetap memperhatikannya. Mendidik dia menjadi seorang petarung dan mempersiapkannya menjadi aset bagi perjuangan mereka. Johann selalu mengingatkan bahwa suatu saat nanti Muda akan menjadi pemimpin besar Dream Fighter dan dunia!

“Tapi Muda, bukannya Dream Fighter selalu menggunakan kekerasan bahkan tidak segan untuk membunuh dalam setiap aksinya?” Potongku.

“Ya, tetapi hanya terhadap orang pemerintahan yang bersalah. Apabila ada keluarganya yang menjadi korban, maka itu adalah demi kebaikan manusia. “Jawabnya lugas. Seketika aku merasa takut. Aku tidak kenal Muda yang ini. Mata tajamnya memancarkan sorot kegilaan yang menakutkan.

Drap! Drap! Drap!

Suara derap sepatu orang berlari terdengar dari arah tangga apartemen. Tidak hanya satu orang, seperti satu peleton. Raut muka Muda menegang. Dia mendadak berdiri dan menarik tanganku.

“Ayo ikut aku!”

Kami berlari keluar apartemenku dan bergegas naik tangga menuju ke atas. Lantai demi lantai kami lalui dengan berlari. Apartemenku terletak di lantai 4 sementara total lantai di gedung apartemenku adalah 9 lantai. Lantai ke 10 adalah sebuah lantai dak yang terdapat sebuah helipad. Kami terus berlari sampai akhirnya kami sampai di lantai teratas. Pintu keluar dari ruang tangga ternyata terkunci. Pintu itu terbuat dari besi yang terlihat sangat kokoh. Kami berhenti dengan nafas terengah-engah, sementara suara derap langkah semakin keras terdengar.

“Muda, bagaimana ini?!?!” jeritku panik.

“Kesini!” Muda menarikku menjauh dari pintu dan menunduk.

DUAR!!!

Tiba-tiba pintu tersebut meledak. Dari balik pintu, sinar senja musim panas menyeruak dari balik asap ledakan. Terdengar suara mesin yang memekakkan telinga.

“SEMINGGU YANG LALU, TIM PENELITI DARI DREAM FIGHTER MENEMUKAN SEMACAM SERUM YANG DAPAT MENGEMBALIKAN KEMAMPUAN BERMIMPI MANUSIA! MAAF LENA, KEMARIN SERUM ITU AKU UJICOBAKAN KE KAMU. AKU CAMPUR DALAM MAKANAN YANG AKU BAWAKAN UNTUKMU KEMARIN! MAAF!” Teriak Muda di tengah suara bising mesin di luar bercampur dengan derap langkah dari arah tangga.

“APA?!” Balasku kebingungan.

Tanpa mempedulikan kebingunganku, Muda menarikku keluar melalui lubang pintu yang sekarang telah berlubang. Sesampainya di luar, kami disambut oleh deru angin yang berputar-putar kencang dan suara mesin yang meraung-raung. Sumber dari suara itu ternyata adalah sebuah helikopter yang berada tepat di depan kami. Tanpa menoleh ke belakang, Muda menarikku berlari menuju helikopter tersebut.

“MASUK, LENA!” Muda menyuruhku untuk masuk ke dalam helikopter tersebut. Dari dalam helikopter terlihat dua sosok sepasang orang tua yang memakai seragam dengan logo DF di dada mereka. Aku tertegun, badanku tidak mau bergerak!
Melihatku tidak bergerak, Muda mengangkat tubuhku masuk ke dalam helikopter.

DOR!

Terdengar suara tembakan dari arah ruang tangga. Muda terjatuh, kakinya tertembak. Dari dalam helikopter aku menjerit tertahan.

“AYO KITA PERGI!” Terdengar suara lelaki tua memerintah dengan aksen Jerman Timur yang kental.

“TAPI MUDA MASIH BELUM NAIK! Jeritku sambil melihat ke arah Muda yang masih mencoba berdiri.

“BIARKAN SAJA! DIA TAHU DIA HARUS BERKORBAN. DARAH YANG ADA DITUBUHMU LEBIH PENTING, LENA!” Jawab seorang wanita tua. Bagaimana dia tahu namaku?

Mesin helikopter bersuara semakin keras pertanda helikopter siap tinggal landas. Kemudian secara perlahan, helikopter mulai mengangkasa. Muda telah berhasil berdiri dan menatap ke arah helikopter dengan pandangan aneh. Seperti marah bercampur sedih dan senang. Tanpa berkata apa-apa dia berbalik badan dan mulai berlari menjauhi ruang tangga. Sementara dari arah ruang tangga muncul beberapa sosok hitam yang berlari mengejar Muda.

Sinar matahari senja musim panas menyilaukanku dan tiupan angin dari baling-baling helikopter menerpa wajahku. Dari atas kulihat sosok Muda berlari membelakangiku, sampai ke tepi lantai 10 gedung apartemen, melompat terjun bebas tanpa ragu-ragu dan menghilang.

TIDAK!!!

Aku terbangun dengan keringat dingin mengalir deras di seluruh permukaan kulit tubuhku. Air mata mengalir perlahan di kedua pipiku. Kepalaku terasa berat dan jantungku masih terasa berdegup kencang. Mataku menyapu ke sekeliling kamar. Semburat merah matahari pagi menyeruak tipis dari balik tirai kamarku. Apakah aku bermimpi?

THE END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s