SCHOENE TRAUME 01

TIDAK!!!

 
Aku terbangun dengan keringat dingin mengalir deras di seluruh permukaan kulit tubuhku. Air mata mengalir perlahan di kedua pipiku. Kepalaku terasa berat dan jantungku masih terasa berdegup kencang. Mataku menyapu ke sekeliling kamar. Semburat merah matahari pagi menyeruak tipis dari balik tirai kamarku. Apakah aku bermimpi?

Sepanjang pagi hari itu kuhabiskan dengan duduk termenung di atas tempat tidurku. Dengan penuh keraguan kumencoba mengingat kembali seperti apa mimpiku semalam. Namun walaupun telah berulang-kali kucoba memutar ulang mimpi itu, yang kuingat hanyalah sepotong adegan yang sangat samar. Aku berada di suatu tempat yang sangat terang dan berangin dan di kejauhan kumelihat sesosok orang berlari membelakangiku, kemudian tiba-tiba melompat dan menghilang. Dan entah kenapa kuterbangun dengan perasaan sedih yang mendalam.

Adegan itu sekarang seperti terus terputar berulang-ulang di bena kku. Seperti layaknya sebuah rekaman kaset yang telah rusak. Namun ada hal lain yang sebenarnya sangat membuatku ketakutan. Aku masih tidak percaya bahwa aku telah bermimpi. Sesuatu yang telah sangat lama tidak kualami. Hampir kulupa rasanya bermimpi. Dan tidak hanya aku saja, saat ini semua orang telah berhenti bermimpi.

“Bercanda kamu !!!”

“Ssst…jangan keras-keras Emre. Nanti ada yang dengar…” kataku sambil berbisik. Sampai kepalaku pun ikut tertunduk.

“Kamu yang bener dulu dong! Mana mungkin kamu bisa bermimpi. Tidak ada orang yang bisa bermimpi lagi! Sejak kejadian itu…”

“Ada apa ini ribut-ribut? Emre, cepat kamu siapkan pesanan pelanggan kita. Dan kamu Malena, cepat hidangkan ini ke pelanggan yang duduk disana.” Suara menggelegar dari Herr Steiner memutuskan obrolanku dengan Emre. Ya, aku memutuskan untuk menceritakan tentang mimpiku semalam kepada sahabat dekatku, Emre, seorang pemuda imigran asal Turki yang berbadan besar dan gempal. Namun sepertinya keputusanku salah karena selain Herr Steiner memarahi kami, aku harus memastikan tidak ada yang peduli dengan teriakan dari Emre tadi.

“Hei Malena, cepat!” Tegur Herr Steiner lagi membuyarkan lamunanku.

“Ya, Herr Steiner.” Jawabku gugup. Kedua tanganku meraih nampan yang berisi pesanan dari pelanggan dan ketika mataku mengenali isi dari nampan itu, ada perasaan lega mengalir di hatiku. Sepotong roti Bretzel tanpa garam dan secangkir kopi hitam. Hanya ada satu orang pelanggan setia di Cafetaria Steiner ini yang selalu memesan menu yang sama seperti ini. Dan dia juga selalu duduk di tempat yang sama, meja baris kedua dari arah kasir. Jauh dari jendela dan pintu.

Kubawa nampan itu dan dengan cepat berjalan ke arah meja pelanggan tersebut. Dan tak lama terlihat sosoknya dengan posisi favoritnya saat menunggu pesanan datang. Badan bersandar ke kursi, kedua tangan tertangkup di depan dada, dan kepala tertunduk dengan mata terpejam. Seperti orang tertidur.

“Sayang…” Sapaku lembut ke arahnya. Dia mengangkat kepalanya dan tersenyum melihatku. Senyum yang terindah sedunia.

Pelanggan spesial ini tidak lain adalah kekasihku. Namanya Muda. Dia adalah seorang pemuda keturunan Asia, tepatnya dari Indonesia. Perawakannya tegap dan tergolong tinggi besar dibanding pemuda Asia lainnya. Kulitnya sawo matang namun agak terang. Hidungnya mancung dan kedua alis matanya tebal melekat di atas matanya yang kecil. Pandangan matanya tajam.

Sejak umur 15 tahun, dia diadopsi oleh sepasang turis asal Magdeburg yang sedang berkunjung ke Indonesia, Johann dan Anje Reinhart. Ayah kandungnya meninggal dunia akibat serangan jantung dan ibunya telah lebih dulu meninggalkan mereka setelah kedua orangtuanya bercerai. Mereka membawanya ke Jerman dan menyayanginya seperti layaknya anak kandung mereka sendiri. Namun itu tidak berlangsung lama. Tiga tahun  kemudian kedua orang tuanya tewas dibunuh oleh kawanan perampok dan sejak saat itu Muda Reinhart hidup sendiri.

“Lena, kamu semakin cantik tiap hari dan hari ini bahkan kamu lebih cantik dari pelangi.” Ujarnya dalam aksen Jerman-Indonesianya yang unik menyambut kedatanganku. Ah, dia memang pintar sekali merayuku dan seketika aku tersipu.

“Sudah cukup rayuannya, sekarang kamu makan dulu.” Kataku sambil menyodorkan nampan berisi menu favoritnya.

“Umm…Muda sayang…ada yang ingin aku ceritakan. Kamu tunggu ya, sebentar lagi jam kerjaku selesai.” Pintaku. Hatiku mulai teringat kembali peristiwa aneh yang terjadi semalam dan rasa takut pun melanda kembali. Muda sepertinya bisa membaca raut wajahku yang cemas. Ia pun tersenyum dan mengangguk.

“Happy Birthday, flower…” Bisiknya perlahan.

Hari ini, tanggal 6 Juli 2020, adalah hari ulang tahunku yang ke 29. Namaku Malena Schumann. Ayahku, Heinz Schumann, adalah seorang pria Jerman tulen yang pensiunan tentara. Sedangkan ibuku, Gabriela Cortez, adalah seorang imigran asal Argentina yang menghabiskan hampir sepanjang hidupnya sebagai perawat di sebuah rumah sakit tentara. Ya, disanalah mereka bertemu dan merajut cintanya.

Aku lahir di sebuah kota kecil di sebelah barat daya Berlin yang bernama Bernburg. Sejak lulus dari sekolah menengah atas, aku memutuskan untuk meninggalkan Bernburg dan kedua orang tuaku untuk melanjutkan kuliah di Berlin. Keluargaku bukan keluarga kaya sehingga untuk bertahan hidup aku harus bekerja sambilan.

Aku tinggal di sebuah kawasan yang bernama Wedding. Kawasan ini terletak di Berlin bagian barat dan merupakan tempat dimana imigran asal Turki menjadi mayoritas penduduknya. Kawasan ini sering dipersamakan dengan kawasan Bronx di Amerika Serikat karena gaya hidupnya yang keras dan tingkat kejahatan yang tinggi. Namun harga sewa apartemen sangat murah dan itulah mengapa aku memutuskan tinggak disini. Dan selama 9 tahun disini tak pernah sekalipun aku mengalami kejadian yang tidak menyenangkan.

Cafetaria Steiner tempatku bekerja juga berada di kawasan ini, hanya beberapa blok dari gedung apartemenku. Pemiliknya seorang Bavarian (orang Jerman yang berasal dari daerah Muenchen dan sekitarnya) yang telah tinggal disitu lebih dari sepermpat abad. Sebagian besar karyawannya adalah orang Turki, salah satunya adalah Emre Berzoglu, sahabatku.

Jerman di tahun 2020 telah mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat hebat. Bahkan sejak adanya Muenchen Agreement 2013 dimana sebuah negara anggota European Union bisa melakukan merger dengan negara lainnya yang juga anggota European Union seperti layaknya merger antar perusahaan, sekarang wilayah Jerman telah meliputi Belgia, Belanda, Perancis, dan sebagian Italia.

Kota-kota besar seperti Berlin, Frankfurt, dan Muenchen telah tumbuh menjadi kota-kota ultrapolitan, dimana kehidupan penduduknya sudah sangat mapan, canggih, dan maju di segala aspek. Walaupun pada awalnya terjadi fenomena sosial yang dikenal dengan 2013 Syndrome dimana banyak orang yang mengalami depresi akibat tingkat persaingan di dunia pekerjaan yang sangat tinggi.

Mereka kekurangan waktu untuk beristirahat dan relaksasi karena disaat mereka tidur, segala bentuk stress dan tekanan dari pekerjaan bertransformasi menjadi mimpi-mimpi buruk. Akibatnya mereka sama sekali tidak bisa tidur dan kemudian mengalami depresi. Gejala depresi ini menyebar cepat sekali seperti layaknya wabah penyakit berbahaya sehingga akhirnya pemerintah membentuk sebuah tim yang terdiri dari para profesor di segala bidang untuk mencari solusi terhadap 2013 Syndrome ini.

Setelah setahun penuh bekerja keras, pada tahun 2014, terciptalah sebuah sinar laser yang dapat mencegah terjadinya mimpi sehingga orang dapat tidur dan beristirahat dengan maksimal. Sinar laser ini dikenal dengan sebutan Dream Elimination Laser yang disingkat, DEL. Begitu diperjualbelikan untuk umum, DEL sekejab menjadi komoditi yang sangat laris. DEL dijual dalam bentuk tabung yang mengeluarkan sinar laser seperti lampu senter. Sinar laser yang keluar dari tabung ini diarahkan ke kepala bagian depan pengguna setiap sebelum tidur selama 5 menit saja. Dan hasilnya adalah tidur yang bebas mimpi, pulas seperti tidur bayi. Hampir setiap orang membutuhkannya dan tak lama kemudian harganya perlahan-lahan semakin meningkat.

Puncaknya di tahun 2015 dimana harga 1 tabung yang dikeluarkan oleh DEL Corporation (DC) mencapai 10.000 euro per tabungnya. Walaupun tingkat kesejahteraan setiap orang pada tahun itu sudah sangat tinggi, akan tetapi tetap saja harga tersebut terlampau tinggi untuk suatu kebutuhan yang digunakan sehari-hari. Orang sudah terlanjur kecanduan DEL. Hingga pada suatu hari tanggal 14 Februari 2015 terjadi sebuah peristiwa yang kemudian dikenal dengan nama Black Valentine.

Sekelompok teroris yang menyebut diri mereka sendiri sebagai Dream Fighter mencoba mendapatkan inti laser yang disimpan di laboratorium di dalam komplek DC Headquarter. Tujuan mereka adalah agar mereka dapat memproduksi sendiri DEL yang lebih murah. Namun alih-alih mendapatkan inti laser yang dicari, mereka segera terkepung oleh pasukan petugas keamanan DC. Entah karena putus asa atau karena keteledoran, mereka meledakkan laboratorium tersebut dan akibatnya sangat fatal. Selain dari efek ledakan yang dahsyat dan api yang menjalar kemana-mana, generator inti laser ikut meledak dan memancarkan sinar DEL ke segala arah dalam radius ratusan ribu kilometer. Ledakan pancaran itu berlangsung selama hampir satu jam sebelum akhirnya bisa dimatikan.

Dan seminggu setelah kejadian tersebut, Kanselir Jerman beserta pemimpin-pemimpin dunia yang lain mengumumkan bahwa sinar DEL tersebut telah menyinari hampir seluruh permukaan bumi dan dampak dari kejadian itu adalah tidak akan ada lagi manusia di bumi yang dapat bermimpi, selamanya!

Tadi malam tepat di hari ulang tahunku yang ke 29 dan di tahun yang ke 5 sejak Black Valentine, aku, Malena, bermimpi.

(to be continued)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s