Merancang Masa Depan

Tulisan ini telah dimuat di Harian Umum LAMPUNG POST – Edisi Minggu, 21 Maret 2010

Mungkin tidak banyak orang yang benar-benar sadar bahwa dalam beberapa  pekan ini, kota Bandar Lampung telah mendapatkan kesempatan yang sangat berharga dan sangat bermanfaat bagi pembangunan kota Bandar Lampung pada khususnya dan daerah Lampung pada umumnya. Melalui serangkaian kegiatan dalam sebuah event utama yaitu International Exhibition dengan tema Designing the Future, Universitas Bandar Lampung bekerja sama dengan Goethe Institut Jakarta dan Universitas Pelita Harapan Jakarta menampilkan pagelaran karya-karya masterpiece dari arsitek dan ahli struktur internasional dari Jerman yaitu  Prof. Dr. Dr. Ing. Werner Sobek. Selain itu serangkaian kegiatan seminar dan perlombaan yang melibatkan pelajar smu/smk, mahasiswa, praktisi dan masyarakat umum kota Bandar Lampung telah digelar dari tanggal 1 Maret 2010 sampai dengan 13 Maret 2010 dan telah berjalan dengan sukses serta menambah kesemarakan sebuah event yang cukup langka di daerah Lampung.

Prof. Werner Sobek mempunyai nama yang cukup besar di kalangan praktisi arsitek dan ahli struktur internasional. Karya-karya arsitekturnya mulai dari bangunan rumah tinggal hingga bangunan tinggi (highrise) telah tersebar di seluruh penjuru dunia seperti kantornya, Werner Sobek Engineering and Design, yang juga mempunyai cabang-cabang di Jerman, Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, dan Mesir atau dengan kata lain, tersebar di empat benua.

Keistimewaan dari Prof. Werner Sobek adalah kemampuan beliau mendesain dengan berdasar pada penguasaan pada ilmu arsitektur dan ilmu struktur sekaligus. Tidak banyak arsitek kelas dunia yang mempunyai keahlian seperti beliau. Hanya nama-nama seperti Santiago Calatrava, Helmut Jahn, dan Norman Foster yang dapat disetarakan dengan beliau. Pemahaman Prof. Werner Sobek terhadap seni arsitektur dan teknik struktur membuat karya-karya beliau selain mempunyai nilai estetika yang tinggi juga mempunyai struktur bangunan yang kokoh, ringan dan berteknologi tinggi.

Beliau juga mempunyai minat khusus terhadap pengembangan material-material bangunan yang ringan tetapi kuat. Minat tersebut beliau salurkan dengan mendirikan sebuah research institute, Institute for Lightweight Structures and Conceptual Design, di Stuttgart, Jerman. Disana beliau bersama mahasiswa-mahasiswa melakukan penelitian untuk menciptakan material-material bangunan masa depan yang transparan, ringan, kuat dan dapat didaur-ulang. Disamping itu salah satu prinsip desain yang selalu beliau kembangkan adalah Triple Zero yang terdiri dari pertama, Zero Energy yang artinya bangunan yang didesain tidak mengkonsumsi energi lain selain dari energi yang diproduksi sendiri melalui teknologi solar panel, wind turbin, dan sebagainya. Kemudian Zero Emission yang artinya bangunan yang didesain tidak akan menghasilkan gas emisi CO2 / karbondioksida atau dalam bentuk yang lainnya. Dan yang terakhir adalah Zero Waste yang artinya bangunan yang didesain dibuat dari
bahan bangunan yang dapat didaur ulang seluruhnya, sehingga tidak akan
meninggalkan sampah atau reruntuhan pada saat bangunan dihancurkan.

Prinsip Triple Zero inilah yang sesungguhnya merupakan jawaban akan berbagai macam pertanyaan dan permasalahan akan dampak negatif terhadap lingkungan alami yang ditimbulkan oleh pembangunan lingkungan buatan. Seperti yang dipaparkan oleh pakar arsitek Indonesia, Ir. Ranu Wijaya dari KBA Architects dalam salah satu sesi utama seminar yang  menjadi bagian penting event ini bahwa kurang lebih 50% material dari alam dipakai untuk pembangunan dan begitu pula limbah serta konsumsi energi dari pembangunan dengan jumlah persentase yang hampir sama. Oleh karena itu, pembangunan yang berkelanjutan atau Sustainable Development merupakan tema utama yang harus diejawantahkan oleh semua pihak yang terlibat dalam proses pembangunan.

Konsep Triple Zero dari Prof. Werner Sobek merupakan salah satu dari sekian banyak ide cemerlang yang dikreasikan oleh para arsitek masa kini. Kenapa arsitek? Karena arsitek lah yang  berada di garis depan dalam pembangunan suatu bangsa. Dan tingkat kemajuan suatu bangsa salah satunya dapat dilihat dari karya arsitekturnya. Hal ini disampaikan Rektor UBL, Ir. M. Yusuf Sulfarano Barusman, M.B.A. dalam pidato pembukaan rangkaian kegiatan International Exhibition ini.

Tujuan dari kegiatan ini juga salah satunya adalah mempromosikan atau meningkatkan pamor dunia keilmuan teknik terutama teknik arsitektur, teknik sipil, dan teknik mesin. Sungguh sangat disayangkan bahwa faktanya memang peminat untuk bidang-bidang keilmuan yang disebut diatas, terutama teknik arsitektur, untuk di perguruan tinggi atau universitas yang berada di daerah Lampung memang masih sangat kurang. Hal ini tercermin dari fakta bahwa program studi S1 Teknik Arsitektur hanya terdapat di UBL,  satu-satunya di Lampung. Kemudian berdasar pengalaman pribadi dari penulis bahwa masyarakat awam bahkan dari kalangan mudanya masih ada yang menyamakan antara jurusan Teknik Sipil dengan Teknik Arsitektur. Dan tidak sedikit pula yang masih beranggapan bahwa arsitek itu hanya sekedar tukang gambar. Pandangan-pandangan seperti itu harus diubah karena sesungguhnya seorang arsitek mempunyai kemampuan dan tanggung jawab untuk menciptakan suatu lingkungan yang baik dan nyaman bagi pengguna pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Lebih jauh lagi dalam dunia arsitek profesional di Lampung masih terasa kurangnya penghargaan dari masyarakat secara umum akan jasa seorang arsitek. Sebagian masyarakat yang sudah melek arsitektur pun masih lebih percaya dengan jasa arsitek “import” dari pulau Jawa sehingga akibatnya arsitek lokal semakin menghilang, sebagian berkarya di pulau Jawa, dan sebagian lagi terpaksa beralih profesi demi menyambung hidup. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi yang terjadi di dunia arsitektur nasional yang sedang mengalami masa-masa yang penuh dengan gairah kemajuan. Dengan hampir disyahkannya UU Arsitek dan juga nota kesepahaman dengan arsitek-arsitek se-ASEAN yang akan berlaku tak lama lagi yang menyatakan bahwa setiap arsitek yang berasal dari negara-negara anggota ASEAN akan mempunyai kesempatan yang sama untuk berpraktek di seluruh negara anggota ASEAN, hal diatas menunjukkan bahwa profesi arsitek mulai menunjukkan peranan penting dalam skala nasional dan yang lebih besar lagi. Sementara di Lampung, hal tersebut masih cukup jauh dari harapan.

Maraknya rencana-rencana pembangunan fisik di Lampung seperti pembangunan JSS, perencanaan kota baru, dan perencanaan waterfront city sepertinya masih kurang mengangkat pamor arsitek terutama arsitek lokal sebagai salah satu pihak yang dapat memberikan sumbangsih yang signifikan dalam proses-proses perencanaan dan pembangunan tersebut di atas.

Sebagai contoh, pemikiran Prof. Werner Sobek tentang peranan bangunan tinggi (highrise) terhadap pembangunan suatu kota yang lebih hemat energi. Beliau menyatakan dalam video presentasi yang diputar di International Exhibition tersebut bahwa pembangunan bangunan tinggi / highrise bulding tidak hanya disebabkan karena lahan yang tersedia sudah tidak cukup, melainkan juga dikarenakan konsep tersebut merupakan salah satu strategi pembangunan yang hemat energi. Pembangunan di banyak daerah di India, Cina dan bahkan Indonesia yang notabene adalah negara-negara yang memiliki lahan kosong yang masih sangat besar pada umumnya masih menggunakan prinsip pengembangan secara horisontal dan bangunan tinggi pun seakan tidak diperlukan karena lahan kosong yang tersedia masih sangat banyak. Namun bukannya penghematan energi yang didapat melainkan yang terjadi adalah sebuah fenomena perkotaan yang disebut dengan urban sprawl. Urban sprawl pada dasarnya adalah suatu kondisi dimana pertumbuhan kota secara horisontal sudah sedemikian tinggi sehingga wilayah kota tersebut menjadi sangat luas. Dampak negatifnya adalah jarak tempuh yang sangat jauh dari area pinggiran ke pusat kota, yang pada akhirnya menghasilkan penggunaan energi yang tinggi untuk transportasi,  pencemaran udara oleh gas emisi kendaraan, tingkat efisiensi kerja yang sangat rendah karena sebagian besar waktu dihabiskan di perjalanan, dan sebagainya. Intinya, yang terjadi malah pemborosan penggunaan energi dan menyimpang dari tujuan utama sustainable development atau pembangunan berkelanjutan.

Sementara itu, Prof. Werner mempunyai teori bahwa dengan pembangunan vertikal dapat dihasilkan sebuah kota yang lebih padat / compact dan lebih efisien. Jarak antar daerah di kota tersebut tidak terlalu jauh bahkan dapat ditempuh dengan berjalan kaki atau in walking distance. Dan apabila dipadukan dengan sistem transportasi umum yang baik maka tingkat penggunaan kendaraan pribadi dapat diturunkan sehingga gas emisi yang dihasilkan pun dapat ditekan seminimum mungkin. Efisiensi kerja pun meningkat karena antara kantor, tempat tinggal, supermarket, tempat hiburan dapat berada dalam sebuah bangunan tinggi yang multi fungsi sehingga orang tidak akan menghabiskan waktu dan energi yang banyak untuk berpindah dari satu fungsi bangunan ke fungsi bangunan yang lain. Sehingga kesimpulannya pembangunan vertikal ini lebih hemat energi dan memenuhi kriteria dari suatu pembangunan yang berkelanjutan. Sehingga dampak negatif lingkungan seperti krisis air, global warming, dan sebagainya, yang kita rasakan sekarang tidak akan terjadi.

Pemikiran diatas dihasilkan oleh seorang arsitek. Hal ini menunjukkan bahwa arsitektur mempunyai peranan yang penting dalam perencanaan dan pembangunan suatu daerah. Lebih besarnya lagi, arsitektur mempunyai peranannya tersendiri dalam kehidupan manusia sama seperti bidang ilmu teknik sipil, teknik mesin dan bidang ilmu teknik lainnya. Oleh karena itulah mengapa event yang baru saja selesai diselenggarakan oleh UBL ini merupakan suatu kesempatan yang sangat berharga dan berguna bagi kemajuan pembangunan Provinsi Lampung.

Dan sesuai dengan tema Designing the Future maka sesungguhnya berakhirnya event ini semoga hanyalah menjadi akhir dari sebuah chapter awal dari sebuah kitab kehidupan masa depan yang lebih baik, khususnya di provinsi Lampung yang kita cintai ini.

Penulis:

Fritz Akhmad Nuzir, ST, MA(LA)

Dosen Universitas Bandar Lampung dan Praktisi Arsitek anggota Ikatan Arsitek Indonesia, Lampung.

2 Comments Add yours

  1. Herman says:

    Hi Fritz, seems like your busy. Good on you. It would be good to read something in english on what your up to and how it´s going. I think it´s ggod that you are no longer in Dubai, and back in your home country. Spoke with Christian Kaindl today. he also asks how your going and thats why I thought I would chase you up.

    do drop me a line.

    greetings

    Herman

    1. fritztory says:

      hi herman!

      wow! it is an honour for me to get a comment from you 🙂
      how on earth did you find my blog? did you google me? or have I told you accidentally? hehe

      well I am busy but not as busy as you…am still learning from the master of busy 🙂

      will drop you an email later on…

      tschusie!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s