Romansa di Angkasa bagian 01

 

 

„Here you go, my friend. Keep the change.“ Kataku sembari menyerahkan selembaran uang kertas berwana merah jambu dengan gambar sebuah benteng dengan gaya arsitektur middle east yang berdiri gagah di tengah-tengah gurun pasir yang luas. Angka 100 tertera di tiap sudut selembar uang kertas ini dan seketika itu saja roman muka si supir taksi asal Pakistan yang sedari tadi bersungut-sungut sontak berubah menjadi cerah. Terang saja karena angka di argometer taksi hanya menunjukkan angka 15 sehingga bisa dihitung betapa banyak „kembalian“ yang didapatnya.

 

„Thank you very much, my Indonesian friend. Best of luck for you“ Sahutnya sambil tersenyum lebar dan mencium uang kertas itu berkali-kali. Kumis hitamnya yang menggantung lebat dan rapi di atas bibirnya mendadak seakan bertambah lebar seiring dengan semakin melebar bibirnya mengulas senyum.

 

Aku hanya tersenyum dan sembari menyandang tas kulit warna coklat tua di bahu, ku buka pintu taksi dan ku jejakkan kakiku di lantai ubin putih Dubai International Airport yang berkilauan seperti layaknya mutiara dibawah siraman terik matahari siang bolong di negeri asal dongeng Seribu Satu Malam ini. Kubalikkan badanku untuk menutup kembali pintu taksi dan kulihat dari balik kaca jendela, si supir taksi melambaikan tangannya sambil tetap tersenyum lebar dan perlahan melaju bersama taksinya yang berwarna krem berkombinasi dengan warna merah menyala.

 

„Yeah, saat ini pun aku sudah sangat beruntung bisa meninggalkan negeri terkutuk ini !“ Makiku dalam hati menanggapi ucapan si supir taksi tadi. Tiba-tiba bertiup angin gurun yang panas dan kering ke arah mukaku dan segera saja aku bergegas menuju ke arah pintu masuk keberangkatan. Di dalam ruangan keberangkatan ini bergantilah angin panas nan kering tadi dengan hembusan angin buatan Air Conditioner yang sejuk dan sepoi–sepoi.

 

Entah berapa banyak daya listrik yang dihabiskan untuk mengkondisikan hawa di dalam ruangan ini menjadi laksana hawa udara di Eropa saat musim gugur. Sejuk dan dibarengi terang benderang cahaya matahari yang menerobos dari balik jendela–jendela kaca raksasa dan membentuk garis–garis bayangan setelah berakhir pada permukaan kolom–kolom beton raksasa. Puluhan retails berderet-deret menjajakan beraneka ragam barang mulai dari souvenir, pakaian dan kosmetik dari merk terkenal, sampai aneka makanan dan minuman, mengubah kawasan Duty Free ini menjadi laksana sebuah Shopping Mall nan eksklusif.

 

Tersadar dari keterpesonaanku akan suasana di dalam ruangan ini, segera aku beranjak menuju ke Check-in Counter. Di depan counter yang aku tuju terlihat antrian yang sudah cukup panjang. Aku memang sudah agak terlambat, gara-gara terjebak traffic jam yang sudah jadi hal yang lumrah di Dubai. Sama seperti Jakarta saja. Tapi „untung“nya, manjur juga do’a si supir taksi tadi, client ku sudah menyediakan tiket first class buatku, jadi tak perlu lah aku ikut mengantri. Langsung aku menuju ke first class counter dimana hanya dua orang yang berdiri di depannya.

 

Satu orang yang berdiri paling depan menunggu gilirannya untuk dipanggil adalah seorang pria Arab yang berkemeja ala bangsawan Inggris dengan setelan jas warna abu-abu dan dasi warna merah marun diatas kemeja putih. Pria ini berumuran sekitar 30-an tahun, tinggi besar dan sangat tampan seperti seorang pangeran Arab dengan kacamata hitam yang melekat di wajahnya. Rambutnya ikal terlalu panjang tapi disisir rapi ke belakang dengan olesan styling gel yang membuat rambutnya tampak berkilauan. Tangan kanannya memegang erat sebuah tas koper warna hitam dan di pergelangan tangan kananya melingkar sebuah jam tangan Rolex yang kulihat dari kilauan sinarnya pastilah terbuat dari emas asli. Orang ini kemungkinan besar memang benar-benar seorang pangeran. Hanya satu hal yang membuatku tak yakin dia seorang pangeran. Tak ada seorang pengawal pun di sekelilingnya. Hanya seorang gadis bule cantik berambut pirang yang selalu melambai ke arahnya dari tempat duduk di ruang tunggu. Sesekali pria itu pun menoleh ke arahnya, tersenyum, membalas lambaiannya, dan mengisyaratkan „lemparan ciuman jarak jauh“ dengan gaya khas seorang playboy kelas kakap.

 

Seorang lagi yang berdiri di belakangnya adalah sesosok yang benar-benar bertolak belakang. Wajah keriput kakek bule ini terlihat jelas di bawah naungan topi cowboy yang berukuran super besar, lebih mirip dengan topi sombrero ala Meksiko sementara rambut putihnya mencuat panjang tak beraturan dari balik topinya. Tubuhnya yang lumayan pendek untuk ukuran seorang bule ditambah dengan perutnya yang buncit merupakan suatu perwujudan yang kontras dengan sosok pangeran Arab tadi. Ditambah lagi dengan kemeja warna merah dengan motif bunga-bunga warna kuning dipadu dengan celana kain selutut warna ungu. Sepatu kets warna putih selaras dengan tas ransel lusuh warna putih kecoklatan yang disandangnya. Di bagian depan tas itu tersablon gambar bendera Amerika Serikat berukuran lumayan besar yang sablonannya sudah terlepas disana sini. Yang terlintas dibenakku melihat sosok ini adalah seorang pensiunan tentara asal Negeri Paman Sam itu yang melakukan perjalanan wisata musim panas yang panjang, mulai dari New Mexico, Dubai dan aku tebak seratus persen yakin kalau tujuan berikutnya adalah Bali.

 

Satu persatu kedua orang tadi check-in dan kemudian menghilang ke arah yang berlainan. Tibalah giliranku untuk check in. Seorang wanita berwajah Asia menyambutku dari balik meja counter.

 

„Good day, Sir. How are you today?“ Sapanya ramah sambil tersenyum ramah. Matanya yang sipit menghilang ketika senyum mengulas di bibirnya yang bergincu merah menyala.

 

„I am good, thanks !“ sahutku datar tanpa ekspresi. Kuserahkan tiket dan pasportku.

 

„Travelling alone, Sir ? For holiday or bussiness ?“ Tanyanya lagi mencoba terus berbasa-basi. Tangan kanannya terjulur ke arahku mengambil tiket dan pasport yang kusodorkan. Kulit tangannya putih terawat dan di jari manisnya melingkar cincin permata warna merah. Ah, sudah menikah rupanya, pikirku dalam hati.

 

„Yeah, I am going back from a bussiness trip up here to my home country.“ Jawabku sesingkat mungkin.

 

„I see. So you are from Indonesia. I have been there once, to Bali. I had a great time there.“ Celotehnya sambil tangannya mengetik sesuatu di komputer. Dibukanya pasportku, dilihatnya halaman pertama pasport itu dan wajah manisnya mendadak berkerut.

 

„Mr. Muda ?  Sorry, Sir. What is your family name ?“ Tanyanya heran.

 

„I don´t have one. Only Muda. That is my name.“ Jawabku tenang dan mantap.

 

Dia terlihat tetap kebingungan namun akhirnya ketika dia melihat antrian di belakangku yang ternyata sudah menunggu beberapa orang disana, diteruskannya mengetik kembali kemudian menuliskan sesuatu di tiketku.

 

„Do you have any luggage with you, Sir ?“ Tanyanya lagi.

 

„Nope. Only this brown bag that I have here.“ Jawabku sambil menunjukkan tas kulit warna coklat yang sedari tadi tergantung di pundakku. Dia melirik sekilas dan melanjutkan mengetik.

 

„Alright, Mr. Muda. Please go to that gate, Sir. And have a nice trip.“ Ujarnya dengan senyum yang kali ini terlihat dipaksakan sambil menyerahkan kembali tiket dan pasportku dan menunjukkan arah yang harus kutuju. Agaknya masalah nama keluarga itu masih membuatnya bingung.

 

„Thank you very much.“ Jawabku dengan senyum tipis yang juga kupaksakan. Segera ku menuju arah yang ditunjukkannya. Sejam kemudian aku sudah berada di dalam pesawat yang akan membawaku kembali ke Indonesia.

 

Aku mendapat tempat duduk di first class. Di kelas ini hanya tersedia enam kursi, tiga kursi di bagian pesawat sebelah kiri dan tiga kursi di sebelah kanan dengan ukuran masing-masing tempat duduk yang sangat luas. Orang bisa dengan leluasa mengatur posisi tempat duduknya sampai hampir rebah seperti layaknya tempat tidur tanpa mengganggu kenyaman orang yang duduk di belakangnya. Masing-masing tempat duduk dilengkapi dengan monitor televisi yang lumayan besar dengan bermacam-macam fasilitas hiburan di dalamnya.

 

Aku duduk di sebelah kiri, barisan kedua dari depan, bersebelahan dengan si kakek tua bertopi cowboy tadi di ujung sebelah kanan. Sementara ku lihat si „pangeran“ Arab tadi duduk tepat di belakang di belakang kakek tua itu di barisan terakhir kelas eksklusif ini. Dia terlihat sangat santai sekali dan mulai menggoda pramugari-pramugari cantik yang melayaninya. Walaupun begitu tas koper warna hitam itu tetap lekat disampingnya. Tak lama kemudian, pesawat yang kami tumpangi lepas landas.

 

Baru saja aku akan membuka loker penyimpanan barang di atas tempat dudukku untuk mengambil buku catatanku dari dalam tas yang aku bawa, terdengar sedikit keributan di kabin bussiness class. Penasaran segera saja aku beranjak ke belakang menyibakkan tirai yang memisahkan dua kabin itu. Pemandangan yang tampak di balik layar itu sungguh sangat menyedihkan. Seorang wanita Tionghoa berumur sekitar 40-an tampak tergeletak lemah di lantai selasar kabin sambil memegangi dadanya. Wajahnya menyiratkan kesakitan yang amat sangat. Sementara seorang pria yang juga asal Tionghoa duduk berjongkok di dekatnya sambil menahan bagian belakan wanita tersebut agar tidak tergeletak langsung di lantai kabin. Ternyata wanita tadi baru saja terkena serangan jantung ketika hendak berjalan menuju toilet sehingga dia terjatuh di selasar kabin. Dan pria itu adalah suaminya yang segera berlari dari tempat duduk mereka di bagian belakang kabin bussiness class untuk menolong istrinya. Jarak antara tempat wanita itu terjatuh dengan kabin first class sangatlah dekat dan jelas sekali kalau wanita itu butuh tempat yang leluasa untuk diberikan perawatan. Maka segera saja kukatakan kepada pramugari-pramugari yang berkerumun di situ untuk membawa wanita itu dan suaminya ke tempat dudukku.

 

Segera saja ku ambil tas ku yang tersimpan di loker atas dan membantu sang suami untuk mengatur posisi duduk istrinya. Si wanita sekarang sudah terlihat lebih tenang walaupun masih meringis kesakitan. Pria itu mengeluarkan sebuah botol kaca yang berisi tablet-tablet warna hijau yang sepertinya adalah obat untuk meredakan sakit jantung istrinya. Ketika aku hendak beranjak meninggalkan mereka agar si wanita dapat beristirahat dengan tenang, tangan sang suami mendadak menangkap pergelangan tanganku.

 

„Xie xie.“ Katanya singkat dan kemudian melepaskan pergelangan tanganku. Matanya menatapku tajam dan raut wajahnya menunjukkan ketulusan akan ucapannya. Aku mengangguk pelan dan perhatiannya kembali tertuju kepada istrinya.

 

Seorang pramugari kemudian mempersilahkanku untuk duduk di barisan pertama kabin Bussiness Class yang ternyata disitu masih terdapat satu tempat duduk yang kosong. Sekarang tempat dudukku berada di bagian kanan dekat selasar kabin dan tepat berada di belakang tempat duduk „pangeran“ Arab tadi. Hanya selapis dinding kabin yang tipis dan sebuah tirai beludru merah yang memisahkan kami. Dari sela-sela tirai tersebut bisa kulihat tangan kirinya memegang gelas kaca yang berisi Red Wine.

 

„Maaf, Mas. Mas dari Indonesia ya ?“ Tiba-tiba suara terdengar suara lembut yang mengalihkan perhatianku pada pria Arab itu. Ternyata asalnya dari seseorang perempuan yang duduk dekat jendela disampingku. Wajahnya cukup menawan untuk ukuran orang Indonesia dan dengan jilbab warna hitam yang menutupi rambutnya, wajah itu semakin menjadi pusat perhatian orang yang menatapnya. Kulit wajahnya terlihat putih tanpa make up. Kedua matanya dihiasi alis tipis yang melintang indah. Hidungnya tak terlalu mancung serasi dengan bibirnya yang mungil.

„Mas ? Kenapa ? Kok malah bengong ?“ Tanyanya lagi dengan intonasi yang penuh kepolosan.

 

„Eh maaf. Iya, saya orang Indonesia. Ada apa memangnya ?“ Tanyaku penasaran sekaligus terkesima.

 

„Mmm Mas bisa bahasa Inggris kan ? Tolong mintakan selimut buatku sama mbak-mbak pramugari itu dong Mas. Dingin banget nih di dalam kapal terbang ini.“ Pintanya dengan logat Jawa yang kental. Tubuhnya sedikit bergetar menggigil kedinginan.

 

„Oke, tahan sebentar ya. Saya panggil dulu pramugarinya.“ Sanggupku. Kasihan sekali rasanya melihat dia menangkupkan kedua tangannya ke tubuhnya menahan dingin. Kebetulan seorang pramugari keturunan Afrika muncul dari balik tirai sambil membawa setumpuk selimut warna krem hendak melewati di selasar sebelahku.

 

„Excuse me. Would you mind to give one of those blankets to this young lady here. She is freezing.“ Ujarku sambil menunjuk ke arah perempuan yang duduk di sebelahku.

 

„Of course, Sir. Oh, poor young lady. Here is a blanket for you.“ Jawab pramugari berkulit hitam itu lembut dan menyerahkan sebuah selimut kepada perempuan itu. Dia hanya tersenyum dan langsung melilitkan selimut itu rapat-rapat ke seluruh badannya. Selimut itu cukup lebar dan tubuh perempuan itu tidak begitu besar sehingga akhirnya seluruh tubuhnya terbungkus rapat dengan selimut wol warna krem itu. Menyerupai bentukan sebuah kepompong raksasa.

 

Pramugari itu tertawa kecil melihat tingkah polah perempuan itu. Setelah ku ucapkan terima kasih, dia beranjak pergi menawarkan selimut-selimut itu kepada penumpang lain yang membutuhkan. Ketika aku ingin berbincang-bincang lebih banyak dengan perempuan yang duduk disebelahku itu, ternyata matanya sudah terpejam dan nafasnya turun naik dengan teratur. Cepat sekali dia tertidur, pikirku dalam hati. Ya sudahlah.

 

Tiba-tiba aku teringat pada sesuatu yang ingin aku ambil dari dalam tas sebelum aku bertukar tempat duduk. Kuraih tas dari loker atas dan ku ambil tas kulit coklatku. Kurogoh dalamnya dan kuambil sebuah buku catatan kecil dengan sampul warna biru muda. Kukembalikan tasku pada tempatnya semula dan kemudian duduk kembali. Semua gerakanku kulakukan secara perlahan agar tidak membangunkan perempuan yang tertidur di sampingku.

 

BERSAMBUNG 

  

 

 

 

    

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s