Romansa di Angkasa bagian 03 TAMAT

Ruminah bercerita bahwa dia sudah enam tahun tinggal di Dubai dan selama itu juga bekerja sebagai pembantu rumah tangga di sebuah rumah keluarga pengusaha kaya yang berasal dari Irak. Tahun-tahun pertama sungguh sangat sulit baginya, terutama karena saat itu dia belum begitu lancar berbahasa Arab dan sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris. Namun dia beruntung karena keluarga itu sungguh sangat baik hati. Walaupun pernah sesekali dia dibentak dan dimarahi namun mereka tidak pernah sampai memukulinya. Mereka justru membimbing Ruminah dalam memperlancar bahasa Arabnya sampai lancar seperti sekarang. Mereka pun tidak pernah terlambat memberikan gaji sehingga kiriman uang Ruminah untuk simboknya di Solo tidak pernah terlambat juga.

 

„Wah, pokoknya aku beruntung sekali deh Mas. Alhamdulillah banget. Soalnya kalau aku ndengerin cerita dari teman-teman itu jadi ngeri. Hiiii….“ Katanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

Dia kemudian menceritakan beberapa pengalaman buruk yang menimpa teman-temannya sesama pembantu disana. Persis seperti apa yang selalu aku baca di surat kabar mengenai nasib Tenaga Kerja Wanita di negeri Arab. Ada yang disiksa majikannya, tidak dibayar gajinya, sampai pelecehan-pelecehan seksual yang selalu terjadi. Cerita Ruminah semakin membuatku muak akan kenyataan hidup yang terjadi di Dubai. Aku muak menyadari berbagai macam ketidakadilan hidup yang terjadi disana dan semua orang bertingkah seperti tidak ada yang salah dengan itu semua. Lembaran-lembaran uang kertas telah membungkus mata hati hampir sebagian besar dari mereka yang hidup di Dubai. Beruntung sekali gadis seperti Ruminah ini mendapat kesempatan untuk hidup bersama sebuah keluarga yang jelas sekali tidak termasuk dalam golongan mayoritas itu tadi.

 

„Lalu kenapa kamu mau pulang sekarang. Liburan ?“ Tanyaku semakin penasaran.

 

„Enggak. Aku berhenti. Aku capek cari uang terus. Aku kangen sama simbok di kampung. Buat apa sih Muda kita punya banyak uang kalau enggak bisa ketemu ibu sendiri. Tapi….“ Dia ragu untuk meneruskan ucapannya. Wajahnya tertunduk ke lantai. Tertangkap sekilas oleh mataku tetesan butir-butir air mata yang jatuh ke lantai. Dia menangis.

 

„Kenapa ? Ada masalah ? Kok kamu sedih ? Harusnya kan kamu senang bisa bertemu ibumu lagi.“ Tanyaku perlahan. Salah tingkah aku dibuatnya sekarang. Menyesal aku menanyakan pertanyaan itu padanya.

 

„Ah enggak, Muda. Aku justru senang sekali. Aku hanya sedikit bingung karena aku dengar simbok sudah sering sakit-sakitan. Di suratnya yang terakhir, simbok bilang kalau dia ingin sekali melihat aku menikah. Padahal…aku kan disini untuk bekerja. Aku enggak punya siapa-siapa yang mau menikahiku.“ Jawabnya sambil sesenggukan meredakan tangisnya.

 

„Sudah, jangan menangis. Yang penting sebentar lagi kamu akan berkumpul lagi dengan ibumu. Urusan jodoh itu bukan urusan yang bisa kita atur. Semuanya akan terjadi tanpa kita sangka. Kamu tenang saja.“ Kataku mencoba menenangkannya. Wajahnya sekarang tak lagi menunduk. Kedua matanya menatap tajam ke arahku. Kami saling menatap untuk beberapa saat. Saat itu aku merasakan kami masih tetap saling berbicara. Tapi bukan dengan kata-kata yang keluar dari mulut kami, melainkan dengan perasaan yang keluar dari hati.

 

Ketika kami tersadar dari kejadian yang seperti menghentikan waktu itu, mendadak kami berdua menjadi salah tingkah. Ruminah kembali menutupi badannya dengan selimut dan membalikkan badannya ke arah jendela. Sementara aku sibuk membenarkan sabuk pengamanku yang sedari tadi tak pernah berubah posisinya. Sesekali aku melirik ke arah punggung Ruminah dan mencoba menebak-nebak apa yang sedang dipikirkannya saat ini. Sejenak perasaanku menjadi tak menentu tapi aku coba mengendalikan diri kembali. Aku jernihkan pikiranku dan teringat aku kembali pada secarik kertas yang berisi informasi tugas terakhir yang harus aku selesaikan.

 

Aku ambil buku catatan itu dari bawah kursi dan kubuka kembali secarik kertas yang terselip didalamnya. Kubuka lipatannya perlahan agar jangan sampai terdengar oleh Ruminah. Kubaca beberapa baris kalimat yang tertulis didalamnya dan kucoba mencernanya dalam otakku. Tak begitu sulit, pikirku. Begitu tugas terakhir ini selesai, tak perlu lagi aku berurusan dengan segala hal yang mengingatkanku akan pengalaman yang memuakkan di negeri semenanjung Arab itu. Dari beberapa jengkal di depan tempat dudukku, kudengar suara beberapa perempuan tertawa genit dan sayup-sayup terdengar juga suara seorang pria berbicara dalam bahasa Inggris dengan dialek Arab yang kental. Sang „pangeran“ Arab sedang beraksi menambah koleksi selir-selirnya.

 

Aku pejamkan mata sambil berkonsentrasi memikirkan cara yang baik untuk menyelesaikan tugas ini dengan sempurna. Namum kesejukan Air Conditioner di dalam pesawat membuatku perlahan mengantuk dan tertidur. Tanpa aku ketahui, Ruminah membalikkan badannya ke arahku dan mengamatiku dalam tidurku.

 

Aku terbangun oleh suara pilot pesawat dari pengeras suara yang memberitahukan para penumpang bahwa beberapa saat lagi pesawat akan segera mendarat di Soekarno Hatta International Airport. Kurapikan pakaian yang melekat ditubuhkan dan mengencangkan sabuk pengaman yang melilit pinggangku. Aku melirik ke arah Ruminah dan kulihat dia seperti baru saja selesai membaca Al Quran dan memasukkan kitab suci itu ke dalam tas yang kini didekapnya erat dipangkuannya. Dia menyadari lirikanku dan tersenyum.

 

„Sudah bangun ya, Muda. Enak sekali kelihatanya tidurnya. Udah berapa hari enggak tidur ?“ Tanyanya menggoda.

 

„Ah, biasa aja ko.“ Kataku sambil mencoba kembali tersenyum.

 

Beberapa saat kemudian pesawat telah mendarat dan orang mulai berebut untuk keluar lebih dahulu. Kuberikan kesempatan Ruminah untuk berdiri di depanku sehingga dia tidak harus berdesak-desakan dan mudah untuk keluar dari pesawat. Aku lihat pria Arab itu merapikan setelan jas abu-abunya yang sekarang terlihat sangat berantakan. Seorang pramugari berambut pirang mendekatinya dan membantunya merapikan dasinya. Setelah itu kulihat pria itu mencium pipi pramugari itu dan kemudian pramugari itu memberikan secara sembunyi-sembunyi secarik kertas diatasnya tertulis beberapa deret angka yang aku yakini adalah nomor telefon pribadi pramugari pirang itu. Pria Arab itu tersenyum, mengenakan kembali kacamata hitamnya dan bergegas meninggalkan kabin pesawat.

 

Penumpang first class dipersilahkan untuk keluar terlebih dahulu baru kemudian penumpang dari bussiness class. Sebelum Ruminah beranjak pergi kubisikkan padanya agar menunggu aku di depan pintu keluar Ruang Kedatangan. Aku bilang bahwa aku harus mengurus sesuatu terlebih dahulu dan kemudian setelah selesai, ingin bertemu dia kembali. Dia tersenyum dan mengangguk. Ah, senyum itu.

 

Setelah itu pikiranku berkonsentrasi penuh untuk melaksanakan tugas terakhirku. Begitu aku berhasil keluar dari pintu kabin pesawat, aku berjalan cepat menerobos kerumunan orang yang berjalan menuju pintu keluar. Aku bersikap sewajar mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan dari para petugas keamanan. Sesampainya di pintu pemeriksaan aku melihat pria Arab tadi baru saja menyelesaikan urusannya dengan para petugas pemeriksa dan berjalan pelan tapi pasti ke arah pintu keluar Ruang Kedatangan. Tangan kanannya kembali memegang sebuah tas koper berwarna hitam.

 

Aku mendahului beberapa orang lagi untuk melewati pintu pemeriksaan. Tak ada masalah, semua lancar sampai saat ini. Dan tak beberapa lama kemudian aku sudah berhasil berada tepat di belakang pria Arab tadi. Tak berapa lama kemudian kami telah berada di selasar luar Ruangan Kedatangan dan kemudian pria Arab itu terlihat berbicara dengan seseorang melalui telfon genggamnya. Beberapa buah taksi berjejer di hadapannya sekarang dan beberapa orang supir taksi mulai menawarkan jasanya. Aku tetap menjaga jarak beberapa meter di belakangnya. Pria Arab itu dengan angkuhnya menolak semua tawaran supir taksi itu dan melangkah menyeberangi jalan ke arah halaman parkir bandara. Aku juga bergerak menuju ke arah yang sama. Aku berlindung di balik serombongan keluarga yang menggandeng beberapa buah troli barang bawaan mereka.

 

Tak beberapa lama berjalan, pria Arab itu berhenti tepat di sebuah mobil sedan Camry warna hitam yang terparkir di bawah pohon yang tak begitu besar. Tak begitu banyak mobil yang terparkir di daerah itu dan hanya mobil sedan itulah yang terparkir di deretannya. Tiba-tiba datang dari arah samping, seseorang yang berjaket hijau dengan mengendari sepeda motor. Wajahnya tertutup oleh helm warna putih dengan kaca plastik hitam menutupi bagian wajahnya. Dia berhenti tepat dihadapan pria Arab tadi dan tanpa turun dari sepeda motornya menyerahkan sesuatu kepada pria Arab itu kemudian kembali melesat pergi. Sesuatu itu ternyata kunci mobil sedan itu. Bergegas ku berjalan ke arah mobil itu dan kulewati sebuah mobil minibus putih terparkir beberapa meter sebelumnya. Kuketuk jendela kacanya yang dilapisi pelindung sinar matahari warna hitam dan dari baliknya muncul wajah kakek tua yang bertopi cowboy dan berbaju merah itu. Dia tersenyum padaku dan menyodorkan sepucuk pistol semi otomatis 9mm yang dilengkapi dengan peredam suara.

 

„No one is around. Don’t worry. I will be watching.“ Bisiknya. Aku tersenyum padanya dan mengambil senjata itu dari tangannya.

 

Aku percepat langkahku ke arah mobil sedan hitam itu dan kulihat dari balik jendela pengemudi, pria Arab itu sedang berbicara dengan seseorang melalui telfon genggamnya. Kulihat dia tertawa-tawa. Aku yakin pasti dia sedang menelfon pramugari pirang tadi. Baguslah, paling tidak dia akan mati dalam keadaan senang. Sambil berjalan dari arah samping kanan mobil sedan itu dan kubidik pistol ditanganku ke arah kepala pria Arab itu. Dalam sekejap sebuah peluru melesat keluar dari ujung pistol, menembus jendela kaca dan juga tulang tengkorak pria Arab itu tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Seketika itu pula kepalanya tertunduk dan kedua tangannya terkulai. Kudekati perlahan mobil itu, kubuka pintunya dan kuperiksa denyut nadinya dengan tanganku yang sekarang terbungkus sarung tangan kulit warna coklat. Dia sudah mati. Orang terakhir yang aku habisi nyawanya dalam seminggu ini. Kuambil tas koper hitam yang diletakkannya di kursi penumpang disebelahnya dan kuletakkan buku catatan dengan sampul biru tadi ditempat yang sama. Kututup kembali pintu mobil itu dan berjalan kembali ke arah mobil minibus putih tadi.

 

„Mission accomplished. Here is the bag that he wants and I have put the notebook inside the car. You can do it anytime you want but wait until I have disappeared. Last thing, tell Syeikh to send the rest of my payment as usual way.“ Kataku pada kakek tua itu sambil menyerahkan tas koper warna hitam itu. Kakek itu mengangguk sambil tertawa terkekeh-kekeh kemudian menyalakan mobilnya.

 

Aku bergegas berjalan pergi meninggalkan lokasi sementara tetap tidak ada seorangpun yang menyadari kejadian itu. Tujuanku sekarang kembali menuju ke pintu keluar Ruang Kedatangan. Beberapa meter sebelum pintu keluar, terdengar ledakan yang sangat dahsyat dari arah tempat parkir bandara. Aku membalikkan badan ke arah lokasi terdengarnya ledakan dan kulihat asap hitam bercampur api membumbung ke angkasa dari tempat mobil sedan hitam itu diparkir. Lenyap sudah semua barang bukti. Merinding juga bulu kudukku menyadari bahwa selama ini bom berupa buku catatan bersampul biru selalu aku bawa kemana-mana. Ternyata Syeikh sudah menyiapkan rencana untuk menghabisiku jika aku tiba-tiba mengacau. Tak beberapa lama, sebuah mobil minibus putih melintas dihadapanku dan dari balik jendela pengemudinya, seorang kakek bule tertawa dan melambai ke arahku.

 

Beberapa petugas keamanan bandara berhamburan ke arah lokasi kejadian dan dari kejauhan terdengar suara sirine pemadam kebakaran. Orang-orang di bandara berlarian menyelamatkan diri. Ditengah-tengah kepanikan itu kulihat sesosok perempuan berpakaian hitam-hitam yang berdiri sendirian di depan pintu keluar Ruang Kedatangan. Ketika aku mendekat, kulihat dengan jelas raut ketakutan di wajahnya berganti dengan raut kelegaan.

 

„Ada apa toh, Muda ? Suara apa itu tadi ? Ada yang main mercon ya ?“ Tanya Ruminah lugu.

 

„Iya kali.“ Kataku singkat.

    

Aku bertanya apakah ada yang menjemput dia. Dia menggeleng dan memberitahuku bahwa dia harus pergi ke Stasiun Gambir untuk kemudian meneruskan perjalanan menggunakan kereta api menuju Solo. Segera saja aku tawarkan untuk mengantar dia sampai ke stasiun Gambir dengan menggunakan taksi. Dia mengucapkan terima kasih dan kami berdua meneruskan obrolan kami di sepanjang perjalanan menuju stasiun.

 

Beberapa bulan kemudian aku menikahinya di Solo, disaksikan oleh simboknya yang pada saat acara akad nikah berlangsung tak henti-hentinya menangis bahagia.

 

KEMBALI KE AWAL 

 

5 Comments Add yours

  1. anindyta says:

    Rrrruaaaaarrrr Biasaaaa….. mantaph….. edan euy…. peringkat satu dibanding cerita yang laen… sepertinya dikau berbakat mengkolaborasikan cerita CINTA dan cerita MISTERI….. prost!!

  2. anindyta says:

    tapiiii kenapa sih selalu ada yang mati?!?!?!?!?!

  3. helmy says:

    Kritik nieh :

    karakter syieh kurang jelas, begitu pula muda…
    mungkin di depan kamu bisa kasih ciri fisik syieh
    selain kamu memberikan sedikit twist persepsi pada kepribadiannya

    arahnya masih belum jelas, kamu pengen memberikan suspen pada cerita, cuman akhirnya tertutup ma cerita rumirah, lebih ke drama sih aku bilang
    dan belum ada “isi” yang bisa didapet
    hanya sepenggal cerita,
    bagus sih cuman kurang pemaknaan aja
    secara detail kota, lingkungan kamu dah oke, kan dah di dubai hehehehe
    proses pembunuhan juga kamu kurang detail…
    tidak terlihat muda adalah pembunuh profesional
    terkadang dalam karakter perlu diberikan penekanan
    terutama di karakter figuran, rumirah, syeih, pak tua
    romansa di angkasa? terlalu dangkal kalok cuman cinta pandangan pertamanya muda ke rumirah di pesawat yang minta selimut
    too simple
    tapi mungkin emang karakter tulisanmu, simpel dan drama

    cerita : 6/10
    karakter: 6/10
    alur : 7/10
    ending : 5/10

    tapi overall nilai : 6/10

    tetap semngat ya Fritz!!! love ur writing !

  4. DharmaLubis says:

    wah curang…masak akhirnya jadi gitu..pertama baca kirain ini cerita drama keluarga islami. wah ternyata…pembunuh bayaran. mbok ngasih tanda atawa cluenya lebih terarah dan teratur biar pembaca gak mendadak kaget dengan endingnya. karna jarak antara isi dan endingnya terlalu jomplang. gak sesuai porsinya…

    nb : ada bocoran nih…katanya pengen buat cerita detektif ya? hehehe

  5. fritz says:

    semoga Mr. Night Shyamalan membaca cerita ini 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s