Romansa di Angkasa bagian 02

Kubuka halaman terakhir buku catatan itu dan kuambil sebuah amplop yang terselip didepannya. Amplop itu berwarna putih polos tanpa ada tulisan apapun di lembarannya. Kubuka tutupnya dan kukeluarkan secarik kertas didalamnya. Kertas itu juga berwarna putih dengan beberapa baris kalimat tertulis di permukaannya dengan tinta hitam pekat. Di ujung atas kanan kertas itu kulihat stempel warna merah darah dengan sebuah logo yang mengandung tiga huruf: AKC. Nama perusahaan yang dikelola seseorang yang membawaku ke Dubai. Seseorang yang membutuhkan keahlianku untuk mengerjakan sesuatu untuknya. Aku tak pernah tahu namanya. Dan aku hanya pernah bertemu sekali dengannya, di kantornya yang berada di lantai tertinggi sebuah gedung pencakar langit di Dubai.

 

Benakku melayang pada kejadian seminggu yang lalu ketika aku bertemu pertama kali dengan orang itu. Orang itu berkulit agak gelap dengan rambut-rambut janggut hitam lebat yang menutupi hampir seluruh mukanya. Di kepalanya terlilit sorban berwarna kuning emas senada dengan setelan jas yang dipakainya yang juga berwarna kuning emas yang begitu berkilau seakan-akan terbuat dari emas sungguhan. Aku dijemput di bandara dan langsung dibawa ke tempat itu oleh beberapa orang yang memakai setelan jas warna putih dan dasi hitam. Dan ketika aku duduk dihadapannya saat itu, beberapa orang bertubuh tinggi besar dan memakai pakaian yang sama seperti itu berdiri di sekitar ruangan itu. Dua orang berdiri tepat di belakang orang bersorban emas itu dan satu orang berdiri di belakangku serta dua orang lagi berdiri di depan pintu.

 

Ruangan itu sangat luas sekali. Warna kuning emas mendominasi warna interiornya. Wewangian khas timur tengah yang eksotis tercium sangat menyengat di setiap sudut ruangan. Ruangan itu mempunyai enam sisi dinding dimana tiga di antaranya merupakan dinding kaca yang transparan. Dibalik dinding-dinding kaca itu terlihat jelas latar belakang kota Dubai dari ketinggian. Sungguh suatu pemandangan yang menakjubkan, pikirku saat itu. Di tengah-tengah dinding-dinding kaca itu lah orang bersorban emas itu duduk dengan elegannya. Dengan sinar matahari yang memancar dari balik tubuhnya, sosok wajah orang bersorban itu tak dapat kulihat dengan jelas. Badannya yang besar diam mematung dengan kedua tangannya tertangkup di atas meja.

 

„You can call me Syeikh.“ Tiba-tiba terdengar suara berat keluar dari mulut orang dihadapanku ini. Suara yang mengingatkanku akan suara beruang yang melenguh saat kehabisan makanannya.

 

„Yes, Syeikh. How are you doing ? My name is Muda.“ Sahutku bersikap setenang mungkin.

 

„Of course I know your name ! I invited you to come here. Just cut the bullshit !“ Suaranya menggelegar memenuhi ruangan. Orang lain mungkin akan terkencing-kencing saat itu juga tapi aku tidak. Sikapku tetap tenang seperti semula.

 

„Listen, Muda. I have heard a lot about your reputation and I want you to work for me now. I need your skill and I can pay you a lot of money and everything else. Just tell me what you want and I will give it to you after you have finished the work. Deal ?“ Suara beratnya mulai tenang kembali.

 

„If you have heard a lot about me then for sure, you know already how much my standard payment is. It won’t change, Syeikh. I am professional.“ Jawabku datar.

 

„Good ! It’s a deal then ! Now please take this notebook here. It’s written there every single task and their backgrounds for each day in a week. You must follow it. I will provide you all the facilities that you will need to accomplish them. And at the last page in back of the book, you will find an envelope contains the last and final instruction for you. This is the most important task and you can only open it on the plane that will take you back. Remember, do not open it before that. Don’t screw up. My men will be watching you twenty four seven. Understood ?“ Ancamnya sambil menyodorkan sebuah buku catatan kecil dengan sampul warna biru muda.

 

„Yes, Syeikh. I don’t see any problem. I guarantee you that the work will be done perfectly and please, do not ever questioning my work.“ Tegasku membalas ancamannya dan mengambil buku catatan yang disodorkannya.

 

Syeikh hanya tersenyum atau paling tidak terlihat tersenyum. Susah sekali melihat wajahnya dengan kilau matahari yang terpancar dari balik badannya.

 

„Perfect. Now you can leave my office and start your work. My men will take you around.“ Katanya lagi sambil mengisyaratkan dengan jentikan jarinya kepada orang-orang berjas putih yang berdiri di ruangan itu.

 

„No, thanks. I prefer to work alone.“ Tegasku sambil memasukkan buku catatan itu ke dalam tas kulit warna coklatku dan beranjak pergi tanpa mempedulikan orang-orang disekitarku. Dari pantulan bayangan di dinding kaca, kulihat sekilas dua orang dibelakang Syeikh dan seorang lagi hendak bergerak ke arahku namun Syeikh mencegahnya. Dia memerintahkan dua orang lagi yang menjaga pintu untuk membukakan pintu.

 

Sejak hari itu selama seminggu aku mengelilingi Dubai dengan mengendarai mobil Jaguar warna biru gelap yang disediakan Syeikh untukku. Setiap hari aku berpindah-pindah dari hotel ke hotel, dari bar ke bar, dari diskotik ke diskotik dan setiap saat pula aku selalu melihat beberapa sosok berjas putih selalu terlihat di kejauhan. Ternyata orang-orang Syeikh tetap saja mengikutiku. Terserah saja ! ujarku dalam hati.

 

Tempat-tempat yang aku kunjungi merupakan tempat-tempat yang super mewah dan nan eksklusif. Hotel-hotel megah mulai dari yang berbintang lima sampai yang berbintang tujuh. Bar-bar yang dipenuhi orang-orang kulit putih yang berpakaian mahal yang asyik berbincang-bincang dan saling bertukar nafas yang berbau naga. Beraneka ragam minuman keras tersedia khusus buat membasahi kerongkongan kaum western ini. Diskotik-diskotik yang eksotis dan hingar bingar dengan house music, dijejali tamu-tamu VIP penganut gaya hidup hedonisme yang kebanyakan pemuda-pemuda Arab dengan harta yang berlimpah menggandeng wanita-wanita penghibur kelas atas. Kehidupan elit yang sebelumnya kukira hanya ada di Las Vegas sana ternyata ada juga di Dubai. Negeri yang katanya menjalankan syariat agama Islam.

 

Namun diluar dunia yang gemerlap itu, disepanjang perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya, aku melewati daerah-daerah yang sangat bertolak belakang. Bangunan-bangunan beton berlantai paling tinggi tiga dan berbentuk kotak persegi yang berwarna putih semu tampak lusuh dan berdebu. Tempat-tempat sampah yang berantakan dan berbau tidak sedap terlihat di setiap sudut jalan. Mobil-mobil yang sangat murah harganya disini tampak terparkir tak beraturan di kanan kiri jalan raya.

 

Orang-orang Asia Selatan yang hilir mudik di sisi jalan. Wajah mereka hitam terbakar sinar matahari dan peluh membasahi pakaian mereka. Kebanyakan mereka bekerja sebagai supir atau pelayan toko. Pemuda-pemudi asal Filipina yang berjalan bergandengan tangan dengan payung yang melindungi mereka dari sengatan matahari. Pekerjaan mereka pun tak jauh dari pelayan toko, pembantu rumah tangga atau buruh bangunan.

 

Teringatku akan cerita si supir taksi asal Pakistan yang membawaku ke bandara. Dia bercerita sambil bersungut-sungut tentang bagaimana susahnya untuk bertahan hidup di Dubai ini. Ketika dia pertama kali datang ke Dubai tiga tahun yang lalu, penghasilan sebagai supir taksi yang tinggi lah yang membuatnya tergiur dan terpesona. Penghasilannya yang hanya lulusan sekolah menengah saat itu bahkan lebih tinggi dari penghasilan seorang sarjana di Pakistan. Namun sekarang, walaupun penghasilannya tetap tinggi dan mungkin sedikit lebih tinggi, biaya hidup terutama tempat tinggal di kota ini sungguh sangat tidak masuk akal.

 

„This is a crazy place nowadays, my friend !“ Teriaknya pada ku.

 

Dia melanjutkan bercerita bagaimana saat ini dia terpaksa berbagi satu kamar yang berukuran tidak lebih dari tiga meter kali tiga meter dengan enam orang lainnya. Semuanya laki-laki dari Pakistan. Tapi dia kemudian bercerita bagaimana orang-orang Filipina tidak hanya terpaksa harus berbagi kamar dengan sesama pria atau wanita tapi keduanya. Sekelompok pria dan wanita hidup dalam sepetak ruangan sempit dan pengap, berbagi satu kamar mandi dan dapur seadanya. Gila ! lebih parah dari sel dalam penjara ! pikirku saat membayangkannya.

 

Supir taksi itu kemudian bercerita lagi bagaimana dia berencana untuk bekerja setahun atau dua tahun lagi, tidak lebih dari itu, untuk menyelesaikan kredit rumah yang dia miliki di Pakistan. Dia bilang bahwa tidak ada kesempatan yang adil lagi di Dubai. Semuanya penuh diskriminasi. Para pendatang seperti dia tidak akan punya kesempatan lebih tinggi dari pekerjaannya sekarang. Dan dengan kehidupannya seperti saat ini, dia tidak sanggup bertahan lebih lama lagi. Dia punya keluarga di Pakistan. Seorang istri dan dua orang anak perempuan yang masih remaja menantinya di kampung halaman.

 

„Uhuk…uuhuuk !!!“ Suara batuk perempuan disebelahku membuyarkan lamunanku. Dia sudah bangun rupanya. Dengan cepat kulipat secarik kertas yang aku pegang dan kuselipkan kembali ke dalam buku catatan. Buku itu kemudian kusembunyikan dibawah tempat dudukku. Kumintakan segelas air putih pada seorang pramugari yang melintas dan kusodorkan kepada perempuan itu.

 

„Ini ada air putih. Coba diminum biar batuknya reda.“ Kataku mencoba untuk ramah.

 

„Matur nuwun, Mas.“ Sahutnya pelan. Segera diraihnya gelas itu dari tanganku dan dalam sekejap air didalamnya habis diminumnya.

 

„Segar sekali, Mas. Terima kasih ya, Mas.“ Katanya lagi sambil tersenyum. Ah, manis sekali senyum itu. Aku mengangguk dan mencoba membalas senyumnya. Selimut yang dari tadi menutupi tubuhnya perlahan dibukanya. Tampak olehku bahwa tidak hanya sekedar jilbab yang dikenakannya yang berwarna hitam, melainkan seluruh kain yang menutupi tubuhnya juga berwarna hitam. Seperti orang yang mau melayat saja, pikirku.

 

„Enggak tidur, Mas ?“ Tanyanya kepadaku. Kedua matanya menatap sayu ke arahku.

 

„Enggak ngantuk.“ Jawabku singkat. Dia tertawa kecil.

 

„Wah saya juga tadi sebelum naik pesawat enggak ngantuk, Mas. Tapi begitu duduk dan dikasih selimut ini langsung deh kepingin tidur. Kebiasaan, Mas. Dulu juga waktu saya sering naik bis Jogja – Solo saya pasti ketiduran. Begitu naik di Terminal Jogja, eh tau-tau udah nyampe Solo. Maaf ya, Mas.“ Jelasnya sambil tersipu malu. Pipinya terlihat begitu merah di wajahnya yang putih.

 

„Loh kok minta maaf. Enggak apa-apa ko. Orang kalau ngantuk ya obatnya cuma satu, tidur.“ Jawabku mencoba sedikit berkelakar. Dia tersenyum lebar. Saat dia tersenyum, matanya terlihat bersinar-sinar.

 

„Namaku Ruminah, Mas. Mas siapa?“ Tanyanya malu-malu.

 

„Aku Muda. Panggil aja Muda deh. Enggak usah pake Mas segala.“

 

„Oh, Mas Mu…eh Muda ya. Wah asyik dong, enggak bakal bisa jadi tua.“ Balasnya berkelakar. Sekarang aku yang tersenyum lebar mendengarnya.

 

Setelah itu tak henti-hentinya kata demi kata mengalir dari bibir mungilnya. Dan aku pun tak kuasa menghindari pesona yang terpancar kuat dari perempuan ini. Ruminah ini secara fisik tidak terlalu cantik tapi ada sesuatu yang membuatku tertarik.

 

BERSAMBUNG

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s