Versi Dia, Dia, dan Mereka

 

 

Versi Dia (Laki-laki)

 

Hari Sabtu tanggal 21 Desember

 

Aku sedang duduk di depan televisi ketika tiba-tiba saja ponselku berdering. Kubaca nama yang tertera di layarnya.

 

“Dia ?” pikiranku seketika melayang-melayang membayangkan sesosok gadis cantik di ujung sana. Jantungku berdebar-debar. Dengan sikap canggung kuterima panggilan telfonnya.

 

“Halo, Assalamualaikum”, sapaku dengan sebisa mungkin menahan emosi yang entah kenapa mulai bergejolak.

 

“Waalaikum salam, Mas“, sahut suara lembutnya. Ada nada gelisah di dalamnya.

  

“Apa kabar, Dek? Tumben telfon“, sambungku sambil mencoba terus mengatur nafasku agar tidak terdengar grogi olehnya.

 

“Mmm baek, Mas”, sahutnya datar.

 

“Ada apa nih ?” tanyaku lagi. Semakin penasaran aku dibuatnya.

 

Dia terdiam. Beberapa kali terdengar dia menghela nafas.

 

“Dek ? Kamu kenapa ?” tanyaku memecah keheningan. Aku mulai bertanya-tanya. Detak jantungku bukannya stabil malah menjadi semakin kencang. Dan setelah lagi-lagi menghela nafas, suaranya kembali terdengar.

 

“Maaf ya, Mas. Aku minta Mas jangan menghubungi aku lagi“, sahutnya semakin pelan dan ragu-ragu.

 

Entah kenapa, aku bisa menerima. Memang sejak awal aku bertemu dengannya, aku tidak begitu menaruh perasaan padanya. Ayahnya adalah rekanan bisnis ayahku dan akhir-akhir ini hubungan mereka semakin dekat seperti layaknya dua orang sahabat karib.

 

Satu bulan yang lalu mereka sekeluarga datang berkunjung untuk makan malam bersama keluarga kami dan saat itulah pertama kali aku melihatnya. Dia memang cantik. Orangnya supel dan easy going. Namanya Nura tapi karena umurku yang lebih tua, aku panggil dia Adek dan dia memanggilku Mas. Walaupun dia lebih muda dari aku tapi sikap dewasanya sangat terlihat. Seorang pria normal akan langsung jatuh hati padanya. Tapi saat itu rasanya tidak ada chemistry antara aku dan dia. Dan selanjutnya setelah beberapa kali berbicara melalui telfon dan bertukar pesan lewat sms, niatku hanya ingin berteman dengannya sambil mencoba melupakan hubunganku dengan seseorang yang baru saja berakhir. Hatiku masih belum siap untuk mendapatkan „penghuni“ yang baru. Lagipula dari temannya aku tahu dia sudah punya pacar. Jadi saat ini ketika kudengar permintaannya, aku tidak terlalu peduli dan aku sudah menduga hal ini suatu saat pasti akan terjadi.

 

“ Iya, Dek”, jawabku singkat.

 

“Aku bener-bener minta maaf, Mas. Aku…soalnya…aku…mmm…“

 

“Sudahlah, Dek. Enggak perlu dijelasin. Mas ngerti ko“, sahutku sambil terus bersikap wajar.

 

“Mas ngerti ? Mas ngerti apa ? dia ganti bertanya.

 

“Maksud Mas, Adek enggak perlu ngejelasin alasan Adek. Mas enggak perlu tahu.”, jawabku.

 

“Ya sudah kalau gitu. Terima kasih, Mas sudah mau mengerti.“

 

Aku terdiam tak tahu mau bilang apa.

 

Kembali dia menghela nafas dan kemudian terdengar suaranya yang sedikit bergetar seperti menahan tangis.

 

“Wassalamualaikum, Mas.”, ucapnya lirih hampir tak terdengar.

 

“Waalaikumussalam.”

 

Aku matikan ponselku dan kulempar ke atas sofa. Ada sedikit rasa kesal di hati. Aneh, aku tidak pernah merasa memilikinya tapi kenapa sekarang seperti ada yang hilang ? Mungkin tanpa kusadari perasaan itu sudah bersemi di hatiku. 

 

 

Versi Dia (Perempuan)

 

Hari Sabtu tanggal 21 Desember

 

“Aku harus berbuat apa sih untuk buktiin kalau aku cinta mati sama kamu, Ron ? Aku dan Karim hanya teman. Sudah berkali-kali aku jelasin ke kamu bahwa satu-satunya alasan berteman dengannya adalah demi kelancaran bisnis Ayah. Ayah ingin menjalin hubungan baik dengan keluarga Karim sehingga investasi Papanya ke perusahaan Ayah terus meningkat. Karim tuh nggak lebih baik dari kamu. Nggak pantas deh kamu cemburu sama dia. Aku cuma sayang sama kamu, Roni.”, jelasku pada Roni yang sedari tadi diam seribu bahasa. Wajahnya menatap keluar jendela apartemenku, mengacuhkan tatapan mataku yang memohon pengertiannya.

 

“Aku enggak percaya itu, Ra. Kalau kamu enggak ada rasa buat dia, buat apa sih kamu menyetujui ajakan Ayahmu untuk makan malam bersama keluarganya. Dan aku rasa sejak saat itu kamu berubah. Kamu tergila-gila padanya.”, sahut Roni lirih.

 

“Ron, tolong dengerin aku. Kalo bukan demi Ayah, enggak bakal aku mau ketemu dia. Dan aku juga sudah cerita kalau malam itu malam yang paling membosankan bagi aku. Aku merasa kayak di penjara duduk satu meja makan bersama keluarganya yang sangat kaku itu. Karim sendiri adalah yang terkaku di antara mereka. Beda banget sama kamu, sayang. Kamu selalu buat aku tertawa.”

 

“Ah…Bullshit! Kalau memang benar seperti itu ngapain kamu sering telfon-telfonan dan sms-an dengan dia ? tukasnya. Nada suaranya meninggi. Tatapan matanya sekarang tajam menatap wajahku. Wajahnya tetap tampan walaupun saat dia sedang marah seperti sekarang.

 

“Itukan caraku untuk menahan dia agar enggak datang menemuiku, Ron. Karim itu tergila-gila padaku. Kalau enggak aku layani telfon dan sms nya, bisa-bisa dia langsung datang kesini. Please deh, Ron. Aku cuma sayang kamu !” balasku setengah berteriak.

 

Roni berdiri dari sofa tempat kami duduk dan mengambil ponselku yang tergeletak di meja makan.

 

“Kalau kamu benar-benar sayang sama aku, sekarang juga kamu telfon dia dan bilang sama dia kalau dia jangan pernah menghubungi kamu lagi !” perintah Roni sambil menyodorkan ponselku.

 

“Oke, I will do everything for you, honey.”, jawabku tanpa ragu-ragu.

 

“Tapi, demi Ayah. Aku harus sedikit berpura-pura kalau aku sedih melakukannya. Enggak apa-apa ya, Sayang. Demi Ayah…”, pintaku pada Roni.

 

“Terserah…”

 

Aku tekan nomor ponsel Karim. Karim, anak pengusaha terkaya di negeri ini yang baru menyelesaikan sekolahnya di luar negeri dan siap untuk meneruskan kerajaan bisnis keluarganya. Penampilannya biasa saja, jauh kalah tampan di banding Roni. Sikapnya sangat dingin dan kaku. Dan tentu saja, sama sekali aku tak tertarik padanya. Beberapa kali nada panggil terdengar sebelum akhirnya suara kaku Karim terdengar dari ujung sana.

 

“Halo, Assalamualaikum”, sapanya hampir tanpa ekspresi.

 

“Waalaikum salam, Mas“, sahutku pelan. Mataku melirik ke arah Roni mencoba untuk mencari dukungannya. Tapi pandangan Roni kembali melayang keluar jendela. Aku tahu dia menahan cemburu.

 

“Apa kabar, Dek? Tumben telfon“, suara dingin Karim mengingatkanku pada seseorang di ujung sana yang menjadi penyebab pertengkaran kami.

 

“Mmm baek, Mas”, sahutku datar mencoba menahan rasa kesalku padanya.

 

“Ada apa nih ?” tanyanya tanpa basa-basi.

 

Aku terdiam mencoba mengumpulkan keberanian dan berfikir bagaimana cara yang paling halus untuk mengatakan hal ini pada Karim. Aku tak ingin membuatnya gusar dan marah padaku sehingga kemungkinan besar dia akan berbicara pada Papanya memohon agar investasi Papanya di perusahaan Ayahku dihentikan sebagai bentuk balas dendamnya padaku.  

 

“Dek ? Kamu kenapa ?” tanyanya memecah keheningan. Dia mulai kebingungan.

 

“Maaf ya, Mas. Aku minta Mas jangan menghubungi aku lagi“, sahutku sedikit ragu-ragu.

 

Terdengar suaranya menelan ludah. Aku bersiap untuk mendengar berondongan pertanyaan dan rengekannya namun yang keluar dari mulutnya sama sekali tak terduga olehku.

 

“ Iya, Dek”, jawabnya singkat. Sekarang giliranku yang bingung. Apa aku sudah membuatnya sangat sedih ? atau dia hanya sekedar berpura-pura menerima namun sebenarnya dia sangat marah padaku. Aku harus memberikan alasan yang tepat untuk keputusanku ini.

 

“Aku bener-bener minta maaf, Mas. Aku…soalnya…aku…mmm…“

 

“Sudahlah, Dek. Enggak perlu dijelasin. Mas ngerti kok“, sahutnya pelan. Aku merasakan dia menahan emosinya. Semakin bingung aku dibuatnya. Apa dia sudah tahu tentang hubunganku dengan Roni ?

 

“Mas ngerti ? Mas ngerti apa ?“

 

“Maksud Mas, Adek enggak perlu ngejelasin alasan Adek. Mas enggak perlu tahu.”

 

“Ya sudah kalau gitu. Terima kasih, Mas sudah mau mengerti.“

 

Dia cuma diam. Ada sedikit perasaan bersalah kepada Karim tapi begitu kulihat Roni dan ternyata dia tersenyum kepadaku, aku terharu bahagia. Begitu cintanya aku pada Roni sehingga aku rela berbuat apapun demi dia. Aku ingin segera kembali ke pelukannya.

 

“Wassalamualaikum, Mas.”, ucapku lirih sambil menjulurkan satu tanganku ke arah Roni. Aku ingin dipeluknya.

 

“Waalaikumussalam.”, balasnya.

 

Roni beranjak dari duduknya dan berjalan ke arahku. Diraihnya tanganku yang terjulur ke arahnya dan ditariknya tubuhku mendekat ke tubuhnya. Tangannya mengusap kepalaku dan membelai rambutku. Aku rebahkan kepalaku ke dadanya dan bisa kurasakan detak jantungnya berdegup kencang. Dia bahagia dan aku cinta padanya.

 

 

Versi Dia (Laki-laki)

 

Hari Jumat tanggal 27 Desember

 

Aku rebahkan tubuhku di sofa favoritku. Setelah seharian berkeliling dari satu kantor cabang perusahaan Papa ke kantor cabang lainnya, tubuh ini rasanya lelah sekali. Papa ingin sekali aku segera mulai bekerja membantunya. Padahal baru hampir dua bulan yang lalu aku kembali menginjakkan kakiku di tanah air tercinta ini.

 

Rasanya baru kemarin aku mengucapkan salam perpisahan kepada teman-temanku dari balik gerbang keberangkatan Heathrow Airport. Rasanya baru kemarin aku menerima sertifikat kelulusanku di depan puluhan lulusan Master of Business and Administration Program lainnya di Cambridge University. Rasanya baru kemarin aku menerima pelukan hangat Mama untuk pertama kalinya setelah tiga tahun lamanya aku meninggalkan rumah.    

 

Tapi sepertinya Papa benar-benar menaruh harapan padaku untuk meneruskan jejaknya sebagai pemimpin perusahaannya. Papa sudah menyiapkan langkah-langkah yang harus aku lakukan sebelum akhirnya mengambil alih jabatannya sebagai direktur utama. Sebagai awalnya aku harus sering-sering melakukan kunjungan ke seluruh cabang perusahaan agar lebih dikenal karyawan dan lebih mengenal seluk beluk perusahaannya. Akhirnya waktu seminggu ini aku habiskan di perjalanan dari kota ke kota lainnya berhubung cabang perusahaan Papa tersebar di seluruh penjuru nusantara.

 

Hari ini hari terakhir dari agenda perjalanan yang dijadwalkan Papa. Yang aku inginkan sekarang duduk bersantai di tempat favoritku, ruang santai keluarga. Aku hidupkan AC di sudut ruangan untuk sekedar memberikan udara yang sejuk sebelum kembali menghempaskan tubuhku di sofa. Baru saja aku akan meraih remote TV sebelum dari balik pintu ruang keluarga muncul Anwar supirku.

 

“Mas Karim, maaf Mas. Anu…ada yang nyari Mas Karim.”

 

“Nyari aku ? Siapa ? manajer kantor pusat ya ? bilangin aja deh segala urusan perusahaan ditunda sampai Senin. Aku capek banget, War.”, sahutku cuek pada Anwar.

 

“ Bukan Mas…yang nyari Mas itu Mbak-mbak gitu…saya suruh tunggu di teras…“sahut Anwar perlahan seakan menyembunyikan sesuatu.

 

„Cewek ? siapa War ?“ tanyaku penasaran.

 

„Itu lo, Mas…Mbak cantik yang dulu pernah dateng sama keluarganya untuk makan malam disini…tapi sekarang kelihatannya mbaknya lagi sedih, Mas“, jawab Anwar ragu-ragu.

 

„Nura ? sedih ? ah kamu, War. Ada-ada aja. Disuruh masuk aja kesini. Hayo cepat!“ perintahku.

 

„Siap, Mas“, jawab Anwar sambil setengah berlari menuju teras depan rumah.

 

Aku beranjak dari sofa menuju ke jendela ruang tamu. Mataku mengintip dari balik kaca jendela mencari sosok Nura. Mataku menangkap sosok Anwar yang tergopoh-gopoh berlari dari pintu samping rumah ke arah teras depan rumah kami. Dia berhenti sekitar lima meter tempatku berdiri dan di depannya aku lihat seorang gadis cantik yang berpakaian sangat modis dan anggun. Wajah Nura terlihat pucat dan dari kedua matanya yang basah dan sembab terlihat sangat jelas kesedihan yang sedang dirasakannya.

 

Masih aku ingat dengan jelas suaranya di telfon genggamku beberapa hari yang lalu ketika dia memintaku untuk tidak menghubunginya lagi. Sekarang dia berdiri di teras rumahku, dengan mata sembab, ingin bertemu denganku. Apa artinya ini ?

 

Dari balik kaca jendela kulihat Anwar mempersilahkan Nura untuk masuk ke Ruang Keluarga kami seperti yang tadi kuperintahkan kepadanya. Nura berjalan perlahan memasuki pintu samping dan Anwar mengiringinya dari belakang. Segera kurapikan kemeja yang kukenakan dan kusisir perlahan rambut ikalku dengan jari tanganku dan bergegasku menuju ke arah sofa tempat ku duduk sebelumnya. Tepat ketika aku hendak duduk kembali di sofa, Anwar muncul kembali dari balik pintu.

 

„Mas Karim…ini ada tamu…“ katanya pelan.

 

Belum sempat aku mengucapkan sepatah kata, sosok Nura muncul dari belakang Anwar. Mata kami berdua seketika saling bertatapan. Matanya tetap terlihat indah walaupun butir-butir air mata perlahan mulai kembali bermunculan. Beberapa saat kami hanya terdiam saling menatap tanpa mengucap sepatah kata sebelum kemudian Anwar menyilahkan Nura duduk dan menghilang dari balik pintu.

 

„Apa kabar, Dek?“ kataku mencoba memecahkan kecanggungan kami berdua.

 

Kembali kuamati sosok gadis yang duduk dihadapanku ini. Penampilannya tetap sangat menarik dengan blouse putih dan rok coklat selutut yang dikenakannya. Rambutnya pun tetap tertata rapi dengan gaya rambut terbaru melengkapi kesan anggun dan feminin dari seorang Nura. Namun semua itu tak bisa menutupi kesedihan yang sedang melandanya.

 

„Nura baek-baek aja, Mas. Mas Karim sendiri gimana? Kelihatannya capek sekali.“ Suaranya bergetar menahan tangis. Tetap perhatian juga dia padaku, pikirku dalam hati.

 

„Iya nih. Aku baru aja pulang dari kantor. Sibuk sekali aku belakangan ini.“ Jawabku datar. Keletihan sedikit mempengaruhi sikapku. Ditambah dengan kebingunganku melihat sikapnya saat ini.

 

„Oh, sibuk ya Mas.“ Sahutnya pelan dan terdengar sedikit sarkastic. Tiba-tiba kepalanya tertunduk, kedua telapak tangannya menutupi wajahnya dan dia mulai menangis.

 

„Eh Adek…ada apa, Dek? Kenapa kamu nangis?“ Tanyaku semakin penasaran dan khawatir akan kondisinya. Ingin aku memeluk tubuhnya, mendekapnya dan membisikkan „everything is gonna be alright“ di telinganya. Tapi aku tak bisa, entah kenapa, dan hanya terduduk diam menatapnya tubuhnya yang bergetar terisak-isak.

 

„Aku…aku….enggak bisa ngelupain Mas.“ Lirihnya di tengah-tengah derai air matanya.   

 

Seketika hatiku seakan berhenti berdetak.

 

„Apa, Dek? Maksud Adek? Tanyaku perlahan agar tak membuatnya semakin bertambah sedih. Tak percaya aku dengan apa yang baru saja kudengar. Mungkin sudah terlalu capek otakku ini sehingga membuatku berhalunasi macam-macam.

 

„Maafin aku ya Mas…sebenarnya…aku merasa enggak pantas untuk datang kesini menemui Mas Karim…setelah apa yang sudah aku katakan pada Mas saat terakhir kali aku telfon Mas. Tapi aku enggak bisa menahan perasaanku lagi. Sejak saat itu, bayangan wajah Mas selalu hadir dibenakku. Walaupun kita baru saja kenal tapi entah kenapa rasanya aku sangat kehilangan Mas. Aku merasa salah, Mas. Maafin Nura, ya? Please…

 

Semakin bingung aku dibuatnya. Dibenakku bergejolak semua perasaan, bingung, terkejut, haru, lega dan bahagia. Bahagia? Ya! Karena sebenarnya pun aku merasakan hal yang sama seperti apa yang diucapkannya. Selama hari-hari yang melelahkan belakangan ini, aku tak hanya sibuk memikirkan laporan-laporan perkembangan dan jual beli perusahaan tapi aku juga tak bisa berhenti memikirkan sosok seorang gadis yang saat ini berada dihadapanku. Ternyata pertemuan kami yang sekilas ini telah memberikan kesan yang sangat dalam di hati aku dan, yang baru aku ketahui sekarang, juga Nura!

 

„Dek, Mas enggak bisa maafin Adek karena enggak ada kesalahan yang Adek buat. Adek enggak perlu minta maaf. Mas juga mau bilang ke Adek bahwa aku juga enggak bisa ngelupain Adek. Aku sayang Adek. Adek mau kan jadi seseorang yang special untuk ku?“

 

Entah malaikat atau setan yang merasuki pikiranku sehingga membuatku begitu takut untuk kehilangan dirinya lagi dan begitu berani untuk mengucapkan kata-kata itu. Aku tak peduli lagi dengan segala kebingungan dan keraguanku. Aku yakin bahwa aku sayang dia dan dia merasakan hal yang sama. Aku tak bisa dan tak mau lagi kehilangan seseorang yang aku sayangi. Aku tak mau merasakan sakit itu lagi. Aku mendekat ke arahnya dan ku raih telapak tangannya. Aku genggam erat tangannya sementara tanganku yang lain mengusap air matanya kemudian membelai rambutnya.

 

Nura terdiam, berhenti menangis, menatapku tajam kemudian mengangguk. Ku kecup keningnya dan ku peluk erat tubuhnya.   

 

 

Versi Dia (Perempuan)

 

Hari Jumat tanggal 27 Desember

 

Aku tak habis mengerti apa yang bisa membuatku berani berada di tempat ini sekarang. Tempat yang sangat aku tidak ingin kunjungi. Tempat ini walaupun sangat megah sekali terkesan sangat menyeramkan bagiku. Mobilku merayap memasuki halaman depan rumahnya yang sangat luas dengan taman yang penuh bunga beraneka ragam mulai dari Rosa, Jasminum dan Bougenvillea mewarnai bak pelangi di halaman rumput yang hijau segar. Aku parkir mobilku di sebelah pos Satpam dan merapikan make up ku di depan kaca spion. Kepada wajah yang berada di dalam kaca itu ku berkata, ini demi keluarga, Nura. Beranilah dan berkorbanlah ! Namun kemudian yang muncul adalah wajah Roni dan tak sadar air mataku kembali mengalir. Seketika aku seka air mata itu dengan tissue dan bergegas ku keluar dari mobil. Dari dalam pos Satpam seorang pria melihat kedatanganku dan menyambutku.

 

„Eh Mbak Nura…apa kabar Mbak? Udah lama enggak ketemu nih. Mau ketemu Mas Karim ya?“ tanyanya bertubi-tubi. Pria yang berkulit hitam dan kurus ceking ini aku kenal dengan nama Anwar, supir keluarga Karim. Usianya tidak jauh berbeda dengan Karim.

 

„Hai Anwar, kabarku baek aja ko. Iya udah lama enggak kesini. Mas Karim ada enggak? Jawabku perlahan sambil kupaksakan untuk tersenyum. Tapi entah kenapa malah air mataku yang hampir keluar.

Anwar tampak heran melihat sikapku.

 

„Ada, Mbak. Sebentar ya saya lihat dulu di dalam. Mbak Nura tunggu saja di teras situ biar enggak kepanasan. Kayaknya Mbak kurang sehat ya?

 

„Ah enggak apa-apa ko, War. Iya deh aku tunggu disana. Terima kasih, ya.“

 

„Sama-sama, Mbak. Sebentar ya.“ Jawabnya sambil kemudian setengah berlari menuju ke dalam rumah melalu pintu samping.

 

Perlahan aku berjalan menuju teras depan rumah yang berjarak kurang lebih 20 meter dari pos Satpam ini. Di teras rumah ini berdiri empat tiang beton ala Romawi yang besar-besar dan berwarna krem. Sementara dua buah set sofa besar mengisi ruangan di antara tiang-tiang itu. Beberapa waktu yang lalu, saat pertama kali aku datang ke rumah ini, di tempat ini lah Karim dan keluarganya menyambut aku dan keluargaku.

 

Ponsel di tasku tiba-tiba bergetar. Ku lihat tulisan RONI HONEY tertera di layarnya. Segera saja kumatikan ponselku. Aku sayang kamu, Roni tapi aku tak mau berubah pikiran lagi, pikirku. Aku melakukan ini demi keluargaku dan pada akhirnya juga demi aku dan Roni. Terbayang dibenakku wajah Ayah yang sangat lemah menahan sakit di dadanya akibat terlalu stress dengan pekerjaannya.

 

Beberapa hari yang lalu, pak Ismail Arya, rekanan bisnis Ayah yang juga adalah papa dari Karim memutuskan untuk menunda merger antara perusahaan raksasanya dengan perusahaan Ayah dikarenakan suatu alasan yang sangat aneh, menunggu keputusan Karim. Padahal Ayah sangat mengharapkan merger ini karena kesulitan keuangan yang sangat mengganggu operasional perusahaannya. Dan akhirnya karena terlalu banyak pikiran, sakit jantung Ayah kambuh dan harus dirawat di Rumah Sakit. Sempat beberapa kali Ayah mengalami kondisi yang kritis. Dan akhirnya semalam Ayah sudah mulai membaik dan bisa berbicara dengan keluarganya.

 

Ketika aku sedang berbicara berdua dengannya, Ayah menanyakan hubunganku dengan Karim. Ayah juga menceritakan tentang bagaimana Papa Karim sangat mempercayai anaknya tersebut sehingga semua keputusan Karim akan menjadi keputusan perusahaan. Ketika aku ceritakan tentang percakapan terakhir kami lewat telpon, seketika wajah Ayah menjadi merah padam. Beliau sangat kecewa dengan keputusanku, apalagi mengetahui bahwa semua itu kulakukan demi Roni. Ayah memang tidak begitu suka dengan Roni yang Ayah anggap hanya mengandalkan wajah tampannya saja untuk mengambil hatiku dan tidak punya rencana yang matang buat masa depan kami.

 

Malam itu kondisi Ayah kritis lagi sampai tengah malam sebelum akhirnya berangsur-angsur membaik kembali. Dan sebelum tertidur, Ayah sempat memanggilku untuk berbicara lagi. Ayah memintaku untuk bertemu dengan Karim secepatnya dan memohon maaf darinya.

 

Setelah Ayah tertidur, aku menelfon Roni untuk memberitahunya tentang permintaan Ayah ini. Aku tak ingin dia kembali meragukan cintaku untuknya. Setelah beberapa kali nada tunggu berbunyi, terdengar suara seseorang dari ujung telfon.

 

„Halo…“sapa suara tersebut. Suara perempuan!

 

„Halo…siapa ini?“ tanyaku penasaran. Tiba-tiba hubungan telfonnya terputus.

 

Seketika itu pikiranku semakin bertambah kalut. Aku coba menelfon Roni lagi tapi sepertinya ponselnya dimatikan. Malam itu aku habiskan dengan menangis, memikirkan apa yang sedang Roni lakukan saat itu. Begitu teganya dia selingkuh saat aku justru sedang sangat membutuhkan dia. Menjelang subuh baru aku bisa tidur setelah mengambil keputusan untuk menemui Karim dan mencoba meminta maaf darinya. Demi Ayah dan keluargaku.

 

Dan disinilah aku sekarang, berdiri di teras depan rumah Karim, menunggu untuk bertemu dengannya dan mencoba mengambil hatinya, demi Ayah yang terbaring lemah di Rumah Sakit. Tak lama kemudian. Anwar kembali datang dengan tergopoh-gopoh mendekatiku.

 

„Mbak Nura…Silahkan langsung masuk saja, Mbak. Mas Karim udah nunggu di ruang keluarga.“

 

„Terima kasih, Anwar.“

 

„Lewat sini, Mbak.“ kata Anwar menunjuk ke arah pintu samping. Sekilas ku melirik ke arah jendela kaca di belakangku dan ku lihat sesosok bayangan mengintip dari balik jendela. Karim, ujarku dalam hati.

 

Ketika aku benar-benar melihat sosok Karim di hadapanku, berdiri dengan canggungnya di ruang keluarganya yang desain interiornya bagaikan interior ruangan suite di hotel berbintang lima, hatiku mendadak sedikit menciut. Sosoknya sekarang benar-benar sangat elegant. Seperti layaknya seorang pria dewasa yang matang. Penampilannya bak layaknya eksekutif muda dengan kemeja warna krem dan dasi merah marun yang dikenakan dibalik rompi coklat tua. Rambutnya yang ikal tersisir rapi ke belakang. Namun di wajahnya terlihat keletihan yang amat sangat yang mengingatkanku pada wajah Ayah di Rumah Sakit. Tanpa kusadari beberapa butir air mata mengalir di pipiku.

 

Sejenak kami berdua hanya diam saling bertatap mata sebelum kemudian Anwar menyilahkanku duduk dan menghilang dari balik pintu.

 

„Apa kabar, Dek?“ katanya dengan suara yang tetap kaku seperti dulu.

 

„Nura baek-baek aja, Mas. Mas Karim sendiri gimana? Kelihatannya capek sekali.“ Suaraku bergetar menahan tangis.

 

„Iya nih. Aku baru aja pulang dari kantor. Sibuk sekali aku belakangan ini.“ Jawabnya kembali dengan nada yang datar.

 

Keletihannya yang dirasakannya agaknya menambah kadar kekakuan sikapnya. Melihat kondisinya saat ini mendadak menjadi kasihan aku melihatnya. Betapa berat beban yang ada dipundaknya sebagai pewaris tunggal perusahaan Papanya di usianya yang masih sangat muda. Terbersit rasa simpati di hati kecilku untuknya. Tak tega rasanya memenuhi permintaan Ayah untuk memanfaatkan hatinya demi kelancaran bisnis. Tapi bagi Ayah, bisnisnya itulah hidupnya dan hanya orang yang sekarang duduk dihadapanku inilah yang secara tidak langsung memegang kendali akan hidup Ayah. Kenyataan in membuat hatiku bergejolak antara sedih, marah dan keputusasaan.

 

„Oh, sibuk ya Mas.“ Sahutku pelan mulai terbawa emosi. Tak kuasa lagi aku menahan gejolak perasaan di hati ini, kututupi wajahku dan mulai menangis.  

 

„Eh Adek…ada apa, Dek? Kenapa kamu nangis?“ tanyanya. Terdengar nada khawatir di suaranya. Orang ini punya emosi juga ternyata.

 

„Aku…aku….enggak bisa ngelupain Mas.“ Kataku lirih. Mulai aku bersandiwara. Maafkan aku, Karim. Semua ini aku lakukan demi Ayah, ujarku dalam hati.  

 

„Apa, Dek? Maksud Adek? Tanyanya ragu. Sementara aku tak ragu lagi untuk meneruskan rencanaku.

 

„Maafin aku ya Mas…sebenarnya…aku merasa enggak pantas untuk datang kesini menemui Mas Karim…setelah apa yang sudah aku katakan pada Mas saat terakhir kali aku telfon Mas. Tapi aku enggak bisa menahan perasaanku lagi. Sejak saat itu, bayangan wajah Mas selalu hadir dibenakku. Walaupun kita baru saja kenal tapi entah kenapa rasanya aku sangat kehilangan Mas. Aku merasa salah, Mas. Maafin Nura, ya? Please…“Suaraku yang bercampur dengan tangis menambah dahsyat efek sandiwaraku. Tapi ternyata belum sedahsyat apa yang kemudian akan kudengar dari mulutnya.

 

„Dek, Mas enggak bisa maafin Adek karena enggak ada kesalahan yang Adek buat. Adek enggak perlu minta maaf. Mas juga mau bilang ke Adek bahwa aku juga enggak bisa ngelupain Adek. Aku sayang Adek. Adek mau kan jadi seseorang yang spesial untuk ku?“

 

Entah malaikat atau setan yang merasuki pikiranku sehingga membuatku merasa begitu tersentuh oleh kata-katanya. Begitu tulus dan penuh perasaan, berbeda sekali dengan image seorang Karim yang kaku yang selama ini ku tahu. Ada perasaan tenang yang menjalar dan ingin rasanya lebih mengenal sosok pria di hadapanku ini. Tiba-tiba tanpa sempat kusadari, dia telah mendekat ke tempatku duduk dan meraih telapak tanganku yang menutupi wajahku. Digenggam erat telapak tangan kananku dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya mengusap air mata di pipiku kemudian membelai rambutku.

 

Sentuhannya serasa tak hanya menyentuh tubuhku tapi juga jiwaku. Aku terbawa oleh perasaan yang memabukkan ini dan mengangguk perlahan. Kubiarkan dia mengecup keningku dan memeluk erat tubuhku. Kepalaku bersandar di pundaknya yang kokoh dan seketika itu pula getaran cinta merambat di hati.

 

 

Versi Mereka (laki-laki dan perempuan)

 

Hari Selasa tanggal 31 Desember

 

Mobil sedan mewah warna merah itu melaju perlahan melintasi jalan utama kota yang penuh dengan keramaian orang yang sedang menunggu detik-detik pergantian tahun. Di depan sebuah gerobak yang menjual terompet kertas, mobil tadi berhenti. Jendela kaca depan mobil sebelah kiri perlahan terbuka dan dari baliknya muncul sesosok wajah cantik.

 

„Bang, terompet kertasnya satu dong!“ teriak Nura dari dalam mobil.

 

„Kok cuma satu, Dek? Mas ga dibeliin?“ protes Karim dari belakang kemudi.

 

„Kan bisa dipake berdua, Mas. Lebih romantis.“ Balas Nura menggoda sambil mengambil terompet yang dipesan dan membayarnya.

 

„Toet!!! Happy New Year, Mas kepunyaanku!!!“ teriak Nura sambil membunyikan terompetnya ke arah telingaku.

 

„Aduh, Adek. Iseng amat sih. Kan belum tahun baru.“ Balas Karim sambil berusaha merangkul Nura yang berkelit manja.

 

„He he he…Bercanda, Mas. Serius amat sih.“ Bela Nura yang kemudian meraih lengan kiri Karim dan memeluknya erat.

 

Tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk di ponsel Nura. Dari Bundanya yang mengabarkan kondisi Ayah Nura yang sudah sangat membaik dan besok pagi sudah diperbolehkan pulang oleh dokter yang merawatnya.

 

„Ayah udah boleh pulang besok, Mas.“ Kata Nura berseri-seri.

 

„Alhamdulillah. Ya udah, besok pagi Mas jemput Ayah dari Rumah Sakit ya.“ Sahut Karim tak kalah berseri-seri.

 

Satu pesan singkat lagi masuk ke ponsel Nura. Dari Roni.

 

„Siapa lagi sih, Dek? Gangguin aja.“ Goda Karim sambil tersenyum.

 

„Enggak kenal, Mas. Salah nomor kayaknya. Ini aku matiin deh Hape ku.“ Sahut Nura sambil menekan tombol off di ponselnya dan kemudian kembali memeluk erat lengan kiri Karim.

 

Karim tersenyum dan mengecup kening Nura.

 

Dan mobil sedan merah yang membawa mereka pun kembali melaju perlahan membelah keramaian malam menjelang pergantian tahun. Bunga-bunga cahaya kembang api yang berwarna-warni dan menari-nari indah di angkasa menjadi perlambang warna-warni indah di lembaran kehidupan Karim dan Nura yang baru terbentang.

 

 

4 Comments Add yours

  1. satrio says:

    Versi Dia (Roni)

    Hari Selasa tanggal 31 Desember

    Di dalam kamar kosku yang sederhana dan kecil itu aku tergeletak pada ranjang kayu beralas kasur kapukku. Atap kos-kosanku semakin lama terasa semakin mendekat, seluruh jantungku serasa terdesak oleh tekanan mengecilnya ruanganku.
    “FUCK!! SHIT!!!” aku berteriak dalam hati.
    Wanita memang biadab. Wanita bukan manusia.
    Badanku tak dapat bergerak, dalam kepalaku terulang imaji-imaji masa lalu ketika aku bersama si wanita murahan itu. “WANITA FUCK!!!”

    Tiba-tiba teman bandku si Riyo menelponku. Dia adalah teman bandku, vokalis sekaligus pemimpin bandnya. Aku baru sadar kalao aku lupa kalau aku seharusnya latihan band setengah jam yang lalu! Riyo sudah tahu tentang ceritaku dan si wanita jalang itu, dan membujukku untuk tetap datang meskipun telat. Sebenarnya aku tidak ada tenaga untuk pergi, tapi aku tidak ingin mengecewakan Riyo dan teman-teman, karena band kami baru saja mengeluarkan album pertama kami, dibawah label indie, dan hari ini lagu ciptaanku yang berjudul “Nura” baru saja masuk playlist radio-radio lokal.

    Ku singkirkan imaji wanita setan itu dan dengan cepat ku samber Gitar Bassku dari gantungan, dan kusetir sepeda motor Vespaku menuju ke studio tempat latihan Band yang biasa kami pakai untuk latihan.

    Alangkah terkejutnya ketika aku mendatangi tempat itu! Sudah banyak orang berkerumun di studio itu, banyak perempuan, dan juga laki-laki! Ada banyak juga kameraman dan fotografer yang telah menanti! Dan yang bikin aku lebih heran-heran lagi, ketika mereka melihatku, mereka semua berlari kearahku sambil minta tandatanganku dan mencercaku dengan seribu pertanyaan!

    “Haah, maaf kayaknya anda salah orang..” aku berkata sambil mencoba menerobos permintaan tantatangan, foto dan wawancara di depan studio itu.

    Sesampainya di dalam studio, aku terkejut ketika Riyo dan teman-teman bandku sedang duduk satu meja dengan Big Boss CEO Sony Music Indonesia! Riyo sedang memegang selembar kertas di tangan kiri dan bolpen di tangan kanan.

    “So, gimana Ron?” Ia bertanya sambil tersenyum. “Teken?”

    Untuk pertama kalinya dalam 10 hari, aku tersenyum.
    “Teken.”

    Aku keluarkan HPku dan meng-sms Nura, meski aku tau dia takkan membacanya. Aku juga sudah tidak peduli lagi.

  2. Nura says:

    **siuman**
    ada apa ini????
    ada apa ini????????

  3. helmy says:

    btw Nura siapa nih? kenalan yuk….

  4. nina says:

    wow, boleh juga tuh ceritanya. kisah nyata atau bukan mas? keren. kok ga nyoba nulis buku aja. pasti aku beli he he he

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s