The Orphans

dsc_0047.JPG

 

“Namaku Yatim, Bapakku sudah mati,” kata seorang anak laki setiap ditanya orang yang menyapanya. Sedang seorang yang lain dengan lantang menjawab, “Buat apa tanya namaku, aku Piatu, seingatku sih begitu Ibuku memanggillku, tapi dia sudah lama mati.”

Yatim, anak laki berumur sekitar tiga belas tahun, berbadan ceking tapi tegap, berkulit coklat terbakar matahari akibat sepanjang hari berada di perempatan itu berjualan rokok. Raut wajahnya lelah namun puas, menyiratkan banyak harapan masa depan. Matanya memandang tajam ke setiap orang, menjajakan sebatang rokok untuk bersenang-senang. Yatim tinggal dengan ibunya, di sebuah rumah kontrakan di lingkungan sekitar lokalisasi. Ibunya salah satu penjaja cinta terfavorit di kawasan itu. Pria-pria hidung belang langganannya silih berganti bergiliran mengunjungi rumahnya. Sehari tiga sampai empat orang memenuhi hajatnya disana tapi tetap saja ibunya tidak mendapat uang yang banyak.

“Kurang, Tim, ini hanya cukup buat makan kita, buat bayar sekolah kamu cari sendiri yah, anak baik…”bujuk ibunya sehingga Yatim kembali berada di ujung perempatan ini.

Senang Yatim disana, bisa dapat uang banyak, sebagian dia tabung, sebagian buat bayar sekolah seperti kata ibunya. Sore sehabis jualan biasanya Yatim singgah ke mushola di ujung jalan, sholat disitu, ikut ngaji, baru pulang larut malam dan ketika Yatim sampai di rumah, ibunya sudah kelelahan di pembaringan. Yatim makan, belajar sebentar kemudian pergi tidur ketika fajar sudah akan berkumandang. Dan paginya sebelum ibunya sempat bangun, Yatim sudah berangkat sekolah dan memulai harinya lagi. Begitu setiap hari.

Anak laki yang lain, kalau tidak salah tadi namanya Piatu. Umurnya sebaya dengan Yatim. Badannya pun tidak lebih besar dari Yatim, hanya saja warna kulitnya yang putih pucat menandakan ketidaksehatan. Wajahnya kurus, tulang pipinya menonjol dengan jelas. Jelas seperti pesakitan. Walaupun begitu Piatu kaya, atau tepatnya bapaknya yang kaya. Tak perlu dia membanting tulang seperti Yatim, hidupnya tercukupi. Berlebihan bapaknya dalam memanjanya. Semua yang diminta dikabulkan, semua keinginan dibebaskan. Piatu tinggal di kawasan elit kelas satu dimana istana bapaknya berdiri termegah diantara istana-istana lainnya di sekitarnya.

Bapaknya adalah seorang pengusaha sukses yang memiliki lebih dari seratus pabrik rokok yang tersebar di seluruh dunia. Rokok bapaknya adalah rokok yang laris di pasaran karena selain cita rasanya yang tinggi juga dijual dengan harga yang sangat murah. Dalam sebulan keuntungan yang didapat bapaknya dapat mencapai satu milyar. Dan Piatu sudah pasti mendapat bagian yang tak sedikit. Dengan kekayaan itulah Piatu dibesarkan dengan bergelimangan harta. Sudah pasti bapaknya sangat memperhatikannya namun keinginan membahagiakan Piatu membuat dirinya digantikan oleh uang dalam merawat anaknya. Jarang sekali mereka bercakap-cakap sebagai bapak dan anak. Yang bapaknya tahu tentang Piatu adalah bahwa dia setiap bulan sudah memberikan uang saku yang sangat cukup kepada Piatu. Sedangkan yang Piatu mau tahu adalah bagaimana dia menghabiskan uang sakunya.

“Ini uangmu bulan ini, sepuluh juta, kurang?”, tanya bapaknya dengan sayang. :”Oke, Pak, wah kurang nih, ini sih bakal habis sehari, tambah lagi dong, Piatu mau senang-senang nih…”, rengeknya. “Gampang, ini Bapak tambah…”, jawab bapaknya bangga. “Asyik!”, sambut Piatu berbinar-binar.

Jadi seperti itulah sehari-harinya dijalani. Bergaul dengan teman-teman bangsawannya, berfoya-foya, bebas, tanpa aturan. Sehari segepok uang dia habiskan. Buat apa uang itu peduli amat. Yang penting dia senang karena bapaknya pun tak ambil pusing.

“Bapakku? Dia sudah mati sejak aku belum melihat dunia ini”, kata Yatim.

Bapaknya Yatim dulunya adalah seorang yang kaya raya. Hartanya melimpah. Kekayaan keluarganya tak akan habis tujuh turunan. Tapi mendadak mereka bangkrut. Bapaknya meninggal karena stress dan ibunya terpaksa menjual diri. Tapi satu yang masih dia ingat dari bapaknya. Bapaknya dulu suka sekali merokok, jadilah dia sekarang menjual rokok di perempatan itu.

“Membuatku teringat Bapak…”, katanya kalau ditanya mengapa dia berjualan rokok.

Lain lagi dengan Piatu, dia sama sekali lupa soal Ibunya. Memangnya dia pernah ketemu ibunya ? Waktu kecil, ibunya terlalu sibuk bekerja dan arisan. Arisan dan bekerja. Bekerja dan arisan. Itu saja yang ada di benak ibunya sebelum akhirnya dia memutuskan untuk menyerahkan posisinya ke tangan pembantu. Pembantu berseragam putih-putih itulah yang merawat Piatu bahkan sampai menyusuinya.

“Ibu, siapa itu ? tak ingat aku ? Oh, dia wanita yang memanggilku Piatu ? yah, aku hanya ingat namanya…namanya Ibu !” jawabnya mantap.

Tak lama setelah Piatu masuk sekolah, ibunya meninggal dalam kecelakaan mobil yang akan membawanya ke tempat arisan.

Mereka berdua sekolah di tempat yang sama. SD, SMP, sampai SMA, mereka selalu mendapatkan sekolah yang paling bagus di daerah itu. Hanya saja cara mereka masuk tiap sekolah itu berbeda. Yatim selalu masuk ke sekolah yang terbaik karena nilai-nilainya yang selalu sempurna, hasil kerja kerasnya belajar sepulang dari kerja di mushola itu. Sedangkan Piatu masuk ke sekolah-sekolah terbaik itu karena bapaknya adalah penyumbang dana terbesar di sekolah-sekolah itu. Nilai-nilainya hampir tidak pernah disinggung.

Setelah itu, perjalanan hidup mereka berbeda. Lulus dari SMA dengan nilai terbaik membuat Yatim mendapatkan beasiswa penuh di perguruan tinggi nomor satu di ibukota. Berbeda dengan Piatu yang setelah lulus SMA memutuskan dia sudah tidak memerlukan sekolah lagi. Piatu kemudian diberi tanggungjawab oleh bapaknya untuk memimpin salah satu kantor cabang perusahaannya di daerah itu. Yah, tanggungjawab yang diterimanya dengan setengah hati karena yang penting baginya adalah dia bisa lebih bebas lagi, lebih berkuasa, dan yang paling penting adalah lebih bisa bersenang-senang.

“Bu, Yatim pamit, Yatim tidak ingin meninggalkan Ibu sendiri tapi Yatim harus pergi, Bu…Demi kebahagiaan keluarga, Yatim akan kuliah kemudian mencari uang yang banyak di Ibukota…Yatim minta do’a restu dari Ibu…“, begitu katanya ketika dia akan meninggalkan ibunya untuk merantau ke kota. “Ya, Tim…hati-hati di ja…”, kata ibunya tanpa sempat menyelesaikan kata-katanya karena tangannya sudah digaet masuk ke dalam kamar oleh seorang pelanggan yang berbadan besar.

Yatim sudah terbiasa dengan hal itu. Dia tahu ibunya selalu sayang kepadanya. Dengan membulatkan tekadnya, dia berangkat ke ibukota. Dia bersumpah tidak akan kembali lagi ke daerah ini sebelum dia membawa uang yang banyak. Tahun, dua tahun, lima tahun, sepuluh tahun tak terasa Yatim merantau di ibukota. Kuliah ditempuhnya dengan tekun dan diselesaikannya dengan, sekali lagi, nilai sempurna. Setelah wisuda yang tanpa dihadiri ibunya, Yatim ditawari pekerjaan oleh seorang kenalannya di sebuah pabrik rokok yang baru saja berdiri. Yatim bekerja dengan tekun dan disiplin sehingga tahu-tahu dari posisi awalnya yang masih menjadi pegawai rendahan, pada akhir tahun dia sudah menjadi salah satu direktur di perusahaan itu.

Dan pada tahun ke sebelas ketika dia kembali ke daerah asalnya, dia sudah menjadi direktur utama di perusahaan itu. Dia kembali ke daerah itu dengan membawa uang yang berkarung-karung. Harapannya adalah dia dapat melihat wajah bahagia ibunya. Tetapi ketika dia sampai di depan mushola di ujung perempatan itu, tempat dia biasa belajar di waktu kecil, Yatim melihat ada sebuah keranda di teras mushola. Dan ketika dia sampai di rumah, para tetangga sudah ramai menyambutnya. Bukan dengan wajah berseri-seri dan kagum menyambut kepulangan Yatim, melainkan dengan wajah-wajah yang menangis melepas kepergian ibunya tercinta. Ya, ibunya meninggal tidak lama sebelum Yatim kembali dari Ibukota.

“Ibumu sudah lama sakit, Tim, dia terkena AIDS, dia selalu menanyakan kapan kamu pulang, Tim…”, kata seorang pria yang Yatim yakini adalah pria berbadan besar yang bersama ibunya ketika dia berpamitan sebelas tahun yang lalu.

Yatim menguburkan jenazah ibunya dan memutuskan untuk tinggal di daerah itu kembali. Dia membeli rumah kontrakan ibunya, bahkan seluruh daerah lokalisasi dan mengubahnya menjadi kompleks perumahan yang menyerupai istana raja-raja. Dan terakhir, Yatim mengubah mushola yang berada di ujung perempatan itu menjadi sebuah masjid yang megah dan kemudian para pengurus masjid sepakat memberi nama masjid itu, Masjid Al Yatim. Yatim menikah di masjid itu dengan seorang gadis dari ibukota dan tak lama setelah itu, istrinya melahirkan seorang anak laki.

“Hei, ayo! Tambah lagi minumnya ! ayo kita bersenang-senang ! teriak Piatu pada seorang temannya di sudut diskotik itu.

Piatu sendiri menjadi pusat perhatian di diskotik itu. Bukan karena dia tampan, bukan karena banyak gadis cantik di pelukannya, bukan karena uang-uangnya dihamburkan seperti layaknya pesawat kertas, melainkan karena dia mabuk ! Dia duduk sendirian di tengah ruangan itu sementara di mejanya bertumpukan gelas-gelas dan botol-botol kosong yang tadinya berisi minuman keras. Bicaranya meracau, gerakan tubuhnya liar mengeliat kesana kemari mengikuti dentaman musik disko dan mulutnya terus-terusan mengeluarkan sendawa yang berbau naga.

Bukan tanpa sebab dia bertingkah laku seperti itu. Tadi siang dia baru saja menerima kabar dari sekretarisnya bahwa kantor cabang perusahaan ayahnya yang dipimpinnya di daerah itu bangkrut. Hutang perusahaan mereka pada para investor dan bank sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Dan mulai besok seluruh aset perusahaannya di daerah itu akan disita. Kantor cabang perusahaan besar bapaknya yang setelah dia lulus dari SMA diserahkan kepadanya untuk dipimpin sekarang tidak lebih berharga dari sebuah kios rokok di pinggir jalan. Sudah sebelas tahun dia memimpin kantor cabang itu dan selama itu pula dia tidak mempedulikannya. Hanya sesekali dia mengunjungi kantornya, itupun hanya untuk mengambil uang perusahaan dari sekretarisnya untuk kemudian dipakainya bersenang-senang. Dan selama sebelas tahun itu pula kantor cabang itu terus menerus merugi dan sekarang hutang yang menumpuk membuat kantor cabang ini bangkrut total.

Dunia serasa kiamat begitu dia mendengar kabar itu, bukan karena dia tidak sadar akan kondisi perusahaannya yang hampir bangkrut, melainkan dia tidak menyangka akan terjadi secepat itu dan dia belum menyiapkan alasan buat bapaknya. Bagaimana reaksi dari bapaknya jika mendengar kabar ini ? Dia tidak siap untuk kehilangan keistimewaan yang diberikan oleh bapaknya dan perkiraannya itulah yang akan dilakukan bapaknya ketika mendengar kabar ini. Dia akan dikembalikan ke rumahnya yang dulu, dikurung, diawasi, dan dia tidak akan bisa bersenang-senang lagi. Sekarang, dia akan bersenang-senang sepuas-puasnya di diskotik langganannya. Untuk terakhir kalinya sebelum dia menerima hukuman dari bapaknya.

“Ha..ha..ha…ayo! kita bersenang-senang…hik…putar lebih kencang musiknya…hik…tambah lagi minumanku…ha…haa…sebelum besok aku akan mati menderita di tangan bapakku !!!” teriaknya tak karuan sementara seluruh mata di diskotik itu memandangnya dengan jijik.

Bagaimana bisa seorang laki tampan dan kaya yang selama ini bergelimangan harta dan digandrungi gadis-gadis mata duitan sekarang tergolek lemah di tengah ruangan sementara mulutnya berbusa-busa dicekoki oleh minuman keras meneriakkan umpatan-umpatan yang tak jelas lagi. Sepanjang malam dia berada di diskotik itu dan akhirnya ketika jelas-jelas dia menjadi orang terakhir yang tersisa di tempat itu, tertidur akibat mabuk berat di tengah ruangan, dia dikeluarkan dengan paksa oleh para penjaga diskotik.

Dia pulang ketika azan subuh sudah hampir berkumandang. Melaju dengan kencang di atas mobil mewahnya, sementara matanya sendiri sudah tidak mampu melihat jalanan dengan jelas. Mobil dipenuhi oleh muntahannya sendiri dan kepalanya pusing seperti ada yang menusuk kepalanya dengan pisau tajam. Jalanan lengang membuatnya semakin menekan pedal gas dan mobil semakin melaju kencang namun gerakannya semakin tidak karuan. Dan akhirnya di ujung perempatan itu, dia berbelok terlalu tajam dan menabrak pagar besi sebuah masjid megah. Kepalanya terbentur dengan keras dan dadanya tertusuk besi pagar tajam yang mencuat akibat tabrakan. Piatu mati tepat ketika azan subuh dikumandangkan. Paginya jenazahnya disholatkan di masjid itu dengan bapaknya sebagai imamnya.

… … …

Masjid yang megah itu dipenuhi oleh ratusan rangkaian kembang duka cita yang dikirimkan oleh relasi bisnis bapaknya. Tampak pagar depan masjid itu rusak berat sementara papan namanya masih tetap berdiri tegak walaupun sisa darah Piatu masih terlihat mengering di tepi-tepinya. MASJID AL YATIM, begitu terbaca tulisan huruf yang tercetak indah di papan nama masjid itu. Dan wajah Yatim pun terlihat sedih dan menangis di depan keranda anaknya. Ya…Yatim adalah bapaknya Piatu dan Piatu adalah anak semata wayang Yatim.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s