Muda !

s3700027.JPG

  

      Buakkk!!! Sekepal tangan mengayun dan menghantam pelipis dengan kerasnya sehingga aku terjengkang. Badanku terhuyung dan kemudian terjatuh di tanah becek namun tanpa jeda terjangan kaki dan ayunan batang kayu menyusul menghanjar tubuh basahku. Entah itu basah karena keringat bercampur darah atau karena air comberan yang tergenang di tanah. Kesadaranku mulai menghilang seiring dengan hentakan pukulan yang bersarang di sekujur tubuhku. Aku hanya bisa meringkuk dengan kedua tanganku memegangi lututku. Satu persatu bayangan masa lalu mulai berputar hilir mudik di benakku. Seperti tayangan ulang sebuah acara di televisi.

Sejak kecil aku tinggal bersama ayahku di sebuah kota kecil di utara Pulau Jawa. Berdua kami menempati sepetak rumah gubuk di belakang sebuah stasiun kereta api tua. Rumah, atau lebih tepatnya tumpukan papan dan kayu bekas yang ditata sedemikian rupa sehingga seorang atau dua orang manusia maksimal dapat tinggal didalamnya, itu kami sewa dari seorang preman tua penguasa daerah setempat. Dialah yang mempunyai semua gubuk yang ada di daerah ini. Deretan gubuk ini memanjang di kanan kiri rel yang membentang ke arah ibukota. Satu-satunya yang membedakan gubuk kami dengan yang lain adalah kehadiran beberapa buah pot tanaman hias yang selalu dirawat oleh ayah setiap harinya. Mungkin seperti yang selalu ayah katakan kepadaku bahwa tanaman hias itulah satu-satunya harta kami yang paling berharga. Tapi tetap saja aku tidak pernah cukup telaten untuk merawatnya.

Namaku Pemuda. Ayah memanggilku Muda. Orang-orang disekitarku pun memanggilku Muda. Umurku cukup tua untuk membeli sebatang rokok namun terlalu muda untuk mencari uang. Selama ini ayah lah yang bekerja keras menghidupi kami. Kerjanya serabutan. Kadang sebagai kuli panggul di stasiun. Kadang sebagai tukang becak di stasiun. Bahkan tak jarang pula ayah nyambi jadi calo di stasiun. Pokoknya kehidupan kami sangat tergantung pada keberadaan stasiun tua itu. Ayah tak pernah memintaku membantunya mencari uang. Bahkan kalau boleh jujur, ayah bahkan tak pernah berbicara denganku lagi. Ya, sejak aku terpaksa berhenti sekolah beberapa tahun yang lalu akibat tunggakan uang sekolah yang tidak bisa ditolerir lagi oleh pihak sekolah, ayah sangat merasa bersalah dan lama kelamaan semakin jarang berbicara kepadaku. Yang kuperhatikan semakin lama ayah semakin jarang pulang dan beliau memasrahkan semua urusan rumah kepadaku. Jadilah aku sehari-hari melakukan semua pekerjaan rumah yang dulu biasa kami lakukan bersama-sama. Setiap pagi kusiapkan sarapan seadanya untuk ayah, itupun kalau kemarinnya ayah meninggalkan uang untuk belanja di atas meja. Ayah biasa pulang malam sekali dan pergi lagi pagi-pagi sekali sehingga kadang sarapan yang sudah kusiapkan tidak disentuhnya. Sikapnya kepadaku berubah menjadi keras. Selain tidak pernah bicara kepadaku kecuali kalau ingin menyuruhku, ayah selalu melampiaskan kekesalannya kepadaku. Kalau sudah begitu bersiaplah aku menerima bentakan dan cacian dari ayah. Tak peduli betapa aku ingin membuatnya senang, semua yang kulakukan dianggap salah dimatanya.

Buakkk!!! Dess!!! Sekepal tangan kembali mengayun dan menghantam pelipis dengan kerasnya sehingga aku terjengkang. Badanku terhuyung dan kemudian kembali terjatuh di tanah becek namun tanpa jeda terjangan kaki dan ayunan batang kayu menyusul menghanjar tubuh basahku. Entah itu basah karena keringat bercampur darah atau karena air comberan yang tergenang di tanah. Kesadaranku mulai menghilang lagi seiring dengan hentakan pukulan yang bersarang di sekujur tubuhku. Aku hanya bisa meringkuk semakin dalam dengan kedua tanganku memegangi lututku. Satu persatu bayangan masa lalu kembali berputar hilir mudik di benakku. Seperti tayangan ulang sebuah acara di televisi.

Ayah memang keras atau dulu aku menyebutnya disiplin. Dibesarkan di lingkungan pesantren membuatnya taat beragama. Wataknya yang keras sejak kecil membuatnya kurang disukai di lingkungannya. Didikan ala tentara dari kakek yang mantan pejuang membentuk kepribadiannya. Ayah menikah dengan ibu karena dijodohkan dan karena suatu alasan yang tidak jelas, ayah menceraikan ibu untuk kemudian membawaku meninggalkan kota kelahirannya. Dan sampailah kami berdua di kota ini. Satu hal yang masih dapat kubanggakan dari sosok ayahku bahwa ketaatannya terhadap ajaran agama tidak pernah berkurang. Setahuku ayah tidak pernah meninggalkan sholat wajib dan bahkan beliau tetap menyempatkan sholat malam ketika pulang ke rumah tengah malam. Suatu subuh pernah kutemukan ayah tertidur lelap di atas sajadahnya. Mungkin ketaatannya inilah yang menjaganya dari menyakitiku. Ya sekeras apaun bentakan ayah, sekasar apapun ucapannya, beliau tidak pernah memukulku. Ketika kemarahannya memuncak yang ayah lakukan hanya masuk ke dalam biliknya tanpa berucap sepatah kata pun. Namun tetap saja doanya belum membuka pintu hatinya untuk berbicara lagi denganku.

Keadaan itu membuat rumah serasa neraka bagiku. Ditambah lagi darah mudaku yang selalu saja terpancing untuk melawan ketika ayah mulai membentakku. Sekeras apapun aku mencoba bersabar tetap saja pada akhirnya aku melakukan pembelaan yang memancing ayah untuk semakin menjadi-jadi. Bisa sampai berjam-jam ayah memarahiku dan setelah selesai, entah itu karena kemarahannya yang sudah mereda atau malah semakin memuncak, ayah masuk ke kamar dan meninggalkanku termangu sendirian. Dan biasanya yang kulakukan kemudian adalah secepat mungkin keluar dari rumah untuk kemudian berjalan kaki tanpa tujuan. Sekedar mendinginkan kepala. Biasanya sih yang kulakukan cuma berputar-putar di sekitar rel saja tapi yang paling penting aku bisa menghindari kemarahan ayah. Setelah capek berputar-putar dan malas untuk kembali masuk rumah percaya atau tidak yang kulakukan adalah naik ke atas atap gubuk untuk kemudian duduk disana selama berjam-jam sambil menghisap beberapa batang rokok yang sengaja kusembunyikan disana.

 

“Dimarahin lagi, Muda ?” sapa tetangga yang lewat dan melihat aku di atas atap.

“Biasa”, jawabku datar.

“Minggat saja, Muda !”, saran yang lain.

“Huh !” jawabku ketus, “Dia itu ayahku, ya terserah dia…” sambungku.

 

Tak pernah terpikirkan olehku untuk meninggalkan ayahku seorang diri. Entah karena apa tapi jelas harapan bahwa semua akan menjadi lebih baik membuatku teru bertahan. Watak keras ayahku menurun kepadaku rupanya.

Lama-kelamaan kebiasaan itu kulakukan tidak hanya sehabis ‘berperang’ dengan ayah namun setiap aku tidak ada kerjaan, aku akan betah berjam-jam duduk di atas atap gubuk. Ironisnya hampir setiap waktu aku tidak ada kerjaan, ayah tidak mengijinkanku bekerja, sehingga jadilah atap itu sebagai ‘singgasana’ku. Ya hanya duduk tanpa banyak bicara hanya membiarkan pikiranku lepas melayang. Sering aku membayangkan semuanya berakhir, keluarga kami utuh kembali dan bahagia selamanya. Namun tampaknya kisah seperti itu hanya ada di negeri dongeng.

Buakkk!!! Dess!!! Buakk!!! Sekepal tangan kembali mengayun dan menghantam pelipis dengan kerasnya sehingga aku terjengkang. Badanku terhuyung dan kemudian kembali terjatuh di tanah becek namun tanpa jeda terjangan kaki dan ayunan batang kayu menyusul menghanjar tubuh basahku. Entah itu basah karena keringat bercampur darah atau karena air comberan yang tergenang di tanah. Kesadaranku mulai menghilang lagi seiring dengan hentakan pukulan yang bersarang di sekujur tubuhku. Aku hanya bisa meringkuk semakin dalam dengan kedua tanganku memegangi lututku. Satu persatu bayangan masa lalu kembali berputar hilir mudik di benakku. Seperti tayangan ulang sebuah acara di televisi.

Tapi setelah keadaan itu berlangsung selama bertahun-tahun mendadak semuanya berubah. Seiring dengan datangnya bulan Ramadhan kali ini, ayah berubah. Sepatah dua patah kata mulai keluar dari mulutnya. Bukan lagi dalam ungkapan kebencian namun lebih merupakan perkataan seorang ayah. Bahkan tak jarang seuntai senyum terukir pada bibirnya. Suatu hal yang seperti sudah berabad-abad tidak pernah aku jumpai. Ayah pun sudah jarang keluar rumah selain untuk bekerja. Sore hari ayah pulang dari bekerja membawa makanan untuk berbuka. Setelah berbuka ayah mengajakku sholat maghrib berjamaah di masjid kemudian makan nasi bungkus bersama dan kembali ke masjid untuk sholat Isya dan Tarawih berjamaah. Satu hal yang membuatku sangat bahagia adalah ayah tak henti-hentinya mengutarakan keinginannya untuk pulang ke tanah kelahirannya saat lebaran nanti dan berjanjinakan mulai mengumpulkan uang untuk ongkos perjalanan. Seminggu pertama puasa kujalani dengan penuh kebahagiaan dan penuh harapan sampai akhirnya aku mengerti apa yang terjadi sesungguhnya. Perlahan-lahan kondisi fisik ayah mulai menurun bahkan ayah sudah tidak pernah keluar untuk bekerja. Badannya semakin lemah sehingga akhirnya beliau hanya dapat terbaring lemah di biliknya. Ketika kutanyakan apa yang menimpanya, dia memberikan jawaban yang sama sekali tidak aku inginkan.

 

“Ayah sakit, Muda”, lirihnya, “parah kali ini, nak”.

 

Buakkk!!! Dess!!! Buakk!!! Dess!!! Sekepal tangan kembali mengayun dan menghantam pelipis dengan kerasnya sehingga aku terjengkang. Badanku terhuyung dan kemudian kembali terjatuh di tanah becek namun tanpa jeda terjangan kaki dan ayunan batang kayu menyusul menghanjar tubuh basahku. Entah itu basah karena keringat bercampur darah atau karena air comberan yang tergenang di tanah. Kesadaranku mulai menghilang lagi seiring dengan hentakan pukulan yang bersarang di sekujur tubuhku. Aku hanya bisa meringkuk semakin dalam dengan kedua tanganku memegangi lututku. Satu persatu bayangan masa lalu kembali berputar hilir mudik di benakku. Seperti tayangan ulang sebuah acara di televisi.

Dunia terasa jungkir balik saat ayah mengatakan kabar itu. Selama aku hidup bersama ayah, tak pernah ayah mengatakan sakitnya parah sesakit apapun beliau. Pernyataan betapa parah sakitnya seakan merupakan pernyataan bahwa ayah telah menyerah untuk hidup. Ayah akan mati, pikirku. Kenyataan itu membuatku semakin jatuh ke jurang kesedihan yang terdalam. Bagaimanapun buruknya perlakuan ayah terhadapku, beliau tetap ayahku. Dan apa yang terjadi selama seminggu itu seakan sudah menghapuskan ‘catatan kejahatan’ ayahku. Jelas bagiku bahwa waktu seminggu itu ayah pergunakan untuk meminta maaf dariku. Beliau seakan ingin menebus segala kesalahannya sebelum beliau semakin tidak berdaya akibat sakitnya. Entah perasaan apa yang kurasakan saat itu. Senang dan sedih bercampur jadi satu. Senang? Ya, aku senang karena sakitnya ini membuat aku kembali dekat dengannya. Membuat sosok ayah kembali hadir dalam hidupku. Sedih karena tentu saja rasa sayangku kepada ayahku tidak terkatakan lagi, hanya itulah yang membuatku bertahan hidup bersamanya. Sekarang aku akan kehilangan beliau, satu-satunya yang benar-benar kumiliki di dunia ini.

Sementara itu kondisi ayahku semakin hari semakin bertambah parah. Badannya semakin kurus dan ayahku pun tak lagi mampu berpuasa. Bulan puasa sudah berjalan hampir separuh sementara uang tabungan ayah sudah habis kupakai untuk membeli obat dan makan sehari-hari. Ditengah kebingunganku aku teringat akan keinginan ayah untuk pulang. Timbul keinginanku untuk mewujudkan keinginan ayah tersebut sekaligus memberikan harapan bagi kami berdua. Tinggal bagaimana sekarang aku mendapatkan uang untuk ongkos pulang. Uang tabungan ayah yang tadinya akan dipakai untuk biaya pulang sudah habis ludes. Akalku berputar mencari barang apalagi kah yang cukup berharga untuk dijual dan seketika aku teringat ucapan ayah bahwa tanaman hias yang ada di depan rumah kami adalah satu-satunya barang berharga yang kami miliki. Beliau juga pernah bercerita bahwa tanaman hias tersebut termasuk jenis langka yang mahal harganya dan tidak sembarang orang mengetahuinya. Langsung saja ku tengok ke depan rumah. Tanaman itu masih ada, masih segar malah bertambah banyak karena sejak ayah menyuruhku mengurus rumah yang aku lakukan ya hanya mengurus tanaman ini. Tidak banyak yang harus diurus untuk sebuah rumah gubuk. Setelah memastikan kondisi ayah sudah tenang di pembaringan sekaligus berpamitan dan mengunci semua pintu rumah rapat-rapat dengan menyisakan sedikit jendela yang terbuka untuk sirkulasi udara, aku pergi dengan membawa dua buah pot besar berisi tanaman hias di kedua tanganku. Tujuanku pasti ! ke sebuah toko tanaman hias terdekat yang sudah barang tentu akan membeli tanaman hias ini dengan harga mahal. Toko-toko tanaman hias tersebut kebanyakan berada di sekitar pasar di pusat kota. Jaraknya lumayan jauh dari stasiun kereta api. Kondisi pusat kota sudah berbeda jauh ketika aku terakhir kali kesana. Memang, lumayan jarang aku pergi ke pusat kota.

Sesampainya di pasar, aku langsung menuju ke deretan toko-toko yang menjual tanaman hias dan setelah mondar-mandir beberapa saat, aku memutuskan untuk masuk ke sebuah toko yang terlihat agak bonafit. Dan benar saja, ternyata pemilik toko tersebut mengenali jenis tanaman hias yang aku bawa itu. Pemilik toko itu terliha sangat bergembira dan mau membayar berapa saja yang aku minta untuk mendapatkan tanaman hias tersebut. Tanpa pikir panjang aku langsung menyebutkan harga sejumlah ongkos perjalanan pulang berdua dengan ayah ditambah sedikit biaya makan dan pemilik toko tersebut langsung membayar kontan.

Keluar dari toko, tak sabar aku untuk pulang dan bercerita kepada ayah bahwa besok kita akan pulang. Saking senangnya uang tersebut ku pegang sepanjang perjalanan pulang. Ada perasaan bangga dan puas bahwa aku akan bisa memenuhi keinginan ayah di saat beliau sedang sakit. Langkah kaki aku percepat menyusuri setapak jalan becek di tengah pasar. Di balik persimpangan itu bangunan stasiun tua itu sudah akan terlihat. Tiba-tiba, seseorang menabrakku dari arah belakang.

Buakk!!! Kami berdua terpental. Lelaki itu berpakaian cukup rapi namun sekarang jadi belepotan karena jatuh di jalan yang becek. Begitu juga aku.

 

“Maaf…”, katanya, “Ini untukmu…”, tangannya menyerahkan sebuah benda yang terlihat seperti sebuah tas atau apalah. Aku tak dapat melihatnya dengan jelas karena kepala sedikit pusing akibat terjatuh tadi. Begitu barang itu telah berpindah tangan, lelaki itu pergi dengan terburu-buru.

 

“Hei ! Apa ini !?!!” teriakku kepadanya. Saat aku tersadar ingin ku kejar dia namun tiba-tiba dari arah belakangku…

 

Buakkk!!! Dess!!! Buakk!!! Dess!!! Sekepal tangan kembali mengayun dan menghantam pelipis dengan kerasnya sehingga aku terjengkang. Badanku terhuyung dan kemudian kembali terjatuh di tanah becek namun tanpa jeda terjangan kaki dan ayunan batang kayu menyusul menghanjar tubuh basahku. Entah itu basah karena keringat bercampur darah atau karena air comberan yang tergenang di tanah. Kesadaranku mulai menghilang seiring dengan hentakan pukulan yang bersarang di sekujur tubuhku. Aku hanya bisa meringkuk semakin dalam dengan kedua tanganku memegangi lututku. Satu persatu bayangan masa lalu kembali berputar hilir mudik di benakku. Seperti tayangan ulang sebuah acara di televisi. Terdengar teriakan-teriakan benci di sekelilingku.

 

“Jambret!!! Jambret !!! Itu dia !!! Dia pegang tas itu !!!! “, teriaknya.

“Hajar saja !!!! “

“Bunuh !!!! “

“Bakar !!!! “

“Bukan!!! Saya bukan jambret…!!!! “, teriakku membela diri. Aku terus berteriak tapi teriakanku tertelan oleh amukan massa. Sementara tubuhku dihujani oleh pukulan dan tendangan yang bertubi-tubi, uang yang sedari tadi aku pegang berhamburan ke atas tanah yang becek. Sekuat tenaga aku merangkak mengumpulkan uang yang tercecer itu dan kemudian meringkuk semakin dalam melindungi uang tersebut di balik tubuhku.

Buakkk!!! Dess!!! Buakk!!! Dess!!! Jlepp!!! Tiba-tiba dadaku terasa sakit dan ketika ku perhatikan sebatang pisau sudah menancap penuh di sana. Dan seketika itu pula amukan itu berhenti. Orang-orang mulai menepi dan kemudian berhamburan kesana kemari. Darah segar mengucur deras dari balik pisau itu sementara pandanganku perlahan-lahan mulai kabur. Sekujur tubuhku penuh dengan luka. Uang yang tadi aku lindungi sekaran sudah basah dan berwarna merah terkena ceceran darah. Beberapa orang mulai mendekatiku dan ketika sudah dekat kulihat mereka semua berseragam. Aku teringat ayah di rumah…tidak…tidak hanya ayah….semua orang…ibu…kakek…nenek….satu persatu ingatan tentang orang-orang yang pernah ku kenal membayang di benakku. Satu persatu ingatan tentang masa lalu kembali membayang dan perlahan memudar kembali seiring dengan rasa dingin yang menjalar dari ujung kakiku. Pandanganku semakin kabur…dan kabur…dan akhirnya hanya tinggal gelap menguasai.

 

“Ayah, ayo kita pulang….”, itu kata terakhir yang sempat terucap dari bibirku.

 

… … …

 

Seminggu kemudian para tetangga menyium bau busuk dari arah rumahku dan mereka menemukan mayat ayahku bersujud di atas sajadah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s