Angel’s Tale

s3700158.JPG

 

        Kulempar rambut palsuku begitu saja ke atas meja. Rambut palsu yang berwarna perak itu meluncur di atas meja kayu berukir sebelum akhirnya teronggok di sisi meja seperti sebuah kemoceng bulu angsa yang penuh dengan debu. Sementara di sudut ruangan kamar yang mewah ini, di atas tempat tidur busa yang mewah dengan renda-renda kelambu sutra mengelayut dengan indahnya, tergolek sesosok tubuh wanita renta dengan mata terpejam. Wanita itu adalah istriku. Dari sudut jendela kulihat anak-anakku, Nathan dan Nadya keluar dari pintu depan rumah menyambut panggilan teman-temannya untuk bermain di bawah siraman sinar senja yang sedang menggoda malam.

Kembali aku sendiri di dalam sebuah istana hasil jerih payahku bertahun-tahun. Lelah aku seharian mengalahkan rasa ingin tahu Nathan dan Nadya akan keberadaan ibunya.

 

“Mom kenapa, Dad ?” tanya Nathan.

“Mom sakit apa, Dad ?” tanya Nadya.

“Aku mau ketemu Mom !” rengek Nathan.

“Aku mau my Mom !” rengek Nadya.

 

Jeritan-jeritan itu selalu membahana di seluruh ruangan sepanjang hari sebelum akhirnya aku berhasil membujuk beberapa anak dari gang sebelah untuk mengajak mereka bermain di luar.

Sekarang aku sendiri duduk disamping tubuh istriku, yah setidaknya itu yang terlihat dari luar. Wajahnya yang kurus masih menyisakan kecantikan masa lalu. Mata mungil yang indah dengan alis yang mengurai indah terpejam enggan membuka kembali. Rambut merah ikal terurai mempesona tinggal menyisakan kemulusan kulit kepala dan beberapa helai rambut. Tubuhnya yang dulu indah bagaikan kemolekan putri duyung yang berubah menjadi manusia kini terbaring kuyu dan lemah tanpa daya. Sudah sembilan tahun sejak istriku mengeluh sakit yang amat sangat pada kepalanya dan kemudian tak sadarkan diri sampai sekarang. Seorang dokter membawa sebuah kabar yang bagiku seperti surat pemutusan kontrak hidup istriku.

 

“Istrimu akan mati”, katanya.

 

Mana aku terima. Seorang istri yang begitu sempurna diambil begitu saja dari hadapanku. Seorang ibu yang begitu sempurna diambil begitu saja dari anak-anakku. Mana aku terima.

Beranjakku ke depan sebuah cermin. Memastikan bahwa aku masih tetap aku. Sekilas masa lalu kembali membias di khayalku. Masih teringat jelas lebih dari setengah abad yang lalu saat ku berjumpa dengan wanita itu. Ketika ku tatap wajahnya sekejap semua menjadi jelas. Kutinggalkan tugasku demi bersamanya. Kukhianati Tuhan demi bersamanya. Kujauhkan dia dari bertemu Tuhan. Kini setelah bertahun-tahun kami lalui menjalani hidup, saat itu datang kembali dan aku tidak dapat menolongnya kembali. Tuhan memintanya kembali dan aku bukan apa-apa lagi. Sepasang sayapku sudah kukembalikan kepada-Nya.

Kuperhatikan dengan seksama wajah yang ada di cermin. Wajahku sendiri. Masih tetap sama, seperti kemarin, seperti seminggu yang lalu, seperti setahun yang lalu, bahkan seperti setengah abad yang lalu. Wajah yang takkan pernah tua. Rupanya itu yang masih tersisa dari diriku. Ku teringat wajah heran Nathan ketika dia mengajakku untuk bertemu dengan guru SMU-nya tapi kemudian gurunya mengatakan bahwa beliau ingin bertemu dengan ayahnya bukan kakaknya. Dan aku masih ingat juga wajah bingung Nadya ketika pacarnya marah kepadanya karena melihat Nadya jalan-jalan di sebuah Mall dengan seorang lelaki muda yang tak lain adalah aku sendiri.

Ya, aku tak bisa tua. Di usiaku yang sudah lebih dari setengah abad semua masih tetap sama. Rambutku tetap pirang keemasan, mataku tetap tajam dengan garis alis yang tegas, wajahku mulus tanpa keriput sementara rahangku tetap kokoh mengeras seperti layaknya seorang bujang. Sampai akhirnya aku putuskan untuk memakai rambut palsu warna perak dan sedikit riasan demi meyakinkan orang-orang dan anakku sendiri bahwa aku sudah tua. Ya, aku tak bisa tua. Karena aku seorang malaikat. Mantan malaikat tepatnya.

Sementara istriku tidak. Dia seorang manusia. Ya, cinta sejatiku adalah seorang manusia. Seorang manusia yang melebihi malaikat bagiku. Dia lah yang membuatku tergila-gila. Dia lah satu-satunya keindahan bagiku. Dia lah satu-satunya kedamaian bagiku. Dia lah satu-satunya kebahagian bagiku. Saat aku bertemu dengannya adalah saat yang terindah dalam hatiku. Padahal waktu itu aku ditugaskan untuk mempertemukannya dengan Tuhan. Ya, aku hendak mencabut nyawanya. Dia dalam perjalanan ke rumah ketika mobil yang dikendarainya menabrak sebatang pohon di tepi jalan. Ku tatap dia. Ku bopong tubuhnya. Tak sanggup aku meninggalkannya. Dan kuselamatkan dia. Aku merawatnya dan terus merawatnya dan tanpa sadar aku telah menjadi bagian dari hidupnya. Ya, aku mengawininya dan bahkan selang berapa tahun seorang malaikat lain hadir dalam hidup kami dan kemudian tak lama kemudian seorang malaikat lain hadir dalam hidup kami. Ya, tawa riang Nathan dan Nadya mulai menghiasi cinta kasih kami. Tapi mereka tetap manusia.

Tahun demi tahun mereka mulai bertambah tua. Sementara aku tidak. Berbagai tipu daya kulakukan demi tetap hidup bersama mereka tanpa curiga. Karena mereka tak tahu bahwa aku malaikat. Mantan malaikat tepatnya. Berkat rambut palsu bodoh itu, berkat riasan aneh ini, aku masih tetap bisa bersama mereka. Sehari, seminggu, sebulan, setahun, sepuluh tahun, setengah abad berlalu penuh kebahagiaan sampai datang masa ini. Sembilan tahun yang lalu, istriku mengeluh sakit yang amat sangat pada kepalanya dan kemudian tak sadarkan diri sampai sekarang. Seorang dokter membawa sebuah kabar yang bagiku seperti surat pemutusan kontrak hidup istriku.

 

“Istrimu akan mati”, katanya.

 

Mana aku terima. Seorang istri yang begitu sempurna diambil begitu saja dari hadapanku. Seorang ibu yang begitu sempurna diambil begitu saja dari anak-anakku. Mana aku terima.

Sampai kemudian aku membuat kesepakatan dengan Tuhan. Aku akan menebus dosaku. Aku akan berbuat apa saja demi kebahagiaan istri dan anak-anakku tercinta. Dan hari ini adalah hari terakhir bagiku. Sekali lagi aku akan mencoba menyelamatkan dia dan sekarang anak-anakku juga. Karena aku seorang malaikat. Mantan malaikat tepatnya. Menyelamatkan manusia adalah tugasku.

Seiring dengan semburat sinar jingga di angkasa yang semakin menghitam, begitu juga dengan ragaku. Ku dengar suara Nathan dan Nadya di pintu depan. Mereka sudah pulang rupanya. Ku lihat sekali lagi sesosok jiwa yang ada di atas pembaringan. Wanita yang amat kucintai. Malaikat bagi seorang malaikat. Semoga cinta kami selalu abadi dan tak akan pernah berubah. Hanya itu doa terakhirku sebelum akhirnya ragaku mulai samar. Mulai dari ujung kaki perlahan-lahan seperti terhapus dari dunia sampai akhirnya wajah itu, wajah yang selalu terlihat sama di cermin, sekarang terlihat pun tidak. Menghilang seiring dengan kepekatan malam yang menyelimuti.

 

… … …

 

Perlahan aku mulai terjaga. Ada rasa dingin di bagian bawah tubuhku. Entah kenapa aku mulai menangis sejadi-jadinya. Dan seketika sepasang tangan meraihku, memelukku dengan lembut dan kemudian dengan cekatan mengganti popokku ! Kulihat wajahnya dan segalanya menjadi jelas bagiku. Wajah itu kembali cantik seperti dulu dengan mata mungil yang indah dengan alis yang mengurai indah dan rambut merah ikal terurai mempesona. Ya, wajah istriku tercinta atau sekarang tepatnya wajah ibuku tercinta karena demi istriku, aku memutuskan untuk menukar keistimewaanku sebagai seorang malaikat dengan kesembuhannya. Dan Tuhan menepati janjinya, istriku sehat kembali dan hidup bahagia bersama Nathan dan Nadya. Bahkan Tuhan menunjukkan kemurahan hati-Nya dengan mengabulkan doaku yang terakhir. Ya, cinta kami akan tetap abadi dan tak akan berubah karena aku terlahir kembali sebagai anak ketiga kami. Selama beberapa saat Tuhan memberiku kesempatan untuk meingat semuanya sebelum perlahan-lahan Dia memberiku hidup baru dan aku akan melupakan semuanya. Oh, ya…tahu tidak siapa namaku sekarang? Istriku atau tepatnya ibuku memberiku nama…Angel. Karena aku seorang malaikat. Mantan malaikat tepatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s