A.J.I.H.M.

dsc_0236.JPG

 

“Permisi mas mas mbak mbak…Misye numpang ngamen yaaaa…..LA LA LA !!!”

“Eh, Ras…ada duit receh nggak ?” kata Boy sambil menyenggol lengannya. Sontak lamunan Laras terhenti. Saat dia melirik ke sudut warung ini, seorang waria sedang bernyanyi dengan kemayunya.

“Ada…Nih !” sahut Laras sambil mengeluarkan sekeping uang logam seratus perak dari dompetnya.

“Udah…kasihin sana !” seloroh Boy sambil terus menyantap Soto Betawinya tanpa menoleh sedikit pun ke arah Laras.

 

Tidak lama kemudian waria itu mendekati tempat mereka duduk. Jalannya berlenggak lenggok bak peragawati di ajang pentas busana. Matanya berkedap kedip menggoda. Bibirnya tak henti henti mengulum senyum semanis-manisnya. Ketika sampai tepat di depan meja mereka berdua, sejenak dia membungkuk laksana putri raja yang sedang menghormati sang pangeran.

 

“Permisi mbak mas…aduh masnya ganteng sekali…boleh dong Misye menghibur mas…maap ya mbak….hihihi…”sapanya lemah lembut yang lantas saja membuat Boy belingsatan karena salah tingkah.

 

Tapi sepertinya dia tidak membutuhkan tanda setuju dari Laras karena langsung saja si Misye ini mengumbar suaranya yang cempreng. Tanpa menunggu satu lagu yang tidak jelas iramanya ini selesai, segera saja Laras menyodorkan uang logam yang sudah dia siapkan dari tadi di atas meja.

 

“Ini, Mas eh Mbak” katanya sambil sedikit menggoda.

 

Sosoknya yang luar biasalah yang membuat Laras sedikit ingin tertawa. Rambutnya yang ikal panjang sebahu diikat dengan kucir kembang karet warna merah jambu. Wajahnya dipenuhi oleh bedak putih tebal yang dari wanginya seperti bedak bayi, menutupi permukaan kulit hitam terbakar sinar matahari. Gincu merah menyala merekah di bibir tipisnya. Kalau saja alis matanya yang tebal berakhir tajam di kedua ujung dan dagu lebar berahang tegas tidak menyempurnakan wajahnya, tidak akan pernah ragu orang untuk menyebut dirinya seorang wanita bukan waria. Karena wajahnya cukuplah menawan, entah tampan atau cantik.

 

Tapi tentu saja kalo melihat keseluruhan dirinya sangat tak pantas untuk disebut wanita. Pundaknya yang tegap dan jenjang sama sekali bukan pundak wanita. Dadanya yang tetap kelihatan bidang walaupun diselipi sesuatu yang sepertinya dua buah jeruk bali sama sekali bukan dada wanita. Pinggulnya yang lurus kaku dan datar sama sekali bukan pinggul. Betisnya yang sedikit berotot mungkin saja betis seorang wanita tapi dengan rambut-rambut halus yang memenuhinya, hanya wanita yang kelaki-lakian yang membiarkan betisnya berambut seperti itu. Dibalut dengan blus terusan ketat warna merah jambu membuat tubuhnya tereksploitasi habis-habisan di malam ini. Kekontrasan antara wajah dan tubuhnya membuatku terpana dan kemudian tersenyum simpul.

 

“Laras ! Ngapain sih kamu sampai bengong gitu ngeliatan tuh banci ? Pulang yuk ! Aku dah selesai nih,” sontak Boy membuyarkan lamunanku.

“Iya..iya…Bayar dulu sana !”

“Okay…Kamu tunggu di parkiran aja sana….Aduh…Perutku nggak enak nih….”lirih Boy sambil berjalan perlahan ke arah bapak tua berkumis untuk membayar tiga porsi Soto Betawi makan malam mereka. Satu porsi jatah Laras dan dua porsi ludes oleh Boy. Sepertinya itulah yang menyebabkan kenapa sekarang Boy berjalan sedikit sempoyongan memegangi perutnya.

 

Laras berjalan perlahan menyeberangi jalan raya yang lalu lintasnya cukup ramai malam ini. Entah kenapa Boy memarkir motornya diseberang jalan bukannya di parkiran yang tepat di depan warung Soto Betawi itu. Sementara motor-motor dan mobil.mobil melaju kencang sehingga yang tampak hanyalah kilasan cahaya lampu-lampu sorot, Laras sampai di ujung seberang tepat di depan motor Boy diparkir. Malam yang dingin semakin bertambah dingin seiring dengan rintik gerimis hujan yang mulai turun. Sedikit gelisah Laras menatap ke seberang jalan mencoba mencari sosok Boy di kejauhan.

“Aduh…kenapa lama amat sih ?” lirihnya.

 

Tak lama kemudian dia menangkap sosok Boy yang berjalan perlahan keluar warung. Laras mulai merasa tidak enak ketika dia melihat Boy berjalan sempoyongan dengan satu tangan memegangi perutnya. Sementara itu hujan mulai meramaikan malam dan perlahan menderas. Jalanan semakin bertambah ramai dengan motor-motor yang melaju semakin kencang mencoba menyelamatkan diri dari hujan. Boy mencoba bersabar menunggu kesempatan untuk menyeberang sementara perutnya yang semakin bertambah nyeri dan mulai membuat pandangannya mengabur. Di kejauhan Boy melihat sosok Laras yang mulai basah kuyub karena kehujanan.

 

Tak sabar Boy melangkah sedikit berlari melintasi lalu lalang kendaraan. Larinya sempoyongan terlihat dipaksakan. Hampir separuh jalan berhasil dia lalui ketika sekilas cahaya terang dari lampu sorot mobil sedan yang melaju kencang membutakannya dan membuatnya terpaku. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Laras menjerit dengan kedua tangan menutupi wajahnya. Boy terdiam sepersekian detik sebelum sebuah tangan meraih pundaknya dan menariknya ke belakang hingga terjekang.

 

Kedua tubuh mereka terjatuh bergulingan di permukaan aspal jalan raya, basah dan nyeri menjalar tapi Boy selamat. Mobil sedan itu berhenti sekitar satu meter di depan mereka, sesosok kepala laki-laki botak menyembul keluar dari balik kaca pengemudi, memaki dan kemudian tancap gas. Laras berlari histeris di tengah hujan ke arah tempat mereka terjatuh. Tubuhnya basah kuyup. Boy mencoba berdiri dengan perih dari luka lecet di sekujur tubuh yang membuatnya melupakan nyeri perutnya. Degup jantungnya belum sempurna benar ketika Laras memeluknya sambil menangis sejadinya.

 

“Boy !!! Kamu nggak apa-apa kan !!! Hu hu hu…Hati-hati dong, Boy ! tangis Laras sambil membantunya berdiri.

 

Berdua mereka melihat sesosok tubuh yang lain yang juga basah kuyup mencoba perlahan bangkit. Blus merah jambu itu robek di sana sini hingga tak berbentuk lagi. Dia berdiri, menatap mereka sejenak, gincu merah itu sudah lenyap tersapu air hujan, dan kemudian tanpa sepatah kata terucap, berlalu pergi meninggalkan mereka berdua. Sekilas Laras melihat kedua matanya, dingin dan kosong, kegenitan yang baru sesaat yang lalu terpancar, hilang tak berbekas. Sambil mencoba menenangkan dirinya sendiri, Laras membantu Boy berdiri dan berjalan perlahan kembali ke arah warung untuk berteduh. Bapak berkumis pemilik warung menyuruh anak buahnya membuat segelas teh hangat dan membantu Boy duduk di salah satu pojok warungnya.

 

“Kamu tidak apa-apa, Nak ?” tanyanya.

“Nggak apa-apa, Pak. Terima kasih.”

 

Dari kejauhan, Laras melihat sosok merah jambu itu berjalan terpincang perlahan menyusuri tepi jalan raya. Kepalanya sebentar-sebentar menggeleng entah pertanda menahan sakit atau penyesalan. Hujan semakin deras dan sosok tersebut akhirnya menghilang di ujung jalan. Saat itulah perasaan aneh mulai muncul di hati Laras tapi sepertinya bukan sekedar ingin berterima kasih, lebih dari sekedar ingin tahu tapi dia tidak tahu apa.

 

… … …

 

“Udahlah Ras! Udah capek aku dari tadi jalan kaki nggak tentu arah. Udah seminggu ini kita jalan kaki keliling kampung ini. Nggak ada orang yang namanya Mence, Mince ato apalah itu !”

“Misye, Boy”

“Terserahlah, capek nih. Buat apa sih kita repot-repot nyari dia. Lagian siapa suruh dia nolongin aku !” gerutu Boy.

“Nggak bisa gitu, Boy. Kita harus ketemu dia. Paling nggak untuk bilang terima kasih.”

“Alah ! Persetan sama terima kasih ! Capek aku ! Kamu juga kenapa sih? Kayak terobsesi banget sama dia. Kamu tuh sejak kejadian malam itu jadi nggak perhatian lagi sama aku ! Tiap hari kerjaannya cuman kelayapan dari warung ke warung buat nyari banci itu ! Bosen aku ! Udahlah kita pisahan dulu sementara ! Sampai kamu bisa ngelupain dia. Sekarang kamu cari aja banci itu sendirian !!!” maki Boy mengeluarkan unek-uneknya.

“Terserah kamu, Boy” jawab Laras datar seperti tidak menyadari Boy sudah benar-benar hilang kesabaran. Mendengar respon Laras seperti itu, harga diri Boy terhempas dan langsung saja dia meninggalkan Laras tanpa belas kasihan.

 

Hubungan mereka berdua memang tidak bisa dibilang berjalan dengan baik. Sudah lebih dari 7 tahun yang lalu ketika Boy pertama kali menyatakan cintanya pada Laras dan Laras menyambutnya. Waktu berlalu dan setelah sekian lama kisah cinta mereka berputar-putar, sekarang mereka sudah lebih dari sekedar mengenal satu sama lain, kelebihan dan kekurangan. Saat ini mereka memasuki masa dimana kelebihan masing-masing menjadi biasa dan kekurangan masing-masing menjadi alasan kesalahpahaman. Kisah cinta yang tinggal menunggu “kambing hitam” untuk berakhir. Sekarang saat itu tiba, keduanya sudah pasrah. Laras punya hal lain yang lebih penting saat ini. Orang itu harus dia temukan.

 

Laras terduduk melepas lelah di sebuah pos jaga di tengah perkampungan kumuh ini. Menurut informasi yang dia dapat dari tukang parkir di sepanjang jalan raya tempat biasa Misye mengamen, disinilah Misye tinggal. Perkampungan kumuh di bawah jembatan tempat gelandangan, pengemis, banci, maling, preman dan sebangsanya berlindung dari panasnya siang dan dinginnya malam di balik lembaran-lembaran gubuk karton. Sudah seharian ini mereka berdua keluar masuk kampung mencari tanda keberadaan Misye namun sampai sekarang, ketika sore sudah menjelang akhir, Laras tertunduk lemas kelelahan tapi masih penasaran. Ketika penatnya sudah mulai hilang, matahari sudah benar-benar lenyap. Laras tersadar betapa dirinya telah menjelma menjadi santapan yang empuk bagi semua biang kejahatan yang tinggal di perkampungan ini. Tadi pagi saja ketika Boy masih menemaninya, sudah tidak terhitung berapa pasangan mata yang mengincarnya mengawasi dari balik persembunyian mereka.

 

Suasana malam di tempat ini terasa lebih gelap dari pada di tempat lain. Di sekeliling pos jaga ini yang tampak hanyalah sinar temaram dari lilin atau sekedar lampu minyak yang menimpa lembaran-lembaran karton yang lapuk. Laras mendadak tersadar kalau dia tidak ingat dari arah mana tadi pagi dia memasuki perkampungan ini. Semua terlihat sama sekarang. Pos jaga ini berada tepat di salah satu ujung persilangan jalan tanah setapak yang menuju ke empat arah yang berbeda. Di sepanjang jalan tanah ini berjajar puluhan bahkan ratusan gubuk-gubuk karton. Laras melihat ke atas. Terlihat olehnya jembatan yang menjulang seakan membelah langit gelap ini. Ya! Di kedua ujung jembatan itu tentulah jalan masuk dan keluar perkampungan ini. Sejenak hatinya lega dan bergegas dia meninggalkan tempat itu sebelum tiba-tiba suara itu menggelegar.

 

“Hey ! Mau kemana kamu, cewek ?!?!” geramnya.

 

Dari balik gubuk terdekat, keluar sesosok tubuh tinggi besar. Wajahnya tidak jelas terlihat tertutup rambutnya yang panjang berantakan. Pakaiannya compang camping di sana sini. Ketika dia mendekat kira-kira tiga meter dari tempat Laras berdiri, tercium bau busuk yang pekat membuat Laras mundur ke belakang beberapa jengkal.

 

“Maaf, Pak. Saya mau pulang” jawab Laras memberanikan diri.

“Pulang kemana, sayang ? Ayo main-main dulu di tempatku !” tiba-tiba suara lain yang lebih cempreng muncul dari arah belakang.

 

Dari gubuk lain yang berhadapan, muncul sosok lain yang lebih kecil. Perawakannya langsing dan lebih rapi. Baunya pun tidak seberapa. Tapi dari senyum yang tampak jelas di wajahnya, bahaya yang ada dibaliknya jauh lebih kejam dari pada orang tinggi besar tadi. Dan tak berapa lama, dari gubuk-gubuk lain mulai bermunculan sosok-sosok yang lain. Laras terpaku dalam ketakutan yang amat sangat. Hampir saja dia pingsan sebelum seseorang yang tiba-tiba ada di belakangnya berbisik.

 

“Ssst…pelan-pelan ikut aku…” bisik orang itu sembari menggamit tangannya.

 

Pasrah Laras menurut. Perlahan mereka bergerak menjauh. Selangkah demi selangkah sementara sosok-sosok tadi telah berkumpul di depan mereka mendekat sambil tertawa ramai dan bengis.

 

“Lari !!!” tiba-tiba saja tangannya tersentak tertarik oleh seseorang tadi dan sontak dia pun lari. Orang itu di depan dan Laras mengikuti di belakang, mereka lari beriringan secepat mungkin.

 

“Hei!!! Jangan lari kalian!!! Hei!!! Berhenti!!!” sayup-sayup terdengar jelas oleh mereka riuh rendah suara-suara kemarahan di belakang mereka.

 

Namun mereka terus berlari sampai akhirnya suara-suara itu melemah dan hilang sama sekali. Mereka baru berhenti ketika mereka sampai di depan tangga besi di ujung jembatan. Orang tersebut bergegas menaikinya dan sesampainya dia di atas jembatan, dia menjulurkan tangannya.

 

“Ayo ! Cepat naik !”

 

Laras menoleh ke belakang. Dilihatnya sosok-sosok hitam itu berkelebatan lagi dan suara-suara itu perlahan mulai terdengar jelas. Secepat mungkin diraihnya tangga besi itu dan bergegas naik. Beberapa langkah lagi dia akan selamat tapi mendadak kakinya tertahan sesuatu. Ketika dia melihat ke bawah, tampak olehnya sepasang tangan memegangi kaki kirinya dan dari kegelapan tampak sederet gigi menyeringai kejam. Sekuat tenaga Laras memberontak dan seketika itu tangannya meraih tangan yang menjulur dari atas jembatan. Tubuhnya ditarik dan keduanya terjatuh terjerembab di pinggir jembatan.

 

“Hei, kamu nggak apa-apa ?” tanya orang itu.

“Nggak. Makasih ya” jawab Laras sambil berusaha berdiri.

 

Ketika Laras melihat wajahnya saat itu pula dia mengenalinya. Mata itu, dagu itu, bibir itu. Tidak salah lagi.

 

“Misye yah ? Umm…maksudku kamu yang sering ngamen di jalan raya itu ya ?” tanya Laras sedikit bingung untuk menyampaikan maksudnya.

 

Tak disangka, orang itu hanya tersenyum dan berkata.

 

“Ayo ikut aku. Tidak aman disini.”

 

Dan dia segera berjalan menyusuri jembatan sementara Laras mengikutinya dari belakang dengan penuh penasaran sekaligus lega. Akhirnya ketemu juga orang ini, pikirnya.

 

… … …

 

Mereka berhenti berjalan di depan sebuah halte bus dan berdiri sejenak tanpa berkata-kata sebelum akhirnya orang itu duduk dan menyilahkan Laras untuk ikut duduk. Halte bus ini satu-satunya tempat yang terang benderang di lingkungan ini. Dua buah lampu neon yang tergantung di plafondnya masih berfungsi normal. Seluruh sisi halte bus ini dicat warna biru menyala namun hampir seluruhnya ditutupi iklan-iklan tempel yang tidak beraturan. Bangkunya yang terbuat dari kayu juga dicat biru namun sudah mengelupas di sana sini. Laras terduduk membisu dengan seribu pertanyaan di kepala namun tidak tahu dari mana harus memulai.

 

“Namaku Misgi. Hanya satu kata. Misgi. Tanpa embel-embel. Kata Bapak namaku itu singkatan dari Kamis Legi karena aku lahir hari Kamis Legi. Bapakku itu wong Jowo tulen. Jadi aku maklum” katanya dengan nada suara yang datar.

 

Tak ada kesan suara seorang waria melainkan lelaki tulen yang polos. Laras tertawa kecil mendengar apa yang diucapkannya. Begitu polos, begitu lugu tutur katanya.

 

“Kamu lagi-lagi mentertawakanku. Emangnya aku badut ?” katanya lagi seperti tersinggung walau nada suaranya tetap datar.

 

“Oh, maaf. Bukan maksudku seperti itu. Maaf, ” tukas Laras sedikit merasa bersalah.

 

“Ah nggak apa-apa ko. Udah biasa aku ditertawakan. Aku aja kalo lagi sedang dandan suka ketawa sendiri melihat diriku di cermin. Trus, ngapain kamu malem-malem di tempat seperti itu ? Sendirian lagi. Mana cowokmu itu ?”

 

“Ternyata kamu memang masih ingat aku. Sebenarnya aku kesana buat mencarimu.”

“Mencariku ? Untuk apa ? Berterimakasih ? Kenapa kamu ? Yang aku tolong itu cowokmu. Bukan kamu. Dan lagi aku nggak perlu terimakasih. Nggak bisa bikin kenyang !” sahutnya mulai dengan nada suara yang agak tinggi. Tapi sorot matanya tetap kosong seperti ada jurang yang amat dalam memisahkan dunianya dengan dunia nyata.

 

Penampilannya sekarang sangat jauh berbeda dengan waktu itu. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai begitu saja tapi rapi dan terawat. Wajahnya yang terbakar sinar matahari pun tidak lagi ditutupi dengan polesan bedak bayi namun malah terlihat lebih cemerlang. Tidak ada lagi gincu merah di bibirnya. Kaos warna hitam dan jaket kain tebal warna hijau tentara menggantikan blus merah jambu itu. Celana gunung warna hijau pupus bersanding dengan sepatu kets warna hitam dengan belang putih di kedua sisi melengkapi penampilannya yang sangat laki-laki malam ini. Seorang laki-laki yang bernama Misgi bukan Misye.

 

Sejenak mereka berdua terdiam kembali. Tak ada seorang pun yang melintas bahkan angin pun enggan bertiup. Sepertinya tak ada bus yang akan mampir di halte ini. Malam yang sangat sunyi walau ketika Laras melirik jam tangannya. Baru pukul 7 malam.

 

“Aku nggak bisa lagi tinggal di tempat itu lagi. Setelah kejadian malam ini. Mereka semua bakal menghabisiku kalau mereka sampai melihatku lagi. Aku harus meninggalkan kota ini. Malam ini juga.” katanya lagi memecah sunyi.

 

“Kemana?” tanya Laras.

“Kamu bisa ikut aku. Kita lapor Polisi. Biar mereka semua ditangkap.” sambung Laras lagi.

 

“Haha…Kamu lucu. Mana cukup penjara di Kantor Polisi buat mereka semua? Dan mereka sama Polisi itu teman. Karena mereka semua sudah bolak balik keluar masuk bui. Nggak bisa. Aku harus pergi dari kota ini. Dan kamu pulang. Pulang sana ke cowokmu itu.” selorohnya sedikit ketus.

 

“Dia bukan cowokku lagi. Kami putus. Habis dia nggak mau ketemu kamu sih,” sungut Laras.

 

Tiba-tiba Misgi tertawa terbahak-bahak.

 

“Hahahahaha…Kalian putus gara-gara aku ? Seseorang yang sama sekali belum kalian kenal ? Seseorang yang cuma kebetulan menyelamatkan seorang pemuda bodoh dari genggaman maut ? Lucu sekali !”

 

Hati Laras seperti terbakar. Tidak tahu lagi bagaimana dia harus menjelaskan isi hatinya. Orang ini seperti terpisah jiwa dan raganya. Raganya disini disampingnya tapi hatinya entah tertinggal dimana. Betapa penasaran dirinya. Sungguh mati Laras ingin menolong tapi dia tidak tahu bagaimana. Matanya yang berkaca-kaca dihujamkan langsung ke mata Misgi yang menatap kosong.

 

“Tapi kamu juga menyelamatkan aku malam ini ! Seseorang yang sama sekali tidak kamu kenal. Bahkan sampai kamu mengambil resiko yang sangat berbahaya. Sehingga kamu harus pergi meninggalkan kota ini.” bantah Laras.

 

Misgi tersentak. Dia bingung. Belum pernah dia bertemu seorang wanita yang sangat memperhatikannya seperti Laras. Bahkan baru pertama kali ini dia berbicara lagi dengan wanita. Sejak kejadian dua tahun yang lalu. Saat kekasihnya yang sangat amat dia cintai mengkhianatinya. Tanpa alasan dan tanpa kejelasan, berserong di depan matanya. Bukan cuma sekali. Berkali-kali sampai kemudian Misgi sadar bahwa kekasihnya melakukan itu dengan sengaja hanya untuk menyakiti hatinya. Sejak itu dia benci tidak hanya kekasihnya tapi semua wanita. Dan dia dengan sengaja menjelma menjadi seorang waria hanya untuk mengolok-olok sosok wanita. Sebuah dendam pribadi yang dia salurkan dalam bentuk parodi sarkastis. Melanglang buana dari kota ke kota hanya untuk menunjukkan ke seluruh dunia protesnya pada wanita. Hidupnya sendiri sudah hilang arah. Batinnya kosong. Selama dua tahun sampai sekarang. Sampai dia bertemu wanita yang sekarang duduk disampingnya ini. Seorang wanita yang memujanya bak seorang pahlawan. Misgi tidak bisa mengerti. Apa yang Laras mau.

 

“Terus, apa maumu ?” tanya Misgi ingin tahu.

“Aku ingin menyelamatkanmu. Sebagai balasan kamu yang telah menyelamatkan dia dan aku” jawab Laras dengan penuh keyakinan.

 

Misgi seperti terbangun dari mimpi buruknya yang panjang. Dia tersadar dia tidak bisa terus begini. Perjalanan hidupnya selama dua tahun ini yang dia tujukan hanya untuk membalas perlakuan kekasihnya membuatnya tidak pernah puas dan berhenti namun hanya berputar-putar. Sekarang Laras, wanita yang baru ditemuinya, menuntut untuk membalas menyelamatkannya. Kejahatan dibalas kejahatan. Kebaikan dibalas kebaikan. Apa ini? Sekedar balas membalas. Itukah hidup ini? Berputar-putar sampai akhirnya berakhir? Tidak! Hidup harus bergerak. Entah itu maju atau mundur. Harus mengambil langkah dan tidak boleh terjebak pusaran balas membalas seperti ini. Apa yang terjadi hari kemarin harus dilupakan. Nikmati setiap detik di hari ini. Dan bersiap menghadapi takdir esok hari apapun itu. Dengan itu hidupmu akan mengalir dengan arah yang jelas seperti sungai yang mengalir dari hulu ke hilir.

 

“Terima kasih, Laras. Anggap saja kamu telah menyelamatkanku. Kita impas sekarang. Aku harus pergi. Dan kamu juga harus pulang. Kembalilah ke kekasihmu. Aku percaya dia masih menyayangimu. Tak usah mencemaskanku. Hidupku sudah mengalir kembali sekarang. Karena kamu. Terima kasih.”

 

Suara mesin bus yang mendekat menghentikan perbincangan mereka. Misgi berdiri bersiap untuk pergi. Laras juga ikut berdiri dan menatapnya lekat. Apa maksudnya tentang hidup yang mengalir, pikirnya. Mengapa dia bilang aku telah menyelamatkannya, tanyanya lagi dalam hati. Belum sempat Laras mengatakan sesuatu, Misgi menghilang dari balik pintu bus. Dan tanpa pikir panjang Laras pun menyusul.

 

“Apa yang kamu lakukan, Laras ?” tanya Misgi keheranan ketika mereka kembali duduk berdampingan di bangku paling belakang bus itu.

 

“Seperti yang kamu bilang, Gi. Aku juga ingin hidupku mengalir !”

 

2 Comments Add yours

  1. Noor Baiyinati Abdis says:

    Dasyat… Apa yang melatarbelakangi Penulis mendapatkan Inspirasi untuk merangkai cerita ini yach?…

  2. reno says:

    Fritz, udah pernah nyoba naek kereta bisnis dari Jogja ke Jakarta or sebaliknya? I guess that u will find some good stories there..:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s